Minggu, 04 Januari 2026

PANGKU

 PANGKU


Ada dinding bernama "kemampuan observasi" yang jadi sekat pemisah antara aktor hebat dan buruk. Sebuah kemampuan untuk mengamati, menyerap, lalu menaruh empati terhadap manusia, lingkungan, maupun peristiwa di sekitar si pelakon. Di Pangku, Reza Rahadian yang notabene merupakan salah satu aktor terbaik negeri ini, memakai kecakapan tersebut, kali ini bukan untuk berlaku di depan kamera, melainkan bertutur di belakangnya sebagai sutradara. 

Latarnya adalah kedai kopi di Pantura. Di tengah kawasan kumuh yang tak mengenal kehigienisan, para sopir truk mampir, rehat selama berjam-jam sambil menyesap segelas kopi. Bukan kopi itulah komoditas utamanya, tapi servis pangku dari si pelayan perempuan. Seketika, kemiskinan dan seksualitas pun saling bercumbu. Sebuah materi seksi bagi sinema arus utama Indonesia yang menyukai eksploitasi.

Tapi Reza, yang ikut menulis naskahnya bersama Felix K. Nesi, tidak tertarik mengemis tangis penonton. Reza menempatkan kita pada posisi yang serupa dengannya saat berlakon, yakni sebagai pengamat yang mencari pemahaman. Sewaktu protagonisnya, Sartika (Claresta Taufan), yang luntang-lantung mencari kerja dalam kondisi hamil tua, muncul di layar, penonton tidak terdorong untuk hanya mengasihan. 

Beruntunglah Sartika bertemu Maya (Christine Hakim) si pemilik kedai kopi, yang siap memberinya tempat tinggal sekaligus pekerjaan. Selepas melahirkan, Sartika pun melakoni profesi sebagai pelayan kopi pangku. Dia duduk di paha laki-laki yang senyumnya hanya menandakan gairah. Dimintanya si konsumen menambah kopi, atau membelikannya sebatang rokok. Mereka mengira memangku Sartika adalah bentuk kekuasaan, namun si perempuanlah yang memegang kendali. 

Sartika bekerja, mendidik anak yang diberi nama Bayu (Shakeel Fauzi), tinggal berdesak-desakan bersama Maya dan suami, Jaya (José Rizal Manua), yang jadi representasi banyak figur ayah di Indonesia: Diam, berada secara emosional, namun dapat diandalkan saat menangani urusan pertukangan.

Mereka semua, terutama Sartika, susah payah bergumul dengan kemiskinan, tapi Reza tak pernah secara berlebihan membuat karakternya merata. Di satu titik, kita diajak melihat lingkungan di sekitar rumah Maya, yang bahkan belum layak disebut "sederhana". Terdengar pula iringan musik. Menariknya, komposisi gubahan Ricky Lionardi bukan memperdengarkan nada mendayu-dayu, melainkan bunyi-bunyian bernuansa dreamy ala kotak musik. 

Sensitivitas jadi senjata utama pengarahan Reza, yang menggerakkan narasinya tidak secara buru-buru, guna memastikan proses observasi penonton berjalan hingga detail terkecil. Sesekali berita di radio memberi informasi terkait gambaran besar kondisi bangsa saat itu, sekaligus memberi informasi latar waku tanpa perlu menggunakan title card yang digambarkan tahun atau kalimat "x tahun kemudian". 

Departemen akting juga berjasa besar menyuarakan visi sang sutradara. Khususnya Claresta Taufan dan Christine Hakim, yang menunjukkan bagaimana menyuarakan kepiluan tanpa harus mengandalkan tangisan dalam penampilan mereka. Melihat betapa hebatnya gerak-gerik Christine Hakim kala Maya berpisah dengan sosok yang sangat sayang ia. Tanpa kata, tanpa banjir air mata, namun begitu mencabik-cabik.

Sempat timbul harapan bagi Sartika lewat perkenalannya dengan Hadi (Fedi Nuril), sopir pikap pembawa ikan yang setia mengunjungi kedai kopi bersama temannya, Asep (Kaan Lativan). Pelan-pelan tumbuh benih cinta di hati Hadi, yang salah satunya ia tunjukkan dengan memberi sisa-sisa ikan. Sartika sekeluarga terjadi dengan lahap, lalu Bayu menanyakan jenis ikan apa yang Hadi berikan. Sartika dan Maya tak mampu menjawab. Meskipun kemiskinan yang parah telah terjadi, ikan pun terasa asing bagi mereka yang tinggal di daerah pesisir. 

Reza jeli menerapkan kesubtilan macam itu di sepanjang durasi. Salah satu yang mampu menghunjam perasaan secara lirih adalah pemakaian korek sebagai simbol cinta yang dibiarkan tertinggal oleh salah satu karakternya. Pangku tidak terasa seperti karya debut, karena ia adalah proses evolusi selama dua dekade dari seorang seniman yang memahami rasa-rasa di sekitarnya dengan kecerdasan luar biasa.

0 komentar:

Posting Komentar