Senin, 01 September 2025
FRAUD SAIYAAN (2019)
September 01, 2025
No comments
FRAUD SAIYAAN (2019)
Bhola Prasad Tripathi (Arshad Warsi) adalah seorang pria yang menikahi 12 wanita demi hanya mengambil hartanya saja. Paruh pertama filmnya kami berkenalan dengan Sunita (Deepali Pansare) yang memberikan uang berbekal tabungan yang disimpan di bank (ia juga merupakan seorang staf bank). Dalih mewujudkan bisnis selalu digunakan Bhola yang dalam sebuah situasi diminta untuk menjemput paman Sunita, Murari Chaurasia (Saurabh Shukla) di stasiun kereta. Tentu saja Bhola mengangguk dan menyetujuinya.
Di tengah misinya menjerat wanita kaya, Bhola harus berhadapan dengan Chanda Yadav (Bhawana Pani), seorang gangster yang meminta untuk menikah dengan istrinya yang amat tergila-gila padanya. Sementara target berikutnya adalah Payal (Sara Loren) seorang janda kaya yang sebelumnya ia temui di kereta. Mendapatkan Payal rupanya tidak mudah, karena untuk pertama kali dalam hidupnya, Bhola jatuh cinta terhadap Payal alih-alih menjadikannya sebagai korban lainnya.
Pengadegannya begitu hampa yang semakin berbahaya bila muatannya begitu memenuhi derajat wanita. Gambaran umum dari istri Bhola tak lebih dari keinginan wanita yang menginginkan seks dan begitu bodoh meskipun ia bergelar sarjana ekonomi. Semakin tolol tatkala masing-masing wanita Bhola sudah mengetahui kejahatan sang suami, mereka masih membelanya dan bahkan membiarkan keluarga sendiri untuk dibawa ke penjara.
Fraud Saiyaan dipenuhi oleh serial konflik sederhana yang begitu tampil penuh sesak akibat penulis dan film yang menulis narasi. Semakin kacau adalah tatkala sepanjang durasi 110 menit dijejali oleh pengadeganan yang kentara kosong (termasuk latar belakang Bhola yang kurang alasan, jika tak ingin disebut miskin kreativitas).
BAD HAIR (2020)
September 01, 2025
No comments
BAD HAIR (2020)
Datang dari sutradara sekaligus penulis naskah Dear White People (2014), Justin Simien, Bad Hair adalah Jordan Peele wannabe yang dalam kaitannya menyoroti keresahan ras kulit hitam terkait rambut mereka yang dituntut melakukan konformitas demi masalah pekerjaan. Lebih jauh lagi, Bad Hair juga melakukan kritisi terhadap standar kecantikan yang kini semakin diagungkan dalam sebuah penekanan terhadap makhluk-fitur-horror yang sering menyentuh ranah body-horror. Hasilnya tampil baik, meski pada akhirnya berakhir kurang memuaskan akibat istilah substansi yang kurang dimanfaatkan.
Anna (Elle Lorraine) bekerja di sebuah perusahaan televisi bernama Culture, yang menampilkan tayangan musik dengan mengedepankan musisi kulit hitam. Bertindak sebagai asisten Edna (Judith Scott) yang kemudian mundur, posisinya kemudian digantikan oleh Zora (Vanessa Williams) seorang model kulit hitam-yang berkulit terang. Kepemimpinan Zora menuntut para karyawannya untuk tetap memperhatikan penampilan, yang menurutnya membuat tampil percaya diri untuk berjalan di lobi depan.
Sebagai seorang yang kurang memperhatikan penampilan, Anna juga dipanggil oleh Zora yang tiba-tiba menanyakan "siapa penata rambutmu?". Sedari awal, kita mengetahui bahwa Anna memiliki sebuah trauma masa kecil terhadap rambutnya yang sampai kini ia coba menutupi kekurangannya. Demi mempertahankan pekerjaan, Anna kemudian menuruti saran Zora untuk mengubah gaya rambut afro-nya dengan melakukan hair weaves di sebuah salon kecantikan bergengsi dan bertaraf tinggi bernama Virgie.
