Rabu, 21 Januari 2026

CONCLAVE

 CONCLAVE


Seperti judulnya, Conclave menampilkan proses konklaf di mana para kardinal mengadakan pengambilan suara secara tertutup untuk menentukan jeda yang baru. Terdengar seperti aktivitas membosankan, namun dengan melucuti karakternya dari kesucian dan menelanjangi sisi gelap mereka, adaptasi dari novel berjudul sama karya Robert Harris ini mampu mengubah ritual keagamaan formal menjadi tontonan seru layaknya acara kenyataan dan opera sabun televisi.

Alkisah pada suatu malam jeda ditemukan kematian dunia akibat serangan jantung. Situasi pun serentak berubah kacau, dan Edward Berger selaku sutradara, memastikan bahwa penonton non-Katolik pun memahami betapa besarnya urgensi peristiwa tersebut, lewat pilihan shot serta musik serba dramatis yang dipakai saat pemakaman sang pemimpin umat Katolik dibawa keluar dari apartemennya. 

Kardinal Thomas Lawrence (Ralph Fiennes) memimpin memutar konklaf, di mana empat kardinal dianggap berpeluang besar memenangkan pemilihan: Aldo Bellini (Stanley Tucci) dari pihak liberal yang memperoleh dukungan Lawrence, Joseph Tremblay (John Lithgow) yang cenderung moderat, Joshua Adeyemi (Lucian Msamati) si penganut paham sosial yang lembut, dan Goffredo terhadap Tedesco (Sergio Castellitto) yang kolot dan tak ragu bersedia membantu perang agama lain.

Ketika musik gubahan Volker Bertelmann rutin membangun intensitas lewat getarannya, sinematografi garapan Stéphane Fontaine menghadirkan keindahan yang elegan. Peleburan komposisi api dan kombinasi warna cantik membuat tumpukan puntung rokok di lantai pun tampak sedap dipandang. 

Berger dan tim artistiknya tahu betul citra apa yang coba diciptakan oleh para pemimpin agama ini terkait diri mereka. Mereka ingin terlihat terlihat pula rupawan di mata manusia awam, sehingga itulah Conclave yang dilihat dari luar. Bahkan sewaktu voting dilangsungkan, cara mereka memasukkan surat suara pun sangat elegan. Sampai wajah asli masing-masing mulai terungkap.

Conclave mengajukan pertanyaan terkait pemilihan sosok pemimpin yang dirasa relevan, termasuk jika diterapkan di luar konteks Katolik (misal pemilu di suatu negara): Apakah keputusan memilih "lesser evil" tepat untuk dilakukan? Lawrence terjebak dilema terkait situasi tersebut. Ketika peluang menang Bellini yang berbagi ideologi di dekatnya semakin menipis, haruskah ia berkompromi pada prinsipnya?

Ralph Fiennes membawakan dilema karakternya dengan sempurna, yang dipaksa terpendam atas nama profesionalitas sebagai ketua konklaf, meski sekali waktu, kekecewaan yang terlampau tinggi memunculkan ledakan yang tak mampu ia redam. Apalagi di saat sedikit demi sedikit, Lawrence mulai mengetahui berbagai rahasia tiap calon, yang membuatnya meragukan kelayakan mereka menyandang gelar jeda.

Di situlah Konklaf menampakkan jati dirinya. Kesan elegan di permukaan diambil alih oleh drama pemilihan yang kaya hiperbola. Rahasia kelam terkuak, kabar burung tersebar, orang-orang mulai bergosip, dan proses eliminasi terjadi pasca kebenaran akhirnya ditumpahkan di hadapan publik. Sekali lagi, tak ubahnya acara realitas televisi dengan segudang dramatisasi serta kejutan besar seputar aib para peserta. 

Hasilnya menyenangkan. Terkesan terlalu menyumbangkan atas nama hiburan, konyol, seiring waktu terasa berulang karena terus mengikuti pola "investigasi-rahasia terbuka-eliminasi", tapi sangat menyenangkan. Dampaknya yang negatif, kesan konyol tersebut berpotensi membuat presentasi terkait isu penting yang kisahnya angkat terasa sulit untuk dianggap serius.

0 komentar:

Posting Komentar