This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Minggu, 02 November 2025

NOCTURNAL

 NOCTURNAL

Nokturnal menjanjikan banyak hal. Pertama, menilik formatnya sebagai thriller balas dendam yang telah lama jadi menu andalan sinema Korea Selatan. Kedua, terkait premis unik miliknya, yakni perihal sebuah novel yang alurnya bisa memprediksi aksi kriminalitas di dunia nyata. Terdengar seperti sebuah klasik instan. 

Bae Min-tae (Ha Jung-woo) kini hanya seorang buruh biasa di pabrik yang menunggak gaji karyawannya, tapi ada masanya ia dikenal sebagai sosok gangster yang ditakuti. Min-tae terpaksa kembali mengunjungi dunia bawah tanah selepas sang adik, Seok-tae (Park Jong-hwan), ditemukan dalam kondisi tak bernyawa, sedangkan sang istri, Cha Moon-young (Yoo Da-in), juga tiba-tiba hilang.

Ha Jung-woo begitu berjanji sebagai Min-tae si mantan gangster intimidatif, kemunculannya saja sudah bisa membangkitkan rasa takut musuh. Dikunjunginya semua tokoh kriminal, termasuk mantan bosnya, Seok Chang-mo (Jung Man-sik), untuk mencari tahu kebenaran di balik kematian Seok-tae, dan Min-tae tak Segan menghabisi siapa pun yang menghalangi jalannya, termasuk polisi tua yang sempat bersinggungan dengan jalan dia. 

Di sisi lain ada Kang Ho-ryeong (Kim Nam-gil), penulis novel berjudul Nocturnal yang juga melakukan pencarian terhadap Moon-young. Sementara itu, berdasarkan penyelidikannya, Detektif Park (Heo Sung-tae) menemukan fakta bahwa segala peristiwa yang berkaitan dengan kematian Seok-tae ternyata berjalan serupa dengan alur novel buatan Ho-ryeong. 

Kim Jin-hwang selaku sutradara sekaligus penulis naskah enggan terlalu menyuapi penonton, dan cenderung membiarkan kita tenggelam dalam kegiatan menyusun puzzle sendiri, yang bakal terasa mengasyikkan bagi mereka yang membuat otak. Alurnya kompleks, namun tidak pernah terlalu rumit hingga mustahil untuk memecahkannya. Apalagi di balik kompleksitas tersebut ada misteri yang cukup efektif mengundang rasa penasaran.

Beberapa twist menanti di ujung cerita. Meski bukan sesuatu yang segar atau luar biasa mengejutkan, twist tersebut mampu memantapkan bangunan dunia kelam yang jadi latar filmnya, di mana pengkhianatan merupakan hal biasa, dan hanya ada kegelapan menanti di ujung jalan. Protagonis yang kita ikuti perjuangannya pun memiliki kepribadian yang jauh dari kesempurnaan seorang pahlawan. 

Masalah bukan terletak pada misterinya, tapi metode investigasi yang protagonisnya gunakan untuk mengusut misteri tersebut. Min-tae sebatas mengunjungi suatu lokasi yang ditengarai menyimpan petunjuk, menginterogasi orang-orang yang ada di sana, sebelum mengulangi prosedur penyelidikan serupa di lokasi berikutnya. Paruh kedua yang didominasi rangkaian repetitif itu pun terasa datar dan melelahkan.

Tapi yang paling menjengkelkan adalah bagaimana premis "seksi" soal novel yang diduga memprediksi peristiwa dunia nyata rupanya sebatas tempelan belaka. Sejatinya bukan hanya novel itu saja. Begitu banyak elemen di Nocturnal hanya berakhir sebagai pernak-pernik yang tidak pernah menjadi bagian esensial alurnya, termasuk karakter Detektif Park yang fungsinya bisa dengan mudah dialihkan ke Min-tae.


