This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Sabtu, 02 Agustus 2025

SHARK NIGHT 3D (2011)

 SHARK NIGHT 3D (2011)


PEMAIN :
SARA PAXTON, DUSTIN MILLIGAN, CHRIS CHARMACK, DINDING SINQUA, KATHARINE MCPHEE,
GENRE :
HOROR, SERANGAN HIU
SUTRADARA :
DAVID R.ELLIS
PENULIS :
AKAN HAYES & JESSE STUDENBERG
2 SEPTEMBER 2011
PERINGKAT:
2/5
Air, Ikan Hiu, dan Darah adalah tiga bumbu klasik untuk film horor yang menegangkan. Bayangkan ketika Anda sedang berenang di laut, tiba-tiba muncul sirip ikan, dan udara mulai berubah menjadi merah, serta orang-orang berteriak minta tolong. Tapi lain halnya dengan film ini, film ini mengambil setting di danau bukan di laut, bagaimana ikan hiu bisa hidup di danau?
Bercerita tentang 7 mahasiswa Tulane University yang berlibur di sebuah rumah di tepi danau, tepatnya di rumah Sara (Sara Paxton) di rumah itu tidak ada sinyal yang mumpuni untuk berkomunikasi dengan dunia luar, sehingga memaksa mereka menghabiskan pengalaman liburannya dengan bermain di danau.
Tanpa sepengetahuan mereka, ternyata danau itu telah menjadi rumah bagi para hiu yang entah datang dan terdampar dimanapun. Satu orang korban mulai berjatuhan, mulai dari yang terluka sampai menjadi santapan sang hiu. Pesta dimulai dan darah pun dimulai! Semakin buruk ketika orang-orang tidak memperdulikan keadaan mereka, termasuk sang Sheriff dan dua penduduk lokal yang tidak bersahabat.
Sudah menjadi kebiasaan, penggarapan cerita film horor Amerika, sebagian tokoh protagonis hanya menjadi sorotan sebagai calon korban sang hiu yang akan menghiasi layar dengan cipratan darah. Bahkan dari tujuh siswa itu hanya Sara Powski dan Nick La Duca (Dustin Milligan) yang memainkan peran sebagai mahasiswa kedokteran yan membantu teman-temannya yang menjadi korban terkaman hiu. Dua tokoh tersebut menurut saya terasa penting dan memegang kendali pemimpin.
Plot cerita film ini kurang "menggigit", bahkan sejumlah adegan serangan hiu yang disuguhkan tidak menegangkan sama sekali. Bahkan banyak adegan yang memunculkan pertanyaan di benak saya. Seperti adegan Malik (Sinqua Walls) yang diserang hiu dan memakai speedboat. Dalam adegan tersebut speedboat yang dikendarai kenapai tiba-tiba telah melewati danau, dan ketika Malik terjatuh kenapa dengan cepat ia sudah berenang ke tepi danau dengan selamat? Kenapa oh kenapa? Bagaimana mungkin ia berenang dalam jarak yang begitu jauh sudah berhasil mengelak dari serangan hiu yang kecepatan berenangnya tinggi? Juga adegan ketika Beth (Katherine McPhee) yang diceritakan baru saja membuat tato dipunggungnya tiba-tiba sudah bisa berendam dengan cepat atau salah satu adegan ketika salah satu tokoh kehilangan satu lengan akibat serangan hiu, yang terlihat jelas ia menahan lengan di belakang punggung.
Yang paling keren adalah efek CGI Ikan hiu yang terlihat nyata dan menyeramkan. Apalagi beberapa pemandangan yang ditampilkan sang ikan yang bisa menerkam mangsanya dengan melompat ke luar udara.
Secara keseluruhan, SHARK NIGHT 3D memenuhi adegan klise, plot yang dangkal dan dapat diprediksi, bahkan film ini tidak cukup menegangkan untuk membuat penonton duduk di ujung kursi sambil setengah menutup mata, meskipun begitu sejumlah pemain yang memainkannya dengan baik dan patut di acungi jempol.


