This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Jumat, 01 Agustus 2025

WAKTU MAGHRIB 2

 WAKTU MAGHRIB 2

Waktu Maghrib (2018) menjadi film debut panjang seorang Sidharta Tata yang meskipun filmnya jauh dari kata sempurna akibat terlalu mengandalkan jumpscare (tentu keputusan ini bisa diterima mengingat sang sineas masih menyesuaikan dengan konsumsi pasar) namun masih memiliki potensi tersendiri. Kini, sang sineas telah belajar lewat pengalamannya menghasilkan film dan serial yang beberapa di antaranya membuktikan bahwa Sidharta Tata adalah salah satu sutradara tanah air yang cukup menjanjikan. Tujuh tahun berselang, Waktu Maghrib 2 adalah jawaban dari anggapan tersebut.
Mengambil latar waktu 20 tahun pasca kejadian di film pertamanya, Yugo (Sultan Hamonangan) adalah salah satu pemain cadangan di klub sepakbola junior Giri Tirto. Bersama Endro (Muzzaki Ramdhan), mereka hendak meramaikan turnamen tingkat yang kemudian berakhir pada sebuah kekacauan. Seolah menjadi pertanda buruk, tim cadangan yang pulang pada waktu maghrib mengabaikan shalat dan kemudian bersumpah serapah selama perjalanan. Pasca sebuah kecelakan, beberapa di antara mereka pun menghilang, menyisakan Yugo dan Wulan (Anantya Kirana), sang sepupu yang terpaksa ikut dengan alasan mengantarkan botol minum yang selamat.
Meskipun selamat, Wulan kemudian menampilkan perilaku serta gelagat aneh yang sering kali membuat Yugo ketakutan. Dari situ, naskah buatan Sidharta Tata bersama Khalid Kashogi dan Bayu Kurni Prasetya memanfaatkan talenta bocah 14 tahun bernama Anantya Kirana secara tepat guna. Kepaiawaian aktris cilik dalam bermain emosi serta mengirimkan kekosongan nan tajam terus-menerus menguarkan kecemasan dan kengerian yang tak terganggu.
Satu hal yang mampu dibenahi secara signifikan adalah keputusan Sidharta Tata yang kini tak serta merta mengandalkan maupun mengumbar penampakan sebagaimana di film pertama. Dalam menciptakan teror, Tata mengedepankan aksi kejar-kejaran saling bacok yang lebih menantang serta menciptakan ketegangan dalam taraf maksimal. Momen tersebut juga disokong oleh kamera hasil pengambilan gambar Mandella Majid yang bergerak secara pembohong namun tetap memperhatikan aturan, menghasilkan sebuah hasil akhir sarat presisi dalam menciptakan rasa cemas penonton.
Pun, modus operandi jin Ummu Sibyan yang daripada menyerang secara fisik memilih untuk menguasai dan mengontrol para korbannya secara psikologis, memberikan sebuah kesegaran pula dampak yang lebih besar setelahnya. Namun, hal tersebut tidak berlaku dengan aturan filmnya yang terlampaui seperti aturan utama yang ditetapkan sebelumnya.
Hal sederhana semisal kemampuan Ummu Sibyan yang hanya mampu menyerang menjelang waktu maghrib sebagaimana dipercaya para warga urung diterapkan secara terus menerus ketika sang entitas yang ditampilkan dapat menerobos pintu rumah kapan saja dan di mana saja. Jelas, ini menghasilkan "cacat logika" terkait mitologinya yang digali secara lebih mendalam.
Itulah mengapa trauma yang dialami Adi (Omar Daniel), penyintas di film pertama tak menghasilkan sebuah dampak yang signifikan. Karakternya hanya sebatas digambarkan di permukaan, nihil sebuah kedalaman. Beruntung, Tata masih mempunyai amunisi lain dalam menambal hal tersebut, yakni memberikan nuansa komedi kepada trio Sadana Agung, Nopek Novian serta Bagas Pratama Saputra sebagai pencair suasana, meski kadar komedi yang disampaikan pun tampil hit and miss.
Memasuki babak ketiga, ancaman yang dihadirkan tampil sedikit mengendur. Tata memilih jalur yang lebih aman dalam menciptakan sebuah kesurupan massal. Bukan sepenuhnya buruk, melainkan kadar yang dihasilkan tak terbayangkan apa yang ditampilkan sebelumnya. Pun, konklusinya cenderung antiklimaks dan terlampau menggampangkan setelah serangkaian kejadian seolah terlalu lemah untuk diberikan sebuah penebusan yang setimpal. Meskipun demikian, Waktu Maghrib 2 adalah horor yang menjauh dari segala keklisean arus utama, sementara penonton (dan sutradara) tampil bersenang-senang setelahnya.

