This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Rabu, 21 Januari 2026

CAPTAIN AMERICA: BRAVE NEW WORLD

 CAPTAIN AMERICA: BRAVE NEW WORLD


Sayangnya, naskah yang ditangani oleh lima penulis (Rob Edwards, Malcolm Spellman, Dalan Musson, Julius Onah, Peter Glanz) tampil mengecewakan akibat tak tahu pasti fokus mana yang hendak dikedepankan. Isu ras? Negara yang terpecah belah akibat politik? Ketegangan antar bangsa dengan kepentingan masing-masing? Atau proses personal sang protagonis meneruskan nama besar pendahulunya?

Langkah filmnya mengekspansi dua judul yang seolah jadi anak tiri MCU, yakni The Incredible Hulk (2008) dan Eternals (2021), memang patut diapresiasi. Alkisah, pasca naik takhta sebagai Presiden Amerika Serikat, Ross berusaha membuktikan dirinya pada publik serta putrinya, Betty (Liv Tyler), bahwa ia sudah sepenuhnya berubah. Dipimpinnya proses menyatukan berbagai negara terkait pemanfaatan sumber daya (sebuah logam yang namanya sudah sangat familiar di budaya populer) di Pulau Celestial yang terbentuk dari jasad Tiamut.

Tapi naskahnya gagal mendukung niat baik tersebut. Tatkala jajaran pemainnya tampil baik Carl Lumbly memberikan gambaran kesakitan tentang individu yang menyimpan trauma di penjara (baca: pria kulit hitam yang telah berulang kali dirusak oleh ketidakadilan yang membenarkan hukum negara), Anthony Mackie semakin memupuk karisma sebagai Captain America, dan Harrison Ford memperkuat bobot emosi filmnya terutama di paruh akhir kisahnya justru bergulir tanpa energi.

Sederhananya, Captain America: Brave New World punya alur yang membosankan. Selain kompleksitas yang luput diperdalam, sebagai thriller politik ia gagal tampil mencekam akibat ketiadaan urgensi. Penonton tidak diberi kesan bahwa protagonisnya harus berpacu dengan waktu, dan dampak mematikan telah menunggu jika ia gagal. Sam dan Joaquin Torres (Danny Ramirez) hanya mondar-mandir mengumpulkan petunjuk tanpa ancaman berarti, dan ketika ada ancaman yang tercatat di tempat lain, keduanya bisa dengan cepat menyelidiki sumber bahaya.

Padahal tersimpan potensi yang begitu besar di sini. Tidak perlu membahas masalah politik internasional. Karakter Sam Wilson yang meneruskan identitas Captain America tanpa serum prajurit super, sehingga membuatnya kerap kepayahan meski hanya menghadapi segerombolan prajurit manusia, sudah menjadi modal menarik. Tapi sekali lagi, naskahnya membuat kebingungan melakukan proses yang diinginkan.

Setidaknya pertarungan Captain America melawan Red Hulk yang dijadikan bahan jualan utama, meski tidak berlangsung lama dan telah mengungkap money shot-nya di trailer, mampu menjadi highlight di babak ketiga. Sebuah pertarungan brutal yang melibatkan konfrontasi David dan Goliath, yang memaksa Sam terdesak ke batas kemampuannya.
Tidak ada yang benar-benar berantakan dalam cara Julius Onah mengarahkan aksi, namun ia belum mampu menerjemahkan gaya bertarung Captain America dengan lemparan tamengnya yang lincah. Kesan dinamis yang harusnya hadir, dilenyapkan oleh penyuntingan yang terlampau ekstrim dan artifisial. Tidak buruk, tapi (sama seperti keseluruhan filmnya) generik.

