Kamis, 08 Januari 2026

SINGSOT

SINGSOT

Satu hal yang patut diapresiasi dari Singsot adalah keotentikannya. Mengambil latar di Jawa, diisi oleh jajaran aktor dengan kemampuan Bahasa Jawa yang bukan dipilih karena alasan popularitas atau tampang semata, pun kisahnya tidak memerlukan adanya perspektif dari karakter asal ibukota yang tengah mengunjungi desa. Tidak banyak rilis hororan rumah produksi besar bersedia memperhatikan semua itu. 

Mengadaptasi film pendek berjudul sama yang juga digarap oleh Wahyu Agung Prasetyo, Singsot versi layar lebar masih mengetengahkan jalinan kisah yang senada. Alkisah, karena sering memperhatikan sang kakek (Landung Simatupang) merawat burung, bocah bernama Ipung (Ardhana Jovin Aska Haryanto) mulai berbagi ketertarikan serupa. Siulan pun semakin sering keluar dari mulut Ipung, termasuk di waktu magrib meski sang nenek (Sri Isworowati) telah menghardiknya. Benar saja, siulan Ipung jadi awal rangkaian pemandangan mengerikan yang ia saksikan.
Naskah yang Wahyu tulis bersama Vanis coba mengakali alih medium ke film panjang dengan cara memperluas cakupan cerita, yang tak lagi hanya berpusat di rumah protagonisnya, tapi juga menyoroti fenomena misterius di desa setempat. Dikisahkan, seorang warga bernama Agus Pete (Jamaluddin Latif) ditemukan di tengah hutan dalam kondisi katatonik. Kini ia cuma bisa berbaring di kasur dan sepenuhnya bergantung pada sang istri, Wiwik (Siti Fauziah). 

Muncul pemandangan jenaka tatkala dua ibu-ibu kampung mulai bergunjing mengenai kondisi Agus Pete. Siti Fauziah yang selepas kesuksesan Tilik (2018) mulai terjebak dalam typecast sebagai perempuan desa penyuka gosip bermulut tajam, di sini berubah 180 derajat menjadi korban gosip. 

Patut disyukuri bagaimana tambahan konflik seputar teror yang warga setempat alami tidak selalu memaksa para penulisnya untuk memaksa ceritanya membengkak secara berlebihan jika dibandingkan sumber adaptasinya. Durasi versi layar lebarnya pun cenderung pendek, hanya 75 menit.
Namun bahkan dengan durasi sependek itu alurnya masih terasa tipis, karena sebagian besar hanya tersusun atas kompilasi teror yang Ipung hadapi, sambil sesekali diselingi oleh interaksi dua tetua desa (termasuk kakek Ipung), saat mereka membicarakan perihal klenik yang mungkin tengah terjadi. Diskusi kedua tetua tersebut merupakan esensi dari unsur budaya mistis Jawa yang mengakar kuat di kisahnya, alih-alih jadi pernak-pernik semata. 

Intensitas pembangunan dari Wahyu Agung Prasetyo sejatinya cukup apik. Biarpun acap kali berakhir pada trik jumpscare generik, di mana para hantu sebatas menampilkan wajah mereka yang jauh dari cantik, hampir semua terornya disokong oleh build-up yang tampil creepy berkat pendekatannya yang tidak takut mengandalkan kesunyian. 

Masalahnya, penulisan teror dalam naskahnya benar-benar kacau, terutama akibat terlalu bergantung pada adegan mimpi. Di versi film pendek, pemakaian mimpi bisa diterima karena tidak berlebihan dan sesuai dengan kepercayaan terkait celana tertidur di waktu magrib. Di sini, mimpi bagaikan cara malas meminimalkan kreativitas yang terus direpetisi supaya naskahnya punya alasan memunculkan hantu.
sebenarnya ada niat baik dari naskahnya yang enggan menyuapi penonton secara berlebihan, lalu membiarkan kita mengingat dan menyatukan keping-keping puzzle sendiri. Sayang, akibat lemahnya penulisan, alih-alih proses memecahkan teka-teki yang menstimulus kerja otak, Singsot lebih seperti kekacauan yang membingungkan. 

Setidaknya, seperti yang telah disinggung pada awal tulisan, film ini merupakan presentasi yang autentik. Ditunjang akting kuat jajaran pemain yang fasih melafalkan Bahasa Jawa, pula berperilaku layaknya manusia normal, dunia filmnya yang muncul tidak terasa berbeda dengan realita tempat kita tinggal. Andai saja ia berhasil memberi teror mumpuni.

0 komentar:

Posting Komentar