This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Rabu, 21 Januari 2026

CAPTAIN AMERICA: BRAVE NEW WORLD

 CAPTAIN AMERICA: BRAVE NEW WORLD


Sayangnya, naskah yang ditangani oleh lima penulis (Rob Edwards, Malcolm Spellman, Dalan Musson, Julius Onah, Peter Glanz) tampil mengecewakan akibat tak tahu pasti fokus mana yang hendak dikedepankan. Isu ras? Negara yang terpecah belah akibat politik? Ketegangan antar bangsa dengan kepentingan masing-masing? Atau proses personal sang protagonis meneruskan nama besar pendahulunya?

Langkah filmnya mengekspansi dua judul yang seolah jadi anak tiri MCU, yakni The Incredible Hulk (2008) dan Eternals (2021), memang patut diapresiasi. Alkisah, pasca naik takhta sebagai Presiden Amerika Serikat, Ross berusaha membuktikan dirinya pada publik serta putrinya, Betty (Liv Tyler), bahwa ia sudah sepenuhnya berubah. Dipimpinnya proses menyatukan berbagai negara terkait pemanfaatan sumber daya (sebuah logam yang namanya sudah sangat familiar di budaya populer) di Pulau Celestial yang terbentuk dari jasad Tiamut.

Tapi naskahnya gagal mendukung niat baik tersebut. Tatkala jajaran pemainnya tampil baik Carl Lumbly memberikan gambaran kesakitan tentang individu yang menyimpan trauma di penjara (baca: pria kulit hitam yang telah berulang kali dirusak oleh ketidakadilan yang membenarkan hukum negara), Anthony Mackie semakin memupuk karisma sebagai Captain America, dan Harrison Ford memperkuat bobot emosi filmnya terutama di paruh akhir kisahnya justru bergulir tanpa energi.

Sederhananya, Captain America: Brave New World punya alur yang membosankan. Selain kompleksitas yang luput diperdalam, sebagai thriller politik ia gagal tampil mencekam akibat ketiadaan urgensi. Penonton tidak diberi kesan bahwa protagonisnya harus berpacu dengan waktu, dan dampak mematikan telah menunggu jika ia gagal. Sam dan Joaquin Torres (Danny Ramirez) hanya mondar-mandir mengumpulkan petunjuk tanpa ancaman berarti, dan ketika ada ancaman yang tercatat di tempat lain, keduanya bisa dengan cepat menyelidiki sumber bahaya.

Padahal tersimpan potensi yang begitu besar di sini. Tidak perlu membahas masalah politik internasional. Karakter Sam Wilson yang meneruskan identitas Captain America tanpa serum prajurit super, sehingga membuatnya kerap kepayahan meski hanya menghadapi segerombolan prajurit manusia, sudah menjadi modal menarik. Tapi sekali lagi, naskahnya membuat kebingungan melakukan proses yang diinginkan.

Setidaknya pertarungan Captain America melawan Red Hulk yang dijadikan bahan jualan utama, meski tidak berlangsung lama dan telah mengungkap money shot-nya di trailer, mampu menjadi highlight di babak ketiga. Sebuah pertarungan brutal yang melibatkan konfrontasi David dan Goliath, yang memaksa Sam terdesak ke batas kemampuannya.
Tidak ada yang benar-benar berantakan dalam cara Julius Onah mengarahkan aksi, namun ia belum mampu menerjemahkan gaya bertarung Captain America dengan lemparan tamengnya yang lincah. Kesan dinamis yang harusnya hadir, dilenyapkan oleh penyuntingan yang terlampau ekstrim dan artifisial. Tidak buruk, tapi (sama seperti keseluruhan filmnya) generik.

THE GORGE

 THE GORGE


 Alkisah dua penembak jitu dikirim untuk mengemban tugas serupa, yakni menjaga dua menara yang dipisahkan jurang lebar. Di menara barat ada Levi (Miles Teller) si mantan marinir Amerika Serikat, sedangkan menara timur ditempati oleh Drasa (Anya Taylor-Joy) yang merupakan agen rahasia yang kerap ditugaskan oleh Rusia. Tidak sulit menebak subteks yang ditanamkan oleh karya buatan Zach Dean seputar hubungan antara jurang dan hubungan dua protagonisnya. 

Levi dan Drasa harus tinggal di sana selama setahun, dengan tujuan menjaga agar monster yang bersemayam di dasar jurang tidak berkumpul keluar. Monster-monster itu dikenal dengan sebutan "The Hollow Men", yang nampak seperti campuran zombie, hewan, dan tumbuhan. Desain ala Lovecraftian berhasil menghidupkan makhluk misterius itu secara kreatif.

Tapi lupakan dulu perihal pasukan zombie itu, karena romansa Levi dan Drasa akan lebih mendominasi satu jam pertama. Diawali oleh saling pandang melalui teropong, keduanya memutuskan melanggar larangan untuk mengadakan kontak, lalu berkomunikasi melalui tulisan, lesatan peluru, lagu yang diputar lewat pengerasan suara, bahkan bermain catur tanpa memedulikan adanya tirai pemisah (secara harfiah). 

Kisah cintanya tampil manis. Miles Teller dan Anya Taylor-Joy menjalin chemistry yang kuat tanpa harus berada dalam satu frame, membangun pemandangan romantis tentang dua manusia yang kehilangan arah sebelum menemukan cinta di tempat antah berantah. Inilah representasi nyata dari kalimat "dunia serasa milik berdua". Hanya ada mereka....dan sekelompok monster yang kadang-kadang harus keduanya basmi.

Sewaktu tiba saatnya pembasmian dilakukan, Miles Teller dan Anya Taylor-Joy mampu secara berjanji menanggalkan wajah romansa mereka. Levi si lelaki hangat, serta Drasa si perempuan manis, tiba-tiba beralih rupa menjadi dua prajurit tangguh, yang mengemban tugas sebagai tembok pertama umat manusia. 

Sekuen pertempuran pertama diarahkan dengan intens oleh Derrickson. Menariknya, baku tembak itu diuraikan sebagaimana presentasi romansanya yang menjauhi kesan cerewet, di mana aksi lebih mendominasi ketimbang kata-kata verbal. Tidak ada celetukan atau one-liner ala blockbuster yang memaksakan diri untuk meringankan suasana. Levi dan Drasa sepenuhnya fokus pada tugas mereka.

Sayangnya, apa yang susah payah dibangun pelan-pelan runtuh selepas Levi dan Drasa akhirnya mengatasi jurang di antara mereka. Keduanya pun bertatap muka. Tapi alih-alih alat untuk mengeksplorasi hubungan mereka, naskahnya yang sebatas menjadikan pertemuan tersebut sebagai alasan agar The Gorge bisa memperbesar skalanya.

Filmnya bergerak ke arah survival horror berbumbu aksi yang jauh lebih berisik, dan tentunya lebih umum, termasuk penjelasan yang ditawarkan tentang asal-usul The Hollow Men. Aksinya minim intensitas, jumpscare yang Derrickson lemparkan pun seperti kekurangan tenaga. Semua dibiarkan bergulir begitu saja tanpa dampak signifikan, sampai ke babak ketiganya yang tersaji antiklimaks sekaligus menyia-nyiakan kemunculan Sigourney Weaver dengan memberikan porsi sebagai antagonis bodoh. Memang tidak semua hal harus tampil sebesar dan sekeras mungkin.

 

CONCLAVE

 CONCLAVE


Seperti judulnya, Conclave menampilkan proses konklaf di mana para kardinal mengadakan pengambilan suara secara tertutup untuk menentukan jeda yang baru. Terdengar seperti aktivitas membosankan, namun dengan melucuti karakternya dari kesucian dan menelanjangi sisi gelap mereka, adaptasi dari novel berjudul sama karya Robert Harris ini mampu mengubah ritual keagamaan formal menjadi tontonan seru layaknya acara kenyataan dan opera sabun televisi.

Alkisah pada suatu malam jeda ditemukan kematian dunia akibat serangan jantung. Situasi pun serentak berubah kacau, dan Edward Berger selaku sutradara, memastikan bahwa penonton non-Katolik pun memahami betapa besarnya urgensi peristiwa tersebut, lewat pilihan shot serta musik serba dramatis yang dipakai saat pemakaman sang pemimpin umat Katolik dibawa keluar dari apartemennya. 

Kardinal Thomas Lawrence (Ralph Fiennes) memimpin memutar konklaf, di mana empat kardinal dianggap berpeluang besar memenangkan pemilihan: Aldo Bellini (Stanley Tucci) dari pihak liberal yang memperoleh dukungan Lawrence, Joseph Tremblay (John Lithgow) yang cenderung moderat, Joshua Adeyemi (Lucian Msamati) si penganut paham sosial yang lembut, dan Goffredo terhadap Tedesco (Sergio Castellitto) yang kolot dan tak ragu bersedia membantu perang agama lain.

Ketika musik gubahan Volker Bertelmann rutin membangun intensitas lewat getarannya, sinematografi garapan Stéphane Fontaine menghadirkan keindahan yang elegan. Peleburan komposisi api dan kombinasi warna cantik membuat tumpukan puntung rokok di lantai pun tampak sedap dipandang. 

Berger dan tim artistiknya tahu betul citra apa yang coba diciptakan oleh para pemimpin agama ini terkait diri mereka. Mereka ingin terlihat terlihat pula rupawan di mata manusia awam, sehingga itulah Conclave yang dilihat dari luar. Bahkan sewaktu voting dilangsungkan, cara mereka memasukkan surat suara pun sangat elegan. Sampai wajah asli masing-masing mulai terungkap.

Conclave mengajukan pertanyaan terkait pemilihan sosok pemimpin yang dirasa relevan, termasuk jika diterapkan di luar konteks Katolik (misal pemilu di suatu negara): Apakah keputusan memilih "lesser evil" tepat untuk dilakukan? Lawrence terjebak dilema terkait situasi tersebut. Ketika peluang menang Bellini yang berbagi ideologi di dekatnya semakin menipis, haruskah ia berkompromi pada prinsipnya?