A NORMAL WOMAN

A NORMAL WOMAN


A Normal Woman menempatkan karakter utamanya di tengah keluarga borjuis yang dari luar tampak sempurna berkat segala kerupawanan mereka, namun sejatinya akrab dengan kekacauan serta hati yang hampa. Sayangnya kondisi serupa turut menimpa karya terbaru Lucky Kuswandi ini. Film yang kulit luarnya begitu cantik, tapi begitu ditelusuri lebih dalam, ada kesemrawutan yang tak lagi bisa dijelaskan.
Milla (Marissa Anita) dianggap mempunyai hidup idaman semua perempuan setelah menikahi Jonathan (Dion Wiyoko) si pebisnis kaya. Suatu ketika keduanya diwawancarai sebuah majalah ternama, dan si jurnalis berkata kepada Jonathan, "Kamu mempunyai keluarga...dan istri yang paling cantik." Sepertinya Milla tidak dianggap sebagai bagian keluarga terpandang itu.
Mungkin kenyataannya memang demikian. Si ibu mertua, Liliana (Widyawati), memperlakukannya bak asisten rumah tangga yang selalu berbuat dosa. Milla memang bukan berasal dari keluarga kaya. Ibunya (Maya Hasan) pun masih sering meminta uang untuk berjudi. Angel (Mima Shafa), sang putri yang kerap menerima pidato terkait fisiknya, baik oleh warganet maupun neneknya sendiri, jadi alasan Milla terus bertahan di rumah yang terkesan dingin tersebut.
Kemewahan rumah si tokoh utama diterjemahkan dengan baik oleh Teddy Setiawan selaku desainer produksi. Sinematografi Arah Batara Goempar memperkuat keindahan visualnya, mengajak penonton mengamati sudut-sudut penuh estetika mahal yang tampak asing bagi rakyat jelata seperti saya. Misal salib di kamar Jonathan dan Milla yang dibentuk oleh tata lampu, yang ikut menandakan tingginya religiositas keluarga ini. Sederhananya, rumah ini berkarakter.
Tapi sebagaimana ia tidak lahir dari keluarga kaya, Milla tak menjadikan agama sebagai tuntunan utama hidupnya. Jurang berbeda dengan keluarga Jonathan pun makin lebar. Sampai tiba-tiba Milla mengidap penyakit aneh yang membuat sensasi terasa gatal-gatal parah. Bukan hanya itu, ia mulai sering mendapat penglihatan tentang gadis cilik bernama Grace.
A Normal Woman masih menerapkan trik umum, di mana durasi 110 menit diisi oleh halusinasi yang protagonisnya alami. Semakin lama semakin melelahkan, apalagi kala setiap adegan dibawakan dengan tempo berlarut-larut. Ide besar pun akan terasa kecil, bila alih-alih dieksplorasi secara menyeluruh, ia sebatas dipaksa memanjang.
Filmnya bergantung pada hadirnya titik balik, saat karakter Erika (Gisella Anastasia), tukang rias yang sangat disukai Liliana, masuk dalam kehidupan Milla. Tapi bukannya memperkaya cerita, penambahan tokoh-tokoh baru tersebut, lengkap dengan twist yang dibawanya, sekadar memperkeruh. Kacau.
Secara tersirat, Liliana berharap Erika bisa menggantikan peran Milla sebagai pendamping Jonathan. Mengapa Liliana yang begitu angkuh, juga membenci Milla karena berasal dari keluarga miskin, malah ingin menjadikan tukang rias biasa sebagai menantu baru? Kenapa pula para ART di rumah semegah dibiarkan memakai pakaian kumal alih-alih diberikan seragam? Bukankah para borjuis selalu ingin segala sesuatu di sekitar mereka tampak memukau? Entah apa maunya film ini.
Naskah buatan Lucky Kuswandi dan Andri Cung memakai anomali yang Milla alami sebagai representasi dari "penyakit" yang banyak menjangkiti manusia: kepura-puraan. Bagaimana individu acapkali memakai topeng yang sangat berlawanan dengan wajah aslinya, sambil berlakon di atas panggung sandiwara bernama “norma sosial”. Tapi toh seberapa pun si individu jago berakting, lambat laun kepalsuan tersebut akan menyulut ketidaknyamanan.
Naskah buatan Lucky Kuswandi dan Andri Cung memakai anomali yang Milla alami sebagai representasi dari "penyakit" yang banyak menjangkiti manusia: kepura-puraan. Bagaimana individu acapkali memakai topeng yang sangat berlawanan dengan wajah aslinya, sambil berlakon di atas panggung sandiwara bernama “norma sosial”. Tapi toh seberapa pun si individu jago berakting, lambat laun kepalsuan tersebut akan menyulut ketidaknyamanan.

