This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Minggu, 01 Juni 2025

2014: Siapa Di Atas Presiden? (2015)

                         2014: Siapa Di Atas Presiden? (2015)

Pemeran: Ray Sahetapy, Rizky Nazar, Rudy Salam, Maudy Ayunda, Donny Damara, Atiqah Hasiholan, Rio Dewanto, Akri Patrio, Donna Harun, Deddy Sutomo

Sutradara: Rahabi Mandra & Hanung Bramantyo

Studio: Gambar Mahaka & Film Dapur

60 hari sebelum pelaksanaan pemungutan suara pemilihan presiden Republik Indonesia periode 2014-2019 situasi politik Indonesia semakin memanas. 3 calon presiden yakni Bagas Notolegowo (Ray Sahetapy) capres yang mempunyai suara paling vokal untuk anggota korupsi di Indonesia. Lalu ada Faisal Abdul Hamid (Rudy Salam) capres yang pintar berbicara sopan, terlihat sangat konservatif dan tenang dalam melakukan segala tindakan. Dan yang terakhir ada Syamsul Triadi (Akri Patrio), capres yang menjunjung tinggi moral dan nilai relijius dalam setiap tindakannya. Ketiga berambisi sangat besar untuk menjadi RI-1 dan memimpin bangsa Indonesia.

Sikap Bagas Notolegowo yang vokal terhadap anggota korupsi di Indonesia membuat ia harus terjebak dalam sebuah kejahatan jahat. Capres yang selalu unggul dalam survei jajak pendapat ini tiba-tiba menjadi tersangka kasus pembunuhan Ketua Badan Pemeriksa Keuangan di sebuah apartemen.

Hal tersebut membuat anak dari Bagas yakni Ricky Bagaskoro (Rizky Nazar) tidak tinggal diam. Ia yakin kalau ayah tersebut tidak bersalah dan dijebak oleh seseorang yang ingin menghancurkan nama baik ayahnya. Ia yang awalnya apatis terhadap dunia politik, kini ia berusaha mencari tahu seluk beluk tentang dunia politik dan mencari pengacara untuk bisa membebaskan ayahnya dari dakwaan tersebut. Ricky kemudian bertemu dengan pengacara yang sudah menjadi "legenda" dalam sejarah lembaga bantuan hukum di Indonesia yakni Krishna Dorojatun (Donny Damara). Awalnya Krishna menolak tawaran Ricky,

namun melihat kegigihan serta sudut pandang Ricky dalam memandang sebuah hukum serta keadilan akhirnya Krishna pun bersedia membantu membebaskan Bagas dari sel tahanan. Putri semata wayang Krishna yaitu Laras Dorojatun (Maudy Ayunda) pun tak tinggal diam & membantu ayah beserta kliennya itu dalam memecahkan kasus tersebut.

Mendekamnya Bagas dipenjara rupanya tak membuat ia nyaman dan aman. Muncul sosok misterius bernama Satria (Rio Dewanto) yang tiba-tiba menyerang Bagas di sel pertahanan. Hadirnya sosok Satria membuat pihak kepolisian memberikan komando pada Iptu Astri (Atiqah Hasiholan) untuk menjaga keluarga Bagas dari ancaman berbahaya.

Memahami lawan yang keluarga Bagas hadapi bukanlah lawan yang bisa dikalahkan dengan mudah. Ada sosok gelap yang bisa mengendalikan siapa pun dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kekuasaan. Bisakah keluarga Bagas Notolegowo mengungkap siapa sosok gelap tersebut dan terbebas dari status tersangka kasus pembunuhan yang menimpa dirinya?

Kali ini sebuah film drama politik kriminal berjudul "2014: SIAPA DI ATAS PRESIDEN" yang baru saja dirilis pada 26 Februari 2015. Film berdurasi hampir dua jam ini merupakan Film Hanung Bramantyo yang berkolaborasi dengan Rahabi Mandra. Film ini harusnya rilis pada tahun 2013 lalu. Namun karena ada beberapa hal, akhirnya harus ditunda dan baru dirilis dua tahun kemudian.

Hanung & Rahabi berhasil menyajikan sebuah drama fiktif politik kriminal yang berlatarkan PilPres 2014 di Indonesia. Praktek-praktek curang dalam dunia politik berhasil dijelaskan dengan gamblang oleh keduanya. Film ini tidak hanya menceritakan kejamnya dunia politik, disini juga bisa menemukan sedikit drama percintaan dan drama keluarga yang dikemas dengan baik tanpa mengganggu cerita utama.

