Kamis, 01 Januari 2026

ESOK TANPA IBU

 ESOK TANPA IBU


Sebagai anak laki-laki, saya punya hubungan kompleks dengan bapak. Bukan kami saling benci, namun ada kesulitan untuk sekedar terlibat dalam percakapan. Rasanya banyak anak punya pengalaman serupa. Ada ketergantungan terlalu besar pada sebagai ibu perekat hubungan, dan Esok Tanpa Ibu, atau yang punya judul internasional Mothernet, mengeksplorasi rapuhnya ketergantungan di atas selepas ketiadaan "sang perekat?

Rama (Ali Fikry) adalah nama si anak laki-laki. Usianya 16 tahun, sehingga tidak ada keraguan saat kedua orang tuanya (Dian Sastrowardoyo dan Ringgo Agus Rahman) kesulitan memahami Rama, yang tak pernah bahagia di sekitar mereka. Namun berbeda dengan sang suami yang seolah-olah pasrah pada kondisi, Laras kukuh meluangkan waktu dengan berbicara, memposisikan diri sebagai orang tua yang bisa jadi wadah berkeluh kesah. 

Lalu terjadilah tragedi. Sewaktu mendaki gunung bersama, Laras tiba-tiba jatuh pingsan. Setelah koma beberapa hari, dia meninggal. Dian Sastrowardoyo bermain begitu berwarna, ada kalanya menggelitik layaknya generasi lalu yang mencoba menyesuaikan diri dengan gaya generasi kini. Dian sangat hidup, sampai setelah karakternya mati, saya ikut tertular terkena dingin yang menyerang keluarga Laras.

Perlu diingat, Esok Tanpa Ibu tidak mengambil latar waktu kontemporer. Naskah buatan Diva Apresya dan Gina S. Noer menyusun dunia "waktu dekat", di mana beberapa teknologi mengalami pertunjukan kecanggihan, meski tidak jauh dibandingkan sekarang. Terowongan yang diisi videotron, layar sentuh pengganti meja kerja, hingga sederet aplikasi yang mengeliminasi kemustahilan.

Salah satunya i-BU, aplikasi AI yang dikembangkan oleh sahabat Rama yang juga seorang peretas (Aisha Nurra Datau sebagai pemeran pendukung yang piawai mencuri perhatian). i-BU membuat Laras seolah-olah hidup kembali di layar, berkat data-data tentang mendiang yang disuplai oleh Rama.

Bisa ditebak, Rama segera mengalami ketergantungan pada i-BU. Dia tidak mampu mengambil keputusan sederhana tanpa berkonsultasi. Rama lupa bahwa memori, yang jadi inti penggerak sistem i-BU, biarpun bersifat maya, tetap tercipta dari hal-hal nyata. Rama tenggelam dalam ilusi bahwa ia baik-baik saja sepeninggal Laras. Saran dari orang-orang terdekat, termasuk sahabat, Robert (yang memberi Bima Sena ruang unjuk gigi membuat talenta komedi), enggan dia indahkan. 

Karya rumah Rama pun diselesaikan oleh i-BU dengan menyatukan beragam esai dari internet, menciptakan kedekatan dengan fenomena yang memprihatinkan di dunia nyata, kala generasi sekarang bak kesulitan berfungsi tanpa campur tangan ChatGPT (atau AI dan gawai berbentuk apa pun).


0 komentar:

Posting Komentar