This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Sabtu, 03 Januari 2026

A USEFUL GHOST

 A USEFUL GHOST


Seorang "Academic Ladyboy" (Wisarut Homhuan) mengeluhkan rusaknya alat penyedot debu yang baru ia beli di tengah polusi debu kota yang begitu ganas. Datanglah Krong (Wanlop Rungkumjad) si tukang reparasi, yang meyakini penyedot debut itu sudah dirasuki hantu, sebagaimana banyak benda elektronik di pabrik pembuatannya. Terdengar bak komedi konyol, namun seiring absurditas lain terungkap, Hantu Bermanfaat perlahan menampakkan wajah memilukan dari sejarah kelam suatu negeri.

Pabrik di atas pernah menelan korban jiwa. Biarpun urusan kebersihan selalu diutamakan, nyatanya seorang buruh pernah kehilangan nyawa, sebelum kembali menjadi arwah penuh balas dendam dan merasuki beragam peralatan di sana. Si pemilik pabrik, Suman (Apasiri Nitibhon), enggan ambil pusing. Mungkin saja, buruh hanya satu lagi alat guna mengeruk keuntungan. Sederhananya, budak. 

Kemudian kita dibawa mengamati keanehan lain. March (Witsarut Himmarat), putra Suman, mendapati arwah mendiang istrinya, Nat (Davika Hoorne), juga kembali selepas merasuki mesin penyedot debu. Anehnya, hanya March yang bisa melihat sosok asli Nat. Sementara keluarga March yang memang tak pernah suka mengenang Nat, hanya menyaksikan anomali berupa penyedot debu yang bisa bergerak sendiri, bahkan berbicara.

"Saya tahu Anda bisa mati dua kali. Kematian fisik yang pertama...yang dilupakan adalah kematian kedua," ungkap Eve Blouin, seorang penulis naskah asal Afrika Tengah. Melalui karya debut penyutradaraannya ini, Ratchapoom Boonbunchachoke (juga sebagai penulis) juga menelaah perihal ingatan. Bagaimana kematian sesungguhnya terjadi tatkala kenangan mengenai individu sudah terhapus seutuhnya. 

Bahkan dalam sosok manusianya, Nat memiliki tampilan eksentrik. Davika yang mencuatkan kemistisan dalam performanya, mengenakan baju dalam berwarna putih, luaran biru yang mengembang lebar, juga bermahkotakan rambut warna merah. Bukan kebetulan bila ia mirip bendera Thailand berjalan. Alur pembohong Hantu Berguna yang awalnya hanya seperti kumpulan fragmen sureal acak, mulai disatukan oleh seutas benang merah pasca pertemuan Nat dan Paul (Gandhi Wasuvitchayagit), Perdana Menteri Thailand.

Serupa banyak politikus, awalnya Paul selalu memasang muka manis, sambil meyakinkan Nat, bahwa sebagai tanda terima kasih karena pernah meniup debu dari matanya, ia bakal selalu membantunya. Namun yang selanjutnya terjadi, bermodalkan kata-kata sarat buaian, Paul (penguasa) justru memanipulasi Nat (bangsa), guna melanggengkan cengkeramannya dengan iming-iming kemakmuran. Bahkan hantu pun diperbudak oleh pemilik modal. 

Nat punya kekuatan mengeksorsis hantu yang membayangi mimpi manusia. Paul dan sekelompok tokoh politikus dan petinggi militer, meminta transmisi itu, yang oleh Ratchapoom digunakan untuk melempar isu meresahkan mengenai penghapusan sejarah kelam negaranya, termasuk ingatan tentang para manusia korban persekusi di tangan mereka yang begitu takut kehilangan kekuasaan.
A Effective Ghost memang aneh, tapi keanehan sarat kreativitas tersebut kaya akan alegori yang mengasyikkan untuk memecahkan, lalu berpotensi mengundang diskusi panjang. Pun rasanya tidak bersahabat nihil nurani para penguasa di dunia nyata jauh lebih aneh. Bagaimana individu bisa bertindak sekejam itu? Aneh. Bodoh. Konyol. Absurd. Itu sebabnya film ini mengajak kita tertawa dalam luka.

