Kamis, 01 Januari 2026

SUKA DUKA TAWA

 SUKA DUKA TAWA


“Saya pikir orang yang paling sedih selalu berusaha sekuat tenaga untuk membuat orang lain bahagia, karena mereka tahu bagaimana rasanya merasa tidak berharga dan mereka tidak ingin orang lain merasakan hal yang sama.” Ucapan mendiang Robin Williams itu merangkum dinamika rasa Suka Duka Tawa, debut penyutradaraan solo Aco Tenriyagelli yang sarat sensitivitas, di mana kebanyakan tokoh hidup untuk memproduksi tawa orang lain biarpun hati mereka dihantui luka.

Tawa (Rachel Amanda) sedang merintis karir sebagai komika. Belum ada terobosan berarti dari panggung-panggung kecil di kafe yang ia jelajahi, sehingga Tawa terpaksa melakukan berbagai pekerjaan ala kadarnya demi menyambung hidupnya dan sang ibu, Cantik (Marissa Anita). 

Mungkin Tawa kurang jago memancing tawa, namun tidak dengan duo penulis naskahnya, Indriani Agustina dan Aco. Mereka selalu punya cara menyelipkan ragam humor dalam interaksi antar karakter, entah berupa ucapan konyol atau celotehan bernada sarkas. Hal ini berkat kejelian Aco mengatur timing komik di ranah penyutradaraan, reaksi kecil yang karakternya muncul bisa menghasilkan kelucuan besar.

Di jajaran karakter pendukungnya juga berjasa. Ada beberapa sahabat yang setia mendukung langkah Tawa: Adin (Enzy Storia), Iyas (Bintang Emon), Nasi (Arif Brata), dan Fachri (Gilang Bhaskara). Semua tampil hebat, terutama Enzy, yang sebagaimana di serial Drama Ratu Drama (2022), dimanfaatkan betul talenta komediknya oleh Aco. 

Sesekali diiringi tata musik unik yang memodifikasi gelak tawa jadi suara kaya ironi, Suka Duka Tawa pun bergerak begitu lentur, berjingkrak antara komedi dan drama tanpa ada kesan memaksa. Elemen dramanya merangsek kala terungkap bahwa Tawa merupakan putri dari Keset (Teuku Rifnu Wikana), anggota kuartet tersohor pengisi acara dagelan slapstick televisi bernama Opera Tawa Show.

Fakta itu Tawa sembunyikan akibat sakit hati ketika sang ayah meninggalkan ia dan ibunya semasa kecil. Tiba-tiba tercetus ide menjadikan ketiadaan ayah sebagai materi komedi, yang di luar dugaan menghasilkan kesuksesan.

Saat aksi panggung Tawa viral, Cantik merasa ada hal janggal, dan Keset kembali pulang guna menebus masa lalunya sebagai ayah yang gagal. Seiring bergulirnya durasi yang tanpa terasa menembus dua jam (127 menit), semakin kentara pula kalau Aco adalah pengamat yang jeli, baik ketika filmnya sedang melucu ataupun tampil serius. 

Di ranah komedi, hasil observasi Aco terhadap realita ditampilkan oleh barisan kejenakaan pengisi latar adegan yang acap kali muncul secara mengejutkan, kemudian memancing reaksi "Benar banget tuh!" dari penonton. Misal persoalan nasi bungkus yang jatuh sesaat setelah dibeli. Dalam tatanan dramatik, proses observasinya jadi pondasi dinamika anak dan orang tua sebagai penjualan utama filmnya.

0 komentar:

Posting Komentar