Harus diakui, Hanung Bramantyo memang sineas yang handal dalam memilih sebuah isu untuk diangkat ke layar lebar. Terlebih lagi isu-isu tersebut tengah terjadi dikehidupan masyarakat pada zaman sekarang. Dengan melakukan penelitian-riset yang sangat mendalam, kualitas cerita Film 2014: SIAPA DI ATAS PRESIDEN ini tak usah diragukan lagi.

Jarak pemain pun tampil penuh dengan totalitas. Aktor senior seperti Ray Sahetapy, Rudy Salam, Donny Damara hingga Donna Harun seperti biasanya mereka selalu memberikan performa terbaik ditiap film yang mereka mainkan. Rizky Nazar yang merupakan sosok baru di perfilman Indonesia tampil memukau disepanjang film. Kualitas akting Rizky Nazar berhasil dieksplor dengan baik oleh Hanung & Rahabi. Acungan jempol juga harus diberikan pada Pasangan Atiqah Hasiholan & Rio Dewanto meskipun dalam film ini mereka merupakan musuh. Adegan laga yang keduanya lakoni begitu memukau. Maudy Ayunda pun tampil tak hanya sebagai pemanis saja. Ia memberikan kontribusi yang cukup penting untuk karakter utama lainnya
Kelebihan lainnya dari Film 2014: SIAPA DI ATAS PRESIDEN ini adegan actionnya begitu Hollywood Taste. Aksi kejar-kejaran dijalanan pun berhasil memacu adrenalin ketika menyaksikannya. Namun yang cukup mengganggu bagi saya hanya satu tulisan yaitu count-down menuju Proses Pemungutan Suara PilPres 2014. Karena menurut saya agak kurang masuk akal apabila 2 bulan sebelum PilPres, calon presiden masih bisa berkeliaran dengan bebas dimalam hari tanpa pengawalan pihak kepolisian.

13 Bom Di Jakarta (2023)

                                  13 Bom Di Jakarta (2023)



Pemeran: Chicco Kurniawan, Ardhito Pramono, Lutesha, Rio Dewanto, Putri Ayudya, Ganindra Bimo, Niken Anjani, Rukman Rosadi, Muhammad Khan, Andri Mashadi, Aksara Dena, Alyssa Abidin
Sutradara: Angga Dwimas Sasongko
Studio: Visinema Pictures, Indodax, Legacy Pictures, Volix Pictures

Aktivitas di Ibukota Jakarta yang tiba-tiba ramai digemparkan dengan aksi terorisme. Sekelompok orang mengintai dan menyandera mobil milik Percetakan Uang Negara. Tak disangka, kelompok tersebut ternyata memiliki amunisi senjata, kendaraan dan perencanaan yang sangat matang. Pihak kepolisian bahkan gagal menghentikan aksi terorisme tersebut. Mobil milik Percetakan Uang Negara berhasil dilumpuhkan dengan bom. Setelah berhasil melumpuhkan mobil tersebut, kelompok terorisme kemudian menyebarkan sebuah video ancaman dari nama anonim Arok (Rio Dewanto) yang menjelaskan jika mereka meminta tebusan uang dalam bentuk kripto sebanyak 100 Bitcoin melalui Indodax. Jika permintaan tersebut tidak terwujud, mereka siap mengumpulkan 13 bom lainnya setiap delapan jam sekali yang sudah disebar di seluruh wilayah Jakarta.
Aksi terorisme dan ancaman tersebut langsung menarik perhatian banyak kalangan. Pihak pemerintah mendesak Indonesia Counter Terrorism Agency (ICTA) untuk segera menghentikan aksi terorisme tersebut agar tidak menimbulkan lebih banyak korban. Ketua ICTA yaitu Pak Damaskus (Rukman Rosadi) langsung memerintahkan Karin (Putri Ayudya) untuk melakukan penyelidikan lebih mendalam dan Emil (Ganindra Bimo) terjun ke lapangan untuk menangkap pemilik perusahaan layanan kripto Indodax yaitu Oscar (Chicco Kurniawan) dan William (Ardhito Pramono) yang diduga terlibat dalam jaringan terorisme tersebut.
Waktu terus bergulir. Oscar dan William untuk ditahan oleh ICTA. Mereka diinterogasi untuk mencari tahu alasan tentang Indodax yang menjadi sarana transaksi pihak teroris meminta uang tebusan. Oscar dan William tidak tahu menjelaskan tentang kelompok aksi terorisme tersebut. Oscar menjelaskan Indodax hanya digunakan sebagai media transaksi Bitcoin saja dan sama sekali bukan bagian dari mereka. William yakin jika kelompok teroris tersebut sangat memahami tentang keunggulan transaksi menggunakan Bitcoin yang dimana tidak bisa dilacak oleh sistem keamanan apapun. ICTA terpaksa tetap menahan Oscar dan William sampai keberadaan kelompok teroris ditemukan. Oscar kemudisn berinisiatif untuk membantu ICTA melacak keberadaan kelompok terorsi itu. Untuk melakukan hal tersebut mereka berdua harus mengirimkan 100 Bitcoin sesuai kesepakatan. Nantinya, IP Address dari kelompok teroris itu bisa terdeteksi saat mereka mengakses akun Indodax untuk proses pencairan 100 Bitcoin. Rencana tersebut menghasilkan hasil. Mereka berhasil menemukan alamat IP Address yang berasal dari sebuah gedung yang berada di sebelah Menara Bursa Efek Indonesia.
Emil dan timnya langsung dipindahkan ke gedung yang diduga menjadi tempat keberadaan kelompok teroris. Setibanya disana, ternyata pasukan Emil dijebak dan mereka tidak menemukan apapun. Yang ada, mereka dikejutkan dengan ledakan bom di salah satu lantai di Menara Bursa Efek Indonesia. Aksi pengeboman tersebut menyebabkan pemerintah Indonesia membatasi kegiatan warga di luar rumah dan memberlakukan perintah jam malam.
Oscar dan William kemudian meminta izin pada Karin untuk mengambil laptop dan beberapa data penting di kantor untuk menyelidiki lebih jauh tentang keberadaan kelompok teroris tersebut. Karin pun memerintahkan asistennya yaitu Gita (Niken Anjani) untuk mengawal Oscar dan William ke kantor mereka. Setibanya di kantor, mereka menerima pertunangan dari William yaitu Agnes (Lutesha) yang terkejut saat mengetahui Indodax dianggap sebagai bagian dari teroris. Mereka berkumpul kemudian menyusun rencana untuk kabur dari pihak ICTA. Akankah semua rencana teroris yang mengguncang Ibukota Jakarta ini bisa dihentikan?