Padahal keberadaan novel buatan Kang Ho-ryeong mengusung pesan penting mengenai isu kekerasan dalam rumah tangga, hingga perihal fenomena "life meniru seni" yang dilakukan secara sengaja, di mana karya seni dapat dijadikan bahan referensi dalam proses belajar individu. Sayangnya novel tersebut tak pernah benar-benar terasa menjadi bagian integral kisahnya.

SNOW WHITE

 SNOW WHITE

Ketika karakter Evil Queen yang tak segan menghancurkan rumah orang-orang tak berdosa dimulai, terdengar narasi "She was evil" yang mengiringi penampakan Gal Gadot di depan cermin. Banyak film yang mampu menangkap wajah realita, namun sangat sedikit yang melakukannya dengan begitu nyata namun terjadi tanpa disengaja seperti remake live-action dari Snow White and the Seven Dwarfs (1937) ini.

Dihadang banyak kontroversi jelang perilisannya, terutama seputar sudut pandang berlawanan dua aktris utamanya (“sudut pandang” di sini berarti salah satu di antara mereka adalah individu berperikemanusiaan, sedangkan keduanya pendukung genosida) yang secara kebetulan melahirkan situasi “seni meniru kehidupan” dalam kisahnya, Snow White kembali menonton upaya Disney memodernisasi formula klasik mereka.

Secara garis besar, alur dalam naskah buatan Erin Cressida Wilson masih mengikuti pakem versi animasinya. Putri Salju (Rachel Zegler) adalah putri kerajaan yang terbuang dan dipaksa menjadi pembantu, sementara Ratu Jahat (Gal Gadot) menancapkan kuasanya yang membawa penderitaan bagi rakyat. Nantinya Snow White bakal kabur, bertemu tujuh kurcaci, mati suri akibat apel beracun Evil Queen, sebelum bangkit kembali berkat ciuman sang cinta sejati. 

Pola alurnya serupa, namun tidak dengan menggambarkan si tokoh utama. Putri Salju bukan lagi gadis naif (kalau tak mau disebut "bodoh") yang mudah luluh oleh rasa takut. Lihat saja reka ulang terhadap sekuen ikonik kala sang putri tersesat di hutan. Snow White memang ketakutan sebagaimana wajarnya manusia, namun ia tampak berjuang menekan segala bentuk kelemahan.

Zegler pun bermain tanpa cela sebagai Snow White, dengan selalu bersinar terang di setiap kemunculannya. Nomor musikal Whistle While You Work mungkin salah satu puncak kinerjanya, di mana Zegler berhasil memadukan nyanyian indah dengan variasi gestur serta penggunaan ekspresi mikro. Begitu berlawanan bila dibanding Gal Gadot yang bahkan masih kesulitan menampilkan ekspresi makro secara natural. Gaun-gaun cantik (pujian patut disematkan bagi Sandy Powell) yang dikenakan tak kuasa menutupi segala keburukannya. 

Biarpun kini tampil tangguh, bukan berarti sang putri enggan jatuh cinta. Tapi bukan kepada pangeran tanpa nama yang diam-diam menguntit gadis di bawah umur, melainkan pemberontak bernama Jonathan (Andrew Burnap). Romansa keduanya masih terkesan serba instan, tapi setidaknya lebih muda dipercaya dan membumi ketimbang romansa Snow White dalam animasi aslinya.

Ketidaksengajaan menghadirkan cerminan dengan situasi dunia nyata memang (secara tidak sengaja pula) menambah bobot filmnya, sekaligus alasan untuk memihak sang protagonis. Tapi ketidaksengajaan adalah ketidaksengajaan, yang takkan mampu mengubah wajah asli film ini. Pada dasarnya Snow White adalah suguhan lemah, dengan alur yang seolah-olah digulirkan sebagai cara menghabiskan durasi.

Kebodohan pun acap kali muncul sepanjang 109 menit durasinya. Misal saat di babak ketiga, para rakyat yang konon mulai menghapus eksistensi Snow White karena sang putri telah bertahun-tahun menghilang dari hadapan publik, dapat dengan mudah mencetak di belakangnya guna melawan Evil Queen tanpa perlu mendengar bujukan atau seruan perlawanan. Apa pula fungsi para kurcaci di klimaksnya?

