This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Minggu, 04 Januari 2026

PANGKU

 PANGKU


Ada dinding bernama "kemampuan observasi" yang jadi sekat pemisah antara aktor hebat dan buruk. Sebuah kemampuan untuk mengamati, menyerap, lalu menaruh empati terhadap manusia, lingkungan, maupun peristiwa di sekitar si pelakon. Di Pangku, Reza Rahadian yang notabene merupakan salah satu aktor terbaik negeri ini, memakai kecakapan tersebut, kali ini bukan untuk berlaku di depan kamera, melainkan bertutur di belakangnya sebagai sutradara. 

Latarnya adalah kedai kopi di Pantura. Di tengah kawasan kumuh yang tak mengenal kehigienisan, para sopir truk mampir, rehat selama berjam-jam sambil menyesap segelas kopi. Bukan kopi itulah komoditas utamanya, tapi servis pangku dari si pelayan perempuan. Seketika, kemiskinan dan seksualitas pun saling bercumbu. Sebuah materi seksi bagi sinema arus utama Indonesia yang menyukai eksploitasi.

Tapi Reza, yang ikut menulis naskahnya bersama Felix K. Nesi, tidak tertarik mengemis tangis penonton. Reza menempatkan kita pada posisi yang serupa dengannya saat berlakon, yakni sebagai pengamat yang mencari pemahaman. Sewaktu protagonisnya, Sartika (Claresta Taufan), yang luntang-lantung mencari kerja dalam kondisi hamil tua, muncul di layar, penonton tidak terdorong untuk hanya mengasihan. 

Beruntunglah Sartika bertemu Maya (Christine Hakim) si pemilik kedai kopi, yang siap memberinya tempat tinggal sekaligus pekerjaan. Selepas melahirkan, Sartika pun melakoni profesi sebagai pelayan kopi pangku. Dia duduk di paha laki-laki yang senyumnya hanya menandakan gairah. Dimintanya si konsumen menambah kopi, atau membelikannya sebatang rokok. Mereka mengira memangku Sartika adalah bentuk kekuasaan, namun si perempuanlah yang memegang kendali. 

Sartika bekerja, mendidik anak yang diberi nama Bayu (Shakeel Fauzi), tinggal berdesak-desakan bersama Maya dan suami, Jaya (José Rizal Manua), yang jadi representasi banyak figur ayah di Indonesia: Diam, berada secara emosional, namun dapat diandalkan saat menangani urusan pertukangan.

Mereka semua, terutama Sartika, susah payah bergumul dengan kemiskinan, tapi Reza tak pernah secara berlebihan membuat karakternya merata. Di satu titik, kita diajak melihat lingkungan di sekitar rumah Maya, yang bahkan belum layak disebut "sederhana". Terdengar pula iringan musik. Menariknya, komposisi gubahan Ricky Lionardi bukan memperdengarkan nada mendayu-dayu, melainkan bunyi-bunyian bernuansa dreamy ala kotak musik. 

Sensitivitas jadi senjata utama pengarahan Reza, yang menggerakkan narasinya tidak secara buru-buru, guna memastikan proses observasi penonton berjalan hingga detail terkecil. Sesekali berita di radio memberi informasi terkait gambaran besar kondisi bangsa saat itu, sekaligus memberi informasi latar waku tanpa perlu menggunakan title card yang digambarkan tahun atau kalimat "x tahun kemudian". 

Departemen akting juga berjasa besar menyuarakan visi sang sutradara. Khususnya Claresta Taufan dan Christine Hakim, yang menunjukkan bagaimana menyuarakan kepiluan tanpa harus mengandalkan tangisan dalam penampilan mereka. Melihat betapa hebatnya gerak-gerik Christine Hakim kala Maya berpisah dengan sosok yang sangat sayang ia. Tanpa kata, tanpa banjir air mata, namun begitu mencabik-cabik.