Buffalo Boys (2018)

                                         Buffalo Boys (2018)


Pemeran: Ario Bayu, Yoshi Sudarso, Pevita Pearce, Hannah Al-Rashid, Zack Lee, Tio Pakusadewo, Sunny Pang, Mikha Tambayong, Conan Stevens, Mike Lucock, Donny Alamsyah, Reinout Bussemaker, Alex Abbad, Happy Salma, Donny Damara, El Manik, Daniel Adnan
Direktur: 
Studio: Infinite Studios, Skenario Infinite Productions
Sultan Hamzah (Mike Lucock) dan Arana (Donny Alamsyah, Tio Pakusadewo) kakak beradik yang berusaha keras untuk melakukan keterampilan untuk terlepas dari jajahan Belanda di tempat kelahiran mereka. Semua warga hampir habis dibantai oleh mereka. Sebelum akhirnya tewas ditangan penjajah Belanda, Sultan memutuskan menitipkan kedua anak laki-lakinya yang masih bayi di Arana untuk dibawa pergi jauh dari Indonesia. Arana membawa kedua keponakannya itu ke Amerika Serikat. Mereka adalah Jamar (Ario Bayu) dan Suwo (Yoshi Sudarso). Disana Jamar dan Suwo tumbuh menjadi anak yang tangguh dan selalu berani membela kebenaran.
20 tahun berlalu, Arana memutuskan untuk kembali ke Indonesia bersama Jamar dan Suwo. Mereka bertiga ingin membasmi penjajahan Belanda yang menguasai tempat lahir mereka. Dalam perjalanan menuju tempat kelahirannya, mereka bertiga tak sengaja melihat Sri (Mikha Tambayong) beserta ayahnya Suroyo (El Manik) yang tengah dirampok dan nyaris diperkosa oleh sekelompok orang yang dikomandoi oleh Fakar (Alex Abbad). Melihat warga pribumi tengah diganggu, Suwo dan kakaknya langsung melakukan perlawanan terhadap mereka. Sebagai ucapan terima kasih, Arana, Jamar dan Suwo diajak ke kampung tempat tinggal Suroyo untuk beristirahat dan membersihkan badan.
Setibanya di desa tersebut, mereka bertiga bertemu dengan kepala suku adat bernama Sakar (Donny Damara). Sakar sendiri masih satu keluarga dengan Suroyo. Mereka juga bertemu dengan Kiona (Pevita Pearce) anak dari Sakar yang jago memanah dan menunggangi kerbau.
Arana, Jamar dan Suwo kemudian mendapat informasi bahwa desa tersebut sedang dikuasai oleh tentara VOC Belanda yang dipimpin oleh Van Trach (Reinout Bussemant). Mereka juga memiliki anak buah yang tak kalah kejamnya yang dipimpin oleh Drost (Daniel Adnan). Kedatangan Arana, Jamar dan Suwo sedikit memberi harapan bagi kampung tersebut. Ketiganya lalu berencana untuk menghabisi Van Trach dan menetap di kampung tersebut.
Rencana ketiganya untuk menghabisi Van Trach ternyata tak berjalan mulus. Kepala suku adat yang sudah mengabdi pada VOC Belanda membocorkan keberadaan Arana, Jamar dan Suwo yang dilindungi oleh Suroyo. Mendengar kabar itu, Van Trach sangat kecewa dengan kepercayaannya itu. Suroyo mengeksekusi hukuman mati dan Sakar pun tewas ditembak gara-gara hal tersebut. Sri dan Kiona merasa sangat terpukul melihat ayah dan pamannya tewas didepan mata mereka.
Arana semakin geram dengan kelakuan Van Trach. Ia memutuskan untuk mengakhirinya secepat mungkin. Mereka lalu menginap ditempat yang bersebelahan dengan tempat tinggal Van Trach agar mereka lebih mudah untuk memadukan gerak-gerik Van Trach beserta anak buahnya. Tak disangka, dirumah tempat tinggal Van Trach, Arana melihat sosok Seruni (Happy Salma) yang tak lain adalah istrinya yang sudah 20 tahun lebih mereka hilang komunikasi.
sehari lebih awal pada Gala Premiere nya yang berlangsung di CGV Grand Indonesia tadi malam. Ketika Presskon sendiri banyak hal-hal seru yang diutarakan para pemain, sutradara dan produsernya selama proses pembuatan film ini. Mereka berpendapat bahwa film ini dibuat cukup mahal karena menggunakan set lokasi yang betulan dibangun semirip mungkin dengan latar tahun dalam film ini. Tak cuma itu saja, para pemain pun memberikan kesan mereka selama syuting film BUFFALO BOYS (2018) ini. Mereka sangat puas dengan hasil film ini yang memadukan unsur aksi-fantasi antara budaya barat dan timur. Tak cuma itu saja, ketika film ini diputar perdana di ajang Fantasia International Film Festival 2018 yang diselenggarakan di Montreal, Amerika Serikat beberapa hari yang lalu, menurut Pevita Pearce yang datang langsung ke acara tersebut mengutarakan bahwa respon para penonton di sana cukup meriah dan positif.

Pulau Hantu (2024)

                                       Pulau Hantu (2024)

Pemeran: Taskya Namya, Bukie B. Mansyur, Samo Rafael, Cindy Nirmala, Hannah Hanon, Amanda Green, Verdi Solaiman, Patty Sandya, Azkya Mahira, Izabel Jahja, Pipien Putri

Sutradara: Ferry Pei Irawan

Studio: Gambar MVP

Noah (Bukie B. Mansyur), Dara (Taskya Namya), Niki (Cindy Nirmala), Lathi (Hannah Hannon) dan Pandu (Samo Rafael) akhirnya berangkat menuju sebuah resor yang ada di pulau untuk makan malam sekaligus berliburan. Sepanjang perjalanan menggunakan kapal, Dara terus dihubungi oleh ibunya yang selalu menanyakan kabar dan keberadaan Dara. Sikap overprotektif ibu tersebut membuat Dara kesal karena merasa terkekang dan tidak bisa leluasa untuk hidup mandir. Sementara itu, Niki yang melakukan reservasi dinner merasa panik karena khawatir jika mereka telat datang maka reservasi dan DP mereka akan hangus. Noah berusaha menenangkan Niki karena kapal dan nahkoda yang sewaan mereka sudah berpengalaman dan sering disewa oleh keluarganya. Sang nahkoda kapal berjanji mereka akan tiba di resor tepat pada waktunya.

Disaat kapal mengarungi lautan, tiba-tiba saja muncul perairan dangkal dan terdampar di sebuah pulau yang muncul di hadapan mereka. Karena kapal berangkat, maka nahkoda meminta seluruh penumpang untuk turun. Nahkoda akan memeriksa kondisi kapal dan berjanji akan segera membereskannya. Noah dan lainnya pun mengikuti Arah nahkoda untuk turun dan menunggu di tepi pantai.

Waktu terus bergulir. Langit menuju sore dan membuat Niki semakin frustrasi karena mereka belum sampai di resor. Noah dan yang lainnya berusaha menghubungi kerabat mereka namun kesulitan karena tidak ada sinyal di pulau tersebut. Tak lama setelah itu, Noah tak sengaja mendengar suara anak perempuan yang berteriak memanggil ibunya dari dalam hutan. Noah yang berpengalaman dalam menjelajah hutan langsung masuk ke hutan untuk mencari sumber suara tersebut dengan ditemani Dara. Noah meminta Niki, Lathi dan Pandu tetap di pinggir pantai.

Noah dan Dara berjalan masuk ke dalam hutan meskipun hari semakin gelap. Dengan bermodalkan pencahayaan dari senter ponsel, mereka menjelajahi hutan dan berharap bisa menemukan anak perempuan tadi. Setelah berjalan cukup lama, mereka dikejutkan menemukan banyak mayat yang berada di dalam hutan. Awalnya Noah mengira jika jasad-jasad yang ditemukan itu diserang oleh hewan buas. Namun saat Dara melihat jasad lainnya yang terangkut di atas pohon dengan keadaan mengenaskan, mereka yakin jika hal tersebut tidak diserang oleh binatang buas.
Disisi lain, Pandu juga mendengar suara perempuan yang meminta bantuan dari dalam hutan. Pandu pun langsung berlari menuju hutan menuju sumber suara tersebut. Ia meminta Niki dan Lathi untuk tetap di pinggir pantai sambil menemani nahkoda yang masih memperbaiki kapal. Saat Pandu masuk ke dalam hutan, ia malah tersesat. Berkali-kali ia berusaha mengejar sosok perempuan yang ia lihat namun hasilnya nihil. Hal serupa dialami juga oleh Noah dan Dara. Kini, mereka tersesat di dalam hutan. Setiap berlari keluar hutan, mereka selalu kembali ke tempat yang sama. Dara semakin ketakutan dan panik. Sementara itu, Pandu tiba-tiba mendengar suara rantai dan akhirnya bertemu dengan sosok gaib berwujud perempuan yang menyeramkan. Pandu terus dikejar dan diseret oleh makhluk gaib tersebut.
Niki dan Lathi semakin khawatir karena ketiga temannya tak kembali ke pantai. Di saat yang sama, mereka harus melihat kejadian tragis yang dialami oleh nahkoda. Selain itu, Niki dan Lathi juga melihat penampakan sosok perempuan yang berdiri di atas. Karena ketakutan, mereka berdua berlari masuk ke hutan sambil mencari keberadaan Noah, Dara dan Pandu. Tak terasa waktu sudah malam hari. Mereka berlima yang berada di dalam hutan berusaha saling mencari satu sama lain. Noah, Dara, Niki dan Lathi akhirnya bertemu. Mereka berempat kemudian berlari menuju sebuah bangunan terbengkalai yang terlihat di tengah hutan. Niki dan Lathi khawatir dengan nasib Pandu yang masih berada di dalam hutan. Tak lama setelah itu, Pandu ternyata berhasil berjalan menuju tempat persembunyian Noah, Dara, Niki dan Lathi meskipun tubuhnya penuh luka. Noah berusaha menutupi semua luka yang ada di tubuh Pandu. Namun sayang, Pandu meninggal karena kehabisan darah. Lathi sangat sedih atas kematian Pandu yang tragis tersebut. Mereka berempat kemudian berusaha mencari informasi dan juga alat komunikasi agar bisa memanggil bantuan secepatnya. Noah dan Dara menuju ruang mesin, Niki dan Lathi menuju gudang untuk mencari peralatan yang bisa membantu mereka keluar dari pulau tersebut.
Saat menjelajahi berbagai ruangan di bangunan tersebut, mereka menyadari jika tempat persembunyian yang mereka kunjungi adalah rumah rehabilitasi sekaligus rumah sakit jiwa bernama Oasis yang memang dibangun secara tersembunyi di tengah pulau terpencil. Saat Lathi melihat foto para pasien, pengelola dan para perawat yang ada disana, ia terkejut karena salah satu di antaranya sangat mirip dengan yang ia lihat di atas kapal tadi. Lathi dan Niki yakin jika sosok perempuan tersebut sudah meninggal dan arwahnya bergentayangan disana.




