This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Kamis, 08 Januari 2026

NE ZHA 2

 NE ZHA 2


Ne Zha 2 telah menggoyang hegemoni Hollywood, baik dari segi finansial maupun kualitas. Anggapan klasik berbunyi "cuma Amerika yang bisa" pun terwujud di hadapan animasi yang sampai tulisan ini dibuat, sedang berusaha menggusur Titanic dari posisi ke-4 daftar film dengan pendapatan tertinggi sepanjang masa. Sekarang kalimat yang tepat untuk didengungkan justru "Amerika tidak akan bisa".

Kuncinya tidak lain adalah budaya. Bukankah animasi Hollywood sedang gencar melakukan representasi budaya? Betul, tapi di hadapan "formula Hollywood", sentuhan sekaya kultural apa pun seolah terhalangi oleh dinding yang memaksa sineasnya bermain aman, tanpa mampu melakukan eksplorasi secara pembohong. 

Di Ne Zha 2, elemen budaya yang berasal dari cerita-cerita mitologi serta novel Investiture of the Gods karya Xu Zhonglin yang berasal dari abad 16, mampu begitu kreatif dieksplorasi oleh Jiaozi sebagai film sekaligus penulis naskah. Ne Zha 2 merupakan film di mana salah satu karakternya memiliki senjata bernama "Cambuk Guntur Membelah Langit". Sama sekali tidak ada ketakutan untuk menampilkan hiperbolis dan sejauh mungkin dari realisme.

Tengok juga visualisasi dunianya yang sungguh-sungguh mencerminkan dunia fantasi di luar batasan logika, sebagai tempat para manusia hidup di tengah eksistensi dewa dan monster. Dunia yang Jiaozi bangun selalu memancarkan keajaiban di setiap sudutnya.  

Melanjutkan akhir film pertamanya, kali ini kita diajak mengikuti upaya Ne Zha menempuh ujian keabadian yang diadakan oleh sekte Chan di bawah pimpinan Wuliang. Tujuannya adalah mendapatkan pil untuk memperbaiki teratai suci kepunyaan Taiyi Zhenren yang hendak dipakai menyusun kembali tubuh Ne Zha dan Ao Bing yang hancur di akhir film sebelumnya. 

Di satu titik, Ne Zha yang tiba di istana megah milik Wuliang bersama Taiyi Zhenren, tiba-tiba ingin buang air. Ne Zha tersesat, dan salah mengira guci penyimpanan minuman sebagai toilet. Air dalam guci tersebut kemudian diminum oleh Wuliang. Momen komedik tersebut bak wujud perlawanan filmnya, yang enggah sedikit pun menaruh rasa hormat atas segala jenis pengultusan palsu.

Sekte Chan yang dipandang sebagai figur suci nyatanya hanya sekelompok individu arogan yang berlaku semena-mena, sedangkan nama-nama seperti Ne Zha atau Ao Guang si Raja Naga Laut Timur yang notabene adalah iblis justru lebih menekankan cinta kasih biarpun perawakan mereka menyeramkan. Ada banyak situasi di Ne Zha 2 yang mendorong kita agar tidak "menilai buku dari sampulnya".

Gesekan dua pihak di atas menyulut terjadinya pertempuran epik penuh visual cantik nan megah di babak ketiga. Kuali raksasa yang bisa mengurung apa pun di hadapannya, ribuan pasukan yang mengancam begitu rapi hingga tampak seperti daun-daun di pepohonan, semuanya menampakkan pemandangan menakjubkan yang hanya bisa terwujud saat kreativitas dipertemukan dengan budaya. Jiaozi enggan memusingkan soal realisme. Sudah seharusnya pertempuran antara dewa dan iblis digambarkan secara megah dan berlebihan.
Tapi Ne Zha 2 tidak hanya menampilkan pencapaian teknis, karena ia pun memiliki banyak rasa. Humornya yang tampil konyol bukan sebatas amunisi hiburan, tapi cara untuk mendekatkan penonton dengan karakternya. Canda tawa yang sering ia lontarkan membuat Ne Zha, yang begitu kuat hingga mampu merepotkan para dewa, terasa membumi. Sampai ketika filmnya tiba pada momen emosional antara Ne Zha dengan sang ibu, di situlah konflik ilahi dan humanis mencapai titik temunya.