SKANDAL (2011)

 SKANDAL (2011)

Masih berbicara mengenai film garapan Jose Poernomo, kali ini bukanlah sebuah sajian horor melainkan sebuah film thriller dengan intrik perselingkuhan dan bisa disebut film yang berani tampil secara vulgar tanpa kesan ''nanggung" tentunya dengan penampilan Uli Auliani di posisi pemeran utama. Skandal sebuah film yang berani, seksi dan tentunya cukup mumpuni.
Mischa (Uli Auliani) dan Aron (Mike Lucock) tengah menghadapi saat yang sedikit sulit dalam kehidupan umat tangga mereka yang telah dikaruniai satu orang putera. Aron yang sibuk selalu dengan pekerjaannya membuat Mischa selalu kesepian di rumah dan melampiaskan hasrat seksualnya dengan masturbasi di bathtub. Mischa juga curiga kalau suaminya berselingkuh dengan sekretaris (Laras Monca) di kantornya. Di tengah kegalauannya itu, Mischa kembali bertemu dengan Vincent (Mario Lawalata) yang tak lain adalah mantan pacarnya dulu selama bertahun-tahun. Mischa yang tengah dalam perasaan kesal karena yakin sang suami selingkuh dan memang dalam kondisi libido yang tidak tersalurkan memilih menjalin hubungan diam-diam (baca: selingkuh) dengan Vincent.
Sulit untuk memungkiri bahwa sebenarnya "Skandal" hanya menjual sensualitas penuh hasrat saja, adegan pertama kamu akan disuguhkan dengan sebuah aksi masturbasi di bathup lengkap dengan desahan-desahan penarik nafsu kaum pria, namun sejatinya Skandal memang melakukan demi kepentingan naskah yang memang sesuai, bukan hanya sebatas pamer sensualitas saja. Jose Poernomo yang merangkap sebagai penulis naskah cukup mumpuni dalam memvisualisasikan naskahnya lewat adegan, adegan yang berani itu justru mampu mencakupi cerita yang bisa Disebut tipis, meski sebenarnya saya acap kali terganggu dengan penggunaan fade in fade out ketika adegan seksi berlangsung, tapi memuncak Jose mampu menangani itu semua secara tepat dengan memasukan twist yang cukup bertolak belakang meski sulit untuk bisa disebut baru.
Penggunaan cerita tentang seorang wanita yang "kurang kebutuhan birahi" cukup oke disini, dimana Uli Auliani yang biasanya pamer untuk sekedar diekspos aura tubuhnya menampilkan sebuah performa yang cukup memadahi, saya tak peduli dengan Mike Lucock dan Mario Lawalata yang mungkin hanya sekedar menemani saja, yang jelas Uli adalag magnet film ini. Sayang memang keinginan Jose untuk menambahkan unsur thriller berakhir terasa nanggung di sini, memang ta sepenuhnya mengganggu tapi kekurangan porsi thriller diatengah minimnya durasi terasa dipaksakan, andai saja film ini berjalan tanpa bumbu thriller pun bisa tampil memikat menurut saya. Jose memang bermain dengan cerita yang bisa dibilang tipis, tapi ia cukup mumpuni untuk mengeksplor cerita tipis tadi menjadi berbobot, ya meski tak sempurna setidaknya "Skandal" tampil cukup berani ditengah adegannya serta penggarapan yang cukup akurat meski harus meninggalkan beberapa kesan mengganggu.


CARRIE (2013)

 CARRIE (2013)

PEMAIN : CHLOE GRACE MORETZ, JULIANE MOORE, GABRIELLA WILDE, ANSEL ELGORT, PORTIA DOUBLEDAY, ALEX RUSSEL, JUDY GREER,

GENRE : HOROR SUPRANATURAL

SUTRADARA : KIMBERLY PIERCE
Buat ulang, buat ulang, buat ulang. Mendengar film remake atau adaptasi novel pasti timbul pertanyaan Apakah film ini akan lebih bagus dari pendahulunya? Apakah film ini akan lebih bagus dari novelnya? Itu adalah risiko film remake atau adaptasi! Ya, mau bagaimana lagi?
Terlepas dari itu semua, disini saya gak akan membandingkan film ini dg film carrie th 1976 garapan Brian De Palma, ataupun novelnya karya Stephen King, karna memang saya blum menonton ataupun membaca novelnya. Jadi, yuk ah ngomongin CARRIE.
CARRIE ibarat kue MARRIE yang lezat pas gigitan pertama, kres. Kesan horornya dapet, lalu ketegangan cerita, kita mulai memperkenalkan siapa itu Carrie? Begitupun dengan konflik yang dialami Carrie. Sejujurnya, menurut saya, film ini hanya terfokus pada kpd tokoh Carrie, sedangkan tokoh yang lain hanya sebatas numpang lewat dan mengisi kekosongan saja, sang sutradara KIMBERLY PIERCE rupanya terlalu fokus kepada tokoh Carrie, hingga lupa dengan SCRIPT yg kesana kemarrie. Ngomongin visual effect yuk, visual effect film ini lumayanlah, meski gak bagus film Arah MICHAEL BAY yang sulit untuk bilang GOOD BAY pd effect-nya, tapi lumayanlah untuk visualnya, Not Bad!.
CARRIE ibarat kue MARRIE yang lezat pas gigitan pertama, kres. Kesan horornya dapet, lalu ketegangan cerita, kita mulai memperkenalkan siapa itu Carrie? Begitupun dengan konflik yang dialami Carrie. Sejujurnya, menurut saya, film ini hanya terfokus pada kpd tokoh Carrie, sedangkan tokoh yang lain hanya sebatas numpang lewat dan mengisi kekosongan saja, sang sutradara KIMBERLY PIERCE rupanya terlalu fokus kepada tokoh Carrie, hingga lupa dengan SCRIPT yg kesana kemarrie. Ngomongin visual effect yuk, visual effect film ini lumayanlah, meski gak bagus film Arah MICHAEL BAY yang sulit untuk bilang GOOD BAY pd effect-nya, tapi lumayanlah untuk visualnya, Not Bad!.