Sempat timbul harapan bagi Sartika lewat perkenalannya dengan Hadi (Fedi Nuril), sopir pikap pembawa ikan yang setia mengunjungi kedai kopi bersama temannya, Asep (Kaan Lativan). Pelan-pelan tumbuh benih cinta di hati Hadi, yang salah satunya ia tunjukkan dengan memberi sisa-sisa ikan. Sartika sekeluarga terjadi dengan lahap, lalu Bayu menanyakan jenis ikan apa yang Hadi berikan. Sartika dan Maya tak mampu menjawab. Meskipun kemiskinan yang parah telah terjadi, ikan pun terasa asing bagi mereka yang tinggal di daerah pesisir. 

Reza jeli menerapkan kesubtilan macam itu di sepanjang durasi. Salah satu yang mampu menghunjam perasaan secara lirih adalah pemakaian korek sebagai simbol cinta yang dibiarkan tertinggal oleh salah satu karakternya. Pangku tidak terasa seperti karya debut, karena ia adalah proses evolusi selama dua dekade dari seorang seniman yang memahami rasa-rasa di sekitarnya dengan kecerdasan luar biasa.

DIE MY LOVE

 DIE MY LOVE


"Ketika rutinitas sangat mengganggu, dan ambisi rendah, dan kebencian memuncak, namun emosi tidak tumbuh." Sepenggal lirik dari Love Will Tear Us Apart kepunyaan Joy Division tersebut, yang dipakai mengiringi kredit penutup, begitu tepat mewakili Die My Love Arah Lynne Ramsay. Tapi ia bukan cerita rumah tangga di mana si tokoh utama berperilaku pasif dengan hanya meratakan patah jantung, melainkan ledakan punk rok berisi perlawanan terhadap penjara bernama peran gender.

Mengadaptasi novel berjudul sama karya Ariana Harwicz, Die My Love mengajak kita berkenalan dengan sepasang kekasih, Grace (Jennifer Lawrence) dan Jackson (Robert Pattinson), yang baru meninggalkan ingar bingar New York untuk tinggal bersama di daerah pedesaan. Tiada kata istirahat bagi letupan asmara keduanya, bahkan saat Grace tengah hamil tua. 

Di sela-sela potret keseharian mereka, terselip pemandangan yang terkesan acak berupa sebuah hutan yang terbakar. Kelak kita akan menyadari bahwa situasi itu tidak merepresentasikan cinta membara Grace dan Jack. Benih api yang perlahan menyala bukanlah sumber kehidupan, tapi bara yang siap meluluhlantakkan.

Segalanya pasca berubahnya Grace melahirkan. Jackson selalu sibuk bekerja di luar rumah, bahkan terkesan tak lagi berhasrat terhadap sang istri. Penggunaan rasio aspek 1.33 : 1 mewakili betapa menyesakkannya hari-hari Grace yang dipaksa mengakrabkan diri dengan kesetaraan. Tapi Grace bukan perempuan pasif yang menerima begitu saja "kewajiban" mengurus rumah tanpa masukan kasih sayang. 

Alih-alih ratapan sendu, naskah yang ditulis sang sutradara bersama Enda Walsh dan Alice Birch menghantarkan pergulatan Grace dalam ledakan-ledakan yang menunjukkan ketahanannya. Dia menari, memancarkan eksentrik, begitu enteng menumpahkan sumpah serapah, menutup kulkas dengan tendangan, dsb. Berapi-api, pembohong, destruktif. Bukan karena Grace gemar menghancurkan, sebab cinta (atau lebih tepatnya iming-iming tentang konsep cinta) sudah terlebih dahulu menghancurkan dirinya.

Di tengah penderitaan tersebut, bukan pangeran berkuda putih yang Grace dambakan, tapi laki-laki berjaket merah marun (LaKeith Stanfield) yang rutin berlalu-lalang di depan rumah menaiki motor. Si sosok misterius yang selalu mengisi fantasi Grace adalah personifikasi semua hal yang berlawanan dengan figur Jackson: laki-laki kulit hitam maskulin yang penuh perhatian serta membuat pasangannya merasa diinginkan. 