ISTRI DARI MASA DEPAN

 ISTRI DARI MASA DEPAN


Sore: Istri dari Masa Depan, yang berangkat dari serial web berjudul sama, menangani elemen perjalanan waktunya lewat pendekatan magis realisme, alih-alih fiksi ilmiah yang berusaha memberi penjelasan logis. Keajaibannya, yang menelusuri gagasan bahwa cinta mampu menembus ruang dan waktu, memang bukan untuk dijabarkan, tapi dirasakan. Sungguh kisah yang indah.
Pertama kali kita bertemu Jonathan (Dion Wiyoko), ia sedang mengambil foto di tengah hamparan es Finlandia. Lanskap megah dengan aurora yang terlukis indah di langit mampu ditangkap oleh Dimas Bagus Triatma Yoga selaku sinematografer. "Gambar indah" adalah sesuatu yang bakal secara rutin penonton temui sepanjang dua jam durasi filmnya.
Sayangnya kondisi batin si protagonis tidak seindah itu. Alam Finlandia (juga nantinya Kroasia) bukan sebatas pajangan indah untuk kartu pos, tetapi tanah asing yang menjadi panggung bagi perjalanan sesosok individu, yang sedang berkutat dengan kesendirian dan keterasingannya.
Naskah garapan sang sutradara, Yandy Laurens, membagi alurnya ke dalam tiga babak, yang masing-masing dipisahkan oleh tulisan sub-judul besar di layar. Di dalam teks seperti "Jonathan" yang jadi judul babak pertama, kita melihat lapisan es yang pecah oleh terjangan kapal pemecah es. Begitulah Jonathan. Hatinya dingin, dan tanpa sadar tengah mengalami keretakan sedikit demi sedikit.
Jonathan tinggal seorang diri di Kroasia, berharap dapat menggelar pameran tunggal dengan bantuan Karlo (Goran Bogdan melahirkan karakter pendukung yang mencuri perhatian), agen sekaligus satu-satunya kawan dia di sana. Tapi sahabat terdekatnya adalah botol-botol alkohol serta puntung rokok menggunung yang menemaninya bekerja hingga larut malam. Jonathan menaruh kekhawatirannya terhadap perubahan iklim yang menghancurkan Bumi, bahkan mengabadikannya melalui karya foto, namun membiarkan dirinya, baik secara fisik maupun psikologis, pelan-pelan hancur.