Rabu, 07 Januari 2026

PABRIK GULA

 PABRIK GULA


serupa Badarawuhi di Desa Penari tahun lalu, Pabrik Gula yang kembali mengadaptasi cerita dari SimpleMan, tampil layaknya remake dari KKN di Desa Penari dengan perbaikan kualitas di sana-sini. Hanya saja kini kemiripannya lebih kentara, seolah jadi bukti bahwa kolaborasi MD Pictures dan SimpleMan telah menemukan paketnya, yang bisa terus diutak-atik sesuai kebutuhan.

Di Pabrik Gula kita kembali bertemu sekelompok teman yang akan menetap di sebuah tempat asing untuk beberapa lama, tanpa tahu bahwa tempat itu menyimpan cerita mistis. Bedanya, mereka bukan pelajar melainkan buruh, pun alih-alih desa lokasi KKN, destinasi yang dituju adalah sebuah pabrik gula. 

Endah (Ersya Aurelia), Naning (Erika Carlina), dan Wati (Wavi Zihan) tinggal di satu loji. Contohnya pula para buruh laki-laki: Fadhil (Arbani Yasiz), Hendra (Bukie B. Mansyur), Dwi (Arif Alfiansyah), dan Franky alias Mulyono (Benidictus Siregar). Begitu lewat pukul 9 malam, tepatnya selepas alarm berbunyi yang disebut sebagai "jam merah", tidak ada yang boleh keluar dari loji. Ketika pelanggaran terjadi, teror mematikan pun dimulai.

Sejatinya Pabrik Gula belum bisa disebut memiliki alur mumpuni. Beberapa poin yang berpotensi menghadirkan eksplorasi menarik, seperti mitologi mengenai kerajaan iblis yang menguasai pabrik dengan beragam jenis hantunya, hingga elemen cerita detektif seputar "siapa sebenarnya yang melanggar aturan?", hanya dipaparkan sambil lalu. Belum lagi, serupa KKN di Desa Penari yang nyaris tak pernah menampakkan aktivitas KKN itu sendiri, rutinitas para pekerja amat jarang muncul. Andai gula diganti produk lain pun takkan ada perbedaan berarti.

Untungnya kali ini naskah buatan Lele Laila tidak terjebak dalam kesan serius. Serupa jargon "pesta rakyat" yang dijadikan alat pemasaran filmnya, Lele ingin mengajak penonton bersenang-senang. Di situlah duo Franky dan Dwi mengemban peran penting. Lawakan demi lawakan dihantarkan begitu mulus oleh kombinasi maut Benidictus Siregar dan Arif Alfiansyah. Tatkala ide-ide terornya tak seberapa kreatif, sepak terjang keduanya mampu membantu Pabrik Gula mencapai tujuan menjadi horor yang menampilkan "seru" daripada "ngeri".

Walaupun masih mengandalkan jumpscare, setidaknya penulisan Lele tak lalai membangun jembatan, sehingga berbeda dengan KKN di Desa Penari, Pabrik Gula lebih terasa sebagai "film yang layak" daripada sekadar kompilasi teror dengan jahitan asal-asalan. Kesediaan untuk memperhatikan hal-hal seperti "bridging" dan "build-up" pula (termasuk adegan pembuka yang menampilkan para karakternya berinteraksi dengan bahagia) yang membuat konklusinya bisa meninggalkan rasa pahit sekaligus berdampak pada sebuah tragedi. 