Ralph Fiennes membawakan dilema karakternya dengan sempurna, yang dipaksa terpendam atas nama profesionalitas sebagai ketua konklaf, meski sekali waktu, kekecewaan yang terlampau tinggi memunculkan ledakan yang tak mampu ia redam. Apalagi di saat sedikit demi sedikit, Lawrence mulai mengetahui berbagai rahasia tiap calon, yang membuatnya meragukan kelayakan mereka menyandang gelar jeda.

Di situlah Konklaf menampakkan jati dirinya. Kesan elegan di permukaan diambil alih oleh drama pemilihan yang kaya hiperbola. Rahasia kelam terkuak, kabar burung tersebar, orang-orang mulai bergosip, dan proses eliminasi terjadi pasca kebenaran akhirnya ditumpahkan di hadapan publik. Sekali lagi, tak ubahnya acara realitas televisi dengan segudang dramatisasi serta kejutan besar seputar aib para peserta. 

Hasilnya menyenangkan. Terkesan terlalu menyumbangkan atas nama hiburan, konyol, seiring waktu terasa berulang karena terus mengikuti pola "investigasi-rahasia terbuka-eliminasi", tapi sangat menyenangkan. Dampaknya yang negatif, kesan konyol tersebut berpotensi membuat presentasi terkait isu penting yang kisahnya angkat terasa sulit untuk dianggap serius.

Jumat, 09 Januari 2026

A COMPLETE UNKNOWN

 A COMPLETE UNKNOWN


A Complete Unknown adalah film biografi yang dikemas terlalu biasa untuk sosok se-luar biasa Bob Dylan. Penuturan James Mangold selaku sutradara tak kuasa memecahkan teka-teki mengenai Dylan (mungkin tidak ada yang akan bisa), meskipun setidaknya kita bisa merasakan kekaguman sang sineas terhadap karya-karya milik musisi yang telah menjual lebih dari 125 juta keping album tersebut.

Dipresentasikan dengan visual grainy yang menghidupkan kembali dunia 60-an, alurnya mengadaptasi buku Dylan Goes Electric! karya Elijah Wald, yang sebagaimana judulnya siratkan, bakal memotret proses Bob Dylan bertransformasi dari figur terdepan dalam pergerakan musik folk, menjadi gambar kontroversial, bahkan dicap "pengkhianat", selepas memutuskan menerapkan musik elektronik dalam lagu-lagunya.

Semua berawal dari kenekatan Dylan muda (Timothée Chalamet) mencari rumah sakit tempat idolanya, Woody Guthrie (Scoot McNairy), dirawat akibat penyakit Huntington. Di situlah ia diperkenalkan dengan Pete Seeger (Edward Norton), yang membantu membuka jalan kesuksesan bagi Dylan di industri musik. Norton adalah penampu pendukung terbaik di film ini. Di tengah kontroversi Newport Folk Festival 1965, Seeger datang membawa persepsi yang terdengar valid nan meyakinkan mengenai persetujuan atas pilihan Dylan membawakan musik elektronik berkat kehebatan Norton membuat monolog.

Di sisi lain, Chalamet mampu menghidupkan nuansa misterius dari seorang Bob Dylan, pula bernyanyi dengan suara yang begitu mirip dengan sang legenda, tanpa harus terjatuh dalam impersonasi layaknya karikatur. Naskah yang Mangold tulis bersama Jay Cocks enggan menampilkan Dylan sebagai sosok sempurna. Penggambaran apa adanya itu pula yang Chalamet olah lewat aktingnya. 

Penggambaran apa adanya sama berarti film ini siap menampilkan Dylan sebagai individu yang tidak begitu disukai. Di tengah ekosistem dengan Sylvie Russo (Elle Fanning) yang melihat kemunculannya di sampul album The Freewheelin' Bob Dylan, kemungkinan dibuat berdasarkan Suze Rotolo yang menemaninya sedari awal karir, Dylan sempat berselingkuh dengan Joan Baez (Monica Barbaro), hingga melakukan tur berdua.

Newport Folk Festival 1964 dengan apik menangkap isi hati semua karakter, yang tersirat entah dari cara mereka membawakan lagu sebagai penampil di atas panggung, atau sebagai penonton yang merespon lagu tersebut. Mangold memang cukup cerdik perihal bercerita melalui musik. Para karakter tidak perlu terang-terangan menyuarakan perasaan mereka, karena Mangold membiarkan alunan nada mewakili semuanya. 

Tengok saja momen magis ketika Dylan dan Baez menyanyikan Blowin' in the Wind di atas kasur. Ada cinta di sana, setidaknya di mata Baez, yang tidak se-enigmatik si protagonis. Barbaro selalu menghipnotis lewat datangnya yang coba memecahkan misteri di balik kepala Dylan, lewat petikan gitar juga menyanyikannya yang menyuarakan puisi tentang misteri tersebut.

Sayangnya A Complete Unknown masih terjebak dalam penyakit film biografi konvensional, dengan gaya cerita yang terpecah menjadi fragment-fragmen penuh lompatan. Kecintaan Mangold terhadap karya Dylan pun tak jarang menjadi bumerang. Ada kalanya itu membantu sutradara bercerita melalui lagu, namun tak jarang juga melahirkan "adegan musik" berkepanjangan dengan substansi minimum. Itulah mengapa durasi filmnya mendekati dua setengah jam. 

Mengapa Dylan beralih ke musik elektronik? A Complete Unknown coba menggiring penonton untuk percaya bahwa semua itu didasarkan pada ketidaksukaan si penyanyi terhadap ekspektasi publik yang sematkan padanya. Dylan membenci kekangan. Tapi seperti apa proses berpikirnya? Mengapa pemuda yang nekat berkelana uang tanpa demi berdiskusi Woody Guthrie dapat berbalik ke arah seekstrim itu?
Mangold sendiri seperti kurang yakin dengan interpretasinya, namun terjebak di antara ketidakmampuan memecahkan teka-teki seorang Bob Dylan, dengan keharusan menjabarkan sosoknya sejelas mungkin guna melahirkan biopic konvensional. A Complete Unknown gagal memotret transformasi karakternya secara meyakinkan. Mungkin seperti yang Dylan sampaikan melalui lagunya: Jawabannya sobat, tertiup angin.

PERNIKAHAN ARWAH

 PERNIKAHAN ARWAH


Berbeda dengan kebanyakan horor lokal, Pernikahan Arwah tidak kekurangan ide maupun ambisi. Sentuhan budaya yang jadi landasan, pilihan estetika, cara meneror, hingga gaya berceritanya, semua upaya yang terpenuhi menghadirkan kesegaran. Apa yang tak dimiliki oleh karya terbaru Paul Agusta ini adalah kemampuan menyatukan segala ide segar di atas menjadi satu kesatuan yang kohesif.

Rumah Kupu-Kupu. Begitu judul film internasional ini. Dalam Kebudayaan Cina, kupu-kupu melambangkan beberapa aspek kehidupan, dari cinta, kebebasan, hingga transformasi. Hal-hal itu pula yang dibahas dalam kisahnya yang mengetengahkan hubungan Tasya (Zulfa Maharani) dan Salim (Morgan Oey), di mana persiapan pernikahan mereka diganggu oleh kabar meninggalnya keluarga si calon mempelai laki-laki. 

Rencana pemotretan pre-wedding ke Hong Kong pun tiba-tiba dipindahkan ke rumah masa kecil Salim yang terletak di Jawa Tengah. Febri (Jourdy Pranata) dan Harja (Ama Gerald) selaku fotografer, juga Arin (Puty Sjahrul) sebagai penata rias pun turut hadir dan menjadi Saksi banyaknya peristiwa misterius yang membawa kaitan kelam dengan masa lalu keluarga Salim.

Pernikahan Arwah sesungguhnya masih menggunakan banyak pakem standar horor Indonesia, sebutlah latar rumah berhantu atau pemakaian lagu lawas untuk membangun atmosfer. Hanya saja, sentuhan budaya datang membawa perbedaan. Pernak-pernik klenik Jawa yang sudah terlampau banyak menghiasi layar lebar yang ditanggalkan guna memberi ruang bagi warna-warna budaya tionghoa. 

Horor yang memanjakan Indra pun mampu dihasilkan, sementara di kursi sutradara, Paul Agusta menggerakkan film dengan gaya khasnya yang mengandalkan tempo lambat. Menariknya, meski bergulir pelan serta menekan jumpscare hingga ke titik minimum, Pernikahan Arwah bisa terus mengingatkan bahwa kita tengah menyaksikan horor, dengan secara rutin menampilkan pemandangan-pemandangan janggal.

Sederhananya, film ini memiliki setup yang menjanjikan. Masalahnya terletak pada bagaimana setumpuk amunisi menarik yang dimilikinya digabungkan untuk menghasilkan teror serta cerita yang terasa "mematikan". Di situlah Pernikahan Arwah menemukan batu sandungan.

Elemen horornya tidak pernah benar-benar menyeramkan menegangkan. Padahal film ini memiliki desain hantu yang unik, berkat sentuhan kulturalnya, mampu meleburkan kengerian dengan keindahan. Keberanian menghindari kegemaran sineas horor lokal menyusun adegan yang menggunakan tingkat kecerahan serendah mungkin pun patut diapresiasi. 

Lalu di mana letak kekurangan Pernikahan Arwah sehingga horornya gagal tampil maksimal? Adegan ketika Tasya melakukan sembahyang di pagi hari, dan tanpa ia sadari jenazah leluhur Salim sudah terbaring di sebelahnya, merangkum nilai minus filmnya secara garis besar. Di atas kertas momen itu terdengar sangat mencekam sekaligus mencengangkan. Sayangnya, pilihan shot yang dinyanyikan sutradara pakai justru melucuti daya bunuh diri.

Tengok pula perjalanan mengarungi alam baka di babak ketiga yang lebih terlihat seperti kunjungan ke rumah hantu murahan, sehingga terkesan dengan pencapaian pencapaian estetika mengagumkan yang telah dicapai dalam beberapa menit sebelumnya. Pun sekali lagi, akibat lemahnya pengadeganan, babak puncaknya berakhir secara antiklimaks. 