Jennifer Lawrence, dalam performa yang sangat layak diganjar memenangkan Oscar kelima sepanjang performa (meski peluang ini sangat kecil), tak menyisakan cela sebagai perempuan yang memunculkannya mengungkapkan biarpun tindak-tanduknya meletup-letup. Robert Pattinson tidak kalah hebat sebagai laki-laki kekanak-kanakan dengan segala kelabilan emosinya.
Bukan Grace seorang yang dihunjam kesepian. Pam (Sissy Spacek), ibu Jackson, pun dihantui perasaan serupa pasca suaminya (Nick Nolte) meninggal. Setiap malam, Pam berjalan dalam tidurnya sambil menenteng senapan. Seiring alurnya yang melaju liar saat secara konstan melompati garis batas tipis antara realita dan imajinasi, Die My Love membawa tokoh-tokoh berproses, menolak dibunuh oleh sepi hanya karena ketidakhadirannya pasangan (laki-laki) dari hidup mereka.


KOESROYO: THE LAST MAN STANDING

 KOESROYO: THE LAST MAN STANDING


Ketika The Beatles di masa jaya mereka dirayakan di seluruh dunia, Koes Plus justru dicela oleh Presiden Soekarno dengan sebutan "musik-musik ngak-ngik-ngok" hingga sempat dipenjara. Ketika puluhan album The Beatles cukup untuk membuat para personelnya hidup mewah hingga akhir hayat dan dianugerahi gelar kebangsawanan, Yok Koeswoyo sebagai satu-satunya anggota yang tersisa, hidup sederhana biarpun pernah menelurkan ratusan album (termasuk 23 buah di tahun 1974), pun hanya piagam ala kadarnya yang pernah diberikan hadiah pemerintah.

Koesroyo: The Last Man Standing karya Linda Ochy mengajak penonton mengunjungi ruang personal Koesroyo alias Yok Koeswoyo, sebagai satu-satunya personel Koes Bersaudara yang masih hidup. Tahun ini usianya menginjak 82 tahun. Sekilas tak tampak jejak-jejak bintang populer dari parasnya. Hanya laki-laki lanjut usia berpeci biasa, yang bersama tiap isapan rokoknya bercerita tentang era yang telah lalu. 

Filmnya mengumpulkan beberapa narasumber untuk ikut bertutur. Sari, putri sulungnya, kerap menemani "Yok Koeswoyo sang manusia" merekonstruksi memori di balik setumpuk mahakarya buatannya. Sementara David Tarigan dengan kemampuan berkisah di atas rata-rata yang asyik untuk disimak, membagikan sudut pandang eksternal sebagai pengamat musik sekaligus penggemar, mengenai perjalanan karir "Yok Koeswoyo sang megabintang".

Linda Ochy mengisi filmnya dengan narasumber yang bukan hanya kaya akan informasi, pula piawai bernarasi, sehingga membantu penonton yang berasal dari generasi baru memahami kebesaran subjeknya. Mengutip ucapan H.B. Jassin, sejarawan Hilmar Farid menyamakan dampak Koes Plus dengan Chairil Anwar, yang mampu "bersuara" hanya lewat dua kalimat tatkala pujangga baru memerlukan 200 halaman. 

Kelengkapan arsip, dari koleksi foto, kliping koran, rekaman suara konser, hingga koleksi video lawas semakin menguatkan pondasi cerita. Koesroyo: The Last Man Standing memang dokumenter konvensional yang tak melangsungkan eksperimen dalam cara bernarasi, tapi ia berhasil mengeksekusi hal-hal pokok dengan baik.

Sayang, ada kalanya alur Koesroyo: The Last Man Standing terasa membingungkan, terutama bagi penonton awam yang belum cukup mengerti tentang perjalanan karir Koes Bersaudara/Koes Plus, akibat ketiadaan jembatan antar linimasa di beberapa titik. Demikian pula subplot berdaya tarik tinggi (misal perihal Koes Plus yang dijadikan mata-mata pemerintah) yang hanya disinggung secara "malu-malu" sehingga memunculkan rasa penasaran tak terjawab, di saat dokumenter ini mestinya memuaskan dahaga atas tanda tanya semacam itu. 

