This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Jumat, 02 Januari 2026

IKATAN DARAH

 IKATAN DARAH


Saya teringat pertemuan dengan Iko Uwais pasca pemutaran perdana The Raid di JAFF 2011. Masih seorang pemuda pemalu yang belum mengecap status "bintang laga dunia". Selang 14 tahun, ia kembali ke festival tersebut, bukan sebagai pelakon, melainkan pemilik rumah produksi yang mengungkapkan karya perdananya (Timur, yang juga debut sebagai film, lebih dulu rilis di bioskop komersil akhir tahun ini). Judulnya Ikatan Darah, film laga yang bak sebuah produk "sekolah pembuatan film aksi Gareth Evans".

Serupa The Raid, kisahnya menjadi ikatan persaudaraan sebagai motor penggerak. Bedanya, si jagoan utama bukan lagi-lagi anggota pasukan khusus, tapi perempuan mantan atlet bela diri. Namanya Mega (Livi Ciananta), yang terpaksa pensiun dini akibat cedera bahu, dan mendapati nyawa kakaknya, Bilal (Derby Romero), diincar sekelompok organisasi kriminal akibat membunuh salah satu pentolan mereka, yang dia berhutang sejumlah uang. 

Ditulis oleh Rifki Ardisha bersama sang sutradara, Sidharta Tata, jalinan cerita kuat bukan menu utama Ikatan Darah, tapi naskahnya tahu bagaimana cara memperkenalkan barisan antagonis "larger than life" yang berdaya tarik tinggi. "Parade para kriminal", begitu sebutan yang Sidharta sematkan.

Teuku Rifnu memerankan Primbon, pendeta haus darah yang gemar mengucap firman Tuhan sebelum merenggut nyawa. Tapi tiada yang lebih ikonik dibandingkan Macan (Rama Ramadhan), anak buah Primbon yang paling ditakuti. Tulisan "aing macan" dirajah di belakangnya. Dia melakukan penyelesaian dengan santai sambil membaca gorengan dan melontarkan celetukan-celetukan Bahasa Sunda. Konon Macan dapat mendengar hujan sebelum rintiknya turun, pun daya penciumannya memiliki radius 10 kilometer. 

Alur tipisnya memang kurang memadai guna menyokong durasi hampir dua jam hingga kadang terasa melelahkan, namun jajaran tokoh unik tadi mampu menjaga nilai hiburannya. Belum lagi didukung fakta kalau banyak pemainnya adalah praktisi beladiri. Livi Ciananta sudah siap menjadi "the next big action star" Indonesia, begitu pula Ismi Melinda yang memerankan Dini, sahabat Mega yang ikatannya bagai saudara kandung (bayangkan dinamika Iko Uwais-Donny Alamsyah dalam The Raid). Tiba saatnya sinema aksi kita diisi oleh perempuan tangguh.

Terkait eksekusi aksinya, Ikatan Darah ibarat ruang bagi Sidharta Tata mengungkapkan segala eksplorasi teknis yang selama ini mencirikannya. Segala bentuk trik Sidharta aplikasikan, dari keliaran gerak tata kamera Arah Ferry Rusli, koreografi beraroma silat andalan Tim Uwais, sampai penerapan sadisme tepat guna yang beberapa di antaranya sukses menyulut keriuhan tepuk tangan penonton. Sesekali, selipan "humor bodoh" khas sang sutradara yang dikerahkan demi menghapus kemonotonan. 

Pada salah satu set piece, para protagonis menghadapi musuh yang mempersenjatai diri dengan mesin pemotong rumput. Di situ Sidharta begitu jeli mengeksekusi setumpuk momen "nyaris" yang efektif mengobrak-abrik kecemasan penonton.

Jika The Raid yang menjadikan lorong-lorong apartemen sempit sebagai taman bermain, maka Ikatan Darah menantang dirinya dengan memilih gang-gang tikus area perkampungan yang bagaikan labirin sebagai panggung baku hantam. Film Andai ini menerima satu lagi ilmu esensial yang dipunyai pendahulunya itu terkait pengaturan dinamika. 

