PREDATOR: KILLER OF KILLERS
Prey (2022) berhasil membangkitkan franchise-nya karena ia memahami esensi film aslinya, ketika mengadu sang alien hunter dengan manusia yang masih mengakrabi sisi hewani yang menstimulus insting bertahan hidup mereka. Predator: Killer of Killers membawa pemahaman serupa, bahkan melipatgandakannya, lalu melahirkan film Predator terbaik sejak Arnold Schwarzenegger menampilkan maskulinitasnya di hutan Val Verde.
Alurnya dibagi menjadi tiga latar waktu, di mana setiap masa memiliki "pembunuhnya" masing-masing. Skandinavia tahun 841 membawa kita mengikuti Ursa (Lindsay LaVanchy) sebagai pemimpin para prajurit Viking yang terlibat pertempuran dengan pasukan Krivich. Di Jepang tahun 1609 ada konflik antara Kenji dan Kiyoshi (Louis Ozawa), dua putra seorang samurai yang menempuh jalan hidup yang berbeda. Kemudian ada kisah tentang Torres (Rick Gonzalez), pilot yang terjun ke Perang Dunia II di tahun 1942.
Format animasi memberi kebebasan eksplorasi bagi sang sutradara, Dan Trachtenberg, mengingat perjalanan menempuh tiga masa niscaya akan memerlukan biaya luar biasa besar bila dipresentasikan dalam bentuk live action. Menyaksikan visual Predator: Killer of Killers terasa seperti mengunjungi museum berisi lukisan-lukisan yang menangkap jejak kekerasan umat manusia secara indah.
tumpah, anggota tubuh terpotong-potong, kepala terlontar ke angkasa. Semua terjadi saat tiga protagonis kita harus menyambut kunjungan para Predator. Setiap karakter menghadapi monster yang berbeda sesuai gaya pertarungan mereka, yang membuat penggambaran cerita tak pernah terasa monoton.
Naskah garapan Micho Robert Rutare sejatinya tidak menyediakan jalinan cerita kompleks, tapi kesederhanaan tersebut diolah secara efektif, sehingga durasi yang cenderung singkat (90 menit) tidak menghalangi Killer of Killers mengembangkan mitologi franchise-nya. Belum pernah dunia Predator mengembangkan semenarik ini, tanpa harus menggelar eksperimen yang terlalu pembohong (Saya melihat Anda 'The Predator').
Segala gelaran aksi film ini tampil begitu badass bukan saja karena penggunaan kekerasannya, tapi juga ketiadaan kesan basa-basi di setiap pertarungan. Tiga protagonisnya tidak perlu dibuat mengerti dan mencoba menganalisis makhluk apa yang mereka hadapi. Raksasa? Asing? Mereka tidak peduli. Satu hal yang ketiganya pahami betul adalah, mereka harus membunuh bila tak mau dibunuh.
Babak terbaiknya adalah pertarungan di Jepang, yang sebagian besar dipaparkan secara non-verbal. Karakternya memerlukan kata-kata dan bicara melalui ayunan katana, yang disajikan dalam rangkaian koreografi kelas satu, yang mendapat manfaat besar dari pemakaian medium animasi dengan segala kebebasannya. Fase Perang Dunia II tampil paling umum layaknya suguhan blockbuster bombastis khas Hollywood, biarpun rentetan pertarungan udaranya tetap digarap dengan kualitas mumpuni.
Predator: Killer of Killers memang kisah soal aksi saling bunuh diri, namun di sisi lain ia juga tampil bak potret mengenai bagaimana umat manusia sebagai makhluk berakal, perjalanan proses untuk meninggalkan kebarbaran mereka, kemudian belajar bahwa balas dendam takkan mendatangkan kedamaian, pun kekerasan tidak selalu menjadi jawaban atas segala permasalahan.






0 komentar:
Posting Komentar