Di sisi lain, Awi Suryadi selaku sutradara kembali menunjukkan eksplorasi teknis mumpuni. Hampir semua kemunculan makhluk halus dibarengi oleh trik teknis yang mengundang decak kagum, entah dari tata kamera, penyuntingan, maupun pemakaian efek komputer yang tepat guna. Dibantu oleh tata kamera Arah Arfian (keduanya pernah bekerja sama di Sebelum 7 Hari, Perewangan, Do You See What I See, juga Kisah Tanah Jawa: Pocong Gundul), Awi pun memoles filmnya supaya tampak megah lewat pilihan shot-nya.
Sekali lagi, kreativitas ide mungkin bukan sesuatu yang dimiliki oleh Pabrik Gula saat melempar teror. Tapi jumpscare-nya digarap dengan solid, dibarengi timing yang presisi, pula tidak terasa menyebalkan karena jeli mengatur volume suara. Ketika di babak ketiga, Dewi Pakis yang memerankan Mbah Jinnah sebagai satu dari dua dukun yang menjaga keamanan pabrik, menggila di tengah adegan upacara persembahan, sulit menampik daya hibur Pabrik Gula sebagai sebuah blockbuster horor.

Selasa, 06 Januari 2026

A MINECRAFT MOVIE

 A MINECRAFT MOVIE


Sebelum logo rumah produksi menampakkan detailnya, beberapa anak yang duduk di belakang saya sudah serempak berteriak, "Mojang!", Merujuk pada nama perusahaan asal Swedia yang mengembangkan game Minecraft, sebagai sumber adaptasi oleh film ini. A Minecraft Movie memang diciptakan untuk mereka yang menghabiskan waktu berjam-jam memainkan game terlaris sepanjang masa tersebut (terjual lebih dari 350 juta kopi).

Bagaimana dengan penonton awam (termasuk saya) yang tidak memahami alasan mengapa istilah "chicken jockey" bisa jadi viral hingga menyebabkan keriuhan di studio tempat filmnya diputar? Tanda tanya bakal muncul berkali-kali. Bukan karena alurnya yang kompleks. Justru sebaliknya, timbul pertanyaan tentang mengapa segala hal di A Minecraft Movie begitu disimplifikasi. 

Mungkin karena para pembuatnya menjadikan generasi alpha sebagai target pasar. Tapi bukankah bocah zaman sekarang sudah jauh lebih cerdas? Bukankah mereka tidak perlu disuguhi sekuen pembuka yang terkesan begitu malas membangun latar belakang? Di satu titik, salah satu karakternya tiba-tiba menguasai kemampuan baru. Rekannya pun bertanya, "Bagaimana kamu tahu melakukan itu?", yang dijawab, "Jangan tanya". Tidak bisakah LIMA penulis naskahnya muncul dengan alasan yang lebih meyakinkan?

Steve (Jack Black), penjual gagang pintu yang lelah dengan kehidupan monoton miliknya, menemukan portal menuju Overworld, sebuah dunia yang tersusun atas balok-balok yang mudah dimanipulasi. Akibatnya, Steve bisa bebas menciptakan apa pun di sana. 

Ketika Steve pidato menghadapi serbuan pasukan piglin dari dunia Nether yang dipimpin oleh Malgosha (Rachel House), datang bantuan dalam wujud empat individu yang tersasar ke dalam Overworld: Henry (Sebastian Hansen) si bocah jenius bersama kakaknya, Natalie (Emma Myers); Garrett "The Garbage Man" Garrison (Jason Momoa) adalah mantan juara dunia game yang kini hidup melarat; juga Dawn (Danielle Brooks) si agen perumahan

Sederhananya, A Minecraft Movie adalah film dengan segudang kebetulan di setiap sudut cerita yang seolah menandakan kemalasan dalam bercerita. Ketimbang membuat alur mumpuni, naskahnya lebih menarik melemparkan fan service dengan humor absurd sebagai bumbu yang membuat A Minecraft Movie lebih terasa seperti shitpost ratusan juta dollar. Contohnya saat kita tiba-tiba disuguhi momen musikal diiringi lagu aneh berjudul Steve's Lava Chicken. 