Tapi yang paling bertanggung jawab meruntuhkan kualitas Snow White adalah pengarahan Marc Webb. Dipersenjatai deretan lagu yang catchy tak juga membuat sang sutradara mampu memunculkan nuansa magis di setiap nomor musikalnya, yang sebagian besar berakhir dengan kreativitas minimal. Tidak ada keajaiban. 

Webb sempat berusaha mengolah imajinasinya, yakni pada momen ikonik saat Putri Salju berlarian di tengah hutan. Di situ Webb membuat pepohonan yang menyulut rasa takut sang putri tampak seperti monster asli, sehingga luput menekankan bahwa peristiwa itu menyimbolkan menonton Snow White yang untuk kali pertama setelah sekian lama menginjakkan kaki di alam pembohong. Mungkin Webb memang tidak pernah menyukai cerita Putri Salju.

Sabtu, 01 November 2025

NE ZHA 2

 NE ZHA 2

Ne Zha 2 telah menggoyang hegemoni Hollywood, baik dari segi finansial maupun kualitas. Anggapan klasik berbunyi "cuma Amerika yang bisa" pun terwujud di hadapan animasi yang sampai tulisan ini dibuat, sedang berusaha menggusur Titanic dari posisi ke-4 daftar film dengan pendapatan tertinggi sepanjang masa. Sekarang kalimat yang tepat untuk didengungkan justru "Amerika tidak akan bisa".

Kuncinya tidak lain adalah budaya. Bukankah animasi Hollywood sedang gencar melakukan representasi budaya? Betul, tapi di hadapan "formula Hollywood", sentuhan sekaya kultural apa pun seolah terhalangi oleh dinding yang memaksa sineasnya bermain aman, tanpa mampu melakukan eksplorasi secara pembohong. 

Di Ne Zha 2, elemen budaya yang berasal dari cerita-cerita mitologi serta novel Investiture of the Gods karya Xu Zhonglin yang berasal dari abad 16, mampu begitu kreatif dieksplorasi oleh Jiaozi sebagai film sekaligus penulis naskah. Ne Zha 2 merupakan film di mana salah satu karakternya memiliki senjata bernama "Cambuk Guntur Membelah Langit". Sama sekali tidak ada ketakutan untuk menampilkan hiperbolis dan sejauh mungkin dari realisme.

Tengok juga visualisasi dunianya yang sungguh-sungguh mencerminkan dunia fantasi di luar batasan logika, sebagai tempat para manusia hidup di tengah eksistensi dewa dan monster. Dunia yang Jiaozi bangun selalu memancarkan keajaiban di setiap sudutnya.  

Melanjutkan akhir film pertamanya, kali ini kita diajak mengikuti upaya Ne Zha menempuh ujian keabadian yang diadakan oleh sekte Chan di bawah pimpinan Wuliang. Tujuannya adalah mendapatkan pil untuk memperbaiki teratai suci kepunyaan Taiyi Zhenren yang hendak dipakai menyusun kembali tubuh Ne Zha dan Ao Bing yang hancur di akhir film sebelumnya. 

Di satu titik, Ne Zha yang tiba di istana megah milik Wuliang bersama Taiyi Zhenren, tiba-tiba ingin buang air. Ne Zha tersesat, dan salah mengira guci penyimpanan minuman sebagai toilet. Air dalam guci tersebut kemudian diminum oleh Wuliang. Momen komedik tersebut bak wujud perlawanan filmnya, yang enggah sedikit pun menaruh rasa hormat atas segala jenis pengultusan palsu.

Sekte Chan yang dipandang sebagai figur suci nyatanya hanya sekelompok individu arogan yang berlaku semena-mena, sedangkan nama-nama seperti Ne Zha atau Ao Guang si Raja Naga Laut Timur yang notabene adalah iblis justru lebih menekankan cinta kasih biarpun perawakan mereka menyeramkan. Ada banyak situasi di Ne Zha 2 yang mendorong kita agar tidak "menilai buku dari sampulnya".