Film dibuka dgenganMargaret White (Juliane Moore) yang tengah melahirkan sang anak, dan setelah melahirkan ia hendak membunuhnya dengan gunting tapi tak jadi, dan akhirnya ia merawatnya.

Singkat cerita, sang anak, Carrie White (Chloe Grace Moretz) menjadi pribadi yang pendiam dan aneh, ia sering dibully oleh teman-nya disekolah, terutama pada saat ia mendapatkan dirinya haid untuk pertama kalinya, kejadian itu membuat ia dipermalukan dan dihina, sampai kejadian itu di video dan di upload oleh Chris (Portia Doubleday).

Sejak kejadian itu ia sering tertekan ditambah sang ibu yang sangat overprotektif membuat ia menjadi semakin tertekan.
Carrie ternyata mempunyai kemampuan TELEKINESIS atau kemampuan memindahkan barang dengan pikirannya. Hingga pada suatu hari ia diajak oleh Tommy Ross (Ansel Elgort) untuk pergi ke malam prom atas saran sang pacar Sue (Gabriella Wilde). Saksikan adegan ketika Carrie ditumpahkan darah babi oleh Chris dan pacarnya Billy (Alex Russel) yang membuat amarah Carrie menjadi dan mulai balas dendam. Saksikan juga pertarungan antara Carrie dengan sang ibu, apa masalahnya? Semua ada di CARRIE
Bagi anda yang mengharapkan ketegangan atau keseraman siap2 LARRIE juga bagi anda yang mengharapkan konflik yang berat dan scoring musik yang menyeramkan siap-siap juga LARRIE. Tapi bagi anda yang pengen nonton untuk sekedar hiburan tanpa memikirkan kekurangannya, yuk MARII nonton CARRIE.

COCKTAIL (2012)

 COCKTAIL (2012)

PEMAIN : SAIF ALI KHAN, DIANA PENTY, DEEPIKA PADUKONE, RANDEEP HOODA, DIMPLE KAPADIA, BOMAN IRANI,

GENRE : DRAMA

TAGLINES : "Terkadang, sahabat yang baik mungkin terlalu baik untuk dibagikan"

PERINGKAT : 3,5/5

Film yang bergenre sama seperti KUCH KUCH HOTA HAI, MUJHSE DOSTI KAROGE tentang cinta segitiga. Lalu apakah ditangan Homi Adajania film ini akan menjadi film dengan rasa berbeda ataukah akan sama aja?

Entah kenapa dari awal sampe akhir, saya menikmati menikmati film ini. Meskipun bayang-bayang Kuch kuch hota hai masih membludak, tapi ini menurut saya Kuch kuch hota hai rasa Eropa, dengan bumbu2 khas barat.

COCKTAIL meng-explore view demi view yang memanjakan mata, mulai dari jalanan Eropa sampai ke CAPE TOWN di Afrika Selatan yang kalo jalan kaki kesana pasti CAPE..

COCKTAIL mempunyai cerita yang biasa pd umumnya, tapi disini sang sutradara hanya menambahkan bumbu khas barat.
Akting SAIF ALI KHAN disini jujur ia bermain maksimal sebagai seorang playboy yang akhirnya terjebak di antara hati dua cewek. Lalu DEEPIKA PADUKONE yang wow tampil, akting deppu juga banjir pujian dari kritikus film. Lalu ada DIANA PENTY pendatang baru yg aktingnya juga MAKSMAL lah meskipun gak setajam PENITY. Lalu ada DIMPLE KAPADIA, RANDEEP HOODA, dan BOMAN IRANI yang menambah cerita film ini.

