This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Sabtu, 20 Desember 2025

THE SMASHING MACHINE

 THE SMASHING MACHINE


The Smashing Machine adalah kendaraan bagi Dwayne "The Rock" Johnson untuk membuktikan bahwa sebagai aktor berpendapatan tertinggi tahun lalu berdasarkan data Forbes (juga di 2016, 2019, 2020, 2021), dia bisa lebih dari sekedar mengangkat alis dan melompat dari gedung tinggi sambil mengenakan kemeja safari atau kaus oblong. Johnson memakai riasan prostetik, beralih dari sosok jagoan yang bisa menyelamatkan semua orang, menjadi manusia biasa yang butuh diselamatkan.Namanya Mark Kerr, atlet MMA dua kali juara UFC yang sejak tahun 1998 beralih ke kompetisi Pride FC di Jepang. Performanya trengginas, dengan empat gelaran berhasil dimenangkan. Kemampuan mengendalikan emosi jadi kunci. Setidaknya demikian penjelasan dari Mark, yang menyamakan dirinya dengan laser yang sinarnya terfokus, alih-alih sorotan senter yang melintas-ayun tanpa kejelasan. 

Ironisnya, kelak karir Mark akan mengalami penurunan akibat kegagalan mengendalikan emosi. Bukti bahwa ia manusia biasa yang tidak sempurna. Hanya saja, Mark punya pemikiran berbeda. Euforia kemenangan di atas ring membuat perasaan bak dewa yang dipuja para pemirsa. Perasaan tersebut jadi pelecut motivasi terbesarnya. Puja-puji itu merupakan adiksinya yang pertama.

Lalu kita menyaksikan hubungan romansanya yang volatil dengan Dawn Staples (Emily Blunt). Pertengkaran jadi pemandangan biasa, salah satunya akibat tingginya ego mereka, yang bisa membuat Burj Khalifa meski terkesan sempit. Pertengkaran pun sempat pecah tepat sebelum Mark menaiki ring guna melawan Igor Vovchanchyn (Oleksandr Usyk), yang berakhir pada kegagalan perdananya. 

Mark, yang di sebuah wawancara mengaku tidak tahu rasanya kalah, amat terpukul. Naskah buatan sang sutradara, Benny Safdie, pun memulai perjalanannya mengeksplorasi proses individu menerima fakta kalau dirinya bukanlah dewa. Mark belajar menerima kekalahan, belajar mengakrabi kerapuhan, dan tentunya, belajar menjadi manusia.

Proses belajar tersebut jauh dari mudah. Apalagi, selain puja-puji penonton kala ia meraih kemenangan, Mark masih menyimpan satu adiksi lain, yakni terhadap obat penghilang rasa sakit. Obat itu terus ia suntikkan, namun rasa sakit terbesar yang menusuk-nusuk jantungnya menolak hilang. Belum lagi konflik dengan Dawn yang selalu dihentikan. Ketika dua manusia merusak diri sendiri, timbul kecenderungan untuk saling merusak. 

Penyutradaraan Safdie, yang menyabet penghargaan Silver Lion di Venice Film Festival 2025, mengutamakan keintiman yang dibangun lewat gaya visual ala home video. Gambar kasar, gerak-gerik pembohong bak kamera genggam, semua diterapkan demi menghilangkan sekat antara narasi dan penonton.

Babak keduanya sempat kehilangan pijakan, kala naskahnya seperti memasuki mode autopilot, menggerakkan pesawat bernama "cerita" di tengah jalur berupa formula klise kisah biografi kelam. Hasilnya memuaskan. Untunglah The Smashing Machine disokong oleh jajaran pelakon dalam performa puncak mereka. 

Departemen tata rias memang memegang peranan penting lewat keberhasilannya menghadirkan perubahan alami pada wajah sang aktor utama. Bukan berarti Johnson bermain seadanya. Akting The Rock mungkin tak se-transformatif tata rias tersebut (beberapa kali gerak-gerik serta suara khasnya masih terlihat), namun berbekal pengalamannya di atas ring yang tentu familiar dengan manisnya kemenangan sekaligus pahitnya kekalahan, kerapuhan dari sesosok laki-laki berotot raksasa pun mampu ditampilkan.