Pasca pertarungan brutal melawan Macan (layak dijadikan pertarungan pamungkas) yang bertempat sebelum transisi menuju babak ketiga, intensitasnya cenderung menurun. Presentasi aksinya tetap solid, namun Sidharta dan tim seolah ragu-ragu untuk terus menggenjot tingkat keekstreman, lalu memaksa paradenya terus berlangsung kendati sudah kekurangan amunisi. Itu saja merupakan keluhan yang substansial di Ikatan Darah. Sisanya adalah pembuktian bahwa Uwais Pictures sudah meletakkan fondasi padat bagi perjalanan mereka ke depan.

JUDHEG

 JUDHEG

Logat ngapak, gerombolan pemuda memamerkan motor warna-warni hasil modifikasi sambil nongkrong di atas jembatan, lereng terjal yang harus dilalui untuk mencapai rumah seseorang, hingga suami yang menyerahkan segala urusan rumah tangga pada istri tanpa mau peduli. Banyak hal di Judheg (jengah) karya Misya Latief yang mengingatkan akan tempat, situasi, serta jenis manusia yang sering saya jumpai semasa kecil dahulu kala. 

Filmnya berlatar di sebuah desa di daerah Purbalingga. Saya tumbuh di kota yang bisa Disebut masih serumpun, sehingga bisa mengonfirmasi bahwa konflik utamanya, yakni gejolak rumah tangga akibat masih asingnya konsep kesetaraan gender, merupakan pemandangan sehari-hari yang dianggap normal. Judheg hadir untuk mencegahnya dinormalisasi lebih jauh di era modern.

Warti (Darti Yatimah) mengemban beban terlampau berat. Dia menikah siri dengan Supri (Sigit Blewuk) karena hamil, dan dituntut menjadi ibu dalam usia yang bahkan belum memungkinkannya memiliki KTP. Ketika Warti pontang-panting menghidupi keluarga, bahkan memaksa menghabiskan ke warung tetangga hanya demi segelintir bumbu dapur, Supri terlalu malas mencari kerja, bahkan berperilaku bak bujangan dengan rutin nongkrong bersama teman-teman hingga dini hari.

Perspektif Judheg mungkin tak lagi dipandang sebagai konsep yang "kekinian" dalam konteks sinema bertema pemberdayaan masa kini, yang mulai enggan sebatas memotret penderitaan perempuan. Belum lagi saat kematian Warti bertambah karena Supri kerap melakukan tindak KDRT. Ditilik sekilas, Judheg bak opera sabun perihal kemalangan tanpa ujung milik sosok istri yang terus berusaha sabar. Apalagi musik melankolis serba dramatis gubahan Kris Sjarif nyaris tak pernah absen mengiringi momen emosional filmnya. 

Namun di dalamnya terdapat konteks kultural dalam naskah buatan Misya Latief dan Yuda Kurniawan yang memegang peranan penting. Darinya, timbul relevansi. Bukan bermaksud memagari, tapi bagi masyarakat kelas bawah di daerah pedesaan yang bahkan mengharuskan warganya naik-turun bukit untuk menyatroni perumahan tetangga, termasuk di Purbalingga dan sekitarnya, mengedukasi kalau KDRT bukan suatu kewajaran, pun istri tak sepertinya layak diperlakukan pembantunya, tetap harus jadi fokus utama. 

Fenomena nikah muda tidak ketinggalan disentil. Warti dan Supri belum berada di usia yang cukup matang, baik secara fisik maupun psikis, untuk membina rumah tangga, sehingga tak mengherankan kala hanya rasa sakit yang saling diberikan.

Darti Yatimah piawai merebut simpati penonton, sedangkan Sigit Blewuk memudahkan kita menaruh kebencian terhadap Supri. Kedua pelakon utama jeli memainkan dinamika, membuat Judheg tak pernah membuat penontonnya...well, merasa judheg, biarpun kisahnya bergulir terlalu panjang (durasi mencapai 117 menit) akibat disertakannya beberapa peristiwa minim esensi. 