Jack Black mengungkapkan totalitasnya di sini. Mungkin tidak ada aktor lain yang bisa menangani momen over-the-top dengan semangat membara seperti itu. Black memilih pendekatan yang tepat karena ia tahu betul sedang bermain di film seperti apa. Begitu pula Jason Momoa yang bersedia memarodikan citra pria tangguh yang telah begitu melekat padanya.

Padahal para penulisnya punya banyak opsi terkait arah pengembangan cerita. Sebutlah eksplorasi tentang "kreativitas tanpa batas" yang menjadi esensi permainannya. Benar bahwa karakter-karakternya membangun setumpuk hal yang aneh, tetapi tidak banyak yang dapat diklasifikasikan sebagai "metode kreatif memecahkan masalah". 

Pesan yang diusung pun tersia-siakan. Di penghujung durasi, A Minecraft Movie ingin mengingatkan para pemainnya agar bisa menerapkan kreativitas mereka di realita alih-alih terus tenggelam dalam dunia fantasi. Pesan yang relevan sekaligus luar biasa penting ini gagal dimanfaatkan untuk menciptakan cerita yang memadai. Tatkala para protagonisnya berpisah dengan Overworld, tak ada ruang sedikit pun bagi dampak emosi, karena penonton luput dibuat memedulikan karakter maupun dunianya.
Tidak terhitung pula deretan kalimat cringey yang naskahnya lahirkan. "Pertama kita menambang, lalu kita membuat, ayo membuat minecraft!" merupakan salah satu contoh terbaik (atau terburuk?). Mungkin suatu hari nanti, segala kekurangan milik A Minecraft Movie akan bertransformasi dari pengalaman di internet menjadi film kultus yang menandakan wajah suatu era. Tapi untuk saat ini, khususnya bagi penonton awam, ia hanyalah blockbuster yang tidak masalah bila dilewatkan.

SANTOSH

 SANTOSH


Alur milik Santosh film berbahasa India yang jadi perwakilan Britania Raya di Academy Awards 2025 mengandung banyak cerita, namun pada dasarnya ia adalah kisah tentang korupnya instansi kepolisian. Isu-isu lain seperti gender atau kasta dipakai sebagai penegas bagi persoalan tersebut, yang oleh film ini diangkat secara jujur, tanpa berusaha main aman atau menambahkan bumbu pemanis.

Berawal dari hilangnya anak perempuan dari kasta dalit yang kemudian berkembang jadi kasus pembunuhan, Santosh, yang bekerja di bawah Arah Inspektur Geeta Sharma (Sunita Rajwar) yang dikenal kukuh memperjuangkan pemberdayaan perempuan, menemukan bahwa para pembela hukum tidak benar-benar tertarik untuk menegakkan hukum. 

Seperti apa pun individunya, baik laki-laki, perempuan, feminis, atau misoginis, apabila telah mengenakan seragam berwarna khaki milik aparat, nyatanya akan tertular kebobrokan yang telah menjadi citra instansi tersebut. Seolah-olah seragam itu memberi sensasi bertenaga yang mendorong keinginan melakukan represi, karena si individu menganggap dirinya bebas melakukan apa saja.

Sandhya Suri membungkus filmnya dengan sampul prosedur kepolisian. Sentuhan misterinya memang bukan sesuatu yang benar-benar segar, namun mampu memenuhi tujuannya sebagai alat bantu untuk mengupas satu per satu kebejatan aparat. Di sisi lain, Shahana Goswami dengan kelihaian memancarkan emosi melalui raut wajahnya, seolah jadi perpanjangan rasa syok penonton saat menyaksikan setumpuk ketidakadilan yang filmnya paparkan. 