Saya justru lebih terpukau dengan kepiawaian Emily Blunt mengolah beragam metode untuk meluapkan emosi. Ada kalanya ia meletup-letup, tapi momen paling memikat hadir saat Blunt meredam kepiluan si karakter, lalu menumpahkannya sedikit demi sedikit, tembus setetes air mata yang membasahi wajahnya, dalam sebuah adegan yang jadi contoh pemanfaatan efektif dari teknik close-up. 

Menarik pula menyaksikan cara Safdie mengakhiri pertarungan di atas ring. Ketimbang rock menggelegar atau dentuman perkusi pemacu adrenalin, komposisi bernuansa jazz gubahan Nala Sinephro (debutnya mengisi scoring) justru dijadikan pengiring. Mungkin Safdie memandang musik jazz senada dengan MMA. Sama-sama eksploratif, pembohong, tak mengenal kotak pengekang, improvisasi sarat, pula penuh kejutan. Begitu pula prinsip penyutradaraannya.


PREDATOR: BADLANDS

 PREDATOR: BADLANDS


Kaum Yautja telah berkali-kali menginvasi Bumi bermodalkan berbagai senjata canggih. Tapi berkali-kali pula mereka dipecundangi manusia, dari militer gahar, polisi paruh baya, bahkan Comanche yang masih percaya. Si pemangsa selalu berakhir dimangsa oleh buruannya. Predator: Badlands secara tidak langsung menjawab permasalahan tersebut, dengan memposisikan harga diri Yautja sebagai sumber malapetaka mereka sendiri.

Selepas adegan pembuka yang mematenkan kebarbaran Yautja yang tak mengampuni kelemahan berbentuk apa pun termasuk kebaikan hati, kita mengikuti petualangan Dek (Dimitrius Schuster-Koloamatangi), Yautja muda yang menatap sebelah mata akibat perawakan kecilnya. Didorong ambisi membuktikan diri, Dek berniat memburu Kalisk, predator apeks dari Planet Genna yang konon mustahil dibunuh. Dia tidak otot menjalankan misi tersebut seorang diri. 

Tapi Genna bukan diisi Kalisk semata. Ada rumput setajam silet, tanaman yang bisa melesatkan racun beracun, sampai serangga dengan daya ledak tinggi. Seluruh pengisi ekosistemnya dapat mendatangkan maut. Sebuah konsep menarik dalam naskah buatan Patrick Aison dan Brian Duffield, guna membedakan latarnya dari hutan-hutan biasa yang kerap jadi panggung kematian waralaba Predator.

Menempatkan sang predator sebagai mangsa empuk yang mesti was-was di setiap langkahnya memang sekilas terdengar radikal, namun malah menyajikan formula baru dengan modifikasi asal ekstrim seperti The Predator (2018), para kreatornya, tidak terkecuali Dan Trachtenberg sebagai film yang berjasa mengembalikan kejayaan Predator dalam beberapa tahun terakhir, sebatas menerapkan terhadap perluasan konsep semestanya tanpa pernah keluar jalur.

Begitu pula perihal genrenya. Badlands bukan lagi fiksi ilmiah yang bernapaskan hororslasher. Sadismenya dipangkas, ketiadaan karakter manusia pun berakhir menghilangkan pertumpahan darah. Komparasi dengan judul-judul petualangan luar angkasa dengan bumbu buddy film (The Mandalorian contohnya) akan muncul, apalagi setelah karakter Thia (Elle Fanning) diperkenalkan.

