Selasa, 02 Desember 2025

 ZOOTOPIA 2


Serupa film pertama, Zootopia 2 punya bangunan dunia kokoh, di mana seluruh elemennya terasa hidup dan berjalan dengan aturan-aturan yang jelas. Keserakahan antagonisnya bukan sebatas kejahatan tanpa arti, melainkan sebagai hewan teritorial, ia memang punya kecenderungan memperluas wilayah kekuasaan. Kulit luar filmnya memang dibuat over-the-top atas nama hiburan semua umur, namun kegembiraan bergerak sebagaimana realita.

Jeda antar kedua film hampir satu dekade (sebuah anomali mengingat Zootopia menghasilkan keuntungan besar), namun alur sekuelnya hanya berjarak seminggu dari konklusi pendahulunya. Judy Hopps (Ginnifer Goodwin) dan Nick Wilde (Jason Bateman) yang dielu-elukan bak pahlawan kini secara resmi berpartner di ZPD (Zootopia Police Department). Seekor kelinci dan rubah merah pun bersatu. 

Nyatanya bukan perkara mudah menyelesaikan hubungan lintas spesies. Judy yang terlalu positif dan Nick yang cenderung negatif terus mengalami kecelakaan, berakhirnya setumpuk kekacauan yang posisi membuat keduanya berada di kepolisian terancam. Ketimbang menyiasati konflik lewat percakapan hati ke hati, dua jagoan kita memilih menampik adanya masalah, memupuk disfungsi yang patut jadi bahan observasi setiap pasangan.
Naskah buatan Jared Bush (turut menyutradarai bersama Byron Howard) menjaga hubungan dua protagonisnya tetap di ranah platonik. Penonton anak bakal memandangnya sebagai persahabatan biasa, tapi di mata penonton dewasa lah keintiman yang urung berkembang ke arah cinta ini akan terlihat unik. Isian suara Ginnifer Goodwin dan Jason Bateman yang sarat chemistry semakin menguatkan pesona dua karakter utama. Mereka adalah individu yang benar-benar hidup, di dunia tengah yang tak kalah hidup

Di balik peliknya friksi interpersonal tersebut, Judy dan Nick harus mengusut kemunculan ular viper bernama Gary (Ke Huy Quan) yang ditengarai mengancam stabilitas kota. Sudah bertahun-tahun sejak ular (atau reptil secara umum) yang ditakuti dan dianggap sebagai ancaman, mencapai tanah Zootopia, yang seiring waktu kita akan menelusuri sejarah kelamnya.

Komponen misteri berlandaskan subgenre komedi buddy cop yang cukup efektif menggamit atensi pun digelar, gerakan oleh duo sutradaranya dengan tempo tinggi yang terbukti menjaga sisi hiburan filmnya. Humor yang enggan asal konyol, tapi secara cerdik terus merujuk pada mekanisme ekosistem yang telah dibangun pun tampil segar, sementara para pecinta sinema akan kembali dipuaskan oleh sederet referensi, termasuk penghormatan terhadap salah satu karya Stanley Kubrick di babak ketiganya..

0 komentar:

Posting Komentar