Kompleksitas kisahnya memuncak begitu alur menyentuh babak akhir. Selama ini Santosh selalu mengagumi Inspektur Sharma dengan sudut pandang feminisme yang tak kenal lelah ia perjuangkan. Tapi apakah sebuah perjuangan masih layak diperjuangkan jika mengharuskan kita melakukan keburukan? Santosh tak ragu mengkritisi fenomena, di mana demi menyuarakan ketidakadilan yang dialami suatu kaum, beberapa pejuang keadilan sosial justru melakukan ketidakdilan pada kaum lain.

Di satu adegan, Santosh diperlihatkan tengah makan sambil menonton video berisi perbandingan antara polisi Cina dengan India. Si konstabel tertawa geli melihat instansinya dijadikan bahan tertawaan, karena ia sadar bahwa memang begitulah realitanya. Menjadi bagian suatu kelompok bukan berarti enggan mengakui borok kelompok tersebut. 

Melalui pilihan konklusinya pun Santosh secara tegas, tanpa mencoba bermulut manis, menawarkan solusi yang bisa diambil para aparat jika benar-benar menaruh kepedulian terhadap ketidakadilan yang dilakukan oleh kompatriotnya. Di situ Santosh bukan menyerah atau lari. Dia hanya menolak terus-menerus menjadi racun yang membunuh sesama rakyat jelata. Angka "1312" pun seolah menampakkan dirinya di wajah si karakter utama.

SINNERS

 SINNERS


Banyak blockbuster terasa hampa karena sebatas memikirkan soal cara mempertontonkan spektakel. Tidak keliru, namun Sinners sebagai karya asli pertama dari Ryan Coogler menunjukkan bahwa ada metode pendekatan yang berbeda, di mana penceritaan dan penokohan ditempatkan di garis depan, terlebih dahulu dipatenkan sebelum melompat ke upaya menghibur penonton.

Mengambil latar Mississippi tahun 1932, Sinners memperkenalkan kita pada dua saudara kembar, Smoke dan Stack (Michael B. Jordan dalam peran ganda), yang kembali ke kampung halamannya. Nama keduanya sudah begitu masyhur sebagai mafia yang pernah bekerja bersama Al Capone, dan kini mereka pulang untuk memulai bisnis baru, tanpa menyadari bahwa sebuah kekuatan jahat tengah bersiap melepaskan terornya ke seisi kota. 

Kekuatan jahat itu mengambil wujud sekelompok vampir, namun serupa yang dilakukan oleh Quentin Tarantino di From Dusk Till Dawn (1996), naskah buatan Coogler menyimpan aksi paramakhluk pengisap darah tersebut hingga paruh kedua cerita. Sebelumnya, Coogler dengan penuh kesabaran, menata "panggung" yang akan melatari konflik utamanya, mengumpulkan orang-orang yang akan terlibat, sambil menyusun latar belakang masing-masing dari mereka.

Smoke dan Stack bermaksud membangun juke joint bagi orang-orang kulit hitam yang tak mendapat ruang bersenang-senang akibat cengkeraman warga kulit putih. Keduanya berpencar guna mengumpulkan nama-nama yang dirasa bisa berkontribusi: Sammie (Miles Caton) si adik sepupu yang piawai memainkan gitar; Delta Slim (Delroy Lindo) si musisi legendaris setempat; Roti Jagung (Omar Benson Miller) si penjaga keamanan; Bo dan Grace Chow (Yao dan Li Jun Li) yang menyediakan makanan; juga Annie (Wunmi Mosaku) yang memiliki kisah masa lalu dengan Smoke. Mary (Hailee Steinfeld) si gadis kulit putih yang sebelumnya memadu kasih dengan Stack pun ikut terlibat. 

Apa yang Smoke dan Stack lakukan mengingatkan pada film-film yang berisikan ensemble cast di mana protagonis merekrut deretan individu dengan kemampuan khas masing-masing untuk membuat tim super. Bedanya, Sinners juga memakai fase tersebut sebagai media memperkenalkan isu rasisme yang masing-masing pernah alami. Coogler secara cerdik memanfaatkan interaksi karakternya, menyelipkan sekelumit kisah mereka, sebagai cara membangun latar belakang yang efektif.