Di satu titik, Warti yang air susunya suka keluar dan tak punya cukup uang untuk membeli susu formula, pula sudah lelah terus disalahkan oleh Supri, memilih meminumkan susu kental manis untuk bayinya. Terdengar protes dari beberapa penonton. “Gula semua itu!”, ucap salah satunya. Kekhawatiran tersebut tidak salah. Bahkan Warti sendiri menyadari kesalahannya. Tapi saat semesta menyuguhinya buah simalakama, Warti bisa apa?


Kamis, 01 Januari 2026

ESOK TANPA IBU

 ESOK TANPA IBU


Sebagai anak laki-laki, saya punya hubungan kompleks dengan bapak. Bukan kami saling benci, namun ada kesulitan untuk sekedar terlibat dalam percakapan. Rasanya banyak anak punya pengalaman serupa. Ada ketergantungan terlalu besar pada sebagai ibu perekat hubungan, dan Esok Tanpa Ibu, atau yang punya judul internasional Mothernet, mengeksplorasi rapuhnya ketergantungan di atas selepas ketiadaan "sang perekat?

Rama (Ali Fikry) adalah nama si anak laki-laki. Usianya 16 tahun, sehingga tidak ada keraguan saat kedua orang tuanya (Dian Sastrowardoyo dan Ringgo Agus Rahman) kesulitan memahami Rama, yang tak pernah bahagia di sekitar mereka. Namun berbeda dengan sang suami yang seolah-olah pasrah pada kondisi, Laras kukuh meluangkan waktu dengan berbicara, memposisikan diri sebagai orang tua yang bisa jadi wadah berkeluh kesah. 

Lalu terjadilah tragedi. Sewaktu mendaki gunung bersama, Laras tiba-tiba jatuh pingsan. Setelah koma beberapa hari, dia meninggal. Dian Sastrowardoyo bermain begitu berwarna, ada kalanya menggelitik layaknya generasi lalu yang mencoba menyesuaikan diri dengan gaya generasi kini. Dian sangat hidup, sampai setelah karakternya mati, saya ikut tertular terkena dingin yang menyerang keluarga Laras.

Perlu diingat, Esok Tanpa Ibu tidak mengambil latar waktu kontemporer. Naskah buatan Diva Apresya dan Gina S. Noer menyusun dunia "waktu dekat", di mana beberapa teknologi mengalami pertunjukan kecanggihan, meski tidak jauh dibandingkan sekarang. Terowongan yang diisi videotron, layar sentuh pengganti meja kerja, hingga sederet aplikasi yang mengeliminasi kemustahilan.

Salah satunya i-BU, aplikasi AI yang dikembangkan oleh sahabat Rama yang juga seorang peretas (Aisha Nurra Datau sebagai pemeran pendukung yang piawai mencuri perhatian). i-BU membuat Laras seolah-olah hidup kembali di layar, berkat data-data tentang mendiang yang disuplai oleh Rama.

Bisa ditebak, Rama segera mengalami ketergantungan pada i-BU. Dia tidak mampu mengambil keputusan sederhana tanpa berkonsultasi. Rama lupa bahwa memori, yang jadi inti penggerak sistem i-BU, biarpun bersifat maya, tetap tercipta dari hal-hal nyata. Rama tenggelam dalam ilusi bahwa ia baik-baik saja sepeninggal Laras. Saran dari orang-orang terdekat, termasuk sahabat, Robert (yang memberi Bima Sena ruang unjuk gigi membuat talenta komedi), enggan dia indahkan. 

Karya rumah Rama pun diselesaikan oleh i-BU dengan menyatukan beragam esai dari internet, menciptakan kedekatan dengan fenomena yang memprihatinkan di dunia nyata, kala generasi sekarang bak kesulitan berfungsi tanpa campur tangan ChatGPT (atau AI dan gawai berbentuk apa pun).