THE GORGE

 THE GORGE


 Alkisah dua penembak jitu dikirim untuk mengemban tugas serupa, yakni menjaga dua menara yang dipisahkan jurang lebar. Di menara barat ada Levi (Miles Teller) si mantan marinir Amerika Serikat, sedangkan menara timur ditempati oleh Drasa (Anya Taylor-Joy) yang merupakan agen rahasia yang kerap ditugaskan oleh Rusia. Tidak sulit menebak subteks yang ditanamkan oleh karya buatan Zach Dean seputar hubungan antara jurang dan hubungan dua protagonisnya. 

Levi dan Drasa harus tinggal di sana selama setahun, dengan tujuan menjaga agar monster yang bersemayam di dasar jurang tidak berkumpul keluar. Monster-monster itu dikenal dengan sebutan "The Hollow Men", yang nampak seperti campuran zombie, hewan, dan tumbuhan. Desain ala Lovecraftian berhasil menghidupkan makhluk misterius itu secara kreatif.

Tapi lupakan dulu perihal pasukan zombie itu, karena romansa Levi dan Drasa akan lebih mendominasi satu jam pertama. Diawali oleh saling pandang melalui teropong, keduanya memutuskan melanggar larangan untuk mengadakan kontak, lalu berkomunikasi melalui tulisan, lesatan peluru, lagu yang diputar lewat pengerasan suara, bahkan bermain catur tanpa memedulikan adanya tirai pemisah (secara harfiah). 

Kisah cintanya tampil manis. Miles Teller dan Anya Taylor-Joy menjalin chemistry yang kuat tanpa harus berada dalam satu frame, membangun pemandangan romantis tentang dua manusia yang kehilangan arah sebelum menemukan cinta di tempat antah berantah. Inilah representasi nyata dari kalimat "dunia serasa milik berdua". Hanya ada mereka....dan sekelompok monster yang kadang-kadang harus keduanya basmi.

Sewaktu tiba saatnya pembasmian dilakukan, Miles Teller dan Anya Taylor-Joy mampu secara berjanji menanggalkan wajah romansa mereka. Levi si lelaki hangat, serta Drasa si perempuan manis, tiba-tiba beralih rupa menjadi dua prajurit tangguh, yang mengemban tugas sebagai tembok pertama umat manusia. 

Sekuen pertempuran pertama diarahkan dengan intens oleh Derrickson. Menariknya, baku tembak itu diuraikan sebagaimana presentasi romansanya yang menjauhi kesan cerewet, di mana aksi lebih mendominasi ketimbang kata-kata verbal. Tidak ada celetukan atau one-liner ala blockbuster yang memaksakan diri untuk meringankan suasana. Levi dan Drasa sepenuhnya fokus pada tugas mereka.

Sayangnya, apa yang susah payah dibangun pelan-pelan runtuh selepas Levi dan Drasa akhirnya mengatasi jurang di antara mereka. Keduanya pun bertatap muka. Tapi alih-alih alat untuk mengeksplorasi hubungan mereka, naskahnya yang sebatas menjadikan pertemuan tersebut sebagai alasan agar The Gorge bisa memperbesar skalanya.

Filmnya bergerak ke arah survival horror berbumbu aksi yang jauh lebih berisik, dan tentunya lebih umum, termasuk penjelasan yang ditawarkan tentang asal-usul The Hollow Men. Aksinya minim intensitas, jumpscare yang Derrickson lemparkan pun seperti kekurangan tenaga. Semua dibiarkan bergulir begitu saja tanpa dampak signifikan, sampai ke babak ketiganya yang tersaji antiklimaks sekaligus menyia-nyiakan kemunculan Sigourney Weaver dengan memberikan porsi sebagai antagonis bodoh. Memang tidak semua hal harus tampil sebesar dan sekeras mungkin.

 

CONCLAVE

 CONCLAVE


Seperti judulnya, Conclave menampilkan proses konklaf di mana para kardinal mengadakan pengambilan suara secara tertutup untuk menentukan jeda yang baru. Terdengar seperti aktivitas membosankan, namun dengan melucuti karakternya dari kesucian dan menelanjangi sisi gelap mereka, adaptasi dari novel berjudul sama karya Robert Harris ini mampu mengubah ritual keagamaan formal menjadi tontonan seru layaknya acara kenyataan dan opera sabun televisi.