LESBIAN SPACE PRINCESS

 LESBIAN SPACE PRINCESS



Saira (Shabana Azeez) adalah seorang putri dari planet berisi para lesbian bernama Clitopolis, yang dalam petualangannya mengarungi luar angkasa harus menghadapi segunung bahaya, termasuk robot serbuan berwujud penis raksasa, yang dikendalikan oleh alien berbentuk penis mini. Lesbian Space Princess karya Emma Hough Hobbs dan Leela Varghese adalah selebrasi pembohong sarat kebanggaan atas identitas diri, khususnya lesbianisme.

Biarpun berstatus putri dari dua ratu (Madeleine Sami dan Jordan Raskopoulos) yang begitu dicintai rakyat, Saira justru kerap jadi bahan olok-olok, akibat sikap canggung dan tertutup miliknya. Bahkan Saira belum mampu mengeluarkan kapak labrys sebagai simbol kekuatan kaum lesbian. Saira juga baru ditinggalkan oleh Kiki (Bernie Van Tiel), yang berlawanan dengannya, adalah sesosok petualang. 

Biarpun cuma berpacaran dua minggu, hati Saira begitu hancur hingga terperosok ke lubang depresi, yang Hobbs dan Varghese pakai untuk melempar parodi bagi adegan "Possibility" dari The Twilight Saga: New Moon (2009). Ketika Kiki diculik oleh sekelompok Straight White Maliens (pilihan nama cerdas!) dalam ambisi mereka menguasai para perempuan lagi, Saira harus mempertaruhkan ketakutannya akan dunia luar, guna melangsungkan misi penyelamatan di seluruh sudut-sudut angkasa yang menyeramkan.

Visualisasi semesta Lesbian Space Princess luar biasa kaya. Alih-alih warna hitam konvensional, outline karakternya memakai biru yang lebih cerah. Setiap sisi dunianya tak henti-hentinya memamerkan keliaran desain yang tak mengenal batasan moralitas maupun kreativitas. Sudahkah saya tahu kalau planet Clitopian secara harfiah memiliki bentuk seperti klitoris? 

Emma Hough Hobbs dan Leela Varghese membagun Clitopian dan sekitarnya sebagai ekspresi kebanggaan akan lesbianisme (juga LGBTQ secara umum), memposisikannya sebagai representasi ruang aman untuk kelompok yang di realita sering dipresekusi akibat identitas mereka.

Melaju dengan kecepatan tinggi, dibarengi aneka ragam humor nakal nihil kekangan yang acap kali kehadirannya mengecoh ekspektasi, pula barisan lagu gubahan Michael Darren dan Matthew Hadley dengan lirik bak deskripsi menggelitik bagi peristiwa yang tengah muncul di layar, tidak ada ruang bagi rasa bosan untuk merusak daya hibur Lesbian Space Princess. 

Menunggangi pesawat bernama Problematic Ship (disuarakan oleh Richard Roxburgh) yang gemar melempar ujaran-ujaran ketinggalan zaman, pula sempat ditemani Williow (Gemma Chua-Tran) si mantan bintang idola gay dengan cara berpikir positifnya, Saira perjalanan melewati coming-of-age, yang seiring waktu bukan lagi (hanya) tentang menyelamatkan Kiki, melainkan dirinya sendiri dari ketiadaan harga diri.


SUKA DUKA TAWA

 SUKA DUKA TAWA


“Saya pikir orang yang paling sedih selalu berusaha sekuat tenaga untuk membuat orang lain bahagia, karena mereka tahu bagaimana rasanya merasa tidak berharga dan mereka tidak ingin orang lain merasakan hal yang sama.” Ucapan mendiang Robin Williams itu merangkum dinamika rasa Suka Duka Tawa, debut penyutradaraan solo Aco Tenriyagelli yang sarat sensitivitas, di mana kebanyakan tokoh hidup untuk memproduksi tawa orang lain biarpun hati mereka dihantui luka.

Tawa (Rachel Amanda) sedang merintis karir sebagai komika. Belum ada terobosan berarti dari panggung-panggung kecil di kafe yang ia jelajahi, sehingga Tawa terpaksa melakukan berbagai pekerjaan ala kadarnya demi menyambung hidupnya dan sang ibu, Cantik (Marissa Anita). 

Mungkin Tawa kurang jago memancing tawa, namun tidak dengan duo penulis naskahnya, Indriani Agustina dan Aco. Mereka selalu punya cara menyelipkan ragam humor dalam interaksi antar karakter, entah berupa ucapan konyol atau celotehan bernada sarkas. Hal ini berkat kejelian Aco mengatur timing komik di ranah penyutradaraan, reaksi kecil yang karakternya muncul bisa menghasilkan kelucuan besar.