A USEFUL GHOST

 A USEFUL GHOST


Seorang "Academic Ladyboy" (Wisarut Homhuan) mengeluhkan rusaknya alat penyedot debu yang baru ia beli di tengah polusi debu kota yang begitu ganas. Datanglah Krong (Wanlop Rungkumjad) si tukang reparasi, yang meyakini penyedot debut itu sudah dirasuki hantu, sebagaimana banyak benda elektronik di pabrik pembuatannya. Terdengar bak komedi konyol, namun seiring absurditas lain terungkap, Hantu Bermanfaat perlahan menampakkan wajah memilukan dari sejarah kelam suatu negeri.

Pabrik di atas pernah menelan korban jiwa. Biarpun urusan kebersihan selalu diutamakan, nyatanya seorang buruh pernah kehilangan nyawa, sebelum kembali menjadi arwah penuh balas dendam dan merasuki beragam peralatan di sana. Si pemilik pabrik, Suman (Apasiri Nitibhon), enggan ambil pusing. Mungkin saja, buruh hanya satu lagi alat guna mengeruk keuntungan. Sederhananya, budak. 

Kemudian kita dibawa mengamati keanehan lain. March (Witsarut Himmarat), putra Suman, mendapati arwah mendiang istrinya, Nat (Davika Hoorne), juga kembali selepas merasuki mesin penyedot debu. Anehnya, hanya March yang bisa melihat sosok asli Nat. Sementara keluarga March yang memang tak pernah suka mengenang Nat, hanya menyaksikan anomali berupa penyedot debu yang bisa bergerak sendiri, bahkan berbicara.

"Saya tahu Anda bisa mati dua kali. Kematian fisik yang pertama...yang dilupakan adalah kematian kedua," ungkap Eve Blouin, seorang penulis naskah asal Afrika Tengah. Melalui karya debut penyutradaraannya ini, Ratchapoom Boonbunchachoke (juga sebagai penulis) juga menelaah perihal ingatan. Bagaimana kematian sesungguhnya terjadi tatkala kenangan mengenai individu sudah terhapus seutuhnya. 

Bahkan dalam sosok manusianya, Nat memiliki tampilan eksentrik. Davika yang mencuatkan kemistisan dalam performanya, mengenakan baju dalam berwarna putih, luaran biru yang mengembang lebar, juga bermahkotakan rambut warna merah. Bukan kebetulan bila ia mirip bendera Thailand berjalan. Alur pembohong Hantu Berguna yang awalnya hanya seperti kumpulan fragmen sureal acak, mulai disatukan oleh seutas benang merah pasca pertemuan Nat dan Paul (Gandhi Wasuvitchayagit), Perdana Menteri Thailand.

Serupa banyak politikus, awalnya Paul selalu memasang muka manis, sambil meyakinkan Nat, bahwa sebagai tanda terima kasih karena pernah meniup debu dari matanya, ia bakal selalu membantunya. Namun yang selanjutnya terjadi, bermodalkan kata-kata sarat buaian, Paul (penguasa) justru memanipulasi Nat (bangsa), guna melanggengkan cengkeramannya dengan iming-iming kemakmuran. Bahkan hantu pun diperbudak oleh pemilik modal. 

Nat punya kekuatan mengeksorsis hantu yang membayangi mimpi manusia. Paul dan sekelompok tokoh politikus dan petinggi militer, meminta transmisi itu, yang oleh Ratchapoom digunakan untuk melempar isu meresahkan mengenai penghapusan sejarah kelam negaranya, termasuk ingatan tentang para manusia korban persekusi di tangan mereka yang begitu takut kehilangan kekuasaan.
A Effective Ghost memang aneh, tapi keanehan sarat kreativitas tersebut kaya akan alegori yang mengasyikkan untuk memecahkan, lalu berpotensi mengundang diskusi panjang. Pun rasanya tidak bersahabat nihil nurani para penguasa di dunia nyata jauh lebih aneh. Bagaimana individu bisa bertindak sekejam itu? Aneh. Bodoh. Konyol. Absurd. Itu sebabnya film ini mengajak kita tertawa dalam luka.

LESBIAN SPACE PRINCESS

 LESBIAN SPACE PRINCESS


Saira (Shabana Azeez) adalah seorang putri dari planet berisi para lesbian bernama Clitopolis, yang dalam petualangannya mengarungi luar angkasa harus menghadapi segunung bahaya, termasuk robot serbuan berwujud penis raksasa, yang dikendalikan oleh alien berbentuk penis mini. Lesbian Space Princess karya Emma Hough Hobbs dan Leela Varghese adalah selebrasi pembohong sarat kebanggaan atas identitas diri, khususnya lesbianisme.

Biarpun berstatus putri dari dua ratu (Madeleine Sami dan Jordan Raskopoulos) yang begitu dicintai rakyat, Saira justru kerap jadi bahan olok-olok, akibat sikap canggung dan tertutup miliknya. Bahkan Saira belum mampu mengeluarkan kapak labrys sebagai simbol kekuatan kaum lesbian. Saira juga baru ditinggalkan oleh Kiki (Bernie Van Tiel), yang berlawanan dengannya, adalah sesosok petualang. 

Visualisasi semesta Lesbian Space Princess luar biasa kaya. Alih-alih warna hitam konvensional, outline karakternya memakai biru yang lebih cerah. Setiap sisi dunianya tak henti-hentinya memamerkan keliaran desain yang tak mengenal batasan moralitas maupun kreativitas. Sudahkah saya tahu kalau planet Clitopian secara harfiah memiliki bentuk seperti klitoris? 

Emma Hough Hobbs dan Leela Varghese membagun Clitopian dan sekitarnya sebagai ekspresi kebanggaan akan lesbianisme (juga LGBTQ secara umum), memposisikannya sebagai representasi ruang aman untuk kelompok yang di realita sering dipresekusi akibat identitas mereka.

Biarpun cuma berpacaran dua minggu, hati Saira begitu hancur hingga terperosok ke lubang depresi, yang Hobbs dan Varghese pakai untuk melempar parodi bagi adegan "Possibility" dari The Twilight Saga: New Moon (2009). Ketika Kiki diculik oleh sekelompok Straight White Maliens (pilihan nama cerdas!) dalam ambisi mereka menguasai para perempuan lagi, Saira harus mempertaruhkan ketakutannya akan dunia luar, guna melangsungkan misi penyelamatan di seluruh sudut-sudut angkasa yang menyeramkan.

Melaju dengan kecepatan tinggi, dibarengi aneka ragam humor nakal nihil kekangan yang acap kali kehadirannya mengecoh ekspektasi, pula barisan lagu gubahan Michael Darren dan Matthew Hadley dengan lirik bak deskripsi menggelitik bagi peristiwa yang tengah muncul di layar, tidak ada ruang bagi rasa bosan untuk merusak daya hibur Lesbian Space Princess. 

Menunggangi pesawat bernama Problematic Ship (disuarakan oleh Richard Roxburgh) yang gemar melempar ujaran-ujaran ketinggalan zaman, pula sempat ditemani Williow (Gemma Chua-Tran) si mantan bintang idola gay dengan cara berpikir positifnya, Saira perjalanan melewati coming-of-age, yang seiring waktu bukan lagi (hanya) tentang menyelamatkan Kiki, melainkan dirinya sendiri dari ketiadaan harga diri.

SUKA DUKA TAWA

 SUKA DUKA TAWA


“Saya pikir orang yang paling sedih selalu berusaha sekuat tenaga untuk membuat orang lain bahagia, karena mereka tahu bagaimana rasanya merasa tidak berharga dan mereka tidak ingin orang lain merasakan hal yang sama.” Ucapan mendiang Robin Williams itu merangkum dinamika rasa Suka Duka Tawa, debut penyutradaraan solo Aco Tenriyagelli yang sarat sensitivitas, di mana kebanyakan tokoh hidup untuk memproduksi tawa orang lain biarpun hati mereka dihantui luka.

Tawa (Rachel Amanda) sedang merintis karir sebagai komika. Belum ada terobosan berarti dari panggung-panggung kecil di kafe yang ia jelajahi, sehingga Tawa terpaksa melakukan berbagai pekerjaan ala kadarnya demi menyambung hidupnya dan sang ibu, Cantik (Marissa Anita). 

Mungkin Tawa kurang jago memancing tawa, namun tidak dengan duo penulis naskahnya, Indriani Agustina dan Aco. Mereka selalu punya cara menyelipkan ragam humor dalam interaksi antar karakter, entah berupa ucapan konyol atau celotehan bernada sarkas. Hal ini berkat kejelian Aco mengatur timing komik di ranah penyutradaraan, reaksi kecil yang karakternya muncul bisa menghasilkan kelucuan besar.

Di jajaran karakter pendukungnya juga berjasa. Ada beberapa sahabat yang setia mendukung langkah Tawa: Adin (Enzy Storia), Iyas (Bintang Emon), Nasi (Arif Brata), dan Fachri (Gilang Bhaskara). Semua tampil hebat, terutama Enzy, yang sebagaimana di serial Drama Ratu Drama (2022), dimanfaatkan betul talenta komediknya oleh Aco. 

Sesekali diiringi tata musik unik yang memodifikasi gelak tawa jadi suara kaya ironi, Suka Duka Tawa pun bergerak begitu lentur, berjingkrak antara komedi dan drama tanpa ada kesan memaksa. Elemen dramanya merangsek kala terungkap bahwa Tawa merupakan putri dari Keset (Teuku Rifnu Wikana), anggota kuartet tersohor pengisi acara dagelan slapstick televisi bernama Opera Tawa Show.

Fakta itu Tawa sembunyikan akibat sakit hati ketika sang ayah meninggalkan ia dan ibunya semasa kecil. Tiba-tiba tercetus ide menjadikan ketiadaan ayah sebagai materi komedi, yang di luar dugaan menghasilkan kesuksesan.

Saat aksi panggung Tawa viral, Cantik merasa ada hal janggal, dan Keset kembali pulang guna menebus masa lalunya sebagai ayah yang gagal. Seiring bergulirnya durasi yang tanpa terasa menembus dua jam (127 menit), semakin kentara pula kalau Aco adalah pengamat yang jeli, baik ketika filmnya sedang melucu ataupun tampil serius. 

Di ranah komedi, hasil observasi Aco terhadap realita ditampilkan oleh barisan kejenakaan pengisi latar adegan yang acap kali muncul secara mengejutkan, kemudian memancing reaksi "Benar banget tuh!" dari penonton. Misal persoalan nasi bungkus yang jatuh sesaat setelah dibeli. Dalam tatanan dramatik, proses observasinya jadi pondasi dinamika anak dan orang tua sebagai penjualan utama filmnya.

DEAR JOHN (2010)

 DEAR JOHN (2010)

Ini dia film yang berhasil "ngusir" Avatar dari puncak Box Office setelah 2bulan full ada di peringkat 1. Dari judulnya udah keliatan ini film tentang apa. FYI, Dear John itu sebutan buat surat yang dikirim sama seorang cewe buat cowonya yang isinya minta putus.

Oke, ini memang film drama mellow. Inti cerita tentang seorang tentara bernama John yang lagi dalam masa liburan perang bertemu cewe bernama Savannah secara tidak sengaja, dan setelah kenal cukup lama, mereka jatuh cinta & pacaran. TAMAT?? jelas TIDAK! Dari judulnya aja udah keliatan kalo mereka bakal putus.

Singkat cerita, gara2 kejadian 11 September, kondisi John sebagai tentara jelas semakin sibuk. Dia makin sering ditugasi ke medan perang yang dia sendiri gak tahu pasti dimana. Nah, apa hubungan jarak jauh ini bisa berjalan lancar? ato putus? Kalo putus kenapa? Apa bisa bersatu lagi?Di satu sisi, John juga punya ayah yang dia tinggal sendiri dirumah dalam keadaan autis.
Setelah liat ini yang kepikiran adalah : Tuh Channing Tatum pemeran si John bisa ekspresi apa kagak si?? Sepanjang film mau seneng, sedih, sakit, tetep aja mukanya lempeng. Gimana dengan si Savannah? Cukup berhasil jadi cewek manis yang sebenernya agak terlalu sempurna.