CAPTAIN AMERICA: BRAVE NEW WORLD
Sayangnya, naskah yang ditangani oleh lima penulis (Rob Edwards, Malcolm Spellman, Dalan Musson, Julius Onah, Peter Glanz) tampil mengecewakan akibat tak tahu pasti fokus mana yang hendak dikedepankan. Isu ras? Negara yang terpecah belah akibat politik? Ketegangan antar bangsa dengan kepentingan masing-masing? Atau proses personal sang protagonis meneruskan nama besar pendahulunya?
Langkah filmnya mengekspansi dua judul yang seolah jadi anak tiri MCU, yakni The Incredible Hulk (2008) dan Eternals (2021), memang patut diapresiasi. Alkisah, pasca naik takhta sebagai Presiden Amerika Serikat, Ross berusaha membuktikan dirinya pada publik serta putrinya, Betty (Liv Tyler), bahwa ia sudah sepenuhnya berubah. Dipimpinnya proses menyatukan berbagai negara terkait pemanfaatan sumber daya (sebuah logam yang namanya sudah sangat familiar di budaya populer) di Pulau Celestial yang terbentuk dari jasad Tiamut.
Tapi naskahnya gagal mendukung niat baik tersebut. Tatkala jajaran pemainnya tampil baik Carl Lumbly memberikan gambaran kesakitan tentang individu yang menyimpan trauma di penjara (baca: pria kulit hitam yang telah berulang kali dirusak oleh ketidakadilan yang membenarkan hukum negara), Anthony Mackie semakin memupuk karisma sebagai Captain America, dan Harrison Ford memperkuat bobot emosi filmnya terutama di paruh akhir kisahnya justru bergulir tanpa energi.
Sederhananya, Captain America: Brave New World punya alur yang membosankan. Selain kompleksitas yang luput diperdalam, sebagai thriller politik ia gagal tampil mencekam akibat ketiadaan urgensi. Penonton tidak diberi kesan bahwa protagonisnya harus berpacu dengan waktu, dan dampak mematikan telah menunggu jika ia gagal. Sam dan Joaquin Torres (Danny Ramirez) hanya mondar-mandir mengumpulkan petunjuk tanpa ancaman berarti, dan ketika ada ancaman yang tercatat di tempat lain, keduanya bisa dengan cepat menyelidiki sumber bahaya.
Padahal tersimpan potensi yang begitu besar di sini. Tidak perlu membahas masalah politik internasional. Karakter Sam Wilson yang meneruskan identitas Captain America tanpa serum prajurit super, sehingga membuatnya kerap kepayahan meski hanya menghadapi segerombolan prajurit manusia, sudah menjadi modal menarik. Tapi sekali lagi, naskahnya membuat kebingungan melakukan proses yang diinginkan.
Setidaknya pertarungan Captain America melawan Red Hulk yang dijadikan bahan jualan utama, meski tidak berlangsung lama dan telah mengungkap money shot-nya di trailer, mampu menjadi highlight di babak ketiga. Sebuah pertarungan brutal yang melibatkan konfrontasi David dan Goliath, yang memaksa Sam terdesak ke batas kemampuannya.
Tidak ada yang benar-benar berantakan dalam cara Julius Onah mengarahkan aksi, namun ia belum mampu menerjemahkan gaya bertarung Captain America dengan lemparan tamengnya yang lincah. Kesan dinamis yang harusnya hadir, dilenyapkan oleh penyuntingan yang terlampau ekstrim dan artifisial. Tidak buruk, tapi (sama seperti keseluruhan filmnya) generik.