Benar saja, setelah mengubah gaya rambutnya, Anna kini mulai dipertimbangkan sebagai seorang VJ untuk acara music countdown (bayangkan acara musik seperti MTv). Mimpi Anna perlahan muli terkabul, namun di samping itu, ia mendapati bahwa rambut yang kini menghiasi tubuhnya menyimpan sebuah kekuatan tersendiri, yang bisa membunuh seseorang untuk kemudian mengambil darahnya.
Sebagai pondasi, Simien ikut memainkan cerita rakyat yang terdapat dalam sebuah buku bernama Slave Lore, di mana dalam salah satu cerita termuat kisah seorang gadis Afrika-Amerika yang mengambil rambut dari pohon rambut untuk mengubah penampilan yang berjudul "The Moss Haired Girl" ini tidak hanya dijadikan sebagai glorifikasi, melainkan sebuah justifikasi yang diakui.
Awalnya, Anna menganggap cerita tersebut adalah takhayul-yang mana getol yang diterapkan oleh horor arus utama, Bad Hair pun mulai menampilkan horor-komedi miliknya di mana teror dikedepankan oleh serangan rambut terurai apabila menyentuh sebuah media tertentu, termasuk makanan sekalipun. Dari sini kesan nyeleneh di dapat, yang justru tampil sengaja demi menciptakan sebuah so bad, it's good dalam balutan B-movie yang begitu campy.
Bagi penonton, acara Bad Hair berpotensi tampil tidak disukai. Meski bagi saya pribadi, termasuk beberapa momen sukses mengundang tawa. Puncaknya adalah ketika twist pertama ditampilkan, yang meski terkendala skema penceritaan akibat tak adanya sebuah kesinambungan, setidaknya menghasilkan sebuah duel serangan rambut yang memuaskan dahaga. Ini berlaku jika Anda menganggap film ini serius.
Penerapan gaya horor 80-an (dan setting ceritanya sendiri tahun 1989) membuat Simien bersenang-senang akan nuansa Psycho-nya Hitchcock, meski untung mengulangi hal yang sama, Bad Hair jauh dari kesan tersebut akibat faktor zaman pula pengadeganannya sendiri yang banyak melakukan sebuah repetitif. Beberapa kematian karakternya berlalu begitu saja tanpa memiliki arti tersendiri, yang membuat Bad Hair lebih mirip seperti sebuah episode pilot daripada sebuah film utuh.
Konklusinya tampil cukup menarik setelah menumpahkan segala kegilaan horror B-movie. Meski pada akhirnya, Bad Hair selalu berakhir pada sebuah kata "tapi" di dekatnya terbuka beberapa potensi lain yang urung digali, sebutlah tatkala momen Anna yang mencapai puncak kariernya dan bahkan bertemu dengan sang penyanyi idola, Sandra (Kelly Rowland) tampil sambil lalu alih-alih dijadikan "puncak". Keseluruahan Bad Hair seperti Usher yang ikut berperan sebagai Germane, terlihat (baca: potensi) namun berlalu begitu cepat.
DEPTH OF PYAAR (2019)
September 01, 2025
No comments
DEPTH OF PYAAR (2019)
Ditulis, disutradarai dan dimainkan oleh Mukesh Asopa, Depth of Pyaar menjadi film ketiga Asopa pasca The Taste of Relation (2009) dan Zombie Beach (2010) yang masing-masing berjaya di ranah festival. Asopa dikenal sebagai sineas kreatif yang mengeliminasi genre, pun faktanya Depth of Pyaar sendiri merupakan penggabungan dua film sebelumnya (meski terkait elemen horor, ia menggantinya dengan thriller). Saya setelah mungkin belum menonton dua karya dari Asopa sebelumnya, meskipun jika menilik dri trailer pun memutuskan menonton ini, saya mulai paham bahwa "eliminsi genre" yang dimaksud di sini hanya sebatas melakukan tanpa dibarengi dengan sebuah standar.
