MICKEY 17
Penonton yang berharap Bong Joon-ho kembali merevolusi genre seperti telah beberapa kali ia lakukan mungkin akan sedikit kecewa, karena Mickey 17 lebih seperti amalgam dari film-film Bahasa Inggris miliknya daripada sebuah dobrakan baru. Tapi sang penulis memang tidak perlu melakukannya. Selepas Parasite mencetak sejarah enam tahun lalu Bong tak perlu lagi membuktikan apa pun, dan Mickey 17 meski merupakan salah satu karya terlemahnya menegaskan bahwa ia adalah salah satu sutradara paling konsisten saat ini.
Naskahnya (juga ditulis oleh Bong) mengadaptasi novel Mickey7 karya Edward Ashton, tentang bagaimana di tahun 2054, umat manusia berusaha membangun koloni di planet lain. Dipimpin oleh Kenneth Marshall (Mark Ruffalo) si politikus gagal bersama istrinya yang cenderung lebih dominan, Ylfa (Toni Collette), sebuah perjalanan selama empat tahun menuju planet bernama Nilfheim pun dimulai.
Mickey Barnes (Robert Pattinson) termasuk dalam jajaran kru. Tapi itu bukan kru biasa. "Dapat dibuang", begitulah posisinya disebut. Mickey ditugasi melakukan banyak misi berbahaya yang selalu berakhir pada kematian. Tapi berkat teknologi kloning, ia selalu "dicetak ulang" untuk hidup kembali dalam tubuh yang berbeda. Timbul masalah kala Mickey 18 (sesuai namanya, kloning yang ke-18) sudah terlanjur dihidupkan, sebelum terungkap bahwa Mickey 17 ternyata mampu bertahan hidup dalam misinya. Dua versi Mickey pun ada secara bersamaan.
Ada sebuah adegan saat Timo (Steven Yeun), teman lama Mickey yang bertugas sebagai pilot, tiba di lokasi tempatnya terjebak setelah mengalami kecelakaan hingga cedera parah. Ketimbang menyelamatkan sang teman, Timo lebih memilih mengambil senjata pelontar api milik Mickey yang menurutnya "lebih sayang bila rusak". Di kesempatan lain, para kru mencurigai tangan Mickey yang putus.
Sederhananya, Mickey tak lagi dimanusiakan. Sama seperti para pekerja kelas bawah di dunia nyata, yang tersisa nyawa sementara jajaran penguasa duduk nyaman sambil menikmati hasil keringat mereka. Teknologi kloning memberi umat manusia di film ini kekuatan untuk "bermain Tuhan", hanya saja dalam memainkannya, manusia tak sedikitpun memiliki kebijaksanaan-Nya.
Pesan yang Mickey 17 bawa sebenarnya bukan baru. Adanya sosok pemimpin sewenang-wenang, ditambah kemunculan sosok monster bernama "creeper", membuatnya terasa seperti kombinasi Snowpiercer dan Okja. Jurang kelas, objektifikasi terhadap individu yang dipandang sebagai komoditas belaka, hingga kecenderungan manusia melakukan penjajahan dan menyebut mereka yang berbeda sebagai "alien", semuanya adalah tema favorit Bong Joon-ho.
Sayang, jika menerapkan tema-tema tersebut ke alur, Mickey 17 terkesan kurang pembohong dalam mengeksplorasi premis uniknya, bahkan cenderung stagnan dalam bercerita. Ibaratnya, Bong membawa kita terbang mengunjungi planet asing, tapi bukannya menjelajahi setiap sudutnya, ia hanya mengajak kita berjalan-jalan santai di sekitar pesawat.
Di sisi lain, tidak seperti banyak sineas Hollywood yang sering memandang karya mereka terlampau serius hingga berakhir hambar, Bong dengan jeli mencampurkan banyak sentuhan komedi gelap yang cukup efektif memancing tawa. Di sinilah kinerja Pattinson memegang peranan penting. Sebagai Mickey 17, Pattinson mengolah talenta komedinya untuk memerankan figur "bodoh", lengkap dengan modifikasi cara bicara yang memukau.
Menariknya, Pattinson melakoni peran ganda yang bertolak belakang, karena tidak seperti "pendahulunya", Mickey 18 adalah sosok yang penuh percaya diri, berani, pula tidak ragu memakai kekerasan sebagai jalan menyelesaikan masalah. Mungkin seperti Mickey, diri kita pun menyimpan banyak versi, termasuk yang sama sekali berbeda dan hanya sesekali muncul ke permukaan. Tidak kalah pesonanya adalah Ruffalo sebagai karikatur politikus minim kompetensi, Collette yang mengendalikan segalanya dari belakang dengan begitu keji, juga Naomi Ackie sebagai Nasha, kekasih Mickey yang tangguh.
“Seperti apa rasanya mati?”, merupakan pertanyaan yang paling sering diajukan kepada Mickey. Kematian adalah hal yang paling menyeramkan bagi banyak orang. Bayangkan mengirim sesama manusia untuk mengalami hal yang paling kita takuti berulang kali tanpa ada rasa bersalah. Diceritakan pada Bong Joon-ho untuk melahirkan sosok-sosok yang di atas kertas tampak konyol, namun sebenarnya menyimpan kekejaman yang melampaui kejahatan pun.






0 komentar:
Posting Komentar