Gesekan dua pihak di atas menyulut terjadinya pertempuran epik penuh visual cantik nan megah di babak ketiga. Kuali raksasa yang bisa mengurung apa pun di hadapannya, ribuan pasukan yang mengancam begitu rapi hingga tampak seperti daun-daun di pepohonan, semuanya menampakkan pemandangan menakjubkan yang hanya bisa terwujud saat kreativitas dipertemukan dengan budaya. Jiaozi enggan memusingkan soal realisme. Sudah seharusnya pertempuran antara dewa dan iblis digambarkan secara megah dan berlebihan.
Tapi Ne Zha 2 tidak hanya menampilkan pencapaian teknis, karena ia pun memiliki banyak rasa. Humornya yang tampil konyol bukan sebatas amunisi hiburan, tapi cara untuk mendekatkan penonton dengan karakternya. Canda tawa yang sering ia lontarkan membuat Ne Zha, yang begitu kuat hingga mampu merepotkan para dewa, terasa membumi. Sampai ketika filmnya tiba pada momen emosional antara Ne Zha dengan sang ibu, di situlah konflik ilahi dan humanis mencapai titik temunya.

QODRAT 2

 QODRAT 2


Mengapa superhero lokal tidak bisa bersinar seterang Hollywood di layar lebar? Saya rasa ini persoalan kultural. Ketimbang figur jagoan dengan kostum spandeks, topeng, dan jubah, masyarakat Indonesia lebih mengandalkan religiusitas untuk membantu mereka. Lalu datanglah Qodrat, ustaz merangkap pahlawan super yang kekuatannya bukan berasal dari radiasi kosmik atau serum khusus, melainkan dari doa dan iman.

Tidak ada superhero dalam Qodrat 2 memang lebih kental dibanding film pertama, di mana kandungan jumpscare makin dikurangi, sedangkan kuantitas baku hantam diperbanyak. Karakter Qodrat (Vino G. Bastian) sendiri bukan lagi individu yang rapuh. Bukannya raut sendu, justru senyum penuh keyakinan yang sering ia pamerkan sebelum beradu jurus dengan lawan. Kepercayaan dirinya telah kembali. 

Misi Qodrat kali ini adalah mencari sang istri, Azizah (Acha Septriasa), yang tak diketahui keberadaannya sejak tragedi yang menurunkan putra mereka, Alif. Qodrat 2 diawali oleh adegan yang kembali pembukaan film pertama, tapi dari sudut pandang Azizah. Ketika Qodrat tengah berjibaku merukiah Alif, di kamar seberang, Azizah pun mengalami peristiwa traumatik yang membuatnya terasa begitu berdosa.

Momen di atas meneruskan catatan positif Charles Gozali perihal melahirkan adegan pembuka yang efektif mengikat ketegangan penonton dalam film horor buatannya. Dari situlah kisahnya mulai rumit. Qodrat mencari Azizah, sementara Azizah yang mengira sang suami telah meninggal bekerja di sebuah pabrik yang ditengarai menumbalkan para buruhnya.

Memberikan peran seorang individu dengan luka batin menganga kepada Acha adalah keputusan yang tepat. Dalam sebuah adegan long take, Azizah terlihat kesulitan menjalankan salat tobat. Mulutnya tak kuasa menyelesaikan bacaan ayat suci meski sudah ia ulang berkali-kali. Acha melakoninya dengan luar biasa. Seolah tiap kali menyebut nama Allah, ada rasa sesak yang tiba-tiba mencekiknya. 

Charles sendiri nampaknya sangat memercayai pemain-pemainnya. Bukan hanya terkait kamera teknis (selain long take, close-up juga jamak dipakai untuk menangkap raut wajah para pemain), pula penggunaan musik garapan Aria Prayogi, yang didengarkan hanya jika benar-benar diperlukan. Charles berani membuat kesunyian.