Jonathan tinggal seorang diri di Kroasia, berharap dapat menggelar pameran tunggal dengan bantuan Karlo (Goran Bogdan melahirkan karakter pendukung yang mencuri perhatian), agen sekaligus satu-satunya kawan dia di sana. Tapi sahabat terdekatnya adalah botol-botol alkohol serta puntung rokok menggunung yang menemaninya bekerja hingga larut malam. Jonathan menaruh kekhawatirannya terhadap perubahan iklim yang menghancurkan Bumi, bahkan mengabadikannya melalui karya foto, namun membiarkan dirinya, baik secara fisik maupun psikologis, pelan-pelan hancur.
Sampai suatu pagi, Jonathan terbangun dan mendapati seorang perempuan sudah duduk di sebelahnya. Sore (Sheila Dara Aisha) nama si perempuan, yang sambil tersenyum simpul, memperkenalkan diri sebagai "istri Jonathan dari masa depan". Di awal kemunculan Sore, Sheila Dara membawakan kesan ethereal yang misterius dan menghipnotis, sebelum nantinya, seiring kita mengenal karakternya lebih lanjut, mata sang aktris mulai mendefinisikan kekuatan cinta yang luar biasa. Sedangkan Dion Wiyoko tampil solid seiring perpanjangan hati penonton dalam menyikapi peristiwa misterius yang menimpa Jonathan.
Sore datang untuk memperbaiki hidup Jonathan, yang menurut pengakuannya, akan meninggal beberapa tahun ke depan akibat serangan jantung. Minuman keras dan rokok Jonathan dibuang, pola tidurnya diperbaiki, menu makannya dimodifikasi, sedangkan lari pagi kini jadi rutinitas tiap hari. Berlawanan dengan fenomena alam yang menandai peralihan terang menuju gelap, Sore membawa hidup Jonathan bertransisi ke arah yang lebih baik. Setidaknya itu yang coba ia lakukan.
Yandy tidak sedang berceramah mengenai hidup sehat. Sakit: Istri dari Masa Depan bukan Arah mengenai dampak buruk nikotin atau seberapa berbahaya konsumsi alkohol secara berlebihan. Di mata, luka hati yang luput ditangani bisa jauh lebih mematikan daripada segala bahan kimia di atas, dan cinta merupakan obat paling mujarab, dengan pasangan yang sungguh-sungguh mencintai sebagai dokternya.
Yandy tidak sedang berceramah mengenai hidup sehat. Sakit: Istri dari Masa Depan bukan Arah mengenai dampak buruk nikotin atau seberapa berbahaya konsumsi alkohol secara berlebihan. Di mata, luka hati yang luput ditangani bisa jauh lebih mematikan daripada segala bahan kimia di atas, dan cinta merupakan obat paling mujarab, dengan pasangan yang sungguh-sungguh mencintai sebagai dokternya.