Thia adalah android kepunyaan Weyland-Yutani, yang terjebak di Genna dalam kondisi rusak parah. Berbeda dengan sesamanya, ia memiliki kepribadian yang lebih berwarna, ceria, dan tidak jarang jenaka. Elle Fanning berhasil melahirkan figur android Weyland-Yutani paling disukai sepanjang sejarah. Berbekal pemahamannya mengenai ekosistem Genna, Thia menawarkan bantuannya pada Dek. 

Para puritan mungkin akan menghujat standar film komedi buddy ini. Terlebih kala Bud, sesosok monster kecil menggemaskan, juga daya hibur terbesar Badlands, sekaligus pesan utamanya, mengenai satu hal yang asing bagi kaum Yautja dalam perburuan mereka. yaitu nilai-nilai kebersamaan. Kalau anda tak mempermasalahkan fakta bahwa Yautja memerlukan uluran tangan makhluk lain saat beraksi, maka Badlands akan menjadi pengembangan yang menyenangkan.
Klimaksnya meneruskan prinsip tersebut, sewaktu Dek mengubah setumpuk ancaman yang dikandung oleh Genna menjadi amunisi personalnya. Gelaran aksinya berisi ide-ide kreatif, termasuk penerapan elemen subgenre kaiju yang bombastis. Nuansa "pertarungan brutal sampai mati" khas waralabanya memang absen, tapi Dan Trachtenberg, yang terus menunjukkan keserbagunaannya saat menangani Predator, tetap menjaga poin terpenting: Mengutamakan kecerdikan otak daripada kekuatan otot di medan pertempuran.

DIE MY LOVE

 DIE MY LOVE


"Ketika rutinitas sangat mengganggu, dan ambisi rendah, dan kebencian memuncak, namun emosi tidak tumbuh." Sepenggal lirik dari Love Will Tear Us Apart kepunyaan Joy Division tersebut, yang dipakai mengiringi kredit penutup, begitu tepat mewakili Die My Love Arah Lynne Ramsay. Tapi ia bukan cerita rumah tangga di mana si tokoh utama berperilaku pasif dengan hanya meratakan patah jantung, melainkan ledakan punk rok berisi perlawanan terhadap penjara bernama peran gender.

Mengadaptasi novel berjudul sama karya Ariana Harwicz, Die My Love mengajak kita berkenalan dengan sepasang kekasih, Grace (Jennifer Lawrence) dan Jackson (Robert Pattinson), yang baru meninggalkan ingar bingar New York untuk tinggal bersama di daerah pedesaan. Tiada kata istirahat bagi letupan asmara keduanya, bahkan saat Grace tengah hamil tua. 

Di sela-sela potret keseharian mereka, terselip pemandangan yang terkesan acak berupa sebuah hutan yang terbakar. Kelak kita akan menyadari bahwa situasi itu tidak merepresentasikan cinta membara Grace dan Jack. Benih api yang perlahan menyala bukanlah sumber kehidupan, tapi bara yang siap meluluhlantakkan.

Segalanya pasca berubahnya Grace melahirkan. Jackson selalu sibuk bekerja di luar rumah, bahkan terkesan tak lagi berhasrat terhadap sang istri. Penggunaan rasio aspek 1.33 : 1 mewakili betapa menyesakkannya hari-hari Grace yang dipaksa mengakrabkan diri dengan kesetaraan. Tapi Grace bukan perempuan pasif yang menerima begitu saja "kewajiban" mengurus rumah tanpa masukan kasih sayang. 

Alih-alih ratapan sendu, naskah yang ditulis sang sutradara bersama Enda Walsh dan Alice Birch menghantarkan pergulatan Grace dalam ledakan-ledakan yang menunjukkan ketahanannya. Dia menari, memancarkan eksentrik, begitu enteng menumpahkan sumpah serapah, menutup kulkas dengan tendangan, dsb. Berapi-api, pembohong, destruktif. Bukan karena Grace gemar menghancurkan, sebab cinta (atau lebih tepatnya iming-iming tentang konsep cinta) sudah terlebih dahulu menghancurkan dirinya.