Jika berbicara cerita, kebaruan yang dibawakan film pertamanya tentu tak lagi terasa. Apalagi dibandingkan tiga tahun lalu, jumlah horor religi tanah air sudah semakin menjamur. Tapi di luar itu, alur Qodrat 2 (khususnya di babak kedua) memang seperti kekurangan tenaga. Minim misteri yang dapat terus menarik perhatian penonton, juga mendesak. Kita tahu Qodrat akan menang dengan mudah di mayoritas pertarungan, bahkan saat ia ditangkap oleh Safih (Septian Dwi Cahyo) si bos pabrik. 

Setidaknya tulisan Charles Gozali bersama Gea Rexy dan Asaf Antariksa menawarkan kreativitas dalam bentuk lain, yakni modus operandi naskah antagonisnya dalam menebar teror. Tengok bagaimana para tumbal berdiskusi ajal mereka, atau media yang dipakai untuk membuat Sukardi (Donny Alamsyah) kerasukan, yang berputar pada pergulatan di dalam truk sebagaimana trailernya perlihatkan. Sangat kreatif!

Pengarahan aksi Charles masih bertarung biasanya. Lincah, bertenaga, lengkap dengan koreografi yang selalu membuat si jagoan terlihat keren di kamera depan. Sebagai cara menegaskan kepercayaan diri Qodrat yang telah kembali, unsur humor beberapa kali disematkan di tengah baku hantamnya. Di sisi sebaliknya, Zhadhug tidak se-intimidatif Assuala, namun efek praktikal yang dipakai untuk menghidupkan sosok bertanduknya patut diberi pujian tinggi.

Kemudian semuanya bermuara di sebuah pemandangan di babak ketiga, yang kembali membuktikan kesungguhan orang-orang di balik franchise ini dalam menangani elemen agama di horor religi. Kalau Qodrat pertama berhasil menggali makna menyentuh dari kalimat Inna Lillahi wa inna ilayhi raji'un, sekuelnya mengajak penonton untuk mengingat lagi esensi shalat sebagai tiang agama. 

Tatkala banyak horor religi Indonesia seolah memandang salat sebagai ritual keagamaan sepele, Qodrat 2 enggan memandang ke sebelah mata kesakralannya. Ketika film superhero Hollywood membentangkan jurang antara pahlawan dan manusia biasa yang mereka panjangkan, Qodrat 2 tidak mengeksklusifkan kekuatan super sang ustaz. Semua bisa memilikinya selama bersedia memperkuat iman.

EXORCISM CHRONICLES: THE BEGINNING

 EXORCISM CHRONICLES: THE BEGINNING

Beberapa waktu lalu, bioskop Indonesia menayangkan "film AI" berjudul M Hotel. Kesukaan (kalau tak mau disebut "pemujaan") industri hiburan Korea Selatan kapasitas terhadap kecerdasan buatan memang bukan lagi rahasia. Sangat mengesankan, mengingat di saat yang sama sineas mereka mampu melahirkan karya sekelas Exorcism Chronicles: The Beginning. Sebuah animasi yang menurut Kim Dong-chul sebagai sutradara, sengaja menyertakan AI demi menjaga orisinalitas. 

Bagi para pemujanya, AI begitu luar biasa karena bisa menghasilkan hal-hal yang sukar diwujudkan oleh realita. Mereka lupa bahwa "animasi asli" pun demikian. Berbekal talenta manusia, animasi bisa merealisasikan visi yang terlampau sukar ditangani oleh medium live action. Adaptasi dari novel Toemarok karya Lee Woo-hyeok ini adalah satu dari sekian banyak bukti.

Protagonisnya bernama Park Woon-gyu (Choi Han), mantan dokter yang kini banting setir menjadi pendeta. Bukan pendeta biasa, karena berkat kekuatan yang diwariskan Ilahi, ia mampu melakukan pengusiran setan. Termasuk saat Park mesti menghadapi arwah yang merasuk ke tubuh sesama pendeta di awal film. 