Penonton pun dibuat betul-betul mengenal setiap tokoh, menganggap mereka sebagai manusia yang utuh, sehingga sewaktu teror akhirnya pecah, terasa ada sesuatu yang dipertaruhkan. Untungnya mereka masih sempat merasakan berpesta di juke joint milik Smoke dan Stack. Bernyanyi, menari, menikmati musik blues, menenggak alkohol, bahkan menemukan cinta bagi beberapa yang cukup beruntung. Berkat latar belakang pembangunan yang kuat, pesta tersebut tidak terkesan sebagai hedonisme hampa, melainkan perayaan kebebasan yang meneriakkan kebahagiaan dari manusia-manusia yang disudutkan. 

Di pesta berikutnya pula Coogler mempersembahkan sebuah momen magis yang menjadi selebrasi bagi elemen budaya, terutama musik, yang meniadakan sekat pembatas. Moment itu merupakan bagian dari pembangunan dunia unik yang Coogler sematkan di naskahnya.

Musik blues memang memegang peranan penting di Sinners. Menonton setiap ia dimainkan di adegan mana pun, dan kita seolah dapat merasakan teriakan hati para musisinya, yang tidak jarang memunculkan nuansa mistis. Suara gitarnya terdengar bak tangisan, nyanyiannya seperti curahan doa. Kekuatannya begitu besar, hingga (menurut film ini) mampu menembus batasan ruang dan waktu, pula kehidupan dan kematian. 

Pemakaian musik blues pun turut menambah keunikan adegan aksinya, meski di saat bersamaan, pengarahan Coogler justru menampakkan kelemahannya. Penanganan sang sutradara yang selalu stylish, bahkan di momen-momen sederhana, misalnya single take saat Lisa Chow (Helena Hu) berjalan ke toko sebelah untuk memanggil sang ibu, seolah menghilang saat berhadapan pada aksi saling bunuh diri. Tidak buruk, hanya saja terlampau umum bila dibandingkan segala hal yang sebelumnya telah disuguhkan.

UNTIL DAWN

 UNTIL DAWN


Modifikasi yang Until Dawn diterapkan berpotensi menyebabkan terjadinya di antara pecinta game berjudul sama yang jadi sumber adaptasinya. Tapi keputusan kontroversial itu juga berjasa menjadikan karya horor pertama David F. Sandberg sejak Annabelle: Creation (2017) ini sebagai salah satu adaptasi video game paling menghibur, karena tujuan utama yang diusung adalah melakukan pendekatan unik terhadap formula film horor.

Lima muda-mudi melakukan perjalanan melintasi hutan. Clover (Ella Rubin), Max (Michael Cimino), Nina (Odessa A'zion), Megan (Ji-young Yoo), dan Abel (Belmont Cameli) memulai misi untuk menemukan Melanie (Maia Mitchell), adik Clover yang sudah setahun menghilang. Pencarian menemukan jalan buntu, hingga mereka menemukan sebuah kabin di tengah kota pertambangan bernama Glore Valley yang telah lama ditinggalkan. 

Tidak butuh waktu lama bagi naskah buatan Gary Dauberman dan Blair Butler untuk menunjukkan modifikasi terhadap formula klise "kabin di tengah hutan", ketika satu per satu karakternya mati di tangan sesosok pembunuh bertopeng, sebelum akhirnya hidup kembali dan harus mengulangi hari, sementara kematian selalu mengejar mereka. Kondisi itu akan terus terulang selama para protagonisnya belum memecahkan misteri seputar Glore Valley.

Plot yang ditawarkan sejatinya tipis, setidaknya hingga pertengahan durasi di mana Until Dawn menerapkan pola penuturan layaknya sajian pedang. Keunggulan yang ditawarkan terletak pada metode kematian yang selalu berganti dalam setiap waktu. Sampai Dawn punya opsi cara membunuh tak terbatas, yang santai bisa dimanfaatkan guna melahirkan beberapa adegan kematian kreatif dan brutal. 