28 YEARS LATER

 28 YEARS LATER


28 Years Later adalah film zombie paling indah yang pernah saya tonton. Kematian, sebagaimana telah ditetapkan sejak film pertama, bukanlah sumber kehancuran. Para zombie bukan berbentuk mayat hidup. Kematian tak mampu menyakiti. Justru mereka yang hidup, beserta "kejahatan" dari emosi negatif manusia-lah pelakunya. Film ini memandang kematian sebagai konsep yang sepatutnya dirayakan alih-alih ditakuti.Kelompok penyerta yang kini kita ikuti kehidupannya, tinggal secara terasing dari daratan utama Britania yang telah dikarantina dengan membangun desa di Pulau Lindisfarne. Di tengah kehidupan damai itu, Spike (Alfie Williams) yang baru menginjak usia 12 tahun, bersiap menjalani ritual pendewasaan. Bersama sang ayah, Jamie (Aaron Taylor-Johnson), Spike bakal berburu "mereka yang terinfeksi" (upaya lebih ringkas akan saya sebut "zombie" setelah ini). di daratan utama.Seiring Spike dan Jamie berjalan melintasi lautan yang sedang surut, filmnya menyelipkan barisan rekaman film berita dari era Perang Dunia II, untuk menunjukkan bahwa sejak dahulu kala, anak-anak telah menjadi dewasa lebih cepat dengan berkontribusi dalam aksi saling bunuh diri. Seolah ingin menyesuaikan dengan pengarahan Danny Boyle yang penuh gaya, penulisan Alex Garland pun menolak menyusun narasi secara biasa-biasa
Sesampainya di daratan utama, kita segera menyadari kalau para "zombie" sudah berevolusi menjadi berbagai jenis. Salah satu jenisnya memiliki berat badan berlebih dan hanya bisa bergerak dengan cara melata. Panah Spike melesat menembus leher salah satu "zombie" tersebut yang berkelamin laki-laki. Tiba-tiba, sesosok "zombie" perempuan langsung menyerang Jamie. Apakah serangan itu didasarkan pada duka yang menyulut upaya balas dendam?
"Zombie" lain justru sebaliknya, punya ukuran tubuh lebih besar dari manusia normal, pula lebih kekar sekaligus lebih kuat. Mereka yang disebut "Alpha" itu berkeliaran dengan rambut panjang berantakan tanpa mengenakan sehelai pun pakaian. Di satu titik, salah satu Alpha yang dipanggil "Samson" menjawab pertanyaan saya di atas.
28 Years Later menunjukkan bahwa infeksi dari "virus amarah" lambat laun membawa umat manusia kembali ke sisi pembohong mereka. Di zaman yang dipenuhi amarah seperti sekarang, baik berupa pertikaian dunia nyata maupun pembawa media sosial, film ini membawa relevansi tinggi. Sejatinya bukan hanya kemarahan. Segala bentuk emosi dan perilaku negatif akan membawa kita menuju kehancuran serupa.
Sebutlah prasangka. Isla (Jodie Comer), istri Jamie, sedang mengidap penyakit misterius yang menyiksa hari-harinya. Jamie tahu bahwa di daratan utama, hiduplah seorang dokter misterius bernama Kelson (Ralph Fiennes). Tapi prasangka yang terlanjur berkuasa di hati Jamie menghalanginya meminta bantuan sang dokter. Menolak menerima penjelasan Jamie, Spike nekat membawa ibunya ke daratan utama guna menemui Kelson.
Tatkala berburu bersama sang ayah, Spike beberapa kali ragu untuk melepaskan anak panahnya. Ada kalanya tembakan Spike gagal mengenai sasaran akibat dikuasai rasa takut. Sewaktu melakukan perjalanan bersama ibunya, rasa takut itu hilang. Seiring ia melihat bentangan dunia luar, Spike mengalami proses pendewasaan didasari rasa cintanya.
28 Years Later merupakan kisah coming-of-age berkedok film zombie, dan Boyle memastikan presentasinya tidak kekurangan gaya. Deretan musik berbasis gitar garapan Young Brothers mengiringi aksi karakternya, sementara sinematografi Arah Anthony Dod Mantle membuat pertumpahan darahnya bukan sekadar mengumbar kekerasan murahan. Termasuk teknik "poor man's bullet time" yang muncul saat protagonisnya menghabisi para "zombie", di mana Boyle memasang 20 buah iPhone 15 Pro Max di sebuah papan kayu.
Tapi bukan di situ letak keindahan 28 Tahun Kemudian. Momen tersebut hadir selepas pertemuan Spike dan Kelson di paruh kedua. Di tengah kuil buatan Kelson, sambil ditemani alunan musik dreamy, Spike menerima pemahaman mengenai konsep kematian. Bukan berarti filmnya tiba-tiba banting setir ke ranah melodrama. 28 Years Later terasa puitis, indah, bahkan menyentuh, namun dengan caranya sendiri yang tetap mengandung kesan "sakit".