Exorcism Chronicles: The Beginning langsung menegaskan apa yang hendak ia capai melalui adegan pengusiran setan tersebut. Berlatar Rumah Tuhan, layaknya pahlawan super tanpa jubah maupun topeng, Pendeta Park memamerkan kekuatan yang ia peroleh dari doa-doa yang selalu ia panjatkan. Cahaya beragam warna silih berganti memancarkan diri di tengah kehancuran yang jamak terjadi dalam pertempuran superhero melawan supervillain. 

Ketimbang suguhan eksorsisme konvensional, Kim Dong-chul cenderung berambisi melahirkan blockbuster eksplosif ala film superhero. Iblis yang Park menghadap ke gereja punya nama Astaroth. Sosoknya dihidupkan oleh desain dengan kreativitas tinggi, seperti malaikat yang jatuh ke jurang kegelapan, sehingga bertransformasi bak monster dari sebuah anime

Visi yang diusung Kim Dong-chul akan memerlukan biaya setidaknya puluhan juta dolar bila memakai format live action. Melalui animasi, sang sutradara tidak perlu membatasi imajinasi. Visual out of this world miliknya dilukiskan secara cantik di layar, berbekal tata artistik mumpuni yang ciptaannya turut melibatkan talenta asal Indonesia bernama Amabel Emillavta. 

Sayangnya naskah buatan Lee Dong-ha gagal mencapai kualitas serupa. Kealpaan departemen penulisannya didasari oleh transmisi untuk menerjemahkan ambisi besar secara rapi. Mirip dengan judulnya, Exorcism Chronicles: The Beginning diniati sebagai awal sebuah franchise. Alurnya banyak melakukan proses penanaman benih untuk modal konflik di sekuel-sekuelnya, sehingga banyak yang harus dituturkan.

Nantinya, Pendeta Park dimintai bantuan oleh kawan lamanya sekaligus bikso anggota sebuah ordo rahasia, untuk membantu menangani masalah supernatural di kuil. Masalah itu segera tereskalasi, di mana keberlangsungan dunia taruhan jadinya. Di sisi lain ada Lee Hyun-am (Nam Doh-Hyeong), pemuda yang mendapat kekuatan berkat latihan Tai Chi, yang juga tiba di kuil dengan membawa alasan pribadi.

Tatkala landasan ceritanya belum benar-benar solid, termasuk penokohan si protagonis yang masih berada di permukaan, kisahnya sudah berambisi mengeksplorasi begitu banyak persoalan. Setiap karakter beserta konflik masing-masing seperti saling berebut sorotan utama, dan akibatnya, tak satu pun pun berhasil digali secara memadai. 

Seperti apa detail mitologinya yang didasarkan pada kepercayaan agama dan budaya setempat? Bagaimana peran ordo rahasia si biksu dalam tatanan dunia filmnya? Ritual macam apa yang ingin mereka jalankan? Siapa Hyun Seung-hee (Kim Yeon-woo) si gadis yang berhasil tanpa sengaja membantu Pendeta Park di sebuah pengusiran setan? 

Exorcism Chronicles: The Beginning memang kacau dalam hal bercerita. Tapi sekali lagi, visinya menakjubkan. Peleburan beberapa kepercayaan dalam sampul eksorsisme sebagaimana pernah dilakukan Dark Nuns beberapa bulan lalu, berpadu dengan mitologi mengenai kekuatan super berbasis lima elemen layaknya Avatar: The Last Airbender. Potensi pengembangan film ini sebagai franchise sinema sungguh tinggi. Tinggal kecerdasan bagaimana alami kepunyaan para manusia di balik film ini terus diberi ruang gerak untuk melaju di tengah terjangan kecerdasan buatan yang penggunaannya acapkali melalaikan kesejahteraan.