Hijrah Cinta (2014)

                                       Hijrah Cinta (2014)

Pemeran: Alfie Alfandy, Revalina S. Temat, Wieke Widowati, Piet Pagau, Ananda Omesh, Valentino, Vika Effendy, Abidzar Gifary, Surya Insomnia

Sutradara: Indra Gunawan

Studio: Gambar MVP & Film Dapur

Jefri Al-Buchori (Alfie Alfandy) adalah seorang pemain sinetron yang cukup sering wara-wiri di layar kaca pada tahun 90'an, ditengah kehidupan sebagai seorang pesohor, ia terjerumus ke dalam pergaulan yang bebas. Tiap malam ia selalu habiskan untuk berhura-hura dan puncaknya ia berpesta narkoba bersama temannya, Yosi (Ananda Omesh) yang merupakan akibat ia kabur dan diusir oleh Umi (Wieke Widowati) dan Abi (Piet Pagau).

Disisi lain hadir Pipik Dian Irawati (Revalina S. Temat) seorang model majalah cantik asal Semarang kagum dan ngefans pada Jefri ketika ia melihatnya di televisi. Teman Pipik yaitu Gugun Gondrong (Valentino) yang merupakan teman dekat Jefri mengingatkan pada Pipik kalau Jefri bukanlah orang baik-baik.

Namun entah kenapa Pipik merasakan jika dia dekat Jefri, bisa membuatnya lebih baik. Hingga suatu ketika, Jefri dan Pipik menikah atas desakan Umi Jefri dengan tujuan untuk menghindari fitnah dari tetangga sekitar. Perjalanan cinta Jefri & Pipik dihadapkan begitu berat sebelum dan sesudah menikah, berkali-kali Jefri terkena sakaw, kekurangan biaya untuk menikah, lepas jilbab demi modal nikah, kondisi ekonomi yang semakin menipis hingga masalah Jefri dengan barang haram narkoba.

Kepergian Ustadz gaul ini meninggalkan duka yang amat dalam tak hanya untuk keluarga yang ditinggalkan, tetapi para jemaah dan masyarakat muslim di Indonesia juga ikut dirundung duka.

Rumah produksi MVP Pictures yang bekerja sama dengan Dapur Films (Hanung Bramantyo) mempersembahkan sebuah film biografi perjalanan sosok Almarhum Ustadz Jefri Al-Buchori yang disutradarai oleh Indra Gunawan untuk memeriahkan Libur Lebaran 2014.

Dengan cerita yang berdasarkan kisah nyata perjalanan Almarhum Ustadz Jefri Al-Buchori & Umi Pipik yang sedikit ditambah unsur dramatik (seperti yang disebutkan diawal film) film Hijrah Cinta ini cukup baik dalam bercerita.

Alfie Alfandy yang diplot memerankan Ustadz Jefri Al-Buchori tampil sangat memuaskan. Gesture dan gaya bicara yang ia hadirkan benar-benar mirip seperti Almarhum Uje. Apalagi jika memejamkan mata, suara dia sangat mirip dengan Uje dan susah dibedakan. Satu studio tadi bahkan sepakat serentak bilang "Wah, mirip banget sama Uje.." Revalina S. Temat kembali tampil baik memerankan Umi Pipik yang ramah, lembut sekaligus rapuh. Pemeran pendukung lain juga tampil cukup meyakinkan.

Meskipun bagian Scoring Musik agak sedikit "berlebihan" dibeberapa bagian, tetapi setting nuansa 90'an nya begitu baik dan detail. Properti seperti ponsel jadul, majalah-majalah hingga uang jadul cukup meyakinkan.

Endingnya pun ditutup dengan klimaks ketika video liputan sosok Almarhum Uje dimakamkan dengan iringan lagu Hijrah Cinta yang dinyanyikan begitu apik oleh Rossa.



Insidious Chapter 3 (2015)

                                   Insidious Chapter 3 (2015)


Pemeran: Stefani Scott, Lin Shayne, Tata Berney, Angus Sampson, Leigh Whannell, Dermot Mulroney, Michael Reid MacKay, Elle Keats, Jeris Poindexter, Tom Fitzpatrick
Sutradara: Leigh Whannell
Studio: BlumHouse Production, Entertainment One, Stage 6, Sony Entertainment

Kejadian bermula beberapa tahun sebelum teror yang menghantui Keluarga Lambert (Rose Byrne, Patrick Wilson & Ty Simpkins). Seorang gadis bernama Quinn Berner datang menemui Elise Rainier (Lin Shaye). Ia memohon untuk bisa berkomunikasi dengan almarhum ibunya Lily Brenner (Elle Keats) yang telah meninggal beberapa waktu lalu akibat kanker payudara yang dideritanya. Sebelum bertemu dengan Elise, Quinn selalu mencoba “berkomunikasi” dengan ibunya tanpa bantuan siapapun tiap malam dikamarnya. Quinn merasakan jika semua usaha yang ia lakukan mendapatkan respon. Ia yakin bahwa itu adalah respons dari almarhum ibunya.
Namun ketika Elise Rainer mencoba melihat melalui mata batinnya, ia terkejut ternyata sosok yang memicu semua usaha yang dilakukan oleh Quinn bukanlah dari almarhum ibunya melainkan dari sosok mahkhluk jahat yang mencoba mengincar jiwa Quinn.