Cocktail bercerita tentang Meera (Diana Penty) seorang wanita dari Delhi yang pergi ke London, demi bertemu sang suami, Kunal (Randeep Hooda), namun ketika ia bertemu dengan suaminya, ia malah disuruh pergi ke Delhi. SUNGGUH SUAMI YANG KEJAM.

Lalu ditengah keterpurukannya, ia bertemu dengan Veronica (Deepika Padukone) seorang gadis yang hobi clubbing dan mabuk-mabuk-an. Singkat cerita, mereka pun menjadi teman dekat dan tinggal di rumah yang sama.

Lalu masalah timbul ketika hadir seorang PLAYBOY CAP GAYUNG, Gautam (Saif Ali Khan) pacar Veronica. Mereka pun menjadi teman dekat dan sering menghabiskan waktu bersama. Suatu ketika datang, Ibu Gautam (Dimple Kapadia) yang datang ke Eropa. Sang ibu tidak suka dengan penampilan Veronica, dan terpaksa Gautam menyuruh Meera untuk pura-pura menjadi pacarnya. Namun dibalik hubungan palsu itu, Gautam malah jatuh cinta kepada Meera, begitupun sebaliknya. Sakikan Gautam yang terjebak antara dua hati, Saksikan Veronica yang stres melihat Gautam dekat dengan Meera sampai ia mengusir Meera dari rumahnya. Saksikan Meera yang mulai baikan dengan suaminya ysng menambah ruwet Gautam. Lalu siapakah yang dipilih Gautam?

Jumat, 01 Agustus 2025

THE NAKED GUN

 THE NAKED GUN


Banyak yang mengerdilkan film parodi, menyebutnya malas dan bodoh, terutama sejak kemerosotan kualitasnya di era 2000-an. Anggap itu kurang adil. Genre parodi memang cenderung bodoh, namun tak semuanya malas. Justru di situlah terletak cara memisahkan, mana parodi yang baik, mana yang buruk. The Naked Gun versi baru, sebagaimana trilogi aslinya dulu, masuk ke kategori pertama.
Kali pertama kita bertemu protagonisnya, si detektif laki-laki senior bertubuh jangkung, ia menggagalkan meminjaman bank dengan menyamar sebagai gadis cilik. Kebodohan yang menjaga kelangsungan hidup? Ya, tapi itu jenis pengungkapan kreatif, yang digagas oleh orang-orang yang berpikir keras untuk mengecoh ekspektasi penonton. Jelas bukan wujud kemalasan.
Film semacam ini sulit untuk dibuat reviunya. Pertama, nyaris mustahil menggambarkan kelucuan humornya. Penonton harus mengalaminya secara langsung. Kedua, ia sama sekali tak terikat pada pakem filmis mana pun, termasuk dalam hal penceritaan. Tapi berkat semangat "semau gue" yang filmnya usung, alur umum bertemakan prosedur polisi mampu diubah ke arah yang lebih menarik.
Protagonisnya adalah Frank Drebin Jr. (Liam Neeson), putra dari Frank Drebin (Leslie Nielsen) selaku jagoan dari film aslinya. Drebin Jr. ingin mengikuti jejak sang ayah, namun tak ingin dianggap sebatas meniru. Kita tahu itu pun merupakan teriakan hati para pembuat filmnya. Drebin Jr.berharap sang ayah memberi pertanda lewat penampakan burung hantu. Tunggu bagaimana semesta merespons doa si tokoh utama nanti.
Ada dua kasus di tengah Drebin Jr. usut, yakni mengamankan bank dan kecelakaan mobil elektrik yang menurunkan pengemudinya. Penyelidikan membawa Drebin Jr. berkenalan dengan Richard Cane (Danny Huston), tokoh terkemuka dalam bidang teknologi sekaligus pembuat mobil elektrik yang tidak diberi nama Tesla tersebut. Saudara si korban yang kurang memercayai kredibilitas polisi, Beth Davenport (Pamela Anderson), juga melakukan penyelidikan sendiri.
Garis besar kisahnya memang klise, tapi banyolan khas film parodi yang dapat muncul kapan pun dalam bentuk apa pun, jadi penyegar presentasinya. Humornya tersebar hampir di tiap titik, entah berupa slapstick, permainan kata (yang akan kehilangan daya bunuhnya bila penonton sepenuhnya bergantung pada takarir), hingga deretan pemandangan absurd yang sering ditempatkan di latar belakang sebuah shot. Semua dikemas secara padat dalam durasi 85 menit. Ingat kapan terakhir kali ada "film besar" berputar sebentar itu?
Kalau ada sesuatu yang bisa dikomplain terkait The Naked Gun, itu hanyalah bagaimana bagi penonton yang sudah familiar dengan genre parodi, beberapa kejutan di humornya tak lagi terasa mengejutkan. Tapi itu pun tak selalu berujung melucuti kelucuannya, apalagi saat duo pemeran utama selalu menampilkan totalitas mereka.
Liam Neeson adalah penerus sejati dari Leslie Nielsen. serupa mendiang Nielsen yang lebih dikenal sebagai "aktor serius" sebelum tercebur ke dunia parodi, Neeson memanfaatkan citra tangguhnya untuk menggandakan kelucuan bergaya deadpan, di mana si karakter memasang muka datar kala terjadi absurd, seolah-olah semua itu normal. Ketika Frank Drebin Jr. tampil, menampilkan sosok intimidatifnya sambil mengenakan baju gadis cilik, itulah komedi puncak. Pamela Anderson pun sukses memancing tawa lewat "nyanyian merdu" yang ia pamerkan di atas panggung jazz.
Pamela Anderson, dengan statusnya sebagai simbol seks 90-an, tidak dijadikan objek eksploitasi dalam sebuah parodi komedi, merupakan kejutan yang menyenangkan. Banyak pihak berkeluh kesah perihal serba sensitifnya zaman sekarang, yang dianggap menyulitkan pembuatan komedi. The Naked Gun membantah anggapan tersebut. Beberapa kali ia berjalan di tepi jurang, bagai hendak melempar lelucon seksi, sebelum melompat pada saat-saat terakhir dan menghindari jatuh
Bukan berarti filmnya tidak menyediakan ruang bagi komedi nakal. Sebuah adegan yang melibatkan Liam Neeson, Pamela Anderson, dan aktivitas mencurigakan yang ditangkap oleh kamera inframerah, menjadi salah satu pemahaman paling pembohong sekaligus paling lucu di film ini. The Naked Gun memang bodoh, tapi jelas tidak malas.