Asopa memainkan dua peran sekaligus. Pertama, ia berperan sebagai Yash, seorang pengacara yang tengah frustrasi dengan menanyakan arti sebuah keadilan yang sebenarnya. Kedua, ia adalah Ansh seorang anti-sosial yang menghabiskan hidupnya untuk berdiam di kamar, mengurung diri dalam kegelapan dan enggan berbicara kepada sang ibu, Parvati (Jasmine Sawant). Ini berlangsung sedari kecil, ketika Ansh kehilangan sosok ayah yang begitu peduli terhadapnya.
Dibuka melalui sebuah montase hitam-putih yang membungkus sebuah peristiwa masa lalu dalam sebuah percakapan yang terdengar jelas dari mulut sang ayah yang menyampaikan kekhawatirannya terhadap Ansh yang setelahnya ditimpal oleh jawaban dari Parvati yang Menyebutnya baik-baik saja, mudah disimpulkan bahwa Parvati berlaku tidak terhadap adil Ansh dan lebih perhatian Yash. Meski seiring berjalannya waktu, kita mengetahui ketakutan dan kekhawatiran Parvati sebatas berhenti demi alasan reputasi. Untuk itu, ia mengutus seorang dermawan yang memiliki pengalaman dalam merawat pula berkomunikasi dengan orang yang memiliki masalah dalam wujud seorang wanita bernama Maya (Siobhan Johnson).
Kehadiran Maya perlahan membuat Ansh terbuka akan masalah juga menunjukkan sebuah kemajuan yang cukup pesat ketika Ansh kini mulai bisa keluar dari kamar gelapnya. Pun, keduanya saling jatuh cinta karena suatu kondisi senasib dan sepenanggungan yang pernah atau sedang keduanya hadapi. Hal ini tentu dapat dengan mudah diingat, mengingat kehadiran pula salah satu fungsi cinta adalah sarana berbagi dan mengobati.
Sayang, hubungan keduanya harus bernasib seumur jagung pasca kematian Maya yang dibunuh oleh pria misterius yang pada saat yang sama tengah melakukan serangkaian pembunuhan berencana. Membuka narasi memasuki ranah kriminal-thriller sederhana seiring masuknya karakter Inspektur Natalia Deshkova (Lina Yakovlieva). Dari sini letaknya kebingungan itu bermula.
Terlepas dari berbagai penghargaan yang dapat (yang merupakan hasil dari keputusan juri), saya mengakui bahwa Mukesh Asopa adalah seorang seniman yang berani pula memiliki ide kreatif yang seharusnya bisa digali. Namun, jika berbicara mengenai segi filmis (dan perasaan terjujur yang berasal dari lubuk hati yang paling dalam) cara bertutur Asopa amatlah berantakan, jauh dari kesan rapi ataupun sarat akan kontuniti. Beragam elemen yang dilempar begitu saja tanpa memperhatikan aturan dan ritme pengadeganan yang kemudian menciptakan sebuah pelestarian kasar yang tak karuan.
Semakin memberatkan adalah tatkala barisan pelakonnya (termasuk Asopa yang paling kentara) tampil dengan penuh kecanggungan, seolah bingung ingin menyampaikan sebuah perasaan yang ditekan pula tertahan. Pun, demi menghindari kesulitan memerankan dua karakter secara bersamaan, Asopa menekan sebuah pemilihan yang membuat filmnya tak berani menampilkan dua karakter secara bersamaan. Entah ini memang urusan kebutuhan atau bukan, seharusnya ini bisa diakali, mengingat formula tersebut sejatinya bukan hal yang baru, pula telah hadir sejak perkembangan teknologi belum pesat seperti sekarang.
Akibatnya sering terjadi distraksi yang mempengaruhi narasi melakukan suatu penyederhanaan. Fatalnya, ini terjadi saat terbukanya alasan dari keputusan Ansh yang tampil sambil lalu, nihil sebuah urgensi yang menguatkan apalagi berkesinambungan. Pun, terkait unsur misteri dibalik pelaku kejahatan yang sebenarnya, Asopa menerapkan sebuah twist yang menipu. Twist yang gemar dilakukan para pembut film horor lokal berkualitas jongkok tanpa mengindahkan sebuah penempatan maupun aturan.