Alkisah pada suatu malam jeda ditemukan kematian dunia akibat serangan jantung. Situasi pun serentak berubah kacau, dan Edward Berger selaku sutradara, memastikan bahwa penonton non-Katolik pun memahami betapa besarnya urgensi peristiwa tersebut, lewat pilihan shot serta musik serba dramatis yang dipakai saat pemakaman sang pemimpin umat Katolik dibawa keluar dari apartemennya. 

Kardinal Thomas Lawrence (Ralph Fiennes) memimpin memutar konklaf, di mana empat kardinal dianggap berpeluang besar memenangkan pemilihan: Aldo Bellini (Stanley Tucci) dari pihak liberal yang memperoleh dukungan Lawrence, Joseph Tremblay (John Lithgow) yang cenderung moderat, Joshua Adeyemi (Lucian Msamati) si penganut paham sosial yang lembut, dan Goffredo terhadap Tedesco (Sergio Castellitto) yang kolot dan tak ragu bersedia membantu perang agama lain.

Ketika musik gubahan Volker Bertelmann rutin membangun intensitas lewat getarannya, sinematografi garapan Stéphane Fontaine menghadirkan keindahan yang elegan. Peleburan komposisi api dan kombinasi warna cantik membuat tumpukan puntung rokok di lantai pun tampak sedap dipandang. 

Berger dan tim artistiknya tahu betul citra apa yang coba diciptakan oleh para pemimpin agama ini terkait diri mereka. Mereka ingin terlihat terlihat pula rupawan di mata manusia awam, sehingga itulah Conclave yang dilihat dari luar. Bahkan sewaktu voting dilangsungkan, cara mereka memasukkan surat suara pun sangat elegan. Sampai wajah asli masing-masing mulai terungkap.

Conclave mengajukan pertanyaan terkait pemilihan sosok pemimpin yang dirasa relevan, termasuk jika diterapkan di luar konteks Katolik (misal pemilu di suatu negara): Apakah keputusan memilih "lesser evil" tepat untuk dilakukan? Lawrence terjebak dilema terkait situasi tersebut. Ketika peluang menang Bellini yang berbagi ideologi di dekatnya semakin menipis, haruskah ia berkompromi pada prinsipnya?

Ralph Fiennes membawakan dilema karakternya dengan sempurna, yang dipaksa terpendam atas nama profesionalitas sebagai ketua konklaf, meski sekali waktu, kekecewaan yang terlampau tinggi memunculkan ledakan yang tak mampu ia redam. Apalagi di saat sedikit demi sedikit, Lawrence mulai mengetahui berbagai rahasia tiap calon, yang membuatnya meragukan kelayakan mereka menyandang gelar jeda.

Di situlah Konklaf menampakkan jati dirinya. Kesan elegan di permukaan diambil alih oleh drama pemilihan yang kaya hiperbola. Rahasia kelam terkuak, kabar burung tersebar, orang-orang mulai bergosip, dan proses eliminasi terjadi pasca kebenaran akhirnya ditumpahkan di hadapan publik. Sekali lagi, tak ubahnya acara realitas televisi dengan segudang dramatisasi serta kejutan besar seputar aib para peserta. 

Hasilnya menyenangkan. Terkesan terlalu menyumbangkan atas nama hiburan, konyol, seiring waktu terasa berulang karena terus mengikuti pola "investigasi-rahasia terbuka-eliminasi", tapi sangat menyenangkan. Dampaknya yang negatif, kesan konyol tersebut berpotensi membuat presentasi terkait isu penting yang kisahnya angkat terasa sulit untuk dianggap serius.