Belum lagi naskah buatan Ario Sasongko dan Aldo Swastia yang tak kuasa mengikat atensi lewat kisahnya hasil presentasi yang luar biasa kusut. Seusai menonton, cobalah menceritakan ulang detail alurnya, lengkap dengan penjelasan terkait sebab-akibat, dan kalian akan memahami sekusut apa naskahnya. Untunglah Zulfa Maharani, sebagai pemeran paling banyak diberi beban emosi, selalu hadir mengatrol kualitas momen-momen yang dilakoninya.

NICKEL BOYS

 NICKEL BOYS


Daya tarik terbesar Nickel Boys tentu berasal dari tata kameranya, yang dipresentasikan melalui sudut pandang orang pertama. Tapi alih-alih seorang saja, ada perspektif dua individu yang ditampilkan, sehingga selain kesan pribadi, adaptasi novel karya Colson Whitehead ini juga menjadi kisah yang merangkum memori (atau lebih tepatnya "trauma") kolektif.

Elwood (Ethan Herisse) adalah sosok yang kita ikuti perspektifnya. Seorang remaja Tallahassee yang hidup berdua bersama sang nenek, Hattie (Aunjanue Ellis-Taylor). Dia tidak hanya cerdas, pula aktif turun ke jalan menyuarakan hak asasi manusia. Elwood yang tumbuh di awal tahun 60-an menjadi saksi bagaimana figur-figur seperti Martin Luther King Jr. tengah memerangi rasisme terhadap kaum kulit hitam di Amerika Serikat. Walau keadilan sosial masih jauh dari jangkauan, kecerdasan serta ketekunan si remaja membuat masa depannya, tampak cerah. 

Sampai takdir berputar ke arah tak terduga, yang membuatnya dikirim ke sekolah reformasi bernama Nickel Academy. Cita-citanya melanjutkan studi di universitas ternama pun harus ia kubur. Di Nickel, siswa kulit putih dan kulit hitam hidup terpisah. Ketika siswa kulit putih mendapat perhatian lebih dari tenaga mengajar, Elwood dan teman-teman (termasuk bocah yang bahkan belum menginjak 10 tahun) dipaksa bekerja di ladang, lalu mendapat hukuman fisik bila membuat kesalahan. Nickel Academy tidak berupaya mendidik. Mereka hanya memperbudak.

Di sanalah Elwood berkenalan dengan Turner (Brandon Wilson). Berlawanan dengan pola pikir berlandaskan semangat perjuangan yang dibawa Elwood, Turner cenderung berpikiran skeptis. "Daripada mengambil risiko untuk melawan, lebih baik diam sambil menundukkan kepala karena takkan ada yang berubah", begitu pikir Turner. 

Pasca Turner diperkenalkan, kamera pun mulai rutin berpindah sudut pandang guna menampilkan apa yang ia saksikan. Bagaimana naskah yang dibuat oleh sang sutradara, RaMell Ross, bersama Joslyn Barnes, menggunakan gaya bertutur radikal dengan terus memindahkan perspektif antara Elwood dan Turner membuat Nickel Boys terasa seperti rekaman dari memori kolektif orang-orang yang berbagi pengalaman, serta luka yang sama.

Ross menunjukkan bakatnya sebagai sineas yang mengawali karir sebagai kreator dokumenter, kadang-kadang ia menyelipkan beragam cuplikan, dari cuplikan film, berita di televisi, hingga rangkaian dokumentasi. Sekilas terkesan tak berkaitan, namun keseluruhannya sama-sama jadi gambaran wajah sebuah negara pada suatu masa. Ketika masyarakat terpukau oleh teknologi yang melesat maju hingga memungkinkan manusia pergi ke luar angkasa, di sekeliling mereka menegakkan keadilan sosial malah berjalan mundur. 

Harus diakui gaya film eksperimentalnya yang mengutamakan teknik eksplorasi bertutur membuat "rasa" di beberapa titik terkesan jauh, termasuk montase dengan sebuah twist besar di konklusi, yang seperti memperumit hal sederhana, yang bakal jauh lebih emosional bila sorotan diletakkan pada penampilan pemainnya. Aunjanue Ellis-Taylor tampil luar biasa di momen tersebut. Teriakan dalam tangisnya akan sukar dihapus dari hingatan.

Tapi pendekatan radikal Nickel Boys tetap merupakan pencapaian yang hebat. Meski berdurasi 140 menit rasanya masih bisa dirampingkan, kolaborasi sutradara dan penata sinematografinya memastikan bahwa perjalanan panjang itu tak pernah tampil monoton. Filmnya begitu kreatif perihal menata apa saja yang penonton saksikan di layar (dari bocah yang tiba-tiba meluncur di bawah kursi bus, hingga sinkronisasi gerak kaki dua orang asing yang kebetulan terjadi). 

Terkadang kita diajak melompat ke masa depan untuk bertemu Elwood dewasa (Daveed Diggs). Menariknya, daripada memakai sudut pandang orang pertama seperti biasa, kita melihat sosoknya dari belakang, tak ubahnya hantu tak kasat mata yang mengikuti si tokoh utama. Bersama Elwood dewasa itulah kita menyadari bahwa penyiksaan di Nickel bukan hanya menghancurkan para siswa di masa itu, pula masa depan mereka.

MICKEY 17

 MICKEY 17


Penonton yang berharap Bong Joon-ho kembali merevolusi genre seperti telah beberapa kali ia lakukan mungkin akan sedikit kecewa, karena Mickey 17 lebih seperti amalgam dari film-film Bahasa Inggris miliknya daripada sebuah dobrakan baru. Tapi sang penulis memang tidak perlu melakukannya. Selepas Parasite mencetak sejarah enam tahun lalu Bong tak perlu lagi membuktikan apa pun, dan Mickey 17 meski merupakan salah satu karya terlemahnya menegaskan bahwa ia adalah salah satu sutradara paling konsisten saat ini.

Naskahnya (juga ditulis oleh Bong) mengadaptasi novel Mickey7 karya Edward Ashton, tentang bagaimana di tahun 2054, umat manusia berusaha membangun koloni di planet lain. Dipimpin oleh Kenneth Marshall (Mark Ruffalo) si politikus gagal bersama istrinya yang cenderung lebih dominan, Ylfa (Toni Collette), sebuah perjalanan selama empat tahun menuju planet bernama Nilfheim pun dimulai. 

Mickey Barnes (Robert Pattinson) termasuk dalam jajaran kru. Tapi itu bukan kru biasa. "Dapat dibuang", begitulah posisinya disebut. Mickey ditugasi melakukan banyak misi berbahaya yang selalu berakhir pada kematian. Tapi berkat teknologi kloning, ia selalu "dicetak ulang" untuk hidup kembali dalam tubuh yang berbeda. Timbul masalah kala Mickey 18 (sesuai namanya, kloning yang ke-18) sudah terlanjur dihidupkan, sebelum terungkap bahwa Mickey 17 ternyata mampu bertahan hidup dalam misinya. Dua versi Mickey pun ada secara bersamaan.

Ada sebuah adegan saat Timo (Steven Yeun), teman lama Mickey yang bertugas sebagai pilot, tiba di lokasi tempatnya terjebak setelah mengalami kecelakaan hingga cedera parah. Ketimbang menyelamatkan sang teman, Timo lebih memilih mengambil senjata pelontar api milik Mickey yang menurutnya "lebih sayang bila rusak". Di kesempatan lain, para kru mencurigai tangan Mickey yang putus. 

Sederhananya, Mickey tak lagi dimanusiakan. Sama seperti para pekerja kelas bawah di dunia nyata, yang tersisa nyawa sementara jajaran penguasa duduk nyaman sambil menikmati hasil keringat mereka. Teknologi kloning memberi umat manusia di film ini kekuatan untuk "bermain Tuhan", hanya saja dalam memainkannya, manusia tak sedikitpun memiliki kebijaksanaan-Nya.

Pesan yang Mickey 17 bawa sebenarnya bukan baru. Adanya sosok pemimpin sewenang-wenang, ditambah kemunculan sosok monster bernama "creeper", membuatnya terasa seperti kombinasi Snowpiercer dan Okja. Jurang kelas, objektifikasi terhadap individu yang dipandang sebagai komoditas belaka, hingga kecenderungan manusia melakukan penjajahan dan menyebut mereka yang berbeda sebagai "alien", semuanya adalah tema favorit Bong Joon-ho. 

Sayang, jika menerapkan tema-tema tersebut ke alur, Mickey 17 terkesan kurang pembohong dalam mengeksplorasi premis uniknya, bahkan cenderung stagnan dalam bercerita. Ibaratnya, Bong membawa kita terbang mengunjungi planet asing, tapi bukannya menjelajahi setiap sudutnya, ia hanya mengajak kita berjalan-jalan santai di sekitar pesawat.

Di sisi lain, tidak seperti banyak sineas Hollywood yang sering memandang karya mereka terlampau serius hingga berakhir hambar, Bong dengan jeli mencampurkan banyak sentuhan komedi gelap yang cukup efektif memancing tawa. Di sinilah kinerja Pattinson memegang peranan penting. Sebagai Mickey 17, Pattinson mengolah talenta komedinya untuk memerankan figur "bodoh", lengkap dengan modifikasi cara bicara yang memukau. 

Menariknya, Pattinson melakoni peran ganda yang bertolak belakang, karena tidak seperti "pendahulunya", Mickey 18 adalah sosok yang penuh percaya diri, berani, pula tidak ragu memakai kekerasan sebagai jalan menyelesaikan masalah. Mungkin seperti Mickey, diri kita pun menyimpan banyak versi, termasuk yang sama sekali berbeda dan hanya sesekali muncul ke permukaan. Tidak kalah pesonanya adalah Ruffalo sebagai karikatur politikus minim kompetensi, Collette yang mengendalikan segalanya dari belakang dengan begitu keji, juga Naomi Ackie sebagai Nasha, kekasih Mickey yang tangguh.
“Seperti apa rasanya mati?”, merupakan pertanyaan yang paling sering diajukan kepada Mickey. Kematian adalah hal yang paling menyeramkan bagi banyak orang. Bayangkan mengirim sesama manusia untuk mengalami hal yang paling kita takuti berulang kali tanpa ada rasa bersalah. Diceritakan pada Bong Joon-ho untuk melahirkan sosok-sosok yang di atas kertas tampak konyol, namun sebenarnya menyimpan kekejaman yang melampaui kejahatan pun.

