Minggu, 04 Januari 2026

KOESROYO: THE LAST MAN STANDING

 KOESROYO: THE LAST MAN STANDING


Ketika The Beatles di masa jaya mereka dirayakan di seluruh dunia, Koes Plus justru dicela oleh Presiden Soekarno dengan sebutan "musik-musik ngak-ngik-ngok" hingga sempat dipenjara. Ketika puluhan album The Beatles cukup untuk membuat para personelnya hidup mewah hingga akhir hayat dan dianugerahi gelar kebangsawanan, Yok Koeswoyo sebagai satu-satunya anggota yang tersisa, hidup sederhana biarpun pernah menelurkan ratusan album (termasuk 23 buah di tahun 1974), pun hanya piagam ala kadarnya yang pernah diberikan hadiah pemerintah.

Koesroyo: The Last Man Standing karya Linda Ochy mengajak penonton mengunjungi ruang personal Koesroyo alias Yok Koeswoyo, sebagai satu-satunya personel Koes Bersaudara yang masih hidup. Tahun ini usianya menginjak 82 tahun. Sekilas tak tampak jejak-jejak bintang populer dari parasnya. Hanya laki-laki lanjut usia berpeci biasa, yang bersama tiap isapan rokoknya bercerita tentang era yang telah lalu. 

Filmnya mengumpulkan beberapa narasumber untuk ikut bertutur. Sari, putri sulungnya, kerap menemani "Yok Koeswoyo sang manusia" merekonstruksi memori di balik setumpuk mahakarya buatannya. Sementara David Tarigan dengan kemampuan berkisah di atas rata-rata yang asyik untuk disimak, membagikan sudut pandang eksternal sebagai pengamat musik sekaligus penggemar, mengenai perjalanan karir "Yok Koeswoyo sang megabintang".

Linda Ochy mengisi filmnya dengan narasumber yang bukan hanya kaya akan informasi, pula piawai bernarasi, sehingga membantu penonton yang berasal dari generasi baru memahami kebesaran subjeknya. Mengutip ucapan H.B. Jassin, sejarawan Hilmar Farid menyamakan dampak Koes Plus dengan Chairil Anwar, yang mampu "bersuara" hanya lewat dua kalimat tatkala pujangga baru memerlukan 200 halaman. 

Kelengkapan arsip, dari koleksi foto, kliping koran, rekaman suara konser, hingga koleksi video lawas semakin menguatkan pondasi cerita. Koesroyo: The Last Man Standing memang dokumenter konvensional yang tak melangsungkan eksperimen dalam cara bernarasi, tapi ia berhasil mengeksekusi hal-hal pokok dengan baik.

Sayang, ada kalanya alur Koesroyo: The Last Man Standing terasa membingungkan, terutama bagi penonton awam yang belum cukup mengerti tentang perjalanan karir Koes Bersaudara/Koes Plus, akibat ketiadaan jembatan antar linimasa di beberapa titik. Demikian pula subplot berdaya tarik tinggi (misal perihal Koes Plus yang dijadikan mata-mata pemerintah) yang hanya disinggung secara "malu-malu" sehingga memunculkan rasa penasaran tak terjawab, di saat dokumenter ini mestinya memuaskan dahaga atas tanda tanya semacam itu. 

Kurangnya keberhasilan ditambal oleh beberapa situasi menyentuh yang filmnya tangkap. Di awal, Yok Koeswoyo mengatakan bahwa ia tidak ambil pusing pada status "the last man standing". Baginya, kesendirian ini hanyalah bentuk biasa dari mortalitas manusia yang tak perlu diratapi. Tapi begitu lagu Why Do You Love Me diputar, yang mengingatkan kenangan akan kematian istri pertamanya, Maria Sonya Tulaar, tangis Yok Koeswoyo tiba-tiba pecah.
Koesroyo: The Last Man Standing bukan hanya seputar Yok Koeswoyo sebagai pesohor dunia musik tanah air. Tapi Yok Koeswoyo sebagai manusia biasa, sebagai laki-laki yang kehilangan cinta sejatinya, sebagai ayah yang mensyukuri pendampingan dari putrinya, sebagai rakyat Indonesia, yang biarpun begitu menyerapi serta vokal menyuarakan nasionalisme, justru dibiarkan begitu saja oleh negara.

0 komentar:

Posting Komentar