Jumat, 09 Januari 2026

A COMPLETE UNKNOWN

 A COMPLETE UNKNOWN


A Complete Unknown adalah film biografi yang dikemas terlalu biasa untuk sosok se-luar biasa Bob Dylan. Penuturan James Mangold selaku sutradara tak kuasa memecahkan teka-teki mengenai Dylan (mungkin tidak ada yang akan bisa), meskipun setidaknya kita bisa merasakan kekaguman sang sineas terhadap karya-karya milik musisi yang telah menjual lebih dari 125 juta keping album tersebut.

Dipresentasikan dengan visual grainy yang menghidupkan kembali dunia 60-an, alurnya mengadaptasi buku Dylan Goes Electric! karya Elijah Wald, yang sebagaimana judulnya siratkan, bakal memotret proses Bob Dylan bertransformasi dari figur terdepan dalam pergerakan musik folk, menjadi gambar kontroversial, bahkan dicap "pengkhianat", selepas memutuskan menerapkan musik elektronik dalam lagu-lagunya.

Semua berawal dari kenekatan Dylan muda (Timothée Chalamet) mencari rumah sakit tempat idolanya, Woody Guthrie (Scoot McNairy), dirawat akibat penyakit Huntington. Di situlah ia diperkenalkan dengan Pete Seeger (Edward Norton), yang membantu membuka jalan kesuksesan bagi Dylan di industri musik. Norton adalah penampu pendukung terbaik di film ini. Di tengah kontroversi Newport Folk Festival 1965, Seeger datang membawa persepsi yang terdengar valid nan meyakinkan mengenai persetujuan atas pilihan Dylan membawakan musik elektronik berkat kehebatan Norton membuat monolog.

Di sisi lain, Chalamet mampu menghidupkan nuansa misterius dari seorang Bob Dylan, pula bernyanyi dengan suara yang begitu mirip dengan sang legenda, tanpa harus terjatuh dalam impersonasi layaknya karikatur. Naskah yang Mangold tulis bersama Jay Cocks enggan menampilkan Dylan sebagai sosok sempurna. Penggambaran apa adanya itu pula yang Chalamet olah lewat aktingnya. 

Penggambaran apa adanya sama berarti film ini siap menampilkan Dylan sebagai individu yang tidak begitu disukai. Di tengah ekosistem dengan Sylvie Russo (Elle Fanning) yang melihat kemunculannya di sampul album The Freewheelin' Bob Dylan, kemungkinan dibuat berdasarkan Suze Rotolo yang menemaninya sedari awal karir, Dylan sempat berselingkuh dengan Joan Baez (Monica Barbaro), hingga melakukan tur berdua.

Newport Folk Festival 1964 dengan apik menangkap isi hati semua karakter, yang tersirat entah dari cara mereka membawakan lagu sebagai penampil di atas panggung, atau sebagai penonton yang merespon lagu tersebut. Mangold memang cukup cerdik perihal bercerita melalui musik. Para karakter tidak perlu terang-terangan menyuarakan perasaan mereka, karena Mangold membiarkan alunan nada mewakili semuanya. 

Tengok saja momen magis ketika Dylan dan Baez menyanyikan Blowin' in the Wind di atas kasur. Ada cinta di sana, setidaknya di mata Baez, yang tidak se-enigmatik si protagonis. Barbaro selalu menghipnotis lewat datangnya yang coba memecahkan misteri di balik kepala Dylan, lewat petikan gitar juga menyanyikannya yang menyuarakan puisi tentang misteri tersebut.

Sayangnya A Complete Unknown masih terjebak dalam penyakit film biografi konvensional, dengan gaya cerita yang terpecah menjadi fragment-fragmen penuh lompatan. Kecintaan Mangold terhadap karya Dylan pun tak jarang menjadi bumerang. Ada kalanya itu membantu sutradara bercerita melalui lagu, namun tak jarang juga melahirkan "adegan musik" berkepanjangan dengan substansi minimum. Itulah mengapa durasi filmnya mendekati dua setengah jam. 

Mengapa Dylan beralih ke musik elektronik? A Complete Unknown coba menggiring penonton untuk percaya bahwa semua itu didasarkan pada ketidaksukaan si penyanyi terhadap ekspektasi publik yang sematkan padanya. Dylan membenci kekangan. Tapi seperti apa proses berpikirnya? Mengapa pemuda yang nekat berkelana uang tanpa demi berdiskusi Woody Guthrie dapat berbalik ke arah seekstrim itu?
Mangold sendiri seperti kurang yakin dengan interpretasinya, namun terjebak di antara ketidakmampuan memecahkan teka-teki seorang Bob Dylan, dengan keharusan menjabarkan sosoknya sejelas mungkin guna melahirkan biopic konvensional. A Complete Unknown gagal memotret transformasi karakternya secara meyakinkan. Mungkin seperti yang Dylan sampaikan melalui lagunya: Jawabannya sobat, tertiup angin.

PERNIKAHAN ARWAH

 PERNIKAHAN ARWAH


Berbeda dengan kebanyakan horor lokal, Pernikahan Arwah tidak kekurangan ide maupun ambisi. Sentuhan budaya yang jadi landasan, pilihan estetika, cara meneror, hingga gaya berceritanya, semua upaya yang terpenuhi menghadirkan kesegaran. Apa yang tak dimiliki oleh karya terbaru Paul Agusta ini adalah kemampuan menyatukan segala ide segar di atas menjadi satu kesatuan yang kohesif.

Rumah Kupu-Kupu. Begitu judul film internasional ini. Dalam Kebudayaan Cina, kupu-kupu melambangkan beberapa aspek kehidupan, dari cinta, kebebasan, hingga transformasi. Hal-hal itu pula yang dibahas dalam kisahnya yang mengetengahkan hubungan Tasya (Zulfa Maharani) dan Salim (Morgan Oey), di mana persiapan pernikahan mereka diganggu oleh kabar meninggalnya keluarga si calon mempelai laki-laki. 

Rencana pemotretan pre-wedding ke Hong Kong pun tiba-tiba dipindahkan ke rumah masa kecil Salim yang terletak di Jawa Tengah. Febri (Jourdy Pranata) dan Harja (Ama Gerald) selaku fotografer, juga Arin (Puty Sjahrul) sebagai penata rias pun turut hadir dan menjadi Saksi banyaknya peristiwa misterius yang membawa kaitan kelam dengan masa lalu keluarga Salim.

Pernikahan Arwah sesungguhnya masih menggunakan banyak pakem standar horor Indonesia, sebutlah latar rumah berhantu atau pemakaian lagu lawas untuk membangun atmosfer. Hanya saja, sentuhan budaya datang membawa perbedaan. Pernak-pernik klenik Jawa yang sudah terlampau banyak menghiasi layar lebar yang ditanggalkan guna memberi ruang bagi warna-warna budaya tionghoa. 

Horor yang memanjakan Indra pun mampu dihasilkan, sementara di kursi sutradara, Paul Agusta menggerakkan film dengan gaya khasnya yang mengandalkan tempo lambat. Menariknya, meski bergulir pelan serta menekan jumpscare hingga ke titik minimum, Pernikahan Arwah bisa terus mengingatkan bahwa kita tengah menyaksikan horor, dengan secara rutin menampilkan pemandangan-pemandangan janggal.

Sederhananya, film ini memiliki setup yang menjanjikan. Masalahnya terletak pada bagaimana setumpuk amunisi menarik yang dimilikinya digabungkan untuk menghasilkan teror serta cerita yang terasa "mematikan". Di situlah Pernikahan Arwah menemukan batu sandungan.

Elemen horornya tidak pernah benar-benar menyeramkan menegangkan. Padahal film ini memiliki desain hantu yang unik, berkat sentuhan kulturalnya, mampu meleburkan kengerian dengan keindahan. Keberanian menghindari kegemaran sineas horor lokal menyusun adegan yang menggunakan tingkat kecerahan serendah mungkin pun patut diapresiasi. 