KOMANG

 KOMANG

Raim Laode (Kiesha Alvaro), seorang pemuda Sulawesi beragama Islam, menjalankan shalat sambil menghadap ke barat. Komang (Aurora Ribero), si gadis keturunan Bali pemeluk Hindu bersembahyang ke arah Timur. Kiblat keduanya berlawanan. Pun kelak, saat Raim merantau ke Jakarta, menjadi samudera pemisah luas di antara mereka. Tapi sebagaimana telah ditunjukkan oleh jutaan cerita romansa, kekuatan cinta akan mengalahkan beragam batasan di atas.

Film yang sedikit mengambil inspirasi dari lagu viral berjudul sama karya Raim Laode ini hadir dengan semangat serupa. Sekilas tak ada yang spesial. Apalagi mengingat kisahnya berdasarkan peristiwa nyata, sehingga 400 ribu orang yang telah menonton sampai tulisan ini dibuat pun rasanya tahu kalau akhirnya cinta bakal jadi pemenang. 

Tapi Komang memang tak berniat mendobrak pakem. Naskah buatan Evelyn Afnilia, yang begitu piawai merangkai kata-kata bermakna tanpa harus menggunakan hiberpola berlebihan, ingin seolah mengingatkan bahwa jatuh cinta akan selalu terasa indah, tidak peduli seberapa klise peristiwa demi peristiwa yang dilalui oleh sepasang kekasih.

Pada momen perkenalan mereka, Komang mampu memancing tawa Raim dengan humor gelap mengenai mendiang ayahnya. Setelahnya pun, semua aktivitas kencan keduanya selalu salam tawa. Bahkan kecanggungan antara dua manusia yang baru bersua pun dapat disikapi dengan positif melalui tawa. 

Itulah alasan Komang begitu menyenangkan diikuti. Presentasinya jauh dari kekakuan. Begitu pula chemistry yang dijalin oleh Kiesha, yang akhirnya membuktikan kelayakannya sebagai aktor, dan Aurora, yang selalu jeli mengolah tutur kata. Dinamika yang terbangun memudahkan penonton meyakini bahwa Raim dan Komang memang dua individu yang saling menyayangi.

Pengarahan Naya Anindita yang kembali menyutradarai film layar lebar sejak Eggnoid enam tahun lalu pun mampu mencurahkan rasa manis lewat susunan momen-momen romantis yang membumi. Gestur seperti menggandeng tangan, dua mata yang saling menatap penuh rasa, atau perbuatan yang meski terkesan sederhana, membuktikan prinsip "talk less do more" dari protagonisnya, dipakai sebagai amunisi utama. 

Penceritaannya memang menyisakan beberapa kejanggalan kecil, sebut saja selipan adegan soal kunjungan Raim ke Amsterdam yang tak pernah dijabarkan logika. Tapi satu hal yang agak mengganggu adalah paparannya yang cenderung berat sebelah mengenai cinta beda agamanya

Ketika ibunda Komang, Meme (Ayu Laksmi), memandang sinis status Raim sebagai orang Islam, maka orang tua dari pihak si pria (Cut Mini dan Mathias Muchus) selalu bersikap toleran, termasuk saat enggan memasak sapi karena Komang makan bersama mereka. Sikap Meme sejatinya bisa dijustifikasi, mengingat trauma akibat "kehilangan" putri sulungnya yang juga berpindah agama. Tapi bagaimana dengan komentar miring para tetangga tentang isu tersebut, atau keluhan para kerabat tentang ketiadaan hukum babi di menu masakan? 

Untungnya di sekitar ketimpangan tersebut, Komang rutin membawa keunggulan yang lebih menonjol. Khususnya jika berdiskusi tentang penampilan dua aktris pemeran ibu masing-masing protagonis. Sewaktu Ayu Laksmi piawai mengutarakan rasa sakit menusuk di balik segala ketegasan yang terus Meme tampilkan di permukaan, Cut Mini mampu mengaduk-aduk emosi kala menampakkan ketabahan meski tengah dirundung duka. Mungkin humanisme yang dimunculkan para pelakonnya inilah yang membuat Komang memiliki rasa, alih-alih sebatas parade kata-kata puitis sok romantis.