Di jajaran karakter pendukungnya juga berjasa. Ada beberapa sahabat yang setia mendukung langkah Tawa: Adin (Enzy Storia), Iyas (Bintang Emon), Nasi (Arif Brata), dan Fachri (Gilang Bhaskara). Semua tampil hebat, terutama Enzy, yang sebagaimana di serial Drama Ratu Drama (2022), dimanfaatkan betul talenta komediknya oleh Aco. 

Sesekali diiringi tata musik unik yang memodifikasi gelak tawa jadi suara kaya ironi, Suka Duka Tawa pun bergerak begitu lentur, berjingkrak antara komedi dan drama tanpa ada kesan memaksa. Elemen dramanya merangsek kala terungkap bahwa Tawa merupakan putri dari Keset (Teuku Rifnu Wikana), anggota kuartet tersohor pengisi acara dagelan slapstick televisi bernama Opera Tawa Show.

Fakta itu Tawa sembunyikan akibat sakit hati ketika sang ayah meninggalkan ia dan ibunya semasa kecil. Tiba-tiba tercetus ide menjadikan ketiadaan ayah sebagai materi komedi, yang di luar dugaan menghasilkan kesuksesan.

Saat aksi panggung Tawa viral, Cantik merasa ada hal janggal, dan Keset kembali pulang guna menebus masa lalunya sebagai ayah yang gagal. Seiring bergulirnya durasi yang tanpa terasa menembus dua jam (127 menit), semakin kentara pula kalau Aco adalah pengamat yang jeli, baik ketika filmnya sedang melucu ataupun tampil serius. 

Di ranah komedi, hasil observasi Aco terhadap realita ditampilkan oleh barisan kejenakaan pengisi latar adegan yang acap kali muncul secara mengejutkan, kemudian memancing reaksi "Benar banget tuh!" dari penonton. Misal persoalan nasi bungkus yang jatuh sesaat setelah dibeli. Dalam tatanan dramatik, proses observasinya jadi pondasi dinamika anak dan orang tua sebagai penjualan utama filmnya.

LUPA DARATAN

 LUPA DARATAN


Saya ingat betul bagaimana lewat Ngenest satu dekade lalu, Ernest Prakasa mengubah persepsi banyak orang tentang "film komika". Setelahnya, ia menyegel status sebagai sutradara/penulis drama yang jago membaurkan humor dengan konflik keluarga yang menyentuh. Tapi selepas karya terbarunya yang dibintangi Vino G. Bastian sebagai aktor yang lupa cara berakting, saya mulai khawatir Ernest sendiri juga lupa cara melahirkan drama keluarga yang apik.

Karakter peranan Vino bernama Vino Agustian, satu dari beberapa nama selebritas dunia nyata yang film ini parodikan (Arie Kribo, Morgan Woo, Lukman Sarbi, dll.). Sederhananya, Lupa Daratan adalah sentilan Ernest bagi industri perfilman Indonesia yang: Dikuasai produser keturunan India, menganaktirikan karya non-komersial, serta diisi para pelaku dan pemberdayaan yang memahami terhadap perempuan. Penyajiannya masih di taraf permukaan, sehingga layak digali lebih mendalam di film berbeda. 

Alkisah, Vino dengan segala talentanya dikenal luar biasa sombong, sampai sang asisten, Dimi (Dea Panendra yang kembali mencuri perhatian lewat celetukannya), kerap dibuat kelabakan. Bagi Vino, ia tak perlu uluran tangan orang lain. Makanya terasa janggal ketika si protagonis, biarpun sambil ogah-ogahan, mau menghadiri pemutaran film pendek buatan teman lamanya, Andi (Sadha Triyudha), alih-alih menerima tawaran pekerjaan dari manajernya, Hasto (Emil Kusumo). Sebuah inkonsistensi penokohan dalam naskah buatan Ernest.

Sampai tiba-tiba ia kehilangan kemampuan berakting, tepat sebelum produksi proyek besar yang memerankan Sudibyo (Arswendy Bening Swara), mantan Presiden Indonesia, bersama Sheila (Sheila Dara) si spesialis melodrama sebagai partner. Meski tampil singkat, Sheila Dara tetap memikat. 