SANAM RE (2016)

 SANAM RE (2016)

PEMAIN : PULKIT SAMRAT, YAMI GAUTAM, URVASHI RAUTELA, RISHI KAPOOR,

GENRE : DRAMA, ROMANTIS

SUTRADARA : DIVYA KHOSLA KUMAR

RILIS : 12 FEBRUARI 2016

PERINGKAT : 2,5/5

Apakah SANAM RE akan secetarr menggelegar, dan se-romantis lagunya? Ataukah akan membuat kita buka tikar lalu gogolerran setelah itu BOCAN?

Jujur film ini WAH banget lokasi shooting-nya, bak di surga, mulai dari salju, danau, dsb. Pokoknya VIEWNYA bikin adeem mata,,lalu bgaimana dengan SCRIPT nya? Jujur script ini bikin gisik2 mata, lalu usap keringat, sumveh gak tahan, tadinya liat view-nya yg keren jadi bo+ri+ng,, disatuin jadi apa ANAK-ANAK? BOOORIIINGGG PAK. Tapi meskipun seperti yg telah disebutkan anak-anak diatas, setidaknya kita terhibur lah dengan lagunya yang kece mamen, seperti SANAM RE, HUA HAIN AAJ PEHLI BAR, TERE LIYE.

Akting PULKIT SAMRAT disini lumayanlah keren, juga ditambah wajahnya yang mirip sama yang nulis review ini. Siapa kamu? Pokoknya ORANG GARUT yg dijamin gak CEMBERUT. Wkwkwk. Lalu bgaimana dengan akting YAMI GAUTAM DAN URVASHI RAUTELA?? Akting mantan pacar saya masih stuck disana aja, gak naek-naek cuma kedua mantan saya di film ini cuma diekspos body nya aja. Lalu bgaimana dengan akting RISHI KAPOOR? Akting ngkong disini seperti biasa keren.

So, buat yg penasaran film sma yg bentrok rilisnya dengan film FITOOR ini silahkan ditonton.

Bercerita tentang Aakash kecil yang berasal dari Tankapur, yang mempunyai teman sekaligus cinta gorilla nya, eh maksud saya cinta monyetnya, eh kok masa monyet udah punya cinta sih? Sedangkan aku belum? Kalah donk sama MONYET...Shrutidan ditambah lagi cintanya pake SEGITIGA lagi tanpa BIRU dengan temannya lagi Akansha.