NO OTHER LAND

 NO OTHER LAND


Aku mulai merekam ketika hidup kami mulai berakhir. Di film lain, itu hanya akan menjadi sebuah kalimat yang ditulis dengan indah. Tapi di No Other Land, alih-alih karakter fiktif, untaian kata di atas terucap dari mulut orang asli, yang menggambarkan realitanya yang bertransformasi menjadi horor asli. Hasilnya adalah salah satu kalimat paling menyayat hati yang pernah didengarkan oleh medium sinema.

Empat sutradara (Basel Adra, Hamdan Ballal, Yuval Abraham, dan Rachel Szor) bekerja sama membesut dokumenter yang beberapa waktu mencetak lalu kemenangan bersejarah di Academy Awards ini. Di antara mereka, Basel dan Yuval memiliki peran paling menonjol, karena keduanya ikut berperan sebagai protagonis yang penonton mengikuti kisahnya. 

Basel merupakan aktivis muda Palestina yang vokal melawan pengusiran oleh tentara Israel terhadap warga Masafer Yatta yang jadi tempat tinggalnya. Di sisi lain, Yuval adalah jurnalis Israel yang melawan agresi negaranya sendiri. Narasi No Other Land terdiri atas ribuan jam rekaman yang mereka kumpulkan dari tahun 2019 hingga 2023, pula arsip video milik keluarga Basel yang diambil sejak puluhan tahun lalu.

Tidak ada voice over, tidak ada grafik penjelas, tidak ada wawancara. No Other Land adalah cinéma vérité yang bertujuan memotret realita senyata mungkin. Riyad Mansour selaku duta besar Palestina untuk PBB pernah menyebut serangan Israel di tanah airnya sebagai "genosida paling terdokumentasi sepanjang sejarah", dan film ini memperkuat pernyataan tersebut.

Penonton seolah-olah membawa terjun langsung ke medan perang, dan tak ada ruang tersisa bagi keraguan mengenai apa yang tampak di layar untuk menyeruak. Ketika Harun salah satu tetangga Basel yang berusaha menghalau tentara Israel ditembak oleh para penjajah, ada kengerian yang merambat. Ada seorang pria yang ditembak, coba dibunuh layaknya binatang, tepat di depan mata kita. Bukan reka ulang, bukan adegan buatan.

Bukan hanya paparan sadisme saja yang meninggalkan kesan besar. Kita sempat diajak mundur beberapa tahun ke masa Basel yang masih kecil, tepatnya ketika Tony Blair datang mengunjungi sekolah yang dibangun di tengah ancaman pengusiran. Sang mantan perdana menteri hanya berkeliling selama tujuh menit, dan itu sudah cukup membuat Israel menghentikan upaya penyekusi. Apa jadinya jika para pemegang kekuasaan di seluruh dunia bersedia mengerahkan daya upaya mereka secara total guna membantu rakyat Palestina? 

No Other Land mungkin tidak memenuhi banyak kaidah film, tapi fakta bahwa dokumenter berdurasi 95 menit berhasil dilahirkan tatkala para pembuatnya bertaruh nyawa tiap hari sudah merupakan keajaiban. Mereka tidak perlu memikirkan soal pakem.
Kita pun tidak usah memedulikan tetek bengek di atas. Persoalan teknis tak lagi penting, karena sewaktu-waktu pasukan biadab Israel bukan hanya menghancurkan rumah di Masafer Yatta, tapi juga mengambil alat pertukangan dan melucuti peluang membangun kembali, atau saat muncul larangan bagi rakyat Palestina untuk menyetir akhirnya sebelum berpuncak pada dirusaknya sumber air, kita tengah menjadi saksi genosida.

Kamis, 08 Januari 2026

THE GIRL WITH THE NEEDLE

 THE GIRL WITH THE NEEDLE


The Girl with the Needle, yang jadi perwakilan Denmark di Academy Awards 2025 (berhasil menyabet nominasi), merupakan drama sejarah yang dibungkus layaknya horor arthouse. Tidak ada hantu dalam resolusi konvensional di dalamnya. Hantu di sini tak bisa kita lihat namun dapat dirasakan, sebagai manifestasi kesendirian karakternya yang jatuh ke jurang terdalam akibat terus-menerus mengalami pembuangan.

Kopenhagen, 1919: Karoline (Vic Carmen Sonne) baru diusir dari apartemen akibat 14 minggu lalai membayar uang sewa. Suaminya, Peter (Besir Zeciri), sudah setahun tak memberi kabar dari medan perang. Hubungannya dengan Jørgen (Joachim Fjelstrup), bos pabrik tempatnya bekerja, berawal indah. Tapi niatan menikahi si lelaki selepas mendapati dirinya hamil ditentang keras oleh ibu Jørgen. 

Sekali lagi, Karoline merasakan sakitnya dibuang. Magnus von Horn sebagai sutradara sering menempatkan si protagonis di tengah layar seorang diri. Terkadang sosok Karoline dibingkai oleh objek di sekitarnya, atau kegelapan yang ditangkap dengan begitu cantik dalam tata kamera Arah Michał Dymek. Semuanya mewakili kondisi psikologis Karoline.

Sampai di satu titik Karoline memutuskan untuk membalikkan melakukan hal yang selama ini menyiksanya. Dia ingin membuangnya. Targetnya adalah janin yang ia kandung. Tapi sebelum sempat melakukan itu (memakai jarum raksasa yang dibawa ke pemandian umum), Karoline ditolong oleh Dagmar (Trine Dyrholm), perempuan yang sekilas tampak baik hati. Tapi karena karakternya terinspirasi dari Dagmar Overbye, pembunuh berantai yang dari tahun 1913-1920 konon telah merenggut nyawa 25 korban, kita tahu kalau kebaikan tersebut hanya ilusi belaka. 

Ditemani sinematografi hitam putih remang-remang yang menjelaskan betapa kegelapan selalu menaungi karakternya, kita pun ikut diajak mengobservasi lingkungan tempat Karoline menghabiskan keseharian. Semuanya kotor, jauh dari kesan higienis, bahkan tidak menjijikkan.

Bersama tempo lambat yang digerakkan secara presisi, Magnus von Horn berhasil menjadikan The Girl with the Needle sebagai perjalanan mengarungi kekacauan batin Karoline, yang meski dipenuhi ketidaknyamanan, nyatanya juga terasa menghipnotis. Apalagi Vic Carmen Sonne tampil luar biasa merepresentasikan ketersesatan Karoline, terutama melalui permainan ekspresi wajahnya. 

Karoline tengah hilang arah. Tidak tahu harus melangkah ke mana, bahkan tidak benar-benar yakin akan wajah asli dirinya maupun orang-orang di sekitarnya. serupa ditampilkan oleh sekuen pembukanya yang begitu mencekam bak sebuah mimpi buruk absurd, The Girl with the Needle menunjukkan bahwa individu cenderung menyembunyikan wajah asli mereka. Wajah asli yang lebih buruk rupa, dan tak jarang, merupakan wajah yang sangat mengerikan.

SINGSOT

SINGSOT

Satu hal yang patut diapresiasi dari Singsot adalah keotentikannya. Mengambil latar di Jawa, diisi oleh jajaran aktor dengan kemampuan Bahasa Jawa yang bukan dipilih karena alasan popularitas atau tampang semata, pun kisahnya tidak memerlukan adanya perspektif dari karakter asal ibukota yang tengah mengunjungi desa. Tidak banyak rilis hororan rumah produksi besar bersedia memperhatikan semua itu. 

Mengadaptasi film pendek berjudul sama yang juga digarap oleh Wahyu Agung Prasetyo, Singsot versi layar lebar masih mengetengahkan jalinan kisah yang senada. Alkisah, karena sering memperhatikan sang kakek (Landung Simatupang) merawat burung, bocah bernama Ipung (Ardhana Jovin Aska Haryanto) mulai berbagi ketertarikan serupa. Siulan pun semakin sering keluar dari mulut Ipung, termasuk di waktu magrib meski sang nenek (Sri Isworowati) telah menghardiknya. Benar saja, siulan Ipung jadi awal rangkaian pemandangan mengerikan yang ia saksikan.
Naskah yang Wahyu tulis bersama Vanis coba mengakali alih medium ke film panjang dengan cara memperluas cakupan cerita, yang tak lagi hanya berpusat di rumah protagonisnya, tapi juga menyoroti fenomena misterius di desa setempat. Dikisahkan, seorang warga bernama Agus Pete (Jamaluddin Latif) ditemukan di tengah hutan dalam kondisi katatonik. Kini ia cuma bisa berbaring di kasur dan sepenuhnya bergantung pada sang istri, Wiwik (Siti Fauziah). 

Muncul pemandangan jenaka tatkala dua ibu-ibu kampung mulai bergunjing mengenai kondisi Agus Pete. Siti Fauziah yang selepas kesuksesan Tilik (2018) mulai terjebak dalam typecast sebagai perempuan desa penyuka gosip bermulut tajam, di sini berubah 180 derajat menjadi korban gosip. 

Patut disyukuri bagaimana tambahan konflik seputar teror yang warga setempat alami tidak selalu memaksa para penulisnya untuk memaksa ceritanya membengkak secara berlebihan jika dibandingkan sumber adaptasinya. Durasi versi layar lebarnya pun cenderung pendek, hanya 75 menit.
Namun bahkan dengan durasi sependek itu alurnya masih terasa tipis, karena sebagian besar hanya tersusun atas kompilasi teror yang Ipung hadapi, sambil sesekali diselingi oleh interaksi dua tetua desa (termasuk kakek Ipung), saat mereka membicarakan perihal klenik yang mungkin tengah terjadi. Diskusi kedua tetua tersebut merupakan esensi dari unsur budaya mistis Jawa yang mengakar kuat di kisahnya, alih-alih jadi pernak-pernik semata. 

Intensitas pembangunan dari Wahyu Agung Prasetyo sejatinya cukup apik. Biarpun acap kali berakhir pada trik jumpscare generik, di mana para hantu sebatas menampilkan wajah mereka yang jauh dari cantik, hampir semua terornya disokong oleh build-up yang tampil creepy berkat pendekatannya yang tidak takut mengandalkan kesunyian. 