Kuncinya adalah keengganan memakai hanya satu jenis "sumber maut". Berbekal konsep yang mengingatkan ke The Cabin in the Woods (2011), Until Dawn menjadi "hoserba" (horor serba ada) yang menggabungkan sosok-sosok seperti pembunuh bertopeng ala pedang, penyihir, raksasa, boneka setan, dan tentunya monster bernama Wendigos yang menjadi ciri khas game-nya. Bahkan air pun dapat menghadirkan kematian tak terduga di sini.

Tapi jangan dulu mengharapkan eksplorasi konsep secerdas The Cabin in the Woods. Dauberman dan Butler masih cenderung keteteran menangani keunikan pembangunan dunia dalam naskahnya. Masih banyak pertanyaan-pertanyaan dasar 5W1H yang gagal dijabarkan secara layak oleh kedua penulis. 

Untungnya di kursi sutradara, David F. Sandberg belum kehilangan sentuhannya perihal mengolah intensitas, termasuk melalui deretan jumpscare yang cukup efektif menggedor jantung. Satu hal yang agak memalukan adalah keputusannya meredupkan pencahayaan secara berlebihan di babak akhir. Ketika penonton sulit mengidentifikasi peristiwa di layar, ketegangan otomatis juga sulit dihadirkan.

Hingga Dawn juga menampilkan pembahasan mengenai emosi negatif manusia, terutama yang terkait erat dengan rasa takut dan duka. Upaya kelima protagonis kita untuk kabur dari lingkaran waktu sendiri merupakan representasi dari proses mereka berpindah dari rangkaian emosi negatif tersebut. Sampai di satu titik, kematian tak lagi sebegitu mengerikan, dan mereka siap menyambutnya dengan tangan terbuka.  

Penceritaan di atas mungkin tak pernah benar-benar melahirkan drama dengan bobot emosi besar, namun tidak pula berakhir hambar berkat penampilan solid jajaran pemainnya. Tatkala barisan muda-mudi di banyak film serupa tidak lebih dari seonggok daging yang menanti untuk dijagal, lima pelakon muda di Until Dawn mampu memberikan kepribadian bagi tiap-tiap karakter yang membuat proses mereka kembali ajal masing-masing menyenangkan untuk diikuti.

Minggu, 04 Januari 2026

SAH! KATANYA...

 SAH! KATANYA...


Bayangkan dinamika keluarga ala Bila Esok Ibu Tiada (2024) sebagai konflik sentral, dipresentasikan menggunakan sampul humor absurd layaknya Mekah I'm Coming (2019). Begitulah Sah! Katanya..., yang jika dilihat dari permukaan hanya tampak seperti satu lagi komedi lokal kelas dua, tapi ternyata ia adalah kontender kuat peraih gelar "film Indonesia terlucu tahun ini".....setidaknya bagi mereka yang tidak teralienasi oleh gaya melucunya.

Tidak semua orang akan cocok dengan film humor yang disutradarai oleh Loeloe Hendra Komara (Tale of the Land) ini. Beberapa orang mungkin menyebut "aneh" atau bahkan "garing", tapi mereka yang akrab dengan gaya bercanda "gojek kere" khas sirkel tongkrongan Jawa (terutama Yogyakarta), bisa jadi bukan hanya menikmati, bahkan merasa terwakili seleranya. 

Di atas kertas kisahnya terdengar sangat serius, kalau tidak mau disebut memilukan. Marni (Nadya Arina), si anak bungsu dari sebuah keluarga besar, bertemu dengan Adi (Calvin Jeremy) saat menemui jalan buntu. Adi adalah laki-laki baik. Terlalu baik malah, sampai uang yang ia janjikan akan ditabung sebagai biaya hidup mereka setelah menikah kelak justru sering dipakai untuk membantu masalah finansial orang-orang lain di sekitarnya.