PABRIK GULA

 PABRIK GULA

serupa Badarawuhi di Desa Penari tahun lalu, Pabrik Gula yang kembali mengadaptasi cerita dari SimpleMan, tampil layaknya remake dari KKN di Desa Penari dengan perbaikan kualitas di sana-sini. Hanya saja kini kemiripannya lebih kentara, seolah jadi bukti bahwa kolaborasi MD Pictures dan SimpleMan telah menemukan paketnya, yang bisa terus diutak-atik sesuai kebutuhan. 

Di Pabrik Gula kita kembali bertemu sekelompok teman yang akan menetap di sebuah tempat asing untuk beberapa lama, tanpa tahu bahwa tempat itu menyimpan cerita mistis. Bedanya, mereka bukan pelajar melainkan buruh, pun alih-alih desa lokasi KKN, destinasi yang dituju adalah sebuah pabrik gula. 

Endah (Ersya Aurelia), Naning (Erika Carlina), dan Wati (Wavi Zihan) tinggal di satu loji. Contohnya pula para buruh laki-laki: Fadhil (Arbani Yasiz), Hendra (Bukie B. Mansyur), Dwi (Arif Alfiansyah), dan Franky alias Mulyono (Benidictus Siregar). Begitu lewat pukul 9 malam, tepatnya selepas alarm berbunyi yang disebut sebagai "jam merah", tidak ada yang boleh keluar dari loji. Ketika pelanggaran terjadi, teror mematikan pun dimulai.

Sejatinya Pabrik Gula belum bisa disebut memiliki alur mumpuni. Beberapa poin yang berpotensi menghadirkan eksplorasi menarik, seperti mitologi mengenai kerajaan iblis yang menguasai pabrik dengan beragam jenis hantunya, hingga elemen cerita detektif seputar "siapa sebenarnya yang melanggar aturan?", hanya dipaparkan sambil lalu. Belum lagi, serupa KKN di Desa Penari yang nyaris tak pernah menampakkan aktivitas KKN itu sendiri, rutinitas para pekerja amat jarang muncul. Andai gula diganti produk lain pun takkan ada perbedaan berarti.

Untungnya kali ini naskah buatan Lele Laila tidak terjebak dalam kesan serius. Serupa jargon "pesta rakyat" yang dijadikan alat pemasaran filmnya, Lele ingin mengajak penonton bersenang-senang. Di situlah duo Franky dan Dwi mengemban peran penting. Lawakan demi lawakan dihantarkan begitu mulus oleh kombinasi maut Benidictus Siregar dan Arif Alfiansyah. Tatkala ide-ide terornya tak seberapa kreatif, sepak terjang keduanya mampu membantu Pabrik Gula mencapai tujuan menjadi horor yang menampilkan "seru" daripada "ngeri".

Walaupun masih mengandalkan jumpscare, setidaknya penulisan Lele tak lalai membangun jembatan, sehingga berbeda dengan KKN di Desa Penari, Pabrik Gula lebih terasa sebagai "film yang layak" daripada sekadar kompilasi teror dengan jahitan asal-asalan. Kesediaan untuk memperhatikan hal-hal seperti "bridging" dan "build-up" pula (termasuk adegan pembuka yang menampilkan para karakternya berinteraksi dengan bahagia) yang membuat konklusinya bisa meninggalkan rasa pahit sekaligus berdampak pada sebuah tragedi. 

Di sisi lain, Awi Suryadi selaku sutradara kembali menunjukkan eksplorasi teknis mumpuni. Hampir semua kemunculan makhluk halus dibarengi oleh trik teknis yang mengundang decak kagum, entah dari tata kamera, penyuntingan, maupun pemakaian efek komputer yang tepat guna. Dibantu oleh tata kamera Arah Arfian (keduanya pernah bekerja sama di Sebelum 7 Hari, Perewangan, Do You See What I See, juga Kisah Tanah Jawa: Pocong Gundul), Awi pun memoles filmnya supaya tampak megah lewat pