BALLERINA
Ballerina (dipasarkan dengan judul lengkap From the World of John Wick: Ballerina), sebagai spin-off dengan latar di antara film John Wick ketiga dan keempat, adalah actioner yang hebat. Dia punya banyak hal yang membuat genrenya terasa usang, kemudian mengubah cara keklisean itu berjalan.
Misal ketika protagonisnya tengah memilih senjata. Kita semua familiar dengan "adegan wajib ada" yang membosankan ini. Mendadak filmnya mengecoh ekspektasi dengan mendatangkan baku tembak secara tiba-tiba. Lihat juga apa yang terjadi sewaktu tokoh mengendarai mobil utamanya untuk pergi dari lokasi kematian, pada suatu momen yang biasanya hanya berstatus transisi antar adegan.
Si protagonis bernama Eve (Ana de Armas), balerina yang diburu sebagai pembunuh oleh Ruska Roma, organisasi kriminal tempat John Wick (Keanu Reeves) sebelumnya sempat bernaung. Eve yang termotivasi untuk mencari pembunuh sang ayah pun berlatih mati-matian. Dia berlatih balet hingga kaki berlumuran darah, berkali-kali pula terkena lesatan peluru karet serta pukulan menyakitkan selama latihan, dalam training montage yang tersaji keren berkat iringan musik elektroniknya. Selama durasi 125 menit, departemen penyuntingannya jeli mengawinkan timing gerak karakternya dengan hentakan musik.
Nantinya Eve mengetahui bahwa pembunuh sang ayah merupakan sekelompok sekte pembunuh yang diketuai oleh Chancellor (Gabriel Byrne). Tapi sebelum menumpahkan darah demi balas dendam, ia harus melakoni misi perdana, yang mengharuskannya melindungi Katla Park (Choi Soo-young) di sebuah kelab malam.
Ana de Armas mengenakan mantel bulu, lalu dengan kepercayaan diri yang kekuatan tarikan gravitasi, berjalan dalam balutan gerakan lambat. Karisma seorang jagoan laga jelas dimilikinya. Ketika melakoni baku hantam pun ia tampak meyakinkan. Untungnya di misi perdana tersebut, Bahkan tidak secara ajaib langsung dibuat sehebat John Wick. Dia terjatuh ke lantai, bahkan ditendang hingga menghantam dinding kaca. Tata suaranya membuat semua pemandangan itu terasa menyakitkan. Tapi Hawa selalu bangkit. Itulah keunggulan terbesarnya.
Dalam seri John Wick, orang-orang menggerakkan pistol dengan begitu mulus bak sedang menari, dan Len Wiseman yang duduk di kursi sutradara melanjutkan tradisi tersebut (walau konon banyak adegan aksi merupakan hasil reshoot di bawah Arah Chad Stahelski). Tapi Ballerina tidak sebatas kembali teknik gun fu. Naskah buatan Shay Hatten menyediakan setumpuk ide kreatif, yang banyak di antaranya jarang, atau malah belum pernah ditampilkan film-film lain.
Aksi melempar piring di dapur, penggunaan sepatu ski sebagai alat ganti pisau, sampai yang terbaik adalah sewaktu alat pelontar api yang kehadirannya di genre aksi belakangan ini sudah tak lagi spesial, mampu digunakan sebagai dasar untuk sebuah momen luar biasa kreatif yang memadukan kebrutalan dengan keindahan. Daripada aksi biasa, di situ Eve dan lawannya bak tengah berduet dalam suatu pertunjukan tari kontemporer.
Alurnya memang tidak memiliki kedalaman dan masih bergulir di formula kisah balas dendam ala kadarnya, meski babak ketiganya sedikit membawa kesegaran saat meminjam lalu memodifikasi formula horor folk. Kita pun takkan dibuat memedulikan Hawa, apalagi keterikatan secara emosional di dalamnya. Tapi menilik rangkaian kreativitas di atas, ada pencapaian luar biasa tinggi yang lebih pantas untuk dirayakan, alih-alih mengeluhkan perihal penceritaan.






0 komentar:
Posting Komentar