Di tengah penderitaan tersebut, bukan pangeran berkuda putih yang Grace dambakan, tapi laki-laki berjaket merah marun (LaKeith Stanfield) yang rutin berlalu-lalang di depan rumah menaiki motor. Si sosok misterius yang selalu mengisi fantasi Grace adalah personifikasi semua hal yang berlawanan dengan figur Jackson: laki-laki kulit hitam maskulin yang penuh perhatian serta membuat pasangannya merasa diinginkan. 

Jennifer Lawrence, dalam performa yang sangat layak diganjar memenangkan Oscar kelima sepanjang performa (meski peluang ini sangat kecil), tak menyisakan cela sebagai perempuan yang memunculkannya mengungkapkan biarpun tindak-tanduknya meletup-letup. Robert Pattinson tidak kalah hebat sebagai laki-laki kekanak-kanakan dengan segala kelabilan emosinya.

Bukan Grace seorang yang dihunjam kesepian. Pam (Sissy Spacek), ibu Jackson, pun dihantui perasaan serupa pasca suaminya (Nick Nolte) meninggal. Setiap malam, Pam berjalan dalam tidurnya sambil menenteng senapan. Seiring alurnya yang melaju liar saat secara konstan melompati garis batas tipis antara realita dan imajinasi, Die My Love membawa tokoh-tokoh berproses, menolak dibunuh oleh sepi hanya karena ketidakhadirannya pasangan (laki-laki) dari hidup mereka.

FRANKENSTEIN (2025)

 FRANKENSTEIN (2025)


Frankenstein versi Guillermo del Toro bukan sebatas persetujuan atas penilaian mengenai sebutan "monster" bagi para makhluk berparas mengerikan. Jauh sebelum kisahnya berakhir, sang monster telah menyadari kemanusiaannya, namun sebaliknya, si manusia memahami bahwa dialah keburukan yang sesungguhnya. Satu hal yang keduanya belum mampu mencapai: Menerima rasa sakit pembawa ketidaksempurnaan yang mendefinisikan kemanusiaan itu sendiri.

Rasa sakit adalah bukti kecerdasan. Setidaknya itu yang dipercaya oleh beberapa karakternya. Atas kecerdasan nama pula, Leopold Frankenstein (Charles Dance) mendidik putra sulungnya, Victor Frankenstein (Oscar Isaac), dengan keras, yang mendatangkan sakit fisik serta batin berkepanjangan bagi sang anak. “Tidak ada emosi dalam jaringan otot manusia”, ucap Leopold. Sejak kecil, Victor telah dikondisikan untuk menampik kemanusiaan. 

Dinamika ayah-anak tersebut kita saksikan dalam bentuk kilas balik pasca adegan pembukanya yang cantik. Lanskap kutub utara yang membaurkan warna-warna khas del Toro (hijau, oranye, merah), ditangkap oleh sinematografi Arah Dan Laustsen guna mencuatkan keindahan di sela-sela kegelapan. Sesosok monster yang disebut "The Creature" (Jacob Elordi) menginvasi kapal angkatan laut Denmark yang terperangkap di danau es untuk mencari keberadaan penciptanya, Victor.

Dari situlah alurnya mengungkap dua sisi cerita, mengajak penonton memahami perspektif sang pencipta dan ciptaannya. Salah satunya mengenai motivasi Victor "bermain Tuhan" dengan membuat monster dari gabungan mayat-mayat dengan sokongan dana dari Henrich Harlander (Christoph Waltz) si pedagang senjata. Semua bermula dari kehilangan pahit tatkala sang ibu, Claire Frankenstein (Mia Goth), meninggal setelah melahirkan anak keduanya, William (Felix Kammerer). Victor berhasrat mencatat kematian. 