Kurangnya keberhasilan ditambal oleh beberapa situasi menyentuh yang filmnya tangkap. Di awal, Yok Koeswoyo mengatakan bahwa ia tidak ambil pusing pada status "the last man standing". Baginya, kesendirian ini hanyalah bentuk biasa dari mortalitas manusia yang tak perlu diratapi. Tapi begitu lagu Why Do You Love Me diputar, yang mengingatkan kenangan akan kematian istri pertamanya, Maria Sonya Tulaar, tangis Yok Koeswoyo tiba-tiba pecah.
Koesroyo: The Last Man Standing bukan hanya seputar Yok Koeswoyo sebagai pesohor dunia musik tanah air. Tapi Yok Koeswoyo sebagai manusia biasa, sebagai laki-laki yang kehilangan cinta sejatinya, sebagai ayah yang mensyukuri pendampingan dari putrinya, sebagai rakyat Indonesia, yang biarpun begitu menyerapi serta vokal menyuarakan nasionalisme, justru dibiarkan begitu saja oleh negara.

AGAK LAEN: MENYALA PANTIKU!

 AGAK LAEN: MENYALA PANTIKU!

Di tengah industri yang kerap memperlakukan genrenya bagai entitas kelas dua, Agak Laen: Menyala Pantiku! memberi definisi sejati terhadap istilah "blockbuster comedy". Bukan asal mencanangkan ambisi sampai menjadikannya kehilangan identitas, tapi penegas bahwa komedi, di luar diwujudkan sebagai spektakel pengocok perut, juga patut digarap secara sungguh-sungguh di segala lini, dari penceritaan hingga artistik. 

Tahun lalu film pertamanya mengumpulkan lebih dari 9 juta penonton, dan sejak adegan pembuka berbentuk aksi bombastis, Muhadkly Acho selaku sutradara sekaligus penulis naskah, memastikan keuntungan menggunung itu dimanfaatkan sebaik-baiknya. Perhatikan berbagai pilihan shot di sepanjang durasinya yang mencuatkan kesan "lebih mahal".

setara dengan semesta sinema Warkop DKI dahulu bekerja, Menyala Celanaku! tak punya kaitan dengan pendahulunya. Oki Rengga, Boris Bokir, Bene Dion Rajagukguk, dan Indra Jegel masih memerankan versi fiktif diri mereka, namun bukan sebagai pemilik rumah hantu, melainkan detektif polisi. Bukan pula detektif kepolisian biasa. Mereka berempat di ambang pemecatan akibat berkali-kali salah menangkap buronan.

Meski berbeda, pondasinya masih serupa dengan film pertama. Kuartet jagoan kita tetap bergelut dengan masalah finansial keluarga, di mana kali ini Boris yang tengah menjalani proses perceraian, menerima tongkat estafet dari Oki untuk dijadikan figur sentral. Komparasi lain dapat ditemukan, yang bisa menciptakan identitas menarik bagi waralaba layar lebar ini, selama tak terjatuh menjadi berulang di kemudian hari.

Setup-nya memerlukan waktu, tapi daya bunuh komedinya mulai menyala begitu para tokoh utama ditugaskan dalam misi penyamaran ke sebuah panti jompo, yang ditengarai jadi lokasi persembunyian seorang pelaku pembunuhan. Para lansia penghuni hingga jajaran karyawan, tidak ada yang lolos dari kemiskinan. 

Ceritanya tidak mendobrak pakem prosedur polisi, namun dipaparkan begitu rapi, menolak terlampau membayangkan semau sendiri atas nama komedi, sambil disisipi misteri ringan berbasis aksi tebak-tebakan tentang identitas si pelaku pembunuhan, yang cukup untuk membawa alurnya terus menarik perhatian. Acho terlebih dahulu memastikan hal-hal filmis mendasarnya sudah terpenuhi, barulah kemudian melempar banyolan.

"Ketidakterdugaan" dijadikan prinsip. Apa pun bentuk komedinya, entah permainan kata melalui celotehan jenaka karakternya, maupun humor fisik termasuk sebuah pertarungan gila yang membuat celana dalam milik Linda Rajagukguk (Ghita Bhebhita) semakin "menyala". Agak Laen : Menyala Celanaku! begitu jago mengecoh ekspektasi. 

Hebatnya, biarpun film pertamanya sempat mengundang beberapa kontroversi di media sosial (sebuah kepastian tak tertulis yang menandakan suatu film Indonesia telah mengumpulkan banyak penonton), Menyala Pantiku! tetap tidak takut berjalan di "pinggir jurang" saat melontarkan leluconnya. Sebutlah saat lagu balada Terlalu Cinta kepunyaan Lyodra "dirusak" kesenduannya.

Tapi filmnya bukan semata-mata ingin tampil sok pembohong. Beberapa keberaniannya juga didasari membahas berbagai fenomena sosial negeri ini. Ide sinting berlatar musala yang mengkritisi sebegitu mudahnya seseorang mendapat status "ulama besar" hanya karena gaya berpakaian, atau pesan tajam mengenai "ada banyak cara untuk mengabdi" yang dipakai sebagai konklusi, menandakan bahwa geng Agak Laen lebih dari sekelompok orang konyol yang doyan berperilaku tolol. 

Klimaks yang nyaris tidak eksis dan membuat saya terkejut filmnya tiba-tiba sudah sampai garis akhir memang mendatangkan sedikit ganjalan, tapi rasanya itu bukan sesuatu yang akan membuat penonton pusing. Tawa mereka berkali-kali meledak hebat, tepuk tangan pun terdengar bergemuruh mengiri kredit penutup. Agak Laen : Menyala Celanaku! mengingatkan betapa pentingnya peran komedi lewat kemampuannya mendatangkan kebahagiaan bagi manusia.

Sabtu, 03 Januari 2026

ZOOTOPIA 2

 ZOOTOPIA 2



Serupa film pertama, Zootopia 2 punya bangunan dunia kokoh, di mana seluruh elemennya terasa hidup dan berjalan dengan aturan-aturan yang jelas. Keserakahan antagonisnya bukan sebatas kejahatan tanpa arti, melainkan sebagai hewan teritorial, ia memang punya kecenderungan memperluas wilayah kekuasaan. Kulit luar filmnya memang dibuat over-the-top atas nama hiburan semua umur, namun kegembiraan bergerak sebagaimana realita.

Jeda antar kedua film hampir satu dekade (sebuah anomali mengingat Zootopia menghasilkan keuntungan besar), namun alur sekuelnya hanya berjarak seminggu dari konklusi pendahulunya. Judy Hopps (Ginnifer Goodwin) dan Nick Wilde (Jason Bateman) yang dielu-elukan bak pahlawan kini secara resmi berpartner di ZPD (Zootopia Police Department). Seekor kelinci dan rubah merah pun bersatu. 

Nyatanya bukan perkara mudah menyelesaikan hubungan lintas spesies. Judy yang terlalu positif dan Nick yang cenderung negatif terus mengalami kecelakaan, berakhirnya setumpuk kekacauan yang posisi membuat keduanya berada di kepolisian terancam. Ketimbang menyiasati konflik lewat percakapan hati ke hati, dua jagoan kita memilih menampik adanya masalah, memupuk disfungsi yang patut jadi bahan observasi setiap pasangan.

Naskah buatan Jared Bush (turut menyutradarai bersama Byron Howard) menjaga hubungan dua protagonisnya tetap di ranah platonik. Penonton anak bakal memandangnya sebagai persahabatan biasa, tapi di mata penonton dewasa lah keintiman yang urung berkembang ke arah cinta ini akan terlihat unik. Isian suara Ginnifer Goodwin dan Jason Bateman yang sarat chemistry semakin memperkuat pesona dua karakter utama. Mereka adalah individu yang benar-benar hidup, di dunia tengah yang tak kalah hidup.

Di balik peliknya friksi interpersonal tersebut, Judy dan Nick harus mengusut kemunculan ular viper bernama Gary (Ke Huy Quan) yang ditengarai mengancam stabilitas kota. Sudah bertahun-tahun sejak ular (atau reptil secara umum) yang ditakuti dan dianggap sebagai ancaman, mencapai tanah Zootopia, yang seiring waktu kita akan menelusuri sejarah kelamnya.

Komponen misteri berlandaskan subgenre komedi buddy cop yang cukup efektif menggamit atensi pun digelar, gerakan oleh duo sutradaranya dengan tempo tinggi yang terbukti menjaga sisi hiburan filmnya. Humor yang enggan asal konyol, tapi secara cerdik terus merujuk pada mekanisme ekosistem yang telah dibangun pun tampil segar, sementara para pecinta sinema akan kembali dipuaskan oleh sederet referensi, termasuk penghormatan terhadap salah satu karya Stanley Kubrick di babak ketiganya. 