Lalu Aakash remaja (Pulkit Samrat) demi pendidikan pindah ke kota, sebut saja GARUT, dan meninggalkan teman sekaligus cintenya. Dan setelah dewasa ia kembali ke Tankapur, menjenguk kakeknya yang sudah tua, Daddu (Rishi Kapoor) yg mempunyai studio foto yang akan dijual.

Lalu, selanjutnya Aakash (Pulkit Samrat) ke CANADA demi kontrak bisnisnya yang harus dilakukannya karena tekanan sang bos. PUCUK DICINTA ULAT PUN TIBA eh kela poho dei, oh PUCUK DICINTA ULAM PUN TIBA, Aakash tanpa sengaja bertemu dg teman + cinta kecilnya Shruti (Yami Gautam) plus cewek cinta segitiga birunya. Akansha/Nyonya Pablo (Urvashi Rautela). Lalu apa yg terjadi pd cinta SEGITIGA BIRUnya? Saksikan lika liku cinta mereka.

DIWE: HUTAN LARANGAN (2024)

 DIWE: HUTAN LARANGAN (2024)

Dalam menyaksikan sebuah film, saya dengan senang hati memberikan kesempatan kepada semua film tanpa menilik apa, siapa, atau bahkan berasal dari mana film tersebut. Hal tersebut saya terapakan demi merasakan sebuah pengalaman atau bahkan sudut pandang bercerita kepada pembuatnya. Hingga hadirlah Diwe: Hutan Larangan yang merupakan film hasil karya anak daerah Bangka Belitung yang sebelumnya sempat melahirkan Buyut (2022).
Sama halnya dengan nama yang terakhir disebut, mitos Diwe yang merupakan nama penunggu hutan larangan yang berada di Bangka Selatan dieksplorasi oleh penulis sekaligus sutradara, Bram Ferino (Buyut, Tari Kematian) melalui sebuah template sederhana khas film horor arus utama dengan mengikuti sekelompok anak muda yang hendak melangsungkan liburan.
Semuanya berawal dari ajakan Intan (Trisna Anggriani) yang mengajak keempat sahabatnya: Rendi (Andika Nugraha), Olivia (Dyva Syaputri), Jeffri (Arya Al Faiz) dan Denis (Juni Irsandi) untuk berlibur ke tempat sang bibi dengan tujuan berkunjung ke pantai dekat rumah. Sama seperti pola film horor klasik, tentu wacana tersebut akan berubah seiring berjalannya durasi yang sebatas diisi tingkah bodoh para tokohnya yang menggundang petaka.
Tanpa menguras rasa hormat, Diwe: Hutan Larangan memang tak dibekali budget tinggi layaknya film dengan rumah produksi besar pada umumnya, itulah mengapa pengadegannya hanya sebatas menangkap gambar tanpa berusaha memikirkan estetika lainnya yang urung ditampilkan pembuatnya tanpa pernah mencoba mengakali atau memutar otak agar film tersebut terlihat lebih mumpuni, setidaknya dari segi naskah yang seolah-olah memenuhi check list film horor klasik pada umumnya.
Hal yang patut diapresiasi mungkin tatakala kehadiran Diwe untuk pertama kali menyerang para korban yang digarap begitu mumpuni tanpa pernah berambisi menampilkan sosok asli. Setelahnya, Bram Ferino seolah tak percaya diri dalam bermain misteri, dan dengan berani mengeksploitasi wajah sang dedemit serutin mungkin. Haslinya jelas menjemukan dan nihil eksplorasi.
Naskahnya sebatas menjadikan karakter sebagai calon korban sekaligus daging tak bernyawa ketika hidup. Masing-masing tokohnya sebatas stereotip horor usang yang sudah lama ditinggalkan. Diwe: Hutan Larangan bak terjebak pada pola horor tahun 80-an yang menolak memberikan modifikasi sekaligus memberikan urgensi pada cerita.
Namun, tatakala memberikan sedikit perubahan, Bram Ferino melakukan aksi salah kaprah dengan menambahkan twist (yang juga sudah klasik) tanpa mengulas maupun memperhatikan struktur cerita pula pemakainya yang serba tiba-tiba. Durasi 67 menit pun yang terlampau sederhana dan berpotensi tampil padat malah mengundang rasa bosan yang sukar untuk ditolak.