Kali pertama kita bertemu Claire, ia mengenakan gaun merah dengan kain yang melambai-lambai tertiup angin. Anggun sekaligus agung. Mia Goth juga memerankan karakter lain, yakni pertunangan William, Elizabeth Harlander, dan kostum-kostum buatan Kate Hawley lainnya turut memancarkan kemewahan elegan saat ia dikenakan. Desain produksi yang menghidupkan dunia para bangsawan dari abad-19 dengan segala benda seni klasiknya, pula musik beraroma dongeng kelam gubahan Alexandre Desplat, menyempurnakan Frankenstein sebagai pengalaman audiovisual kelas satu.

Di permukaan, Frankenstein sejatinya terasa familiar, mengingat kisah seputar makhluk hidup yang eksistensinya disalahartikan sudah berkali-kali diangkat oleh del Toro. Keunikannya baru muncul begitu kita mengupas kulit luarnya. Novel karya Mary Shelley dikembangkan, tidak lagi (hanya) soal menampik prasangka, pula membahas dinamika ayah dan anak.

Karakter Victor Frankenstein si "ilmuwan gila" ditelaah lebih lanjut. Psikisnya berbeda, untuk menampilkan dampak dari ketidakhadirannya cinta ayah bagi seorang anak. Victor membenci ayahnya, namun tanpa sadar mewarisi pola asuh kejamnya, kemudian menularkan luka, serupa dengan ia alami semasa kecil kepada The Creature sebagai "putranya". Trauma lintas generasi pun terjadi, yang membuat si anak acap kali mengutuk kelahirannya di dunia.

Guillermo del Toro menggerakkan alur dalam tempo yang mengutamakan sensitivitas, membiarkan penonton mengamati luka tiap karakter, terutama The Creature yang membawakan Jacob Elordi bertransformasi, baik dari segi fisik maupun psikologis. 

Melalui naskahnya, del Toro mengemas film ini bak kesusastraan klasik yang jadi sumber adaptasinya, membuat jajaran karakternya bertutur serupa pujangga yang menumpahkan kata-kata puitis yang terlalu bernapas. “Aku akan menjadi elang yang berpesta di hatimu” (referensi ke hikayat Prometheus) atau “Dalam mencari kehidupan Aku menciptakan kematian” jadi beberapa contoh. Diiringi untaian kalimat indah tersebut, dua protagonisnya melakoni perjalanan eksistensial untuk berdamai dengan dosa orang terkasih, juga dengan ketidaksempurnaan diri sendiri.

Senin, 08 Desember 2025

SAMPAI TITIK TERAKHIRMU

 SAMPAI TITIK TERAKHIRMU


Melalui jendela sempit salah satu tokoh utama di malam hari, kita bisa mengintip deretan gedung bertingkat memancarkan benderang kemewahan mereka yang dapat membutakan. Itulah mengapa Sampai Titik Terakhirmu lepas dari kategori eksploitasi murahan. sama seperti normalnya yang menguras air mata, menguras air mata penonton tetap jadi tujuan, tapi pokok bahasan utamanya adalah perihal cahaya harapan di tengah ruang gelap yang sekilas tanpa harap.

Naskah buatan Evelyn Afnilia mengadaptasi perjalanan romansa nyata antara Albi Dwizky (Arbani Yasiz) dan Shella Selpi Lizah (Mawar Eva de Jongh). Penghuni mes tadi adalah Albi, yang merantau dari Medan lalu bekerja sebagai pekerja kasar di perusahaan penyelenggara acara. Meski seorang diri, Albi rutin melakukan panggilan video dengan mamaknya (Tika Panggabean) di kampung. 

Shella tinggal bersama keluarga besar. Didin (Kiki Narendra), ayahnya, bekerja sebagai tukang ojek, sementara Erna (Unique Priscilla), ibunya, merupakan karyawan sebuah usaha penatu. Ada juga dua adiknya, Lydia (Yasamin Jasem) dan Dide (Shakeel Fauzi). Semua sibuk dengan rutinitas masing-masing, termasuk Shella yang aktif bermain sepak bola. Tapi tiap sore, meja makan di bawah tangga jadi ruang sempit yang selalu diisi tawa.