Masalahnya, penulisan teror dalam naskahnya benar-benar kacau, terutama akibat terlalu bergantung pada adegan mimpi. Di versi film pendek, pemakaian mimpi bisa diterima karena tidak berlebihan dan sesuai dengan kepercayaan terkait celana tertidur di waktu magrib. Di sini, mimpi bagaikan cara malas meminimalkan kreativitas yang terus direpetisi supaya naskahnya punya alasan memunculkan hantu.
sebenarnya ada niat baik dari naskahnya yang enggan menyuapi penonton secara berlebihan, lalu membiarkan kita mengingat dan menyatukan keping-keping puzzle sendiri. Sayang, akibat lemahnya penulisan, alih-alih proses memecahkan teka-teki yang menstimulus kerja otak, Singsot lebih seperti kekacauan yang membingungkan. 

Setidaknya, seperti yang telah disinggung pada awal tulisan, film ini merupakan presentasi yang autentik. Ditunjang akting kuat jajaran pemain yang fasih melafalkan Bahasa Jawa, pula berperilaku layaknya manusia normal, dunia filmnya yang muncul tidak terasa berbeda dengan realita tempat kita tinggal. Andai saja ia berhasil memberi teror mumpuni.

SAMAR

 SAMAR



Walau masih menampilkan hantu, Samar tak memuat berbagai elemen klise nan membosankan khas horor lokal seperti santet, pesugihan, ritual perdukunan, atau kepercayaan klenik Jawa. Karya terbaru Renaldo Samsara ini memang horor psikologis serba berantakan yang berusaha terlalu keras mengembuskan napas Lynchian, tapi keberaniannya membawa gaya tutur alternatif di tengah kemonotonan horor Indonesia jelas layak diapresiasi.
Ilmira Nirmala (Imelda Therinne) adalah komikus horor yang tengah menetap di daerah terpencil, tepatnya di rumah warisan keluarganya, dalam rangka menyelesaikan karya terbarunya. Seorang gadis misterius (Aurora Ribero) juga tinggal bersama Ilmira. Hubungan keduanya baru terungkap selepas twist di paruh akhir. 

Satu yang pasti, baik Ilmira maupun si gadis sama-sama bisa melihat hantu. Jika Aurora Ribero membentuk karakternya sebagai individu penakut yang selalu menempel pada Ilmira jika bersinggungan dengan hantu, maka Imelda Therinne membawa karisma yang memesona. Alih-alih terkejut apalagi takut, hanya memunculkan sinis yang Ilmira munculkan setiap beradu mata dengan makhluk halas bertampang seseram apa pun.
Salah satu aspek esensial dalam kehidupan Ilmira adalah kedamaian dengan sang suami, Salman (Revaldo), yang sedang ia gugat cerai pasca ketahuan berselingkuh. “Mau bawa celana dalam aku sekalian buat kenang-kenangan?”, ucap Ilmira sambil setengah mengusir Salman yang tak pernah bisa menahan dorongan nafsunya.

Pendekatan Samar, yang membagi kisahnya menjadi enam bab dan lebih mengedepankan eksplorasi terhadap rutinitas si protagonis daripada menggunakan pola linear khas film horor arus utama memang cukup menyegarkan. Masalahnya, Renaldo Samsara bak terlampau memaksakan filmnya untuk tampil unik di semua sisi. Hasilnya adalah sebuah tontonan yang acap kali memperumit hal-hal sederhana.
Misalnya jalinan kalimat dalam naskah yang dinyanyikan sutradara tulis bersama Nandray S. dan Fanya Runkat. Tengok interaksi Ilmira dan Salman di awal film yang alih-alih menyuplai informasi selengkap mungkin untuk penonton mengenai dinamika kedua karakter, justru menghalangi tersampaikannya informasi tersebut akibat diksi yang seperti ingin menampilkan intelektualitas secara berlebihan. 

Begitu pula departemen penyuntingan yang ditangani oleh M. Fahrul Ihwan dan (sekali lagi) Renaldo Samsara. Begitu banyak lompatan kejam sepanjang 97 menit durasinya, yang membuat poin-poin cerita sederhana tampil lebih ruwet dari yang seharusnya. Bab 1-3 yang terus berkutat pada rutinitas berulang Ilmira di rumah terkesan berusaha menyembunyikan stagnasi alur di balik susunan narasi gaya minimal substansi.
Barulah memasuki bab keempat, yang ditandai kedatangan penerbit komik Ilmira, Bram (diperankan Kevin Julio yang kembali mengingatkan betapa dia merupakan salah satu aktor yang paling diremehkan), alurnya tampil lebih berwarna, semakin rapi, dan penting, memungkinkan memperluas cakupan eksplorasinya. Menarik melihat Ilmira sebagai indigo mesti bermimpi dengan dunia luar, dari restoran yang memakai penglaris berupa ludah hantu, hingga pasutri yang hendak membeli rumahnya tanpa menyadari keangkeran tempat tersebut. 

Jangan berharap jumpscare Berisi dengan kuantitas setinggi langit di sini. Samar bukan sebatas menampilkan deretan penampakannya (yang tidak dikemas memakai volume berlebihan) sebagai alat menakut-nakuti, tapi juga media untuk menjabarkan dinamika psikologis si protagonis, yang terus ditelusuri hingga mencapai twist di penghujung durasi.
Twist-nya mungkin terkesan memikat penonton, namun ia juga mampu memperkuat poin yang coba Samar sampaikan, yakni perihal kekuatan karya seni, yang di film ini ditutupi oleh komik. Bahwa seni bisa menjadi medium katarsis yang membantu sang pembuat karya maupun orang lain yang menikmati karya tersebut, untuk menghadapi beragam permasalahan mental yang menghantui kehidupan mereka.



NOCTURNAL

 NOCTURNAL


Nokturnal menjanjikan banyak hal. Pertama, menilik formatnya sebagai thriller balas dendam yang telah lama jadi menu andalan sinema Korea Selatan. Kedua, terkait premis unik miliknya, yakni perihal sebuah novel yang alurnya bisa memprediksi aksi kriminalitas di dunia nyata. Terdengar seperti sebuah klasik instan.

Bae Min-tae (Ha Jung-woo) kini hanya seorang buruh biasa di pabrik yang menunggak gaji karyawannya, tapi ada masanya ia dikenal sebagai sosok gangster yang ditakuti. Min-tae terpaksa kembali mengunjungi dunia bawah tanah selepas sang adik, Seok-tae (Park Jong-hwan), ditemukan dalam kondisi tak bernyawa, sedangkan sang istri, Cha Moon-young (Yoo Da-in), juga tiba-tiba hilang. 

Ha Jung-woo begitu berjanji sebagai Min-tae si mantan gangster intimidatif, kemunculannya saja sudah bisa membangkitkan rasa takut musuh. Dikunjunginya semua tokoh kriminal, termasuk mantan bosnya, Seok Chang-mo (Jung Man-sik), untuk mencari tahu kebenaran di balik kematian Seok-tae, dan Min-tae tak Segan menghabisi siapa pun yang menghalangi jalannya, termasuk polisi tua yang sempat bersinggungan dengan jalan dia. 

Di sisi lain ada Kang Ho-ryeong (Kim Nam-gil), penulis novel berjudul Nocturnal yang juga melakukan pencarian terhadap Moon-young. Sementara itu, berdasarkan penyelidikannya, Detektif Park (Heo Sung-tae) menemukan fakta bahwa segala peristiwa yang berkaitan dengan kematian Seok-tae ternyata berjalan serupa dengan alur novel buatan Ho-ryeong.

Kim Jin-hwang selaku sutradara sekaligus penulis naskah enggan terlalu menyuapi penonton, dan cenderung membiarkan kita tenggelam dalam kegiatan menyusun puzzle sendiri, yang bakal terasa mengasyikkan bagi mereka yang membuat otak. Alurnya kompleks, namun tidak pernah terlalu rumit hingga mustahil untuk memecahkannya. Apalagi di balik kompleksitas tersebut ada misteri yang cukup efektif mengundang rasa penasaran.

Beberapa twist menanti di ujung cerita. Meski bukan sesuatu yang segar atau luar biasa mengejutkan, twist tersebut mampu memantapkan bangunan dunia kelam yang jadi latar filmnya, di mana pengkhianatan merupakan hal biasa, dan hanya ada kegelapan menanti di ujung jalan. Protagonis yang kita ikuti perjuangannya pun memiliki kepribadian yang jauh dari kesempurnaan seorang pahlawan. 

Masalah bukan terletak pada misterinya, tapi metode investigasi yang protagonisnya gunakan untuk mengusut misteri tersebut. Min-tae sebatas mengunjungi suatu lokasi yang ditengarai menyimpan petunjuk, menginterogasi orang-orang yang ada di sana, sebelum mengulangi prosedur penyelidikan serupa di lokasi berikutnya. Paruh kedua yang didominasi rangkaian repetitif itu pun terasa datar dan melelahkan.

Tapi yang paling menjengkelkan adalah bagaimana premis "seksi" soal novel yang diduga memprediksi peristiwa dunia nyata rupanya sebatas tempelan belaka. Sejatinya bukan hanya novel itu saja. Begitu banyak elemen di Nocturnal hanya berakhir sebagai pernak-pernik yang tidak pernah menjadi bagian esensial alurnya, termasuk karakter Detektif Park yang fungsinya bisa dengan mudah dialihkan ke Min-tae.

Padahal keberadaan novel buatan Kang Ho-ryeong mengusung pesan penting mengenai isu kekerasan dalam rumah tangga, hingga perihal fenomena "life meniru seni" yang dilakukan secara sengaja, di mana karya seni dapat dijadikan bahan referensi dalam proses belajar individu. Sayangnya novel tersebut tak pernah benar-benar terasa menjadi bagian integral kisahnya.

NE ZHA 2

 NE ZHA 2


Ne Zha 2 telah menggoyang hegemoni Hollywood, baik dari segi finansial maupun kualitas. Anggapan klasik berbunyi "cuma Amerika yang bisa" pun terwujud di hadapan animasi yang sampai tulisan ini dibuat, sedang berusaha menggusur Titanic dari posisi ke-4 daftar film dengan pendapatan tertinggi sepanjang masa. Sekarang kalimat yang tepat untuk didengungkan justru "Amerika tidak akan bisa".