Dan ternyata benar, sepulang dari rumah Elise, Quinn mengalami hal-hal aneh seperti suara ganjil, bayangan misterius hingga menyebabkan ia tertabrak mobil yang menyebabkan kakinya harus di gips. Gangguan-gangguan dari sosok misterius yang berada di rumah keluarga Brenner semakin parah dan mengancam keselamatan Quinn.
Mendengar Quinn yang terus diteror oleh sosok misterius itu, Elise Rainier akhirnya mau membantu Quinn terbebas dari gangguan gambar itu. Ia yang sebelumnya sudah menyatakan “pensiun” dalam dunia cenayang kini harus berjuang mengembalikan Quinn dari tangan The Man Who Can’t Breathe (Michael Raid MacKay), sosok misterius yang mencoba merenggut jiwa Quinn yang dibantu oleh Tucker (Angus Sampson) dan Specs (Leigh Whannell) Duo “Pemburu Hantu” yang terkenal di dunia maya.
Bisakah Elise menyelamatkan Quinn? Dan siapakah sosok The Man Who Can’t Breathe yang mengincar jiwa Quinn itu?
Kesuksesan Franchise Insidious sebagai salah satu Franchise Horror Terbaik milik Hollywood tak bisa dipungkiri berkat tangan dingin seorang James Wan yang duduk di bangku sutradara. Beliau berhasil membawakan film horor miliknya seperti Franchise INSIDIOUS dan THE CONJURING menjadi salah satu Film Horror Hollywood yang berkualitas dan terbaik yang pernah dibuat.
Kini lewat Insidious Chapter 3 (2015) James Wan mencoba memberikan jabatan sutradara nya kepada Leigh Whannell yang merupakan penulis skenario dari seri Insidious sebelumnya. James Wan kali ini hanya duduk sebagai seorang produser saja.
Lalu bagaimanakah dengan hasilnya? Insidious Chapter 3 cukup berhasil menjadi sebuah film horor yang mengutamakan kualitas cerita seperti seri Insidious sebelumnya. Leigh Whannell melakukannya dengan baik dengan memberikan ketegangan dan atmosfir horor yang dibangun dari awal hingga akhir film. Intens jump-scarednya pun lumayan bikin kaget sekaget-kagetnya. Ditambah dengan iringan musik Joseph Bishara yang membuat Film Insidious Chapter 3 semakin horor.
Jajaran pemain yang mayoritas pemain baru memberikan penampilan memukaunya.  Lin Shayne sangat menjiwainya sebagai seorang cenayang bernama Elise Rainier. Stefani Scott yang sekilas mirip perpaduan antara Prilly Latuconsina dan Deasy Bowman ini juga memberikan penampilan terbaiknya dalam memerankan sosok gadis yang terus dihantui oleh teror.
Selain menyeramkan, di Insidious Chapter 3 ini juga memberikan sisi komedi lewat karakter duo Ghostbuster Angus dan Specs yang sukses memberikan humor ditengah suasana menyeramkan dan menegangkan.
Secara keseluruhan Insidious Chapter 3 secara keseluruhan memuaskan. Tidak sabar menunggu Bab Tergelap lainnya dari Insidious!

Wanita Ahli Neraka (2024)

                                  Wanita Ahli Neraka (2024)

Pemeran: Febby Rastanty, Oka Antara, Ashira Zamita, Alfie Alfandy, Elma Theana, Dewi Pakis

Sutradara: Farishad Latjuba

Studio: Gambar Visinema, Gambar Warisan

Farah (Febby Rastanty) dan Dina (Ashira Zamita) merupakan santriwati yang tinggal di pesantren An-Nisa milik Ustadz Irfan (Alfie Alfandy) dan Umi Hanum (Elma Theana). Setelah menyelesaikan pendidikan disana, Farah mempunyai cita-cita ingin mencari ridho tuhan dan mengejar surga agar bisa bertemu lagi dengan kedua orangtuanya yang sudah lama meninggal. Sementara itu, Dina ingin menggapai impiannya menjadi seorang penyanyi terkenal meskipun hal tersebut berbanding terbalik dengan kehidupannya sebagai seorang santriwati.