Lalu di mana letak kekurangan Pernikahan Arwah sehingga horornya gagal tampil maksimal? Adegan ketika Tasya melakukan sembahyang di pagi hari, dan tanpa ia sadari jenazah leluhur Salim sudah terbaring di sebelahnya, merangkum nilai minus filmnya secara garis besar. Di atas kertas momen itu terdengar sangat mencekam sekaligus mencengangkan. Sayangnya, pilihan shot yang dinyanyikan sutradara pakai justru melucuti daya bunuh diri.

Tengok pula perjalanan mengarungi alam baka di babak ketiga yang lebih terlihat seperti kunjungan ke rumah hantu murahan, sehingga terkesan dengan pencapaian pencapaian estetika mengagumkan yang telah dicapai dalam beberapa menit sebelumnya. Pun sekali lagi, akibat lemahnya pengadeganan, babak puncaknya berakhir secara antiklimaks. 

Belum lagi naskah buatan Ario Sasongko dan Aldo Swastia yang tak kuasa mengikat atensi lewat kisahnya hasil presentasi yang luar biasa kusut. Seusai menonton, cobalah menceritakan ulang detail alurnya, lengkap dengan penjelasan terkait sebab-akibat, dan kalian akan memahami sekusut apa naskahnya. Untunglah Zulfa Maharani, sebagai pemeran paling banyak diberi beban emosi, selalu hadir mengatrol kualitas momen-momen yang dilakoninya.

NICKEL BOYS

 NICKEL BOYS


Daya tarik terbesar Nickel Boys tentu berasal dari tata kameranya, yang dipresentasikan melalui sudut pandang orang pertama. Tapi alih-alih seorang saja, ada perspektif dua individu yang ditampilkan, sehingga selain kesan pribadi, adaptasi novel karya Colson Whitehead ini juga menjadi kisah yang merangkum memori (atau lebih tepatnya "trauma") kolektif.

Elwood (Ethan Herisse) adalah sosok yang kita ikuti perspektifnya. Seorang remaja Tallahassee yang hidup berdua bersama sang nenek, Hattie (Aunjanue Ellis-Taylor). Dia tidak hanya cerdas, pula aktif turun ke jalan menyuarakan hak asasi manusia. Elwood yang tumbuh di awal tahun 60-an menjadi saksi bagaimana figur-figur seperti Martin Luther King Jr. tengah memerangi rasisme terhadap kaum kulit hitam di Amerika Serikat. Walau keadilan sosial masih jauh dari jangkauan, kecerdasan serta ketekunan si remaja membuat masa depannya, tampak cerah. 

Sampai takdir berputar ke arah tak terduga, yang membuatnya dikirim ke sekolah reformasi bernama Nickel Academy. Cita-citanya melanjutkan studi di universitas ternama pun harus ia kubur. Di Nickel, siswa kulit putih dan kulit hitam hidup terpisah. Ketika siswa kulit putih mendapat perhatian lebih dari tenaga mengajar, Elwood dan teman-teman (termasuk bocah yang bahkan belum menginjak 10 tahun) dipaksa bekerja di ladang, lalu mendapat hukuman fisik bila membuat kesalahan. Nickel Academy tidak berupaya mendidik. Mereka hanya memperbudak.

Di sanalah Elwood berkenalan dengan Turner (Brandon Wilson). Berlawanan dengan pola pikir berlandaskan semangat perjuangan yang dibawa Elwood, Turner cenderung berpikiran skeptis. "Daripada mengambil risiko untuk melawan, lebih baik diam sambil menundukkan kepala karena takkan ada yang berubah", begitu pikir Turner. 

Pasca Turner diperkenalkan, kamera pun mulai rutin berpindah sudut pandang guna menampilkan apa yang ia saksikan. Bagaimana naskah yang dibuat oleh sang sutradara, RaMell Ross, bersama Joslyn Barnes, menggunakan gaya bertutur radikal dengan terus memindahkan perspektif antara Elwood dan Turner membuat Nickel Boys terasa seperti rekaman dari memori kolektif orang-orang yang berbagi pengalaman, serta luka yang sama.

Ross menunjukkan bakatnya sebagai sineas yang mengawali karir sebagai kreator dokumenter, kadang-kadang ia menyelipkan beragam cuplikan, dari cuplikan film, berita di televisi, hingga rangkaian dokumentasi. Sekilas terkesan tak berkaitan, namun keseluruhannya sama-sama jadi gambaran wajah sebuah negara pada suatu masa. Ketika masyarakat terpukau oleh teknologi yang melesat maju hingga memungkinkan manusia pergi ke luar angkasa, di sekeliling mereka menegakkan keadilan sosial malah berjalan mundur. 

Harus diakui gaya film eksperimentalnya yang mengutamakan teknik eksplorasi bertutur membuat "rasa" di beberapa titik terkesan jauh, termasuk montase dengan sebuah twist besar di konklusi, yang seperti memperumit hal sederhana, yang bakal jauh lebih emosional bila sorotan diletakkan pada penampilan pemainnya. Aunjanue Ellis-Taylor tampil luar biasa di momen tersebut. Teriakan dalam tangisnya akan sukar dihapus dari hingatan.

Tapi pendekatan radikal Nickel Boys tetap merupakan pencapaian yang hebat. Meski berdurasi 140 menit rasanya masih bisa dirampingkan, kolaborasi sutradara dan penata sinematografinya memastikan bahwa perjalanan panjang itu tak pernah tampil monoton. Filmnya begitu kreatif perihal menata apa saja yang penonton saksikan di layar (dari bocah yang tiba-tiba meluncur di bawah kursi bus, hingga sinkronisasi gerak kaki dua orang asing yang kebetulan terjadi). 

Terkadang kita diajak melompat ke masa depan untuk bertemu Elwood dewasa (Daveed Diggs). Menariknya, daripada memakai sudut pandang orang pertama seperti biasa, kita melihat sosoknya dari belakang, tak ubahnya hantu tak kasat mata yang mengikuti si tokoh utama. Bersama Elwood dewasa itulah kita menyadari bahwa penyiksaan di Nickel bukan hanya menghancurkan para siswa di masa itu, pula masa depan mereka.

MICKEY 17

 MICKEY 17


Penonton yang berharap Bong Joon-ho kembali merevolusi genre seperti telah beberapa kali ia lakukan mungkin akan sedikit kecewa, karena Mickey 17 lebih seperti amalgam dari film-film Bahasa Inggris miliknya daripada sebuah dobrakan baru. Tapi sang penulis memang tidak perlu melakukannya. Selepas Parasite mencetak sejarah enam tahun lalu Bong tak perlu lagi membuktikan apa pun, dan Mickey 17 meski merupakan salah satu karya terlemahnya menegaskan bahwa ia adalah salah satu sutradara paling konsisten saat ini.

Naskahnya (juga ditulis oleh Bong) mengadaptasi novel Mickey7 karya Edward Ashton, tentang bagaimana di tahun 2054, umat manusia berusaha membangun koloni di planet lain. Dipimpin oleh Kenneth Marshall (Mark Ruffalo) si politikus gagal bersama istrinya yang cenderung lebih dominan, Ylfa (Toni Collette), sebuah perjalanan selama empat tahun menuju planet bernama Nilfheim pun dimulai. 