Meski begitu, ada sebuah injeksi terkait makna "gelap-terang" yang memiliki alasan. Sayang, makna tersebut ikut tenggelam bersama ambisi pembohong Asopa yang sekali lagi ingin menampilkan tontonan berbobot dengan mengeliminasi dan melewati batas genre yang terkungkung dalam satu atau dua opsi. Sadar atau tidak, Depth of Pyaar sendiri adalah tontonan yang menghilangkan keinginan yang tak dibarengi kemampuan.
RESIDE (2018)
September 01, 2025
No comments
RESIDE (2018)
Selaku film bertema eksorsisme, Reside mampu tampil memuaskan dengan menerapkan formula horor lugas khas Thailand yang lebih memberikan kengerian dibandingkan jumpscare serampangan. Setidaknya itu Merujuk pada rilis filman awal hingga pertengahan tahun 20-an, yang kini semakin diabaikan karena memilih meninggalkan dan fokus dengan metode jumpscare kebarat-barat-an. Reside termasuk ke dalam opsi kedua, di mana horornya sendiri tersusun atas non-stop jumpscare berupa ragam karakter yang bergiliran kerasukan arwah penasaran. Semakin melelahkan adalah bahwa kehadirannya dapat dengan mudah diprediksi berbekal pola yang sama yang terus terulang kembali.
Pembukanya menyulut atensi kala penggunaan kamera close-up menyoroti sebuah tengkorak, mengingatkan saya pada gaya Ari Aster dalam Hereditary (2018). Setelahnya gambar berganti menjadi sorot mata seorang wanita yang belakangan disebut Madam (Tarika Tidatid yang kembali ke layar setelah terakhir kali terlihat dalam The Legend of Suriyothai). Madam adalah pemimpin organisasi Infinity Spiritual Center yang memberikan bimbingan terhadap mereka yang mempelajari dunia roh.
Bersama dengan para pengikutnya yang terdiri dari: Nop (Peerapol Kijreunpiromsuk), Krit (Teerawat Mulvilai), Kruea (Jarunun Phantachat), Sroy (Ploy Sornarin) dan Prang (Natthaweeranuch Thongmee) mereka melakukan sebuah ritual pemanggilan roh yang dimaksudkan untuk dipindahkan ke dalam tubuh yang ditutupi kain putih di sebuah rumah tua di tengah hutan. Ritual itu membahas sebuah kegagalan setelah Madam kerasukan, yang kemudian ikut memanggil tiga arwah penasaran yang kemudian diketahui adalah sepasang keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan anak.
Setelahnya, mereka dilanda ketakutan dan kebingungan. Dalam suasana hujan, datanglah Dej (Ananda Everingham), anak semata wayang Madam yang melewatkan pemanggilan ritual. Dej kemudian mengambil alih pimpinan sang ibu yang tak sadarkan diri dan menghadpi gangguan yang menimpa para anggota untuk kemudian mencari jawaban asal-muasal arwah itu berasal.
Ditulis dan disutradarai oleh Wisit Sasanatieng yang dikenal dalam debutnya lewat Tears of the Black Tiger-nya mencatat sejarah perfilman Thailand dengan menjadi perwakilan pertama yang dipilih untuk Festival Film Cannes, namanya kemudian mulai dipertimbangkan rumah produksi, yang sampai tulisan ini dibuat telah menggarap sebanyak sembilan film, termasuk dua di antaranya adalah horor lewat The Unseeable (2006) dan Senior (2015). Saya mungkin melewatkan dua film horornya, namun menilik kesimpulan dari Reside, Sasanatieng mungkin belum piawai menggarap genre ini melebihi aksi, drama dan romansa.
Seperti yang telah saya singgung sebelumnya, kesuluruhan Reside adalah parade jumpscare yang sepertinya harus dilakukan masing-masing karakternya (terkecuali Dej). Ketika salah satu karakter kerasukan, tak lama kemudian karakter kerasukan lainnya. Siklus tersebut silih berganti dan lebih parah lagi berulang. Alhasil, sulit menemukan substansi utama dalam film ini selain dipaksa mendengarkan voice-over bernada lirih seputar maksud dan tujuan roh yang menolak sepenuhnya untuk memudar.
Dalam penerapannya, Sasanatieng menerapkan segala kejahatan horor yang kadang-kadang menyentuh ranah gore. Meski begitu berarti penampakan karakternya yang sebatas menampilkan aksi yang ditangkap lewat kamera patah-patah pula mengandalkan sepenuhnya terhadp soflens ekstrim. Tidak lebih. Pun beberapa pelakonnya kentara tampil kurang natural dan tak nyaman memainkan ragam gerakan meloncat, menjambak, hingga kayang sekalipun. Singkatnya, banyak tampil konyol daripada menakutkan.
Ada sebuah intensitas mengenai metafora terhadap pohon yang sempat ditampilkan melalui salah satu karakternya yang berakhir pada sebuah kegagalan akibat ketiadaan penjelasan dan pada akhirnya sengaja dijelaskan. Hal ini tentu mengurangi kenikmatan akan sebuah pemahaman yang seharusny bisa penonton pahami sendiri. Pemahaman tersebut berujung melukai narasi pula mencederai twist.
Twist-nya sendiri tampil secara umum. Jika anda adalah penikmat tontonan nge-twist, sedari film bergulir, mudah untuk menyimpulkan bahwa salah satu karakter adalah yang dipilih untuk dihidupkan kembali. Pun, menjelang akhir Reside mengejawantahkan sebuah latar belakang cerita yang telah usang, yang kini formulanya sering dipakai untuk FTV daripada rilisan film yang ditujukan untuk bioskop.
Reside adalah reuni bagi Ananda Everingham dan Natthaweeranuch Thongmee, dua pelakon utama untuk salah satu film horor terbaik buatan Thailand, Shutter (2004). Keduanya memainkan karakter bertolak belakang yang sayang kurang dikembangkan. Sebatas dijadikan karakter yang hanya berfungsi ketika twist ditampilkan tanpa sebelumnya diberikan kepentingan. Keduanya patut mendapat peran yang lebih unggul, ketimbang harus terjebak di pola ngalor
DENTING KEMATIAN (2020)
September 01, 2025
No comments
DENTING KEMATIAN (2020)
Terkecuali Rumput Tetangga (2019), rilisan RA Pictures (yang kini berkolaborasi dengan Bad Monkey Picture)-meski terbilang produktif, selalu menghasilkan film berkualitas tiarap. Benar memang filmnya variatif, namun terlalu naif jika saya menyebut RA Pictures kekurangan penulis naskah dan sutradara handal. Nama seperti Demas Garin & Talitha Tan selalu dipakai sejak menulis naskah untuk The Secret: Suster Ngesot Urban Legend (2018), yang kemudian melahirkan 13: The Haunted (2018), Kembalinya Anak Iblis (2019) dan 4 Mantan (2020) yang keseluruhannya luar binasa itu. Lalu apa yang diharapkan dari tontonan bernama Denting Kematian?
Untungnya saya sudah khatam dengan film besutan sebelumnya yang juga tak membuat saya memasang ekspetasi tinggi dengan menekan harapan sedalam-dalamnya dan membiarkan keruwetan tersebut berlalu sebagaimana mestinya. Benar saja, sedari awal dibuka yang menampilkan sebuah kejadian sebelumnya kengawuran sudah memenuhi layar. Setumpuk tanya mengenai siapa, mengapa, dan bagaimana tak mampu dijawab oleh film yang sedari awal niatnya sebatas mengeruk finansial dan mengikuti hype, alih-alih membuatnya dengan hati, yang sejujurnya sangat perlu diterapkan sedari dini.
Di hari ulang tahunnya, Tyas (Brisia Jodie) mendapat sebuah kado berupa kotak musik pemberian kedua orang tuanya (Mathias Muhus & Ayu Diah Pasha). Betapa bahagianya Tyas mendapat kado tersebut diikuti dengan resminya ia berpacaran dengan Oscar (Evan Marvino) yang kemudian mengajaknya jalan-jalan. Ketika kotak musik itu dimainkan, tanpa Tyas ketahui, selalu mendatangkan petaka yang berakhir pada sebuah kematian.
Korban pertama adalah Oscar yang mati mengenaskan. Selanjutnya diikuti dengan kematian sang ayah yang bernasib serupa. Dibantu Bagus (Rangga Azof), sahabatnya sedari SMP yang juga menyimpan perasaan terhadap Tyas, keduanya menguak asal-muasal kotak musik yang disinyalir memiliki kutukan di masa lalu.
Menandai debut akting perdananya, Brisia Jodie tampil begitu kaku disaat kesulitan membentuk karakternya yang sebatas disembunyikan demi menjalankan sebuah twist. Jodie yang malang harus memasang wajah datar dan teriakan tertahan guna berperan sebagai peran utama yang entah maunya apa. Kondisi serupa juga dialami Sandrina Azzahra sebagai Roro, sahabat sanggar tarinya yang begitu iri terhadapnya. Lewat sebuah adegan konfrontasi yang sudah diketahui melalui trailer, begitu cringey-nya dialog yang dilontarkan karena selain terjebak sebuah persoalan logika, dipaparkan secara menggelikan.
Keberadaan narasi berjalan formulaik-namun menolak untuk tampil naif saat Denting Kematian berusaha mengajak penonton untuk mencari jawaban atas kebenaran-yang mewujudkan sebuah pemahaman tak beralasan (jika tak ingin disebut puncak). berikut pakem yang telah banyak ditampilkan sineas sebelumnya justru membuat Denting Kematian kebingungan akan apa yang ingin ditampilkan. Dari sini, stagnasi ikut berperan.
Harus diakui, keengganan memborbardir filmnya dengan rentetan jumpscare serampangan harus diapresiasi, yang berarti ini sama dengan menggantinya dengan deretan alur penuh syarat dan sarat akan kejemuan. Disutradarai oleh Rudi Soedjarwo (13: The Haunted, Kembalinya Anak Iblis), Denting Kematian tak banyak perubahan, selain sama-sama memiliki predikat film yang jauh dari kata layak.
Sebelum kematian karakternya berjalan sambil lalu, padahal ini seharusnya berperan memberikan dampak signifikan terhadap karakter Tyas. Begitu satu karakter mati, tidak ada momen pasti selain isak tangis tak janji dari Brisia Jodi, sementara Rangga Azof harus terkekang talentanya dan berakhir hanya sebatas penenang bagi Jodie. Pun, momen krusial lainnya berupa romansa, nihil sebuah urgensi saat filmnya kurang cakap menjalin momen di tengah pelestarian dari sekuen horor.
Terkait sosok hantu berwujud penari, asal-muasalnya patut untuk diperiksa yang kemudian lalai untuk diberikan sebuah peran selain sebagai alasan untuk menyebut Denting Kematian memiliki sosok berwujud hantu demi memfasilitas genre horor dibalik kedok thriller yang sebenarnya. Pun, untuk disebut sebagai sajian thriller, Denting Kematian tak mempunyai momen yang mencekam di saat parade kematian terjadi di luar layar.
Konklusi yang tadinya dimaksudkan untuk menyulut atensi diluar dugaan pula diharapkan mengejutkan-gagal seiring proses pengadeganan yang tak memiliki daya dan upaya guna mengerahkan penceritaan. Satu-satunya hal positif dan tampil efektif adalah tatkala lantunan kidung Jawa dimainkan, yang meski hanya sekilas-tampil begitu lugas.
DON'T LOOK BACK (2020)
September 01, 2025
No comments
DON'T LOOK BACK (2020)
Datang dari penulis naskah franchise Final Destination (pengecualian untuk Final Destination 4), Don't Look Back merupakan film debut panjang pertama bagi Jeffrey Reddick yang kemudian mengadaptasi film pendeknya berjudul Good Samaritan (2014) sebagai bahan utama film perdananya ini. Tak juga tampil pembohong dan berani layaknya seri yang membesarkan namanya ini, Don't Look Back adalah usaha setengah jadi dari premis film yang sebenarnya berpotensi tampil lebih baik.