Kuncinya tidak lain adalah budaya. Bukankah animasi Hollywood sedang gencar melakukan representasi budaya? Betul, tapi di hadapan "formula Hollywood", sentuhan sekaya kultural apa pun seolah terhalangi oleh dinding yang memaksa sineasnya bermain aman, tanpa mampu melakukan eksplorasi secara pembohong. 

Di Ne Zha 2, elemen budaya yang berasal dari cerita-cerita mitologi serta novel Investiture of the Gods karya Xu Zhonglin yang berasal dari abad 16, mampu begitu kreatif dieksplorasi oleh Jiaozi sebagai film sekaligus penulis naskah. Ne Zha 2 merupakan film di mana salah satu karakternya memiliki senjata bernama "Cambuk Guntur Membelah Langit". Sama sekali tidak ada ketakutan untuk menampilkan hiperbolis dan sejauh mungkin dari realisme.

Tengok juga visualisasi dunianya yang sungguh-sungguh mencerminkan dunia fantasi di luar batasan logika, sebagai tempat para manusia hidup di tengah eksistensi dewa dan monster. Dunia yang Jiaozi bangun selalu memancarkan keajaiban di setiap sudutnya.  

Melanjutkan akhir film pertamanya, kali ini kita diajak mengikuti upaya Ne Zha menempuh ujian keabadian yang diadakan oleh sekte Chan di bawah pimpinan Wuliang. Tujuannya adalah mendapatkan pil untuk memperbaiki teratai suci kepunyaan Taiyi Zhenren yang hendak dipakai menyusun kembali tubuh Ne Zha dan Ao Bing yang hancur di akhir film sebelumnya. 

Di satu titik, Ne Zha yang tiba di istana megah milik Wuliang bersama Taiyi Zhenren, tiba-tiba ingin buang air. Ne Zha tersesat, dan salah mengira guci penyimpanan minuman sebagai toilet. Air dalam guci tersebut kemudian diminum oleh Wuliang. Momen komedik tersebut bak wujud perlawanan filmnya, yang enggah sedikit pun menaruh rasa hormat atas segala jenis pengultusan palsu.

Sekte Chan yang dipandang sebagai figur suci nyatanya hanya sekelompok individu arogan yang berlaku semena-mena, sedangkan nama-nama seperti Ne Zha atau Ao Guang si Raja Naga Laut Timur yang notabene adalah iblis justru lebih menekankan cinta kasih biarpun perawakan mereka menyeramkan. Ada banyak situasi di Ne Zha 2 yang mendorong kita agar tidak "menilai buku dari sampulnya".

Gesekan dua pihak di atas menyulut terjadinya pertempuran epik penuh visual cantik nan megah di babak ketiga. Kuali raksasa yang bisa mengurung apa pun di hadapannya, ribuan pasukan yang mengancam begitu rapi hingga tampak seperti daun-daun di pepohonan, semuanya menampakkan pemandangan menakjubkan yang hanya bisa terwujud saat kreativitas dipertemukan dengan budaya. Jiaozi enggan memusingkan soal realisme. Sudah seharusnya pertempuran antara dewa dan iblis digambarkan secara megah dan berlebihan.
Tapi Ne Zha 2 tidak hanya menampilkan pencapaian teknis, karena ia pun memiliki banyak rasa. Humornya yang tampil konyol bukan sebatas amunisi hiburan, tapi cara untuk mendekatkan penonton dengan karakternya. Canda tawa yang sering ia lontarkan membuat Ne Zha, yang begitu kuat hingga mampu merepotkan para dewa, terasa membumi. Sampai ketika filmnya tiba pada momen emosional antara Ne Zha dengan sang ibu, di situlah konflik ilahi dan humanis mencapai titik temunya.

Rabu, 07 Januari 2026

PABRIK GULA

 PABRIK GULA


serupa Badarawuhi di Desa Penari tahun lalu, Pabrik Gula yang kembali mengadaptasi cerita dari SimpleMan, tampil layaknya remake dari KKN di Desa Penari dengan perbaikan kualitas di sana-sini. Hanya saja kini kemiripannya lebih kentara, seolah jadi bukti bahwa kolaborasi MD Pictures dan SimpleMan telah menemukan paketnya, yang bisa terus diutak-atik sesuai kebutuhan.

Di Pabrik Gula kita kembali bertemu sekelompok teman yang akan menetap di sebuah tempat asing untuk beberapa lama, tanpa tahu bahwa tempat itu menyimpan cerita mistis. Bedanya, mereka bukan pelajar melainkan buruh, pun alih-alih desa lokasi KKN, destinasi yang dituju adalah sebuah pabrik gula. 

Endah (Ersya Aurelia), Naning (Erika Carlina), dan Wati (Wavi Zihan) tinggal di satu loji. Contohnya pula para buruh laki-laki: Fadhil (Arbani Yasiz), Hendra (Bukie B. Mansyur), Dwi (Arif Alfiansyah), dan Franky alias Mulyono (Benidictus Siregar). Begitu lewat pukul 9 malam, tepatnya selepas alarm berbunyi yang disebut sebagai "jam merah", tidak ada yang boleh keluar dari loji. Ketika pelanggaran terjadi, teror mematikan pun dimulai.

Sejatinya Pabrik Gula belum bisa disebut memiliki alur mumpuni. Beberapa poin yang berpotensi menghadirkan eksplorasi menarik, seperti mitologi mengenai kerajaan iblis yang menguasai pabrik dengan beragam jenis hantunya, hingga elemen cerita detektif seputar "siapa sebenarnya yang melanggar aturan?", hanya dipaparkan sambil lalu. Belum lagi, serupa KKN di Desa Penari yang nyaris tak pernah menampakkan aktivitas KKN itu sendiri, rutinitas para pekerja amat jarang muncul. Andai gula diganti produk lain pun takkan ada perbedaan berarti.

Untungnya kali ini naskah buatan Lele Laila tidak terjebak dalam kesan serius. Serupa jargon "pesta rakyat" yang dijadikan alat pemasaran filmnya, Lele ingin mengajak penonton bersenang-senang. Di situlah duo Franky dan Dwi mengemban peran penting. Lawakan demi lawakan dihantarkan begitu mulus oleh kombinasi maut Benidictus Siregar dan Arif Alfiansyah. Tatkala ide-ide terornya tak seberapa kreatif, sepak terjang keduanya mampu membantu Pabrik Gula mencapai tujuan menjadi horor yang menampilkan "seru" daripada "ngeri".

Walaupun masih mengandalkan jumpscare, setidaknya penulisan Lele tak lalai membangun jembatan, sehingga berbeda dengan KKN di Desa Penari, Pabrik Gula lebih terasa sebagai "film yang layak" daripada sekadar kompilasi teror dengan jahitan asal-asalan. Kesediaan untuk memperhatikan hal-hal seperti "bridging" dan "build-up" pula (termasuk adegan pembuka yang menampilkan para karakternya berinteraksi dengan bahagia) yang membuat konklusinya bisa meninggalkan rasa pahit sekaligus berdampak pada sebuah tragedi. 

Di sisi lain, Awi Suryadi selaku sutradara kembali menunjukkan eksplorasi teknis mumpuni. Hampir semua kemunculan makhluk halus dibarengi oleh trik teknis yang mengundang decak kagum, entah dari tata kamera, penyuntingan, maupun pemakaian efek komputer yang tepat guna. Dibantu oleh tata kamera Arah Arfian (keduanya pernah bekerja sama di Sebelum 7 Hari, Perewangan, Do You See What I See, juga Kisah Tanah Jawa: Pocong Gundul), Awi pun memoles filmnya supaya tampak megah lewat pilihan shot-nya.
Sekali lagi, kreativitas ide mungkin bukan sesuatu yang dimiliki oleh Pabrik Gula saat melempar teror. Tapi jumpscare-nya digarap dengan solid, dibarengi timing yang presisi, pula tidak terasa menyebalkan karena jeli mengatur volume suara. Ketika di babak ketiga, Dewi Pakis yang memerankan Mbah Jinnah sebagai satu dari dua dukun yang menjaga keamanan pabrik, menggila di tengah adegan upacara persembahan, sulit menampik daya hibur Pabrik Gula sebagai sebuah blockbuster horor.

Selasa, 06 Januari 2026

A MINECRAFT MOVIE

 A MINECRAFT MOVIE


Sebelum logo rumah produksi menampakkan detailnya, beberapa anak yang duduk di belakang saya sudah serempak berteriak, "Mojang!", Merujuk pada nama perusahaan asal Swedia yang mengembangkan game Minecraft, sebagai sumber adaptasi oleh film ini. A Minecraft Movie memang diciptakan untuk mereka yang menghabiskan waktu berjam-jam memainkan game terlaris sepanjang masa tersebut (terjual lebih dari 350 juta kopi).

Bagaimana dengan penonton awam (termasuk saya) yang tidak memahami alasan mengapa istilah "chicken jockey" bisa jadi viral hingga menyebabkan keriuhan di studio tempat filmnya diputar? Tanda tanya bakal muncul berkali-kali. Bukan karena alurnya yang kompleks. Justru sebaliknya, timbul pertanyaan tentang mengapa segala hal di A Minecraft Movie begitu disimplifikasi. 

Mungkin karena para pembuatnya menjadikan generasi alpha sebagai target pasar. Tapi bukankah bocah zaman sekarang sudah jauh lebih cerdas? Bukankah mereka tidak perlu disuguhi sekuen pembuka yang terkesan begitu malas membangun latar belakang? Di satu titik, salah satu karakternya tiba-tiba menguasai kemampuan baru. Rekannya pun bertanya, "Bagaimana kamu tahu melakukan itu?", yang dijawab, "Jangan tanya". Tidak bisakah LIMA penulis naskahnya muncul dengan alasan yang lebih meyakinkan?

Steve (Jack Black), penjual gagang pintu yang lelah dengan kehidupan monoton miliknya, menemukan portal menuju Overworld, sebuah dunia yang tersusun atas balok-balok yang mudah dimanipulasi. Akibatnya, Steve bisa bebas menciptakan apa pun di sana. 

Ketika Steve pidato menghadapi serbuan pasukan piglin dari dunia Nether yang dipimpin oleh Malgosha (Rachel House), datang bantuan dalam wujud empat individu yang tersasar ke dalam Overworld: Henry (Sebastian Hansen) si bocah jenius bersama kakaknya, Natalie (Emma Myers); Garrett "The Garbage Man" Garrison (Jason Momoa) adalah mantan juara dunia game yang kini hidup melarat; juga Dawn (Danielle Brooks) si agen perumahan

Sederhananya, A Minecraft Movie adalah film dengan segudang kebetulan di setiap sudut cerita yang seolah menandakan kemalasan dalam bercerita. Ketimbang membuat alur mumpuni, naskahnya lebih menarik melemparkan fan service dengan humor absurd sebagai bumbu yang membuat A Minecraft Movie lebih terasa seperti shitpost ratusan juta dollar. Contohnya saat kita tiba-tiba disuguhi momen musikal diiringi lagu aneh berjudul Steve's Lava Chicken. 

Jack Black mengungkapkan totalitasnya di sini. Mungkin tidak ada aktor lain yang bisa menangani momen over-the-top dengan semangat membara seperti itu. Black memilih pendekatan yang tepat karena ia tahu betul sedang bermain di film seperti apa. Begitu pula Jason Momoa yang bersedia memarodikan citra pria tangguh yang telah begitu melekat padanya.

Padahal para penulisnya punya banyak opsi terkait arah pengembangan cerita. Sebutlah eksplorasi tentang "kreativitas tanpa batas" yang menjadi esensi permainannya. Benar bahwa karakter-karakternya membangun setumpuk hal yang aneh, tetapi tidak banyak yang dapat diklasifikasikan sebagai "metode kreatif memecahkan masalah". 

Pesan yang diusung pun tersia-siakan. Di penghujung durasi, A Minecraft Movie ingin mengingatkan para pemainnya agar bisa menerapkan kreativitas mereka di realita alih-alih terus tenggelam dalam dunia fantasi. Pesan yang relevan sekaligus luar biasa penting ini gagal dimanfaatkan untuk menciptakan cerita yang memadai. Tatkala para protagonisnya berpisah dengan Overworld, tak ada ruang sedikit pun bagi dampak emosi, karena penonton luput dibuat memedulikan karakter maupun dunianya.
Tidak terhitung pula deretan kalimat cringey yang naskahnya lahirkan. "Pertama kita menambang, lalu kita membuat, ayo membuat minecraft!" merupakan salah satu contoh terbaik (atau terburuk?). Mungkin suatu hari nanti, segala kekurangan milik A Minecraft Movie akan bertransformasi dari pengalaman di internet menjadi film kultus yang menandakan wajah suatu era. Tapi untuk saat ini, khususnya bagi penonton awam, ia hanyalah blockbuster yang tidak masalah bila dilewatkan.

SANTOSH

 SANTOSH


Alur milik Santosh film berbahasa India yang jadi perwakilan Britania Raya di Academy Awards 2025 mengandung banyak cerita, namun pada dasarnya ia adalah kisah tentang korupnya instansi kepolisian. Isu-isu lain seperti gender atau kasta dipakai sebagai penegas bagi persoalan tersebut, yang oleh film ini diangkat secara jujur, tanpa berusaha main aman atau menambahkan bumbu pemanis.

Berawal dari hilangnya anak perempuan dari kasta dalit yang kemudian berkembang jadi kasus pembunuhan, Santosh, yang bekerja di bawah Arah Inspektur Geeta Sharma (Sunita Rajwar) yang dikenal kukuh memperjuangkan pemberdayaan perempuan, menemukan bahwa para pembela hukum tidak benar-benar tertarik untuk menegakkan hukum. 

Seperti apa pun individunya, baik laki-laki, perempuan, feminis, atau misoginis, apabila telah mengenakan seragam berwarna khaki milik aparat, nyatanya akan tertular kebobrokan yang telah menjadi citra instansi tersebut. Seolah-olah seragam itu memberi sensasi bertenaga yang mendorong keinginan melakukan represi, karena si individu menganggap dirinya bebas melakukan apa saja.

Sandhya Suri membungkus filmnya dengan sampul prosedur kepolisian. Sentuhan misterinya memang bukan sesuatu yang benar-benar segar, namun mampu memenuhi tujuannya sebagai alat bantu untuk mengupas satu per satu kebejatan aparat. Di sisi lain, Shahana Goswami dengan kelihaian memancarkan emosi melalui raut wajahnya, seolah jadi perpanjangan rasa syok penonton saat menyaksikan setumpuk ketidakadilan yang filmnya paparkan. 

Kompleksitas kisahnya memuncak begitu alur menyentuh babak akhir. Selama ini Santosh selalu mengagumi Inspektur Sharma dengan sudut pandang feminisme yang tak kenal lelah ia perjuangkan. Tapi apakah sebuah perjuangan masih layak diperjuangkan jika mengharuskan kita melakukan keburukan? Santosh tak ragu mengkritisi fenomena, di mana demi menyuarakan ketidakadilan yang dialami suatu kaum, beberapa pejuang keadilan sosial justru melakukan ketidakdilan pada kaum lain.

Di satu adegan, Santosh diperlihatkan tengah makan sambil menonton video berisi perbandingan antara polisi Cina dengan India. Si konstabel tertawa geli melihat instansinya dijadikan bahan tertawaan, karena ia sadar bahwa memang begitulah realitanya. Menjadi bagian suatu kelompok bukan berarti enggan mengakui borok kelompok tersebut. 

Melalui pilihan konklusinya pun Santosh secara tegas, tanpa mencoba bermulut manis, menawarkan solusi yang bisa diambil para aparat jika benar-benar menaruh kepedulian terhadap ketidakadilan yang dilakukan oleh kompatriotnya. Di situ Santosh bukan menyerah atau lari. Dia hanya menolak terus-menerus menjadi racun yang membunuh sesama rakyat jelata. Angka "1312" pun seolah menampakkan dirinya di wajah si karakter utama.

SINNERS

 SINNERS


Banyak blockbuster terasa hampa karena sebatas memikirkan soal cara mempertontonkan spektakel. Tidak keliru, namun Sinners sebagai karya asli pertama dari Ryan Coogler menunjukkan bahwa ada metode pendekatan yang berbeda, di mana penceritaan dan penokohan ditempatkan di garis depan, terlebih dahulu dipatenkan sebelum melompat ke upaya menghibur penonton.

Mengambil latar Mississippi tahun 1932, Sinners memperkenalkan kita pada dua saudara kembar, Smoke dan Stack (Michael B. Jordan dalam peran ganda), yang kembali ke kampung halamannya. Nama keduanya sudah begitu masyhur sebagai mafia yang pernah bekerja bersama Al Capone, dan kini mereka pulang untuk memulai bisnis baru, tanpa menyadari bahwa sebuah kekuatan jahat tengah bersiap melepaskan terornya ke seisi kota. 

Kekuatan jahat itu mengambil wujud sekelompok vampir, namun serupa yang dilakukan oleh Quentin Tarantino di From Dusk Till Dawn (1996), naskah buatan Coogler menyimpan aksi paramakhluk pengisap darah tersebut hingga paruh kedua cerita. Sebelumnya, Coogler dengan penuh kesabaran, menata "panggung" yang akan melatari konflik utamanya, mengumpulkan orang-orang yang akan terlibat, sambil menyusun latar belakang masing-masing dari mereka.

Smoke dan Stack bermaksud membangun juke joint bagi orang-orang kulit hitam yang tak mendapat ruang bersenang-senang akibat cengkeraman warga kulit putih. Keduanya berpencar guna mengumpulkan nama-nama yang dirasa bisa berkontribusi: Sammie (Miles Caton) si adik sepupu yang piawai memainkan gitar; Delta Slim (Delroy Lindo) si musisi legendaris setempat; Roti Jagung (Omar Benson Miller) si penjaga keamanan; Bo dan Grace Chow (Yao dan Li Jun Li) yang menyediakan makanan; juga Annie (Wunmi Mosaku) yang memiliki kisah masa lalu dengan Smoke. Mary (Hailee Steinfeld) si gadis kulit putih yang sebelumnya memadu kasih dengan Stack pun ikut terlibat. 

Apa yang Smoke dan Stack lakukan mengingatkan pada film-film yang berisikan ensemble cast di mana protagonis merekrut deretan individu dengan kemampuan khas masing-masing untuk membuat tim super. Bedanya, Sinners juga memakai fase tersebut sebagai media memperkenalkan isu rasisme yang masing-masing pernah alami. Coogler secara cerdik memanfaatkan interaksi karakternya, menyelipkan sekelumit kisah mereka, sebagai cara membangun latar belakang yang efektif.

Penonton pun dibuat betul-betul mengenal setiap tokoh, menganggap mereka sebagai manusia yang utuh, sehingga sewaktu teror akhirnya pecah, terasa ada sesuatu yang dipertaruhkan. Untungnya mereka masih sempat merasakan berpesta di juke joint milik Smoke dan Stack. Bernyanyi, menari, menikmati musik blues, menenggak alkohol, bahkan menemukan cinta bagi beberapa yang cukup beruntung. Berkat latar belakang pembangunan yang kuat, pesta tersebut tidak terkesan sebagai hedonisme hampa, melainkan perayaan kebebasan yang meneriakkan kebahagiaan dari manusia-manusia yang disudutkan. 

Di pesta berikutnya pula Coogler mempersembahkan sebuah momen magis yang menjadi selebrasi bagi elemen budaya, terutama musik, yang meniadakan sekat pembatas. Moment itu merupakan bagian dari pembangunan dunia unik yang Coogler sematkan di naskahnya.

Musik blues memang memegang peranan penting di Sinners. Menonton setiap ia dimainkan di adegan mana pun, dan kita seolah dapat merasakan teriakan hati para musisinya, yang tidak jarang memunculkan nuansa mistis. Suara gitarnya terdengar bak tangisan, nyanyiannya seperti curahan doa. Kekuatannya begitu besar, hingga (menurut film ini) mampu menembus batasan ruang dan waktu, pula kehidupan dan kematian. 