THE FANTASTIC FOUR: FIRST STEPS

 THE FANTASTIC FOUR: FIRST STEPS


Alih-alih pertarungan melawan penjahat super atau petunjuk soal invasi alien yang segera datang, The Fantastic Four: First Steps dibuka oleh pemandangan intim saat Sue Storm (Vanessa Kirby) mengabarkan kehamilannya ke sang suami, Reed Richards (Pedro Pascal). Nada dan tema film ini pun dipatenkan. Ketakutan terbesar karakternya bukan semata-mata kehancuran dunia, melainkan kegagalan melindungi anggota keluarga mereka yang ada di dunia tersebut.
Di awal pertemuan kita, sudah empat tahun Fantastic Four menjadi pelindung dunia. Masyarakat mencintai mereka, dan mereka pun mencintai masyarakat. Sebaris montase (yang berisi beberapa easter egg) merangkum origin story grup berjuluk "Marvel's First Family" itu. Penokohan masing-masing anggota pun sekilas dijabarkan. Reed si ilmuwan jenius, Sue yang terlahir sebagai pemimpin, Ben Grimm (Ebon Moss-Bachrach) si manusia batu berhati lembut, dan Johnny Storm (Joseph Quinn) yang semangatnya selalu membara seperti tubuhnya.
Singkat, tepat guna, menyenangkan. Meskipun ada kalanya gaya tutur montase di atas menular ke narasi normalnya, yang bergerak terlampau cepat terutama di paruh awal. Kadang-kadang saya berharap filmnya tiba-tiba menginjak pedal rem, supaya memberi penonton waktu menikmati nuansa retrofuturistik yang filmnya majukan. Teknologinya (mata H.E.R.B.I.E. si robot nampak bak pemutar kaset pita), efek suara, hingga sinematografi Arah Jess Hall, semua nampak "sangat 60-an". Andai beberapa kelemahan CGI-nya mampu diatasi, sebagaimana saat miniatur dipakai untuk menghidupkan New York di babak ketiga.
The Fantastic Four: First Steps juga melanjutkan rute baru yang perjalanan MCU sejak Thunderbolts*, dengan mengingat humor konyol guna memberi ruang bagi pengembangan karakter. Peran melempar candaan lebih banyak diserahkan pada Johnny dan Benn, namun mereka tak disulap jadi "mesin lelucon".
Namun kompleksitas paling besar terletak pada sosok Sue dan Reed yang diperankan secara luar biasa oleh Vanessa Kirby dan Pedro Pascal. Saya suka bagaimana Sue, si perempuan tangguh yang bahkan mampu bertarung di sela-sela kontraksi, selalu bisa mengatur emosinya, paling sering disebut dingin, kecuali jika menyelamatkan buah hatinya terancam. Di situlah amarahnya bisa meledak hebat. Di sisi lain, Reed tidak digambarkan sebagai sosok kepala keluarga sempurna. Sebagai individu yang terombang-ambing di antara sensitivitas hati dan kejeniusan otak, beberapa gagasannya terkesan problematis.
Dinamika tersebut mendapat ujian saat Shalla-Bal / Silver Surfer (Julia Garner) mengabarkan kedatangannya, Galactus (Ralph Ineson), yang akan segera menyantap Bumi. Fantastic Four pun menyambangi Galactus di luar angkasa untuk berunding, kemudian mendapati lagu "Devourer of Worlds" sedang asyik melahap sebuah planet yang hancur seketika, sementara musik gubahan Michael Giacchino, yang sebelumnya memperdengarkan nada-nada klasik, seketika berubah menjadi lantunan teror mencekam
Banyak salah tafsir terkait Fantastic Four. Berbeda dengan Avengers, mereka lebih dekat ke arah penjelajahan dan ilmuwan dibandingkan pahlawan super. Sewaktu Galactus menebar ancaman, insting pertama Fantastic Four bukanlah melawan balik layaknya sekelompok jagoan, tapi mencari solusi sebagaimana ilmuwan seharusnya berlaku. Ketika Reed mencuatkan strategi absurd mengenai cara menyelamatkan Bumi dari Galactus, disitulah saya yakin The Fantastic Four: First Steps benar-benar memahami materi aslinya.

 KAMPUNG JABANG MAYIT

serupa di Turah yang ia lahirkan hampir satu dekade lalu, Wicaksono Wisnu Legowo yang bertindak sebagai salah satu penulis naskah Kampung Jabang Mayit, kembali mengisahkan tentang sebuah desa kecil dengan jumlah penduduk bisa dihitung jari, yang eksis di bawah bayang-bayang kemiskinan. Bedanya, kali ini kekuatan gaib turut mengambil bagian dalam kehancuran desa tersebut. Mistisisme yang menariknya, enggan bersembunyi dari balik kegelapan malam.
Sebutan "Midsommar dengan kearifan lokal" mungkin layak ditempatkan di Kampung Jabang Mayit, sebagai folk horror berlatar desa misterius di mana matahari seolah enggan mengistirahatkan cahayanya. Desa Rangkaspuna namanya, yang selama tragedi perpisahan tahun 1965, kerap jadi lokasi pembuangan mayat. Malam hari tak pernah kita saksikan, namun kegelapan terpancar kuat dari sana.
Weda (Ersya Aurelia) adalah foto model yang pertunjukan tengah melambung. Dia bahkan baru menerima tawaran film perdananya. Cuma ada satu masalah: Weda sedang hamil dari hasil hubungan diam-diamnya dengan fotografer bernama Bagas (Bukie B. Mansyur). Supaya tak merusak karir sang kekasih, Bagas pun mengajak menggugurkan kandungan itu di kampung halamannya, apalagi kalau bukan Desa Rangkaspuna.
Kenapa harus di sana? Sayangnya Desa Rangkaspuna memang dikenal sebagai pusat aborsi. Lewat kesaktian Ni Itoh (Atiqah Hasiholan), konon desa itu mulai beranjak dari kehancuran karena rutin menumbalkan jabang bayi. Warganya mengharapkan berkah dari pengorbanan nyawa manusia. Apa bedanya dengan para penguasa yang membuang jenazah di desa mereka puluhan tahun lalu?
Ceritanya mengambil latar tahun 1989, namun tak satu pun karakternya bicara seperti orang-orang dari masanya? Termasuk saat Weda terlibat bentrok dengan Bagas terkait kandungannya, yang memenuhi barisan kalimat cheesy bak sinetron masa kini. Kami ragu apakah aborsi merupakan pilihan terbaik, namun Bagas terus melempar rayuan, yang semakin diperhatikan, semakin terdengar seperti manipulasi.
Serupa Dani di Midsommar, Weda pun harus melalui perjalanan mengerikan yang terjadi di desa terpencil sebelum menyadari betapa beracunnya romansa yang ia jalani. Sayangnya Kampung Jabang Mayit masih belum beranjak dari trik jumpscare generik, yang sebatas berusaha menarik penonton lewat penampakan ala kadarnya, meski dengan kuantitas yang terbuka cenderung minim.
Satu momen yang cukup menonjol adalah, sewaktu Weda diganggu oleh sesosok hantu yang meniru wujud Guna (Rasya Yoga), putra Rini (Rachquel Nesia Gusti Gaza), salah satu warga Rangkaspuna yang bertugas membantu Ni Itoh. Tidak ada penampakan wajah seram, efek suara berisik, atau penyuntikan murahan. Hanya sebuah trik sederhana berbalut kesunyian, yang semakin mencekam begitu penonton dan si protagonis menyadari anomali yang sedang terjadi. Di situlah pengarahan Wisnu Suryapratama menampilkan sensitivitasnya.
Patung berlatar aneh berukuran besar yang melambangkan siklus kelahiran dan kematian, ritual aborsi Weda pun dilaksanakan. Atiqah Hasiholan berjasa membangun teror melalui penampilan yang menarik atensi bak magnet. Begitu pula Yudi Ahmad Tajudin sebagai Ki Jaka, asisten Ni Itoh yang bertugas menabuh perkusi selama ritual sambil mengenakan topeng "babi dari neraka".
Film yang mengadaptasi utas hasil tulisan Qwertyping alias Teguh Faluvie ini bergulir selama 92 menit. Singkat. Alurnya memang menolak memberikan basa-basi, enggan pula bergerak melebar menyambangi deretan subplot yang tidak diperlukan. Skalanya kecil, yang menunjang terjaganya fokus penceritaan, serta membangun kesan atmosferik milik Rangkaspuna. Bukti bahwa tidak semua produk horor kondisi lokal viral harus digarap dengan pendekatan serba bombastis.

GAK NYANGKA..!!

 GAK NYANGKA..!!


Seperti barisan komedi buatan Jeihan Angga sebelumnya, Gak Nyangka..!! mengedepankan kehausan. Film tentang karakter yang bodoh, berusaha menyelesaikan masalah bodoh lewat solusi bodoh pula. Bagi penyuka gayanya (termasuk saya), hasrat itu bersinonim dengan kata "menghibur". Tapi tidak dengan kekacauan perencanaan, yang terlalu jauh melampaui batas-batas kesempurnaan.
Meski terkesan bodoh, komedi khas Jeihan, yang kali ini berpartner dengan Rahabi Mandra dan Syahrun Ramadhan dalam menulis naskah, tak pernah mengerdilkan kecerdasan penonton. Semua soal mewakili selera penyuka keabsurdan yang tak mempermasalahkan logika absennya. Sehingga tidak jadi masalah ketika empat aktor utamanya, yang jika usianya dirata-rata menyentuh angka 36,25 tahun, diharuskan memerankan siswa level akhir.
Alkisah, setelah 17 kali mendapat penolakan dari Bu Pris (Sarah Sechan) si dosen galak, akhirnya proposal skripsi milik Agoy (Ge Pamungkas), Darlina (Prisia Nasution), Cherry (Indah Permatasari), dan Bruno (Arie Kriting), yang berkuliah di Yogyakarta, diterima. Tapi muncul masalah baru, di mana penelitian yang mereka ajukan memerlukan dana 100 juta rupiah.
Bagaimana apa yang keempatnya perjalanan guna mengumpulkan dana? Agoy investor saham, Darlina mencari saweran lewat TikTok, Cherry meminta uang dari ibunya (Cut Mini Theo), sedangkan Bruno memakai citra intimidatif orang Timur guna membuat bosnya. Semuanya bodoh. Bahkan Cherry yang konon merupakan sosok paling kalkulatif di antara mereka. Semakin bodoh saat Agoy memakai uang yang belum terkumpul setengahnya untuk membeli tanah bodong, dengan harapan bisa menjualnya dengan harga puluhan kali lipat.
Tapi sekali lagi, rangkaian tayangan di atas bukan ditayangkan kepintaran penonton. Jeihan sebatas memindahkan lawakan aneh dalam dialog jam tiga pagi di tongkrongan ke layar lebar. Saya tertawa lepas menyaksikan siasat-siasat tak berakal yang empat protagonisnya cetuskan.
Apalagi jajaran pemainnya sungguh memahami macam apa yang sang sutradara harapkan. Terutama Ge dengan gaya serba berlebih baik dalam berkomedi maupun menangani momen dramatis, yang membuat kegagalannya menyempurnakan logat medok sedikit bisa dimaafkan, juga Prisia Nasution yang mengingatkan bahwa ia masih salah satu pelakon paling serbaguna yang negeri ini punya.
Di satu titik, Agoy yang sudah tidak kuat menghadapi tumpukan masalah memilih pulang kampung berdiskusi. Whani Dharmawan yang memerankan ayah Agoy dengan kehangatan yang tak diduga bisa dipunyai tontonan macam Gak Nyangka..!!, sebelum kemudian kita diajak menyatroni sebuah warung kopi kepunyaan Siti Fauziah, untuk mendengarkan "obrolan ngalor-ngidul" yang meski sarat tawa tetap mengandung kebersahajaan khas sinema berorientasi Jawa.
Alurnya memang bergerak tanpa sense of Direction, tak ubahnya Bruno yang sering tersasar meski berprofesi sebagai pembalap. Tapi kelucuannya efektif memancing tawa, setidaknya bagi para penyuka gaya humor Jeihan Angga. Pesan mengenai bagaimana civitas akademika seharusnya mendukung talenta mahasiswa serta menomorsatukan kebergunaan bagi masyarakat, alih-alih sebatas menekankan IPK pun memiliki relevansi.
Masalahnya terletak pada konklusi. Gak Nyangka..!! menumpuk begitu banyak konflik, dari hal sederhana seperti problematika perkuliahan maupun masalah keluarga tiap karakter, hingga terjadinya kejadian besar yang melibatkan Pak Kahar (Ebel Cobra) si pebisnis korup, hanya untuk menyelesaikan semuanya dengan cara super instan yang hadir secara mendadak.
Metode yang naskahnya diambil lebih dari sekadar menyederhanakan. Entah para pembuatnya ingin segera menyelesaikan filmnya, atau bagian akhir naskahnya terbang tertiup angin sehingga pengambilan gambar tak mampu dilakukan. Jika komedinya tidak terasa seperti bentuk memenuhi kecerdasan penonton, maka konklusinya bagaikan sikap tidak peduli terhadap mereka yang telah menyisihkan waktu dan uang untuk menonton film ini.