Suatu hari, pesantren An-Nisa kedatangan calon Bupati yaitu Wahab (Oka Antara) yang memang rutin memberikan sumbangan kepada pesantren yang dikelola Ustadz Irfan. Maksud kedatangan Wahab ke pesantren kali ini untuk meminta saran kepada Ustadz Irfan perihal calon pendamping yang kelak nantinya akan menjadi istri dan menemaninya menjabat sebagai Bupati jika terpilih. Mendengar Wahab sedang mencari istri, membuat Farah tertarik. Ia yakin, jika menikah dan menjalani rumah tangga sesuai dengan ajaran agama, maka akan mendatangkan banyak pahala dan kemudahan untuk menggapai surga. Meski belum sepenuhnya mengenal Wahab, Farah percaya jika calon suaminya bisa menjadi imam yang baik bagi dirinya dan keluarganya kelak.

Tak membutuhkan waktu lama, Wahab akhirnya mempersunting Farah.

Kebahagiaan terpancar dari mereka berdua. Ustadz Irfan dan Umi Hanum ikut merasakan kebahagiaan tersebut karena salah satu anak didik mereka bisa hidup bahagia dan menjalani rumah tangga sesuai dengan cita-citanya. Usai resmi menjadi pasangan suami istri, Farah memegang prinsip untuk selalu mematuhi dan mengikuti perintah suami. Di awal pernikahan, Farah sering diajak oleh Wahab untuk ikut kampanye dan mengunjungi balai desa bertemu dengan para warga.

Selama mengikuti semua kegiatan sang suami, Farah mengalami kejadian-kejadian aneh. Ia sering melihat penampakan sosok wanita serba hitam dengan wajah menyeramkan. Tak hanya itu saja, Farah juga sering kali mengalami mimpi buruk. Seiring berjalannya waktu, Farah semakin sering mendapatkan teror-teror gaib ketika sedang sendirian di rumah. Hal tersebut membuat Farah jadi stres dan kondisi kesehatannya perlahan mulai menurun. jadi penuh tanda tanya Farah sering melihat Keadaan perilaku tak wajar dari asisten rumah tangganya yaitu Simbok (Dewi Pakis).

Saat Wahab berkampanye di desa, Dina terkejut melihat kondisi sahabatnya yang tampak pucat dan terlihat tidak pas. Puncaknya, Farah berteriak histeris karena melihat banyak sekali penampakan dan membuatnya tak sadarkan diri. Melihat hal tersebut membuat Ustadz Irfan dan Umi Hanum langsung membawa Farah ke pesantren untuk menjalani
Hal tersebut seolah-olah seperti miss-leading dengan judul yang digunakan film ini. Subplot bergenre horor tentang ritual tumbal pun masih ada beberapa plot hole yang mengganjal. Salah satunya yaitu tidak konsistennya karakter Simbok. Keputusan wanita mendukung wanita yang ia lakukan rasanya telat banget. Andai saja Lele Laila dan tim penulis lebih fokus untuk memperdalam konflik rumah tangga dan ambisi antara Farah dengan Wahab lalu ditambah unsur thriller daripada horor tumbal, pasti akan jauh lebih kuat. Perumpamaan rumah tangga menjadi neraka bagi Farah menurutku jadi bisa lebih masuk dengan konsep yang dihadirkan. Ruqyah. Apa yang sebenarnya terjadi pada Farah?
yang ditulis oleh Lele Laila kali ini bukan diadaptasi dari novel maupun thread viral. Plot hadir dengan menampilkan dua karakter yang sama-sama memiliki ambisi besar. Farah ingin mengejar ridho dan surga dengan mengabdi sebagai istri yang patuh kepada suami. Sementara itu, Wahab ingin menjadi Bupati dinasti melanjutkan dari ayahnya yang sudah meninggal dunia. Keduanya kemudian dipersatukan karena secara tidak langsung, Farah dan Wahab memang saling membutuhkan satu sama lain. Yang sedikit memalukan yaitu, drama rumah tangga Wahab dengan Farah dalam film ini mengapa harus dikombinasikan dengan genre horor tentang (lagi, lagi dan lagi) ritual tumbal perjanjian dengan iblis. Dari awal sampai pertengahan, esensi dari judulnya sendiri masih belum bisa ditemukan penonton, karena selama durasi film, karakter Farah menjadi istri sholehah dan selalu mematuhi suami meskipun ia mengalami KDRT.