Pemakaian musik blues pun turut menambah keunikan adegan aksinya, meski di saat bersamaan, pengarahan Coogler justru menampakkan kelemahannya. Penanganan sang sutradara yang selalu stylish, bahkan di momen-momen sederhana, misalnya single take saat Lisa Chow (Helena Hu) berjalan ke toko sebelah untuk memanggil sang ibu, seolah menghilang saat berhadapan pada aksi saling bunuh diri. Tidak buruk, hanya saja terlampau umum bila dibandingkan segala hal yang sebelumnya telah disuguhkan.

UNTIL DAWN

 UNTIL DAWN


Modifikasi yang Until Dawn diterapkan berpotensi menyebabkan terjadinya di antara pecinta game berjudul sama yang jadi sumber adaptasinya. Tapi keputusan kontroversial itu juga berjasa menjadikan karya horor pertama David F. Sandberg sejak Annabelle: Creation (2017) ini sebagai salah satu adaptasi video game paling menghibur, karena tujuan utama yang diusung adalah melakukan pendekatan unik terhadap formula film horor.

Lima muda-mudi melakukan perjalanan melintasi hutan. Clover (Ella Rubin), Max (Michael Cimino), Nina (Odessa A'zion), Megan (Ji-young Yoo), dan Abel (Belmont Cameli) memulai misi untuk menemukan Melanie (Maia Mitchell), adik Clover yang sudah setahun menghilang. Pencarian menemukan jalan buntu, hingga mereka menemukan sebuah kabin di tengah kota pertambangan bernama Glore Valley yang telah lama ditinggalkan. 

Tidak butuh waktu lama bagi naskah buatan Gary Dauberman dan Blair Butler untuk menunjukkan modifikasi terhadap formula klise "kabin di tengah hutan", ketika satu per satu karakternya mati di tangan sesosok pembunuh bertopeng, sebelum akhirnya hidup kembali dan harus mengulangi hari, sementara kematian selalu mengejar mereka. Kondisi itu akan terus terulang selama para protagonisnya belum memecahkan misteri seputar Glore Valley.

Plot yang ditawarkan sejatinya tipis, setidaknya hingga pertengahan durasi di mana Until Dawn menerapkan pola penuturan layaknya sajian pedang. Keunggulan yang ditawarkan terletak pada metode kematian yang selalu berganti dalam setiap waktu. Sampai Dawn punya opsi cara membunuh tak terbatas, yang santai bisa dimanfaatkan guna melahirkan beberapa adegan kematian kreatif dan brutal. 

Kuncinya adalah keengganan memakai hanya satu jenis "sumber maut". Berbekal konsep yang mengingatkan ke The Cabin in the Woods (2011), Until Dawn menjadi "hoserba" (horor serba ada) yang menggabungkan sosok-sosok seperti pembunuh bertopeng ala pedang, penyihir, raksasa, boneka setan, dan tentunya monster bernama Wendigos yang menjadi ciri khas game-nya. Bahkan air pun dapat menghadirkan kematian tak terduga di sini.

Tapi jangan dulu mengharapkan eksplorasi konsep secerdas The Cabin in the Woods. Dauberman dan Butler masih cenderung keteteran menangani keunikan pembangunan dunia dalam naskahnya. Masih banyak pertanyaan-pertanyaan dasar 5W1H yang gagal dijabarkan secara layak oleh kedua penulis. 

Untungnya di kursi sutradara, David F. Sandberg belum kehilangan sentuhannya perihal mengolah intensitas, termasuk melalui deretan jumpscare yang cukup efektif menggedor jantung. Satu hal yang agak memalukan adalah keputusannya meredupkan pencahayaan secara berlebihan di babak akhir. Ketika penonton sulit mengidentifikasi peristiwa di layar, ketegangan otomatis juga sulit dihadirkan.

Hingga Dawn juga menampilkan pembahasan mengenai emosi negatif manusia, terutama yang terkait erat dengan rasa takut dan duka. Upaya kelima protagonis kita untuk kabur dari lingkaran waktu sendiri merupakan representasi dari proses mereka berpindah dari rangkaian emosi negatif tersebut. Sampai di satu titik, kematian tak lagi sebegitu mengerikan, dan mereka siap menyambutnya dengan tangan terbuka.  

Penceritaan di atas mungkin tak pernah benar-benar melahirkan drama dengan bobot emosi besar, namun tidak pula berakhir hambar berkat penampilan solid jajaran pemainnya. Tatkala barisan muda-mudi di banyak film serupa tidak lebih dari seonggok daging yang menanti untuk dijagal, lima pelakon muda di Until Dawn mampu memberikan kepribadian bagi tiap-tiap karakter yang membuat proses mereka kembali ajal masing-masing menyenangkan untuk diikuti.

Minggu, 04 Januari 2026

SAH! KATANYA...

 SAH! KATANYA...


Bayangkan dinamika keluarga ala Bila Esok Ibu Tiada (2024) sebagai konflik sentral, dipresentasikan menggunakan sampul humor absurd layaknya Mekah I'm Coming (2019). Begitulah Sah! Katanya..., yang jika dilihat dari permukaan hanya tampak seperti satu lagi komedi lokal kelas dua, tapi ternyata ia adalah kontender kuat peraih gelar "film Indonesia terlucu tahun ini".....setidaknya bagi mereka yang tidak teralienasi oleh gaya melucunya.

Tidak semua orang akan cocok dengan film humor yang disutradarai oleh Loeloe Hendra Komara (Tale of the Land) ini. Beberapa orang mungkin menyebut "aneh" atau bahkan "garing", tapi mereka yang akrab dengan gaya bercanda "gojek kere" khas sirkel tongkrongan Jawa (terutama Yogyakarta), bisa jadi bukan hanya menikmati, bahkan merasa terwakili seleranya. 

Di atas kertas kisahnya terdengar sangat serius, kalau tidak mau disebut memilukan. Marni (Nadya Arina), si anak bungsu dari sebuah keluarga besar, bertemu dengan Adi (Calvin Jeremy) saat menemui jalan buntu. Adi adalah laki-laki baik. Terlalu baik malah, sampai uang yang ia janjikan akan ditabung sebagai biaya hidup mereka setelah menikah kelak justru sering dipakai untuk membantu masalah finansial orang-orang lain di sekitarnya.

Kemampuan Adi mengatur skala prioritas memang sangat buruk. Sewaktu usahanya memperkenalkan diri ke ayah Marni, Dipo (Landung Simatupang), kembali gagal, Adi hanya berujar "Nanti kubetulin". Itulah kata-kata sakti yang selalu terlontar dari mulut tiap dibayangkan pada masalah, tanpa sadar bahwa mungkin saja tak ada lagi kata"nanti" untuknya.

Benar saja, ayah Marni tiba-tiba meninggal, lalu berwasiat bahwa si putri bungsu harus menikah di depan jenazahnya dengan Marno (Dimas Anggara). Dipo memiliki utang menggunung kepada ayah Marno, dan pernikahan ini jadi cara melunasinya. Masyarakat kita dengan budaya ketimuran yang konon menjunjung tinggi adat dan nilai kekeluargaan memang lalai menyadari bahwa "sekarat atau meninggal bukan alasan untuk bisa mengucapkan berengsek".

Marni yang tertekan karena mesti menikahi laki-laki yang tidak terlalu ia kenal, masih harus menghadapi polah kakak-kakaknya yang tiba-tiba ingin terlihat berbakti meski selama ini jarang pulang ke rumah. Sekali lagi, di atas kertas segala permasalahan di atas terdengar luar biasa berat nan serius. Tapi "keseriusan" merupakan sesuatu yang sebisa mungkin dijauhi oleh naskah buatan Dirmawan Hatta, Sidharta Tata, dan Loeloe Hendra Komara dalam menuturkan cerita.

Naskahnya selalu menemukan celah untuk menyelipkan hukum yang absurd serba over-the-top di tengah situasi seserius apa pun. Entah berupa celetukan-celetukan dari karakter Paklik Kusno (Susilo Nugroho alias Den Baguse Ngarso) yang sesekali menyerempet ranah komedi gelap, tingkah menggelikan sekaligus menyebalkan Adi yang tak menampakkan ketegasan, maupun barisan polah di luar nalar para karakter pendukung.

Di sini kita bakal berkenalan dengan satu karakter, yang saking tidak kuatnya menahan stres, ia secara tiba-tiba berjungkir balik di depan orang-orang. Seaneh itu. Loeloe Hendra Komara menangani segala masalah keabsurdan dengan energi luar biasa, layaknya sedang melempar guyonan di depan kawan-kawan satu sirkelnya sambil bersantai menikmati kopi di angkringan atau kafe sederhana. 

Beberapa humornya begitu aneh sehingga kemunculannya sulit diduga, sedangkan beberapa di antaranya malah sebaliknya, sangat bisa ditebak, terutama lelucon terkait cara Pak RT berkomunikasi dengan warga. Tapi tepat waktu dan metode penyuntingan berperan menjaga kelucuannya, dan di sisi lain, ekspektasi saat menantikan hadirnya suatu banyolan yang sudah kita nantikan justru meningkatkan daya bunuhnya.

Menarik mengamati dinamika antara Adi dan Marno. Calvin Jeremy tampil total menghidupkan karakter yang memang ditujukan untuk mengambil hati penonton. Kita justru diarahkan untuk meragukan sosoknya, yang terlampau tenggelam dalam kesedihannya sendiri, hingga lupa kalau sang kekasih, Marni, jauh lebih menderita.

Di sisi lain ada Dimas Anggara, berbekal karisma yang memudahkan kita untuk mendukung Marno serta kemampuannya menaruh simpati kepada Marni. Tapi ada satu masalah. Keputusan menggiring penonton yang berdiri di belakang Marno terkesan seperti cara filmnya bermain aman dalam menyikapi isu mengenai perjodohan paksa guna memenuhi wasiat sebagai wujud bakti anak. Daripada mengkritisi, Sah! Katanya... cenderung menjustifikasi, dengan mendesain karakter Marno sebagai figur yang lebih baik bagi Marni.