Tidak sulit menebak jika peristiwa di luar nalar itu terjadi akibat Vino sudah lupa daratan. Dahulu ia berakting karena ingin bertransformasi menjadi individu yang berbeda, sehingga dapat kabur sejenak dari kemonotonan hidup. Tapi Vino kabur terlampau jauh sehingga tersesat. Sayangnya nyaris tiada upaya dicurahkan untuk menyoroti proses Vino menyiasati keburukan aktingnya, yang berpotensi melahirkan momen-momen unik.

Semakin terasa bahwa Lupa Daratan berambisi mengangkat pokok pembicaraan sebanyak mungkin, di saat problematika yang Ernest paling ingin bahas adalah perihal keluarga. Diperkenalkanlah kita pada Iksan (Agus Kuncoro), kakak Vino yang terlupakan, walaupun dulu mati-matian menyokong sang adik sebelum kesuksesan menghampiri. 

Agus Kuncoro tampil hebat. Guratan ekspresi yang bisa memancing tangis penonton, kepiawaiannya menyampaikan barisan sarat petuah, pula kalimat tutur katanya yang kaya akan campur aduk emosi, semuanya hebat. Apa yang tidak hebat adalah teknik kilas balik yang Lupa Daratan pakai untuk mengeksplorasi hubungan masa lalu Vino dan Iksan. Kemunculannya selalu (ingat, tidak hanya "kadang-kadang" atau "sering" melainkan "selalu") kasar, terkesan acak, bak baru memikirkan belakangan oleh sang penulis, kemudian dipaksa masuk secara asal.
"Kacau" merupakan kata yang paling tepat menggambarkan Lupa Daratan. Tatkala "anak-anaknya" di Imajinari konsistensi menelurkan humor yang semakin tajam, Ernest malah masih berkutat dalam banyolan tak kreatif yang sudah terlampau familiar. Belum lagi selipan "cerita moralitas" mengenai rokok. Apabila Sore: Istri dari Masa Depan jeli memposisikan isu serupa sebagai keping penting narasinya, Ernest sebatas membuat bagai iklan layanan masyarakat terselubung.

Jumat, 02 Januari 2026

MAGELLAN

 MAGELLAN


Selama 160 menit, yang terkenal singkat untuk ukuran karya Lav Diaz, sang auteur Filipina tak memakai musik konvensional guna menciptakan keheningan yang menghantui, yang bersumber dari lingkaran kekerasan tanpa akhir sebagai akibat keserakahan berkedok agama oleh para pendamba kejayaan.

Ferdinand Magellan (Gael García Bernal) adalah nama yang sering kita temui di buku pelajaran semasa SD. Begitu pula komandannya, Afonso de Albuquerque (Roger Alan Koza), yang memimpin penyerangan Portugis menuju Malaka pada tahun 1511. Warga lokal dibantai, pernak-pernik ritual keagamaan mereka pun diberangus. Semua dilakukan atas nama Raja Manuel I serta proselitisasi. 

Setelah berperang, Albuquerque berorasi di hadapan pasukannya, menyuarakan ambisi menyebarkan kekuasaan ke seluruh dunia, termasuk menghapus ajaran Islam. Tidak lama berselang, ia rubuh akibat terlalu mabuk. Sebuah pemandangan yang oleh bawahannya jadi tertawaan. Diaz pun ingin penonton menonton serupa. Menertawakan kekonyolan manusia yang dimabuk oleh ambisi.

Diaz menerapkan rasio 1.33:1, seolah mengurung tokoh-tokohnya dalam kotak sempit bernama kesempitan pikir, yang di saat bersamaan tampak indah, menghipnotis, bahkan mencekam, misal pada sekuen pembuka yang mengambil latar beberapa tahun sebelum kedatangan pasukan Portugal, di mana sekelompok suku lokal mengadakan upacara adat. 

Sebelum kembali ke kampung halaman, Magellan yang mengalami cedera di kaki akibat peperangan, ia membeli budak Cebuano yang diberi nama Enrique (Amado Arjay Babon). Di tengah perjalanan pulang, hujan deras tiba-tiba menghajar hamparan sungai yang Magellan lewati. Satu lagi pemandangan bernuansa mistis, sewaktu langit seolah menangis menyaksikan hati nurani manusia yang semakin menipis.

Selanjutnya, Diaz menuturkan kisah berskala besar, mengajak kita mengarungi tahun-tahun dalam hidup sang protagonis yang penuh penolakan dan ilusi terhadap kebesaran diri. Ketimbang merawat Beatriz (Ângela Azeved), istrinya yang sedang hamil tua, Magellan justru membelot ke pihak Spanyol yang bersedia mengirim ekspedisinya mencari rute pelayaran baru sambil menyebarkan agama Kristen, menuruti hasratnya bersolek dengan kematian demi kejayaan semu. 

Siklus kekerasan pun terus berulang akibat kolonialisme kulit putih, yang menganggap diri mereka, dengan segala teknologi mutakhir, ilmu pengetahuan terkini, perspektif atas Tuhan, juga sandang berkain mewah, lebih beradab daripada suku-suku Asia Tenggara yang bertelanjang bulat dan menyembah arwah leluhur. Tapi toh, sebagaimana Diaz suarakan secara lantang, "para pembawa modernisasi" ini justru jauh lebih barbar.
Di antara prinsip penceritaan slow cinema sang sutradara yang acap kali terasa menantang untuk disimak, Gael García Bernal menampilkan performa subtil yang menghadirkan personifikasi ambisi manusia, yang perlahan beralih menjadi keputusasaan. Aksi manusia menjual nama Tuhan hanya mendatangkan tragedi dengan semerbak aroma kematian, yang sayangnya masih berlanjut hingga lebih dari 500 tahun setelah era Magellan berlalu.

ALL THAT'S LEFT OF YOU

 ALL THAT'S LEFT OF YOU

Selepas sekuen pembuka All That's Left of You, perempuan bernama Hanan (diperankan Cherien Dabis yang juga berperan sebagai sutradara sekaligus penulis naskah) menatap kamera kemudian berujar, "Mungkin kamu tak terlalu peduli, tapi aku akan bercerita tentang anakku". Sebuah kalimat tajam yang dialamatkan pada penonton, yang menyaksikan tahun demi tahun penderitaan rakyat Palestina hasil tangkapan film ini dari kursi bioskop yang nyaman. Sudah selayaknya kita peduli.

Putra Hanan bernama Noor (Muhammad Abed Elrahman), remaja energik yang pada tahun 1988, tanpa ragu maju ke garis depan bersumpah guna mengutuk penjajahan Israel. Tapi untuk memahami motivasi Noor, kita terlebih dahulu diajak mundur ke tengah panasnya perang tahun 1948 guna bertemu kakeknya, Sharif (Adam Bakri), ayah mertua Hanan yang tinggal bersama keluarganya di Jaffa sambil mengelola kebun jeruk warisan turun-temurun.

Keputusan Cherien Dabis membentangkan ceritanya sampai puluhan tahun mempunyai satu tujuan, yakni memberi penegas tentang keserakahan Israel. Ibarat individu yang "dikasih hati malah minta sekujur tubuh", Israel terus mencuri, dari beberapa teritori, hingga akhirnya seluruh negeri. Tuntutannya terus berganti termasuk dalam kesekharian. Misal terkait jam malam di Tepi Barat yang selalu berubah, hingga alih-alih merupakan aturan, hal itu lebih seperti metode mempermainkan kehidupan rakyat Palestina. 

Cerita masa lintas milik All That's Left of You juga berguna memaparkan poin berikut: Apa yang suatu generasi alami, bukan hanya membentuk perspektif generasi tersebut, pula generasi di bawahnya. Adakah posibilitas perbaikan nasib bagi tokoh-tokohnya dan generasi tua mengambil keputusan yang berbeda? Jawabannya "tidak", selama zionis dengan segala keculasan dan tipu daya mereka masih menancapkan cakar mematikan.

Efektivitas penceritaannya mungkin akan meningkat bila durasi 145 menit sedikit dikurangi, namun kinerja seluruh departemennya, termasuk jajaran pelakon dengan kemampuan mengembuskan jiwa ke tokoh peran masing-masing, membuat All That's Left of You tak pernah kehilangan nyawanya. Sang sutradara melantunkan momen-momennya secara syahdu, mencuatkan melankoli tak murahan yang senada dengan baris demi baris kalimat puitis milik naskahnya.

"Hati Palestina ini sekarang mengalahkan dalam tubuh Israel", ucap seorang karakter yang takkan saya mengungkapkan identitasnya dengan nada angkuh, melengkapi alegori filmnya mengenai kondisi Palestina saat ini. Tapi All That's Left of You menolak kehilangan harapan. Selama masih ada yang tersisa, meskipun sebatas kenangan tak kasat mata, api kebebasan manusia Palestina akan selalu menyala.