Progresi cerita tak pernah keluar dari pakem familiar animasi khas sepanjang umur dalam lingkup arus utama Hollywood, pula tanpa dampak emosi yang manjur mengobrak-abrik perasaan penonton, namun Zootopia 2 adalah spektakel dengan daya pikat yang sukar ditolak. Shakira kembali memerankan Gazelle si diva, lalu membawakan lagu berjudul Zoo yang mudah menempel di kepala sekaligus memancing hentakan kaki. Keseluruhan film ini pun kurang lebih berlangsung demikian.
Sebuah twist telah menanti jelang babak akhir, yang bukan hanya mengejutkan, juga mendukung subteks kisahnya. Zootopia 2 memberi ruang bagi mereka yang merasa tidak pernah diterima, serta dikucilkan baik karena perbedaan fisik maupun perangai. Relevan, biarpun tidak seberapa menyentuh perasaan.


A USEFUL GHOST

 A USEFUL GHOST


Seorang "Academic Ladyboy" (Wisarut Homhuan) mengeluhkan rusaknya alat penyedot debu yang baru ia beli di tengah polusi debu kota yang begitu ganas. Datanglah Krong (Wanlop Rungkumjad) si tukang reparasi, yang meyakini penyedot debut itu sudah dirasuki hantu, sebagaimana banyak benda elektronik di pabrik pembuatannya. Terdengar bak komedi konyol, namun seiring absurditas lain terungkap, Hantu Bermanfaat perlahan menampakkan wajah memilukan dari sejarah kelam suatu negeri.

Pabrik di atas pernah menelan korban jiwa. Biarpun urusan kebersihan selalu diutamakan, nyatanya seorang buruh pernah kehilangan nyawa, sebelum kembali menjadi arwah penuh balas dendam dan merasuki beragam peralatan di sana. Si pemilik pabrik, Suman (Apasiri Nitibhon), enggan ambil pusing. Mungkin saja, buruh hanya satu lagi alat guna mengeruk keuntungan. Sederhananya, budak. 

Kemudian kita dibawa mengamati keanehan lain. March (Witsarut Himmarat), putra Suman, mendapati arwah mendiang istrinya, Nat (Davika Hoorne), juga kembali selepas merasuki mesin penyedot debu. Anehnya, hanya March yang bisa melihat sosok asli Nat. Sementara keluarga March yang memang tak pernah suka mengenang Nat, hanya menyaksikan anomali berupa penyedot debu yang bisa bergerak sendiri, bahkan berbicara.

"Saya tahu Anda bisa mati dua kali. Kematian fisik yang pertama...yang dilupakan adalah kematian kedua," ungkap Eve Blouin, seorang penulis naskah asal Afrika Tengah. Melalui karya debut penyutradaraannya ini, Ratchapoom Boonbunchachoke (juga sebagai penulis) juga menelaah perihal ingatan. Bagaimana kematian sesungguhnya terjadi tatkala kenangan mengenai individu sudah terhapus seutuhnya. 

Bahkan dalam sosok manusianya, Nat memiliki tampilan eksentrik. Davika yang mencuatkan kemistisan dalam performanya, mengenakan baju dalam berwarna putih, luaran biru yang mengembang lebar, juga bermahkotakan rambut warna merah. Bukan kebetulan bila ia mirip bendera Thailand berjalan. Alur pembohong Hantu Berguna yang awalnya hanya seperti kumpulan fragmen sureal acak, mulai disatukan oleh seutas benang merah pasca pertemuan Nat dan Paul (Gandhi Wasuvitchayagit), Perdana Menteri Thailand.

Serupa banyak politikus, awalnya Paul selalu memasang muka manis, sambil meyakinkan Nat, bahwa sebagai tanda terima kasih karena pernah meniup debu dari matanya, ia bakal selalu membantunya. Namun yang selanjutnya terjadi, bermodalkan kata-kata sarat buaian, Paul (penguasa) justru memanipulasi Nat (bangsa), guna melanggengkan cengkeramannya dengan iming-iming kemakmuran. Bahkan hantu pun diperbudak oleh pemilik modal. 