Mickey Barnes (Robert Pattinson) termasuk dalam jajaran kru. Tapi itu bukan kru biasa. "Dapat dibuang", begitulah posisinya disebut. Mickey ditugasi melakukan banyak misi berbahaya yang selalu berakhir pada kematian. Tapi berkat teknologi kloning, ia selalu "dicetak ulang" untuk hidup kembali dalam tubuh yang berbeda. Timbul masalah kala Mickey 18 (sesuai namanya, kloning yang ke-18) sudah terlanjur dihidupkan, sebelum terungkap bahwa Mickey 17 ternyata mampu bertahan hidup dalam misinya. Dua versi Mickey pun ada secara bersamaan.

Ada sebuah adegan saat Timo (Steven Yeun), teman lama Mickey yang bertugas sebagai pilot, tiba di lokasi tempatnya terjebak setelah mengalami kecelakaan hingga cedera parah. Ketimbang menyelamatkan sang teman, Timo lebih memilih mengambil senjata pelontar api milik Mickey yang menurutnya "lebih sayang bila rusak". Di kesempatan lain, para kru mencurigai tangan Mickey yang putus. 

Sederhananya, Mickey tak lagi dimanusiakan. Sama seperti para pekerja kelas bawah di dunia nyata, yang tersisa nyawa sementara jajaran penguasa duduk nyaman sambil menikmati hasil keringat mereka. Teknologi kloning memberi umat manusia di film ini kekuatan untuk "bermain Tuhan", hanya saja dalam memainkannya, manusia tak sedikitpun memiliki kebijaksanaan-Nya.

Pesan yang Mickey 17 bawa sebenarnya bukan baru. Adanya sosok pemimpin sewenang-wenang, ditambah kemunculan sosok monster bernama "creeper", membuatnya terasa seperti kombinasi Snowpiercer dan Okja. Jurang kelas, objektifikasi terhadap individu yang dipandang sebagai komoditas belaka, hingga kecenderungan manusia melakukan penjajahan dan menyebut mereka yang berbeda sebagai "alien", semuanya adalah tema favorit Bong Joon-ho. 

Sayang, jika menerapkan tema-tema tersebut ke alur, Mickey 17 terkesan kurang pembohong dalam mengeksplorasi premis uniknya, bahkan cenderung stagnan dalam bercerita. Ibaratnya, Bong membawa kita terbang mengunjungi planet asing, tapi bukannya menjelajahi setiap sudutnya, ia hanya mengajak kita berjalan-jalan santai di sekitar pesawat.

Di sisi lain, tidak seperti banyak sineas Hollywood yang sering memandang karya mereka terlampau serius hingga berakhir hambar, Bong dengan jeli mencampurkan banyak sentuhan komedi gelap yang cukup efektif memancing tawa. Di sinilah kinerja Pattinson memegang peranan penting. Sebagai Mickey 17, Pattinson mengolah talenta komedinya untuk memerankan figur "bodoh", lengkap dengan modifikasi cara bicara yang memukau. 

Menariknya, Pattinson melakoni peran ganda yang bertolak belakang, karena tidak seperti "pendahulunya", Mickey 18 adalah sosok yang penuh percaya diri, berani, pula tidak ragu memakai kekerasan sebagai jalan menyelesaikan masalah. Mungkin seperti Mickey, diri kita pun menyimpan banyak versi, termasuk yang sama sekali berbeda dan hanya sesekali muncul ke permukaan. Tidak kalah pesonanya adalah Ruffalo sebagai karikatur politikus minim kompetensi, Collette yang mengendalikan segalanya dari belakang dengan begitu keji, juga Naomi Ackie sebagai Nasha, kekasih Mickey yang tangguh.
“Seperti apa rasanya mati?”, merupakan pertanyaan yang paling sering diajukan kepada Mickey. Kematian adalah hal yang paling menyeramkan bagi banyak orang. Bayangkan mengirim sesama manusia untuk mengalami hal yang paling kita takuti berulang kali tanpa ada rasa bersalah. Diceritakan pada Bong Joon-ho untuk melahirkan sosok-sosok yang di atas kertas tampak konyol, namun sebenarnya menyimpan kekejaman yang melampaui kejahatan pun.