SUNSHINE

 SUNSHINE


Kerap terjadi kesalahpahaman, bahwa pro-choice semata-mata soal merenggut nyawa, yang pada akhirnya mendatangkan stagnasi dalam diskursus, terutama saat cap "dosa" sudah dibawa-bawa. Padahal serupa dengan namanya, gerakan tersebut menitikberatkan pada hak perempuan untuk memilih (apa pun pilihannya). Apalagi, seperti yang dipaparkan oleh Sunshine, di banyak negara konservatif, pilihan yang dapat perempuan ambil amatlah terbatas.

Sunshine (Maris Racal) adalah atlet gimnastik berusia 19 tahun, yang berambisi mewakili Filipina di ajang Olimpiade. Bakatnya luar biasa. Sampai suatu ketika Sunshine mendapati dirinya hamil. Jangankan berpartisipasi di Olimpiade, keberlangsungan karir Sunshine terancam, sebagaimana kakaknya, Geleen (Jennica Garcia), yang pensiun dini untuk menjadi ibu tunggal. Sunshine pun mulai mempertimbangkan opsi aborsi. 

Naskah buatan sang sutradara, Antoinette Jadaone, memang lebih menaruh fokus pada kehamilan Sunshine. Elemen olahraga tidak banyak tampak di permukaan namun keberadaannya selalu terasa, mengingat gimnastik jadi pertimbangan utama dalam segala keputusan protagonis. Pun tiap tiba waktunya gimnastik mengisi sorotan utama, Jadaone menanganinya secara menawan. Menyaksikan Sunshine menari-nari sempitnya pita dengan indah, jelas lah betapa bakat si remaja terlampau sayang untuk dibuang.

Di satu titik, Sunshine bertemu Mary Grace (Rhed Bustamante), bocah 13 tahun yang hamil akibat diperkosa oleh sang paman. Pilihan apa yang diberikan kepada perempuan muda ini? Aborsi masih berstatus ilegal di Filipina. Tiada program penyedia solusi dalam bentuk apa pun dari pemerintah.  

Sekadar berbagi keluh kesah saja mereka tak mampu, karena masyarakat yang terlalu mudah menghakimi lewat perspektif nirempati berkedok agama atau moralitas cenderung hanya tertarik melempar cacian atau memberi cap "pendosa". Tidak hanya warga sipil, di sini kita juga akan bertemu dengan tokoh dokter yang gemar menghakimi. Salah satu momen paling memuaskan hadir ketika Geleen melontarkan sindiran menohok kepada sang dokter.

Cara Sunshine menangani perihal kehamilan remajanya bukanlah hal baru, dengan metode bercerita sejati yang juga cenderung konvensional, namun teknik pengadeganan Jadaone memberi warna spesial. Biar materinya sangat memfasilitasi, sang sineas enggan menyematkan gaya melodrama ke karyanya. Bukan air mata yang coba dihasilkan dari penonton, melainkan pemahaman terkait isunya. 

Itulah mengapa filmnya masih memberi ruang bagi tawa untuk hadir, termasuk yang bersumber dari sebuah pilihan naskah berisiko tinggi, kala menciptakan karakter gadis cilik misterius (Annika Co) yang kerap tiba-tiba muncul di samping Sunshine sambil melontarkan kata-kata kasar nan menggelitik guna mengkritisi niatnya menjalani aborsi.

Tidak sulit menebak identitas si gadis cilik, yang bila eksistensinya gagal ditangani secara bijak, berpotensi membuat presentasi pidato tampil dangkal dan murahan. Untungnya risiko besar itu terbayar lunas di fase konklusi yang secara mengharukan, menegaskan kalau Sunshine bukan tentang pembenaran amoralitas, melainkan ajakan untuk memahami sebuah pilihan. 

“Apapun keputusanmu, aku akan selalu ada di sampingmu dan menyayangimu”, ucap Geleen sambil berbaring di sebelah Sunshine. Saat itulah si tokoh utama menemukan kemantapan hati. Saat ini tidak lagi merasa harus menjadi seorang diri melawan dunia. Tatkala matahari seolah enggan bersinar lagi, nyatanya alam semesta masih berbaik hati membubuhkan warna-warni pelangi di balik awannya.