Kemampuan Adi mengatur skala prioritas memang sangat buruk. Sewaktu usahanya memperkenalkan diri ke ayah Marni, Dipo (Landung Simatupang), kembali gagal, Adi hanya berujar "Nanti kubetulin". Itulah kata-kata sakti yang selalu terlontar dari mulut tiap dibayangkan pada masalah, tanpa sadar bahwa mungkin saja tak ada lagi kata"nanti" untuknya.

Benar saja, ayah Marni tiba-tiba meninggal, lalu berwasiat bahwa si putri bungsu harus menikah di depan jenazahnya dengan Marno (Dimas Anggara). Dipo memiliki utang menggunung kepada ayah Marno, dan pernikahan ini jadi cara melunasinya. Masyarakat kita dengan budaya ketimuran yang konon menjunjung tinggi adat dan nilai kekeluargaan memang lalai menyadari bahwa "sekarat atau meninggal bukan alasan untuk bisa mengucapkan berengsek".

Marni yang tertekan karena mesti menikahi laki-laki yang tidak terlalu ia kenal, masih harus menghadapi polah kakak-kakaknya yang tiba-tiba ingin terlihat berbakti meski selama ini jarang pulang ke rumah. Sekali lagi, di atas kertas segala permasalahan di atas terdengar luar biasa berat nan serius. Tapi "keseriusan" merupakan sesuatu yang sebisa mungkin dijauhi oleh naskah buatan Dirmawan Hatta, Sidharta Tata, dan Loeloe Hendra Komara dalam menuturkan cerita.

Naskahnya selalu menemukan celah untuk menyelipkan hukum yang absurd serba over-the-top di tengah situasi seserius apa pun. Entah berupa celetukan-celetukan dari karakter Paklik Kusno (Susilo Nugroho alias Den Baguse Ngarso) yang sesekali menyerempet ranah komedi gelap, tingkah menggelikan sekaligus menyebalkan Adi yang tak menampakkan ketegasan, maupun barisan polah di luar nalar para karakter pendukung.

Di sini kita bakal berkenalan dengan satu karakter, yang saking tidak kuatnya menahan stres, ia secara tiba-tiba berjungkir balik di depan orang-orang. Seaneh itu. Loeloe Hendra Komara menangani segala masalah keabsurdan dengan energi luar biasa, layaknya sedang melempar guyonan di depan kawan-kawan satu sirkelnya sambil bersantai menikmati kopi di angkringan atau kafe sederhana. 

Beberapa humornya begitu aneh sehingga kemunculannya sulit diduga, sedangkan beberapa di antaranya malah sebaliknya, sangat bisa ditebak, terutama lelucon terkait cara Pak RT berkomunikasi dengan warga. Tapi tepat waktu dan metode penyuntingan berperan menjaga kelucuannya, dan di sisi lain, ekspektasi saat menantikan hadirnya suatu banyolan yang sudah kita nantikan justru meningkatkan daya bunuhnya.

Menarik mengamati dinamika antara Adi dan Marno. Calvin Jeremy tampil total menghidupkan karakter yang memang ditujukan untuk mengambil hati penonton. Kita justru diarahkan untuk meragukan sosoknya, yang terlampau tenggelam dalam kesedihannya sendiri, hingga lupa kalau sang kekasih, Marni, jauh lebih menderita.

Di sisi lain ada Dimas Anggara, berbekal karisma yang memudahkan kita untuk mendukung Marno serta kemampuannya menaruh simpati kepada Marni. Tapi ada satu masalah. Keputusan menggiring penonton yang berdiri di belakang Marno terkesan seperti cara filmnya bermain aman dalam menyikapi isu mengenai perjodohan paksa guna memenuhi wasiat sebagai wujud bakti anak. Daripada mengkritisi, Sah! Katanya... cenderung menjustifikasi, dengan mendesain karakter Marno sebagai figur yang lebih baik bagi Marni.