Diantaranya adalah minimnya kualitas gore pula ragam pembunuhan bagi cerita yang mengetengahkan unsur misteri dan supranatural. Sempat tak percaya bahwa sang maestro bagi film yang sarat akan kekerasan tampil dengan anggapan ketidakpercayaan akan menekan batas kekerasan dan berakhir pada sebuah karya anak belasan. Mari kita melupakan sejenak dan memperhatikan sekelumit premisnya yang jauh lebih menarik dibandingkan keseluruhan filmnya.
Caitlin (Kourtney Bell) baru saja memutuskan untuk keluar rumah dengan memulai kembali olahraga pagi setelah sembilan bulan mengasingkan diri selepas kejadian traumatis yang turut menyerahkan nyawa sang ayah. Beruntung bagi Caitlin mendapatkan dukungan dari sang kekasih, Josh (Skyler Hart) yang setia menemaninya bahkan perlahan memberikan sebuah pemulihan bagi Caitlin hingga berdamai dengan masa lalu.
Caitlin menuruti apa yang Josh katakan. Namun sial bagi Caitlin kala ia pergi ke taman kota menyaksikan sebuah pengeroyokan terhadap seorang pria yang belakangan diketahui bernama Douglas Helton (Dean J. West). Memilih menetap dan perlahan berjalan menjauh bersama enam orang yang turut menjadi Saksi pengeroyokan, reputasi nama Caitlin bersama yang lainnya dipertaruhkan perihal tak memiliki jiwa kemanusiaan hingga dicap sebagai "Orang Samaria yang buruk".
Itu terjadi setelah adik dari Douglas, Lucas Helton (Will Stout) angkat bicara ke media. Caitlin yang baru saja berjalan dari sebuah trauma yang semakin tertekan saat ia sering merasakan ada seseorang yang membuntutinya dan bahkan membahayakan nyawanya. Terlebih lagi setelah burung gagak yang kerap dipakai sebagai simbol kematian selalu terlihat olehnya.
Don't Look Back memasang segala tetek bengek kejadian sebagai bahan pengadeganan. Terhitung diantaranya seperti proses investigasi polisi, hukuman sosial bahakan unsur supranatural yang sulit untuk dijelaskan keabsahannya pasca diterapkan dalam karakter seseorang yang bermasalah. Ini sebenarnya sudah cukup guna dijadikan bahan permasalahan, yang sayangnya menimbulkan kekacauan akibat ketidaan sebuah peran yang signifikan.
Kecuali Caitlin, karakter lainnya praktis dijadikan sebagai tempelan alih-alih diberikan sebuah kepentingan. Jangankan merasakan apa yang dirasakan oleh tersangka "korban sosial" lain, memahami keputusan Lucas pun rasanya begitu kerdil selain mengetahui bahwa alasan semuanya adalah kematian sang kakak, yang bahkan tak serumah dengannya.
Miskinnya karakterisasi diikuti dengan kurang cakapnya Reddick dalam mengarahkan Don't Look Back yang tampil prematur setelah mengelimansi elemen horor dengan menggantinya sebagai film balas dendam lainnya yang menyimpan semuanya dikonklusi. Ketidakpastian religiusitas sesekali dipakai, yang bahkan dijadikan sebagai petunjuk bagi dalang utama yang bukan sebuah kemustahilan bagi Anda mengetahui tanpa memutuskan untuk menonton keseluruhan filmnya yang jauh dari kata mumpuni.
biasa-biasa saja. Itulah kata yang mewakili keseluruhan Don't Look Back yang banyak melakukan creepypasta terhadap judul populer seperti I Know What You Did Last Summer (1997). Bedanya ini adalah versi jongkok dari sang pelopor. Setelah konklusi yang banyak dijadikan bahan FTV, Don't Look Back menegaskan kembali sebagai satu lagi film yang sebatas tampil tanpa adanya keinginan untuk diaktifkan. Setidaknya, Kourtney Bell berpotensi untuk dijadikan sebagai generasi scream queen masa kini.
RUMAH KENTANG: THE BEGINNING (2019)
September 01, 2025
No comments