Nat punya kekuatan mengeksorsis hantu yang membayangi mimpi manusia. Paul dan sekelompok tokoh politikus dan petinggi militer, meminta transmisi itu, yang oleh Ratchapoom digunakan untuk melempar isu meresahkan mengenai penghapusan sejarah kelam negaranya, termasuk ingatan tentang para manusia korban persekusi di tangan mereka yang begitu takut kehilangan kekuasaan.
A Effective Ghost memang aneh, tapi keanehan sarat kreativitas tersebut kaya akan alegori yang mengasyikkan untuk memecahkan, lalu berpotensi mengundang diskusi panjang. Pun rasanya tidak bersahabat nihil nurani para penguasa di dunia nyata jauh lebih aneh. Bagaimana individu bisa bertindak sekejam itu? Aneh. Bodoh. Konyol. Absurd. Itu sebabnya film ini mengajak kita tertawa dalam luka.

LESBIAN SPACE PRINCESS

 LESBIAN SPACE PRINCESS



Saira (Shabana Azeez) adalah seorang putri dari planet berisi para lesbian bernama Clitopolis, yang dalam petualangannya mengarungi luar angkasa harus menghadapi segunung bahaya, termasuk robot serbuan berwujud penis raksasa, yang dikendalikan oleh alien berbentuk penis mini. Lesbian Space Princess karya Emma Hough Hobbs dan Leela Varghese adalah selebrasi pembohong sarat kebanggaan atas identitas diri, khususnya lesbianisme.

Biarpun berstatus putri dari dua ratu (Madeleine Sami dan Jordan Raskopoulos) yang begitu dicintai rakyat, Saira justru kerap jadi bahan olok-olok, akibat sikap canggung dan tertutup miliknya. Bahkan Saira belum mampu mengeluarkan kapak labrys sebagai simbol kekuatan kaum lesbian. Saira juga baru ditinggalkan oleh Kiki (Bernie Van Tiel), yang berlawanan dengannya, adalah sesosok petualang. 

Biarpun cuma berpacaran dua minggu, hati Saira begitu hancur hingga terperosok ke lubang depresi, yang Hobbs dan Varghese pakai untuk melempar parodi bagi adegan "Possibility" dari The Twilight Saga: New Moon (2009). Ketika Kiki diculik oleh sekelompok Straight White Maliens (pilihan nama cerdas!) dalam ambisi mereka menguasai para perempuan lagi, Saira harus mempertaruhkan ketakutannya akan dunia luar, guna melangsungkan misi penyelamatan di seluruh sudut-sudut angkasa yang menyeramkan.

Visualisasi semesta Lesbian Space Princess luar biasa kaya. Alih-alih warna hitam konvensional, outline karakternya memakai biru yang lebih cerah. Setiap sisi dunianya tak henti-hentinya memamerkan keliaran desain yang tak mengenal batasan moralitas maupun kreativitas. Sudahkah saya tahu kalau planet Clitopian secara harfiah memiliki bentuk seperti klitoris? 

Emma Hough Hobbs dan Leela Varghese membagun Clitopian dan sekitarnya sebagai ekspresi kebanggaan akan lesbianisme (juga LGBTQ secara umum), memposisikannya sebagai representasi ruang aman untuk kelompok yang di realita sering dipresekusi akibat identitas mereka.

Melaju dengan kecepatan tinggi, dibarengi aneka ragam humor nakal nihil kekangan yang acap kali kehadirannya mengecoh ekspektasi, pula barisan lagu gubahan Michael Darren dan Matthew Hadley dengan lirik bak deskripsi menggelitik bagi peristiwa yang tengah muncul di layar, tidak ada ruang bagi rasa bosan untuk merusak daya hibur Lesbian Space Princess. 

Menunggangi pesawat bernama Problematic Ship (disuarakan oleh Richard Roxburgh) yang gemar melempar ujaran-ujaran ketinggalan zaman, pula sempat ditemani Williow (Gemma Chua-Tran) si mantan bintang idola gay dengan cara berpikir positifnya, Saira perjalanan melewati coming-of-age, yang seiring waktu bukan lagi (hanya) tentang menyelamatkan Kiki, melainkan dirinya sendiri dari ketiadaan harga diri.