Paruh pertama hangat, bahkan tak jarang menggelitik. Entah karena kegemaran Lydia (Yasamin Jasem piawai menyeimbangkan sisi jahil dan penyayang karakternya) mengusili Dide, atau ocehan-ocehan trio tetangga tukang gosip: Nurul (Tj Ruth), Yeti (Siti Fauziah), dan Mamang Racing (Onadio Leonardo). Semua pemeran pendukung berjasa menjaga tingkat keefektifan humornya. 

Kehangatan itu lalu berkembang jadi romantisme selepas pertemuan Albi dan Shella, lalu jatuh cinta. Kecanggungan Albi yang dibawakan secara dijanjikan oleh Arbani, keceriaan Shella yang dihidupkan oleh Mawar, memudahkan penonton menikmati kebersamaan keduanya. Tidak ada romantika yang dilebih-lebihkan. Hanya dua manusia dari pinggiran kota yang kebetulan menemukan cinta sederhana

Sampai kesenduan mulai menemui kisahnya, sewaktu terbentuknya kista di ovarium Shella. Kista itu membesar, begitu pula berkelim, memberi ilusi seolah-olah ia tengah hamil, yang menyulut pergunjingan di kalangan tetangga. Poin ini penting, sebab jangankan di layar perak, di tatanan keseharian pun, kondisi medis tersebut masih jarang dibicarakan oleh masyarakat awam hingga berpotensi menyulut kesalahpahaman sebagaimana film ini perlihatkan.

Pengobatan demi pengobatan, rangkaian operasi yang tak kunjung usai, semuanya dilakukan namun kanker Shella malah terus memburuk. Dia tersiksa. Begitu pula batin orang-orang di sekelilingnya. Sampai Titik Terakhirmu tentu masih mengikuti beberapa pakem teajerker bertema penyakit kronis yang menyoroti penderitaan tokoh-tokohnya. Tapi yang jadi pembeda, dia menolak berkutat di sana terlalu lama.

Beberapa tetes air mata justru berasal dari pemandangan bernuansa positif seperti potret kebersamaan antar anggota keluarga, kunjungan Shella ke sebuah acara bagi para penyintas kanker, hingga kesediaan fosil kepiluan. Secara khusus saya menyukai interaksi singkat karakter Mamak. Kehadirannya menyimbolkan penyatuan ikatan dua keluarga. 

Di kursi sutradara, Dinna Jasanti tahu batas dalam hal dramatisasi. Bukan asal menumpahkan air mata atau memperdengarkan musik mengharu-biru, ada kalanya Dinna mengutamakan keintiman yang dimotori oleh performa jajaran pemainnya. Tengok saja saat Kiki Narendra dan Unique Priscilla beradu akting di adegan berlatar rumah sakit. Bukan sekadar menangisi penyakit, tapi lubang yang bakal diciptakannya dalam sebuah keluarga penuh kasih.

DREAMS (SEX LOVE)

 DREAMS (SEX LOVE)


Dreams (Sex Love) yang melengkapi trilogi Sex, Dreams, Love karya Dag Johan Haugerud adalah satu dari sedikit film yang dengan sempurna merangkum rasanya jatuh cinta. Dipaparkannya bagaimana otak mempermainkan emosi kita, untuk menstimulasi fantasi bahagia sekaligus kecemasan berdasarkan asumsi pembohong. Lebih dari sekadar romansa, ia membicarakan koneksi antara pikiran dan jiwa.

Johanne (Ella Øverbye), remaja 17 tahun, diam-diam memendam rasa terhadap Johanna (Selome Emnetu) si guru Bahasa Prancis. Haugerud mengajak kita mengobservasi gerak-gerik serta dinamika pikir Johanne yang tengah dimabuk cinta, dengan sesekali membawa alurnya melompat-lompat, menampilkan kilas balik atau visualisasi dari kegundahan batin si remaja. 

Seperti judulnya, film ini terkadang bergerak bak mimpi, atau potongan-potongan memori yang kabur. Kegalauan hati Johanne direpresentasikan. Dia berimajinasi, pula ada kalanya diperdaya ilusi kala memersepsikan keindahan sebagai kepahitan, atau sebaliknya. Senyum malu-malu menampakkan diri kala membayangkannya kulit halus sang guru, sedangkan, tetesan air mata hadir saat menerjemahkan pemandangan sepele sebagai wujud cinta yang melingkari sebelah tangan.

Begitulah jatuh cinta. Kemayaan acap kali mengangkangi kenyataan akibat carut-marut rasa yang terpendam. Masalahnya, mencintai guru sendiri bukanlah perihal yang mudah disebarluaskan. Ketika tak satu pun orang dapat diajak bicara, siapakah yang mampu membebaskan Johanne dari beban perasaan? Di situlah dunia fantasi mengambil peran. Johanne mulai menuangkan kegulanaan lewat tulisan.  

Segala hal ia ceritakan, dari imajinasi yang terkesan cabul, ketakutan-ketakutan, hingga romantisasi atas perjalanan menuju kediaman sang tercinta, di mana blok-blok apartemen dan taman sederhana berubah jadi wadah bagi kenangan. Ya, Johanne akhirnya berhasil memasuki ruang pribadi Johanna dengan modus belajar berdampingan.

Dibantu sinematografi Arah Cecilie Semec, Haugerud memotret dinginnya Oslo, yang tidak jarang tampak bak dunia mimpi: Daun-daun di pepohonan yang terlihat dari balik jendela sewaktu dibuat bergoyang oleh sapuan angin, hingga pegunungan yang diselimuti kabut. Tapi pemandangan berbeda terpampang saat kita memasuki apartemen Johanna. Lampu kuning temaram, juga setumpuk selimut miliknya, terasa hangat. Begitulah, atau kita tengah menyaksikan persepsi bias dari kebahagiaan Johanne? 

Di satu titik, Johanne mengambil keputusan berat untuk menampilkan tulisannya ke Karin (Anne Marit Jacobsen), neneknya yang seorang penulis, dan sang ibu, Kristin (Ane Dahl Torp). Karin mengapresiasi tulisan cucunya sebagai karya sastra berkualitas, sedangkan Kristin awalnya ragu, apakah putrinya menuliskan realita sebagaimana adanya, atau tersimpan penafsiran berbeda terkait hubungan Johanne dan Johanna.

Perempuan tiga generasi yang sama-sama mengakrabkan diri dengan kesendirian itu pun mulai sering terlibat dalam dialog. Dreams (Sex Love) menggambarkan pergeseran bentuk sebuah karya selepas menjadi konsumsi publik. Karya tersebut berevolusi. Bukan lagi sebatas catatan pribadi, melainkan materi diskusi yang dapat menyebutkan segudang interpretasi. 

Seluruh pelakonnya bersinar dalam proses saling memahami tersebut. Ella Øverbye menampilkan manis dan pahitnya cinta masa muda yang polos namun serius sehingga tak membuat penonton kepuasannya sambil berujar "Anak kecil tahu apa?", Anne Marit Jacobsen menampilkan ketenangan sambil menyertakan ambiguitas, sementara Ane Dahl Torp membuat saya tersentuh lewat mata berbinar ketika mendengar keluh kesah si buah hati tanpa tendensi menghakimi.
Dreams (Sex Love) menunjukkan bahwa realita terkait cinta, maupun hubungan interpersonal apa saja, mungkin tidak seindah yang dibayangkan maya, namun kita sebagai manusia tetap akan menambakannya. Mungkin karena sepahit apa pun kepahitan dari ekspektasi romantika yang terkhianati, tetap lebih membahagiakan dibandingkan dihantui rasa sepi.

 KEEPER


Adonan keeper ibarat berisi ragam bahan baku berupa deretan subgenre horor: kabin di tengah hutan, folk, pembunuh beratai, psikedelik, supernatural, hingga ditinggikan. Memang resep macam itulah yang mengangkat nama Osgood Perkins di skena horor modern. Tapi kali ini masakan sang sineas terasa bak kue cokelat setengah matang. Ada bagian yang lezat, ada yang hambar bahkan busuk, tapi pastinya, ia punya wujud yang berantakan.

Kue cokelat memegang peranan penting dalam naskah buatan Nick Lepard, yang menyoroti liburan sepasang kekasih, Liz (Tatiana Maslany) dan Malcolm (Rossif Sutherland), dalam rangka perayaan hubungan setahun mereka. Destinasinya adalah kabin tengah hutan milik keluarga Malcolm. Ketidakberesan mulai tercium saat Liz menemukan kue cokelat, yang menurut Malcolm merupakan hadiah dari si penjaga kabin.

Bibit ketidaknyamanan terkait infrastruktur (Malcolm membeli lukisan karya Liz tanpa persetujuannya), hutan bernuansa mencekam, sampai kehadiran sepupu menyebalkan (Birkett Turton), jadi berbagai alasan mengapa Liz kurang menikmati liburan kali ini. Apalagi ketika hendak bercinta, Malcolm malah memaksa Liz memakan kue cokelat yang tidak ia sukai. “Rasanya seperti kotoran”, ungkap Liz sambil terus menjejalkan sendok ke mulut di hadapan Malcolm yang berdiri bak mengawasi. 

Bagaimana Liz tetap menyantap kue yang tidak lezat baginya, mewakili romansanya dengan Malcolm. Liz sadar ada ketidakcocokan rasa yang membuat kenikmatannya berkurang, bahkan mendatangkan mual, namun ia tetap teruskan akibat manipulasi terselubung si pasangan. Lambat laun, Liz (dan banyak perempuan di luar sana) dibuat percaya bahwa ia benar-benar menyukai hubungan mereka, seperti saat ia terbangun di tengah malam untuk menikmati sisa kue cokelat tadi.

Sejak itulah Liz mulai sering melihat makhluk-makhluk berbentuk monster perempuan aneh dengan berbagai desain unik nan kreatif di sekitarnya. Kemunculan mereka cukup mencekam. Seperti biasa, Osgood Perkins punya bakat untuk menyusun atmosfer berdasarkan gambar-gambar mengerikan, tanpa perlu bergantung pada bunyi-bunyian yang mengejutkan. 

Gaya bercerita "dreamy" jadi bentuk yang Perkins dan Lepard terapkan. Liz memimpikan pemandangan aneh yang entah sepenuhnya bunga tidur atau sebuah penglihatan akan peristiwa nyata, sesekali menyaksikan sosok misterius yang menginvasi ruang pribadinya, kemudian terbangun seolah tak terjadi apa-apa. Ada kalanya teknik superimpose dipakai guna meleburkan sosok Liz dan lanskap aliran sungai secara aneh, seolah memposisikan si protagonis sebagai perlambang ibu pertiwi sang personifikasi alam.

Tatiana Maslany hadir bak dinamo penggerak di tengah guliran lambat filmnya. Serupa Perkins yang mencampurkan banyak cabang horor, akting Maslany pun tidak kalah kaya, menyatukan gaya drama psikologis, horor, bahkan semburat komedi romantis.

Bukan tempo pelan yang jadi sumber persoalan, melainkan susunan narasi yang lebih terkesan bak kompilasi segmen ketimbang cerita utuh, yang bahkan tidak saling merekat secara kuat untuk bisa menjaga ketegangan penonton. Melahkan. Saya pun berandai-andai, apakah strukturnya akan lebih kokoh bila sepenuhnya menggamit surealisme, daripada menerapkannya dengan malu-malu atas nama "nuansa dreamy".
It talks about toxic relationships, where men like to manipulate women, locking them in honey cages after throwing false promises about their willingness to provide for them even though the reality is the opposite (read: men become parasites for women), which the filmmakers also equate with an act of destroying mother nature. It's not the subtext and raw materials that Keeper lacks, but the cooking technique used.