Senin, 08 Desember 2025

THE VOICE OF HIND RAJAB

 THE VOICE OF HIND RAJAB


Apa yang membedakan The Voice of Hind Rajab dari aji mumpung beraroma eksploitasi tragedi adalah perihal urgensi. Ketika genosida acap kali berbunyi, tepukan di bahu sebagai pengingat tidak lagi cukup, sehingga terdengar bahkan pukulan keras. Di sini sinema berbasis kisah nyata menampakkan fungsi esensialnya.
Pada tanggal 29 Januari 2024, kantor sukarelawan Bulan Sabit Merah menerima panggilan darurat dari Gaza. Sebuah rutinitas bagi mereka. Omar A. Alqam (Motaz Malhees) yang menerima panggilan itu pun meresponsnya sesuai prosedur, lalu mendengar ratapan gadis cilik yang meminta bantuan. Namanya Hind Rami Iyad Rajab. Usianya belum genap enam tahun, dan ia terjebak dalam mobil yang diberondong peluru pasukan Israel. 

Rana Hassan Faqih (Saja Kilani), atasan Omar, juga terlibat dalam upaya menenangkan si bocah, sementara Mahdi M. Aljamal (Amer Hlehel) mengoordinasi pengiriman ambulans yang mengharuskannya melewati rangkaian prosedur ruwet nan panjang. Kamera menyorot para pelakon secara close-up untuk menangkap ekspresi mikro mereka, kemudian beralih ke bidikan yang lebih luas saat tiba waktunya menyebarkan ledakan emosi.
Di dalam mobil, Hind dikelilingi enam jenazah keluarga yang meninggal tertembak. “Mereka hanya butuh tidur”, ucap Rana, yang di luar dugaan langsung disangkal oleh Hind. “Mereka sudah meninggal!”, balasnya sambil menangis. Anak kecil ini mengerti konsep kematian. Bayangkan betapa ketakutannya dia. 

serupa dengan yang ia lakukan di Four Daughters (2023), Kaouter Ben Hania sebagai sutradara sekaligus penulis naskah persyaratan batasan antara realita dan dramatisasi sinema. Rekaman suara asli Hind diperdengarkan alih-alih memakai pengisi suara guna. Setiap rekaman diputar, judul fail berformat WAV muncul di layar. Tidak sedetik pun penonton dibiarkan terbuai dalam ruang aman yang memungkinkan kita berpikir, "Semua ini hanya film."
Satu pilihan estetika unik yang sempat Ben Hania terapkan, kala menyatukan reka ulang peristiwa yang diperankan oleh aktor, dan rekaman video asli yang diputar di layar ponsel. Sang sineas membawakan peleburan format drama konvensional dan dokumenter menuju tingkat lanjut. 

Pendekatan tersebut menambah efektivitas The Voice of Hind Rajab sebagai pemantik kemarahan terhadap realita bernama "kebiadaban Israel". Bahwa ada mobil berisi bocah lima tahun diberondong 335 peluru adalah murni kekejaman. Bukan lagi memperkenalkan ideologi maupun kepercayaan. 

Satu hal yang perlu diingat, Hind Rajab bisa selamat dan prosedur pengiriman ambulans tidak dibuat sedemikian rumit. Menjadi rumit karena jika tim penyelamat asal dikirim memperhatikan tanpa keamanan jalur, mereka berisiko jadi korban berteman tentara Israel (yang akhirnya tetap terjadi biarpun prosedur telah dijalankan). Iblis mana yang menembaki ambulans?!
Penceritaan Suara Rajab Hind bukannya nihil cela. Rekaman panggilan sepanjang 70 menit memang kurang memadai sebagai materi film panjang (itulah kenapa Close Your Eyes Hind dan Hind Under Siege yang juga mengangkat tragedi ini memakai format film pendek), hingga beberapa titiknya terasa draggy. Dramatisasi masalah keputusasaan penyulut konflik internal antar sukarelawan yang naskahnya menambahkan guna menebalkan alur pun terkadang tampil artifisial, yang berkontradiksi dengan gaya narasi filmnya. 

Bila memandangnya sebagai karya semata, The Voice of Hind Rajab memang bukan pendobrak pakem yang luar biasa. Tapi ia adalah contoh di mana sinema melampaui batasnya sebagai "hanya tontonan". Bukan sebuah medium eskapisme, melainkan wajah realisme.

0 komentar:

Posting Komentar