Bercerita perihal kejadian musim panas yang dilakukan para remaja, mudah untuk menyebut Hot Summer Nights sebagai sebuah sajian drama coming-of-age sederhana, namun-penyutradaraan perdana Elijah Bynum (turut merangkap sebagai penulis naskah) ini mempunyai cukup daya guna menampilkan sebuah tuturan proses pencarian jati diri serta makna hidup sebuah kejadian di malam penuh peristiwa di liburan musim panas.
Pertemuan berbasis membantu menyembunyikan ganja milik Hunter Strawberry (Alex Roe) di kasir minmarket yang berubah untuk memaknai musim panas. Hunter adalah sosok pria idaman-yang digilai wanita, jago bertarung bahkan membunuh seseorang pun ia lakukan. Ia menjadi pusat perhatian saat memasuki pesta, pusat perbincangan para remaja tentang keperkasaannya memiliki penis berukuran 11 inchi. sama seperti membayangkan remaja yang haus akan menjadi pusat perhatian, menjadi/atau berteman dengan Hunter adalah sebuah mimpi. Pun demikian yang dilakukan oleh Daniel.
Kedekatan Hunter dan Daniel membuatnya menjadi rekan bisnis penjualan ganja, membawa mereka ke gelimang pula harta tahta. Bisnis mereka semakin hari semakin menghasilkan sebuah keuntungan yang besar. Ini kemudian menjadikan seorang Daniel berani mencium McKayla (Maika Monroe) di depan sang pacarnya. McKayla adalah sosok wanita idaman-yang membuat seseorang rela untuk menguntit demi menikmati kemolekan tubuhnya atau bahkan mengunyah permen karet bekas miliknya.
Konflik utama Hot Summer Nights adalah polemik seorang Daniel untuk mencintai McKayla-yang merupakan adik kandung Hunter. Meskipun komunikasi keduanya berjalan baik pasca kematian sang ibu, Hunter melarang keras atau bahkan akan membunuh Daniel jika mendekati McKayla. Gambaran ini memberikan sebuah relevansi dalam kehidupan nyata, bahwa seburuk apapun pandangan sang adik terhadap sang kakak atau bahkan tak mulusnya hubungan keduanya, kecintaan terhadap keluarga (yang kadang ditunjukan dengan larangan atau bahkan kekangan) adalah prioritas utama.
Itulah mengapa Hot Summer Nights dapat diterima, kala penceritaan Bynum begitu dekat dengan realita. Meski poin terkait tindakan kriminalitas tidak cukup membantu dalam menghasilkan sebuah penebusan setimpal, setidaknya Bynum paham betul bagaimana menjadikan elemen tersebut sebagai pemantik alih-alih sebatas pelengkap. Keputusan ini bisa diterima-meski penyelesaian terhadap konklusi tak seberapa berdampak, ini terjadi ketidaktepatan narasi guna mengakhiri pengisahannya.
Meski demikian, dampak pasca menonton masih dapat terasa, terlebih kala Bynum menjadikan satu malam penuh tekanan di tengah badai datang. Sekilas, keduanya memberikan sebuah makna yang beriringan di tengah kejadian meski sebuah kausalitas tak sepenuhnya terasa.
Ditemani iringan musik otentik bernuansa 90-an hasil olahan Will Bates, Hot Summer Nights kian tampil bernyawa dalam tuturan neo-noir remaja yang penuh akan cerita. Keputusan dalam memasukan kolase gambar berupa cerita kejadian pun memberikan bobot tersendiri kala kebanyakan sebuah epilog kekurangan nyawa dalam menampilkannya. Hingga Hot Summer Nights ditutup dengan sebuah tampilan mengenai "the art of leting go" tuturannya begitu terasa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar