Senin, 17 November 2025

TEBUSAN DOSA

 TEBUSAN DOSA


Rasanya kata "dosa" sekarang sudah terdengar murah. Apa yang seharusnya dihindari, menjadi sesuatu yang begitu jamak dialamatkan terhadap hal-hal remeh sekalipun. Melalui Tebusan Dosa, Yosep Anggi Noen seolah ingin mengembalikan kesakralan kata tersebut. Mengingat betapa tidak seharusnya manusia dengan mudah menuduh dosa sesamanya.

Selepas peristiwa yang belum terungkap, Wening (Happy Salma) memulai hidup baru bersama putrinya, Nirmala (Keiko Ananta), dan sang ibu, Uti Yah (Laksmi Notokusumo), di kota fiktif bernama Majakunan. Suami keduanya, Suleiman (Eduward Manalu), yang sebelumnya berjanji memperbaiki hidup Wening, hilang pasca serangkaian kekerasan yang ia lakukan. 

Tebusan Dosa diawali dengan agak terbata-bata. Alur dalam naskah yang Anggi Noen tulis bersama Alim Sudio terkesan melompat-lompat akibat pergerakan yang terlampau cepat. Pengarahan Anggi Noen di sini seperti berusaha lebih menyesuaikan diri dengan selera pasar, dan ironisnya, mondar-mandir lambat penuh kesabaran sesuai karya-karya arthouse miliknya akan mengeliminasi masalah penceritaan di atas.

Namun seiring waktu penceritaan Tebusan Dosa semakin stabil, terutama setelah kecelakaan yang Wening sekeluarga alami. Uti Yah meninggal di tempat, sedangkan Nirmala secara misterius menghilang. Nirmala diduga terseret arus sungai. Ketika pihak kepolisian dan tim SAR dirasa kurang dapat dimintai bantuan, Wening mulai meminta bantuan dari orang-orang di sekitarnya. Ada Tirta (Putri Marino) si guru renang yang tertarik menjadikan Wening sebagai bintang tamu di siniarnya, juga Tetsuya (Shogen), pria asal Jepang yang mempekerjakan Uti Yah sebagai asisten rumah tangga. 

Tebusan Dosa memang bagai sebuah usaha yang berkompromi dengan pasar, baik oleh Anggi Noen maupun Palari Films selaku rumah produksi. Termasuk perihal elemen horornya, yang ditambahkan paksa ke sebuah naskah misteri yang sejatinya telah utuh. Beberapa penampakan dan jumpscare pun akhirnya jadi selipan yang tidak perlu hadir.

Apakah berbagai penampakan itu memang benar terjadi, sebatas representasi rasa yang dilakukan tokoh-tokohnya, atau malah keduanya? Naskahnya kurang mumpuni dalam memainkan tanda tanya tersebut. Belum lagi jika membahas lemahnya Anggi Noen kala mengemas teror. Triknya cenderung murahan, dan didominasi oleh jumpscare. Kebisingan berupa kemunculan hantu yang bahkan tidak memiliki karakter sadari. Seolah-olah si hantu hadir hanya untuk meneror penonton alih-alih si protagonis.

Lain cerita jika membahas elemen lainnya. Setiap horornya absen, Tebusan Dosa bertransformasi menjadi karya yang sama sekali berbeda. Kualitasnya melonjak seketika. Investigasi misteri yang tersaji rapi serta efektif memancing rasa penasaran, juga drama sarat makna mengenai proses karakternya, saling berkelindan dengan apik.

Seperti telah disinggung di awal tulisan, Anggi Noen membawa perspektif menarik tentang dosa manusia. Seiring rasa frustrasi akibat kesulitan menemukan putrinya, Wening menerima saran Tirta untuk mendatangi dukun bernama Mbah Gowa (Bambang Gundhul), yang kemudian menyuruh Wening untuk menebus dosanya terlebih dahulu. 

Tapi benarkah Wening berdosa? Bila benar demikian, apakah dosa Wening begitu besar sampai membuatnya kehilangan Nirmala? Ataukah sesuatu yang dianggap “dosa” itu sesungguhnya adalah wujud ketidakadilan dalam perspektif masyarakat, yang punya kecenderungan menyalahkan perempuan? 

Happy Salma tampil kuat menghidupkan sesosok individu yang semakin lama semakin tersudut, terhimpit di antara keputusasaan, namun menolak mengibarkan bendera putih. Demikian pula Putri Marino, yang biasanya mampu memberi ragam warna serta bobot pada situasi dan kalimat "seremeh" apa pun.
Tebusan Dosa juga mengingatkan soal dualisme yang setia menghiasi alam semesta. Udara misalnya, yang dapat menjadi sumber kehidupan, namun juga berpotensi mematikan. Sama halnya dengan karakter Tirta (namanya juga berarti "udara") beserta siniar miliknya, yang dapat merugikan atau menguntungkan tergantung pemanfaatannya. Perihal mistis pun tidak jauh berbeda. Apakah sekedar teror mengerikan sebagaimana diperlihatkan oleh kebanyakan film horor, atau bagian dari alam semesta yang memilikinya sendiri? Selalu ada dua wajah dalam semua hal di kehidupan.

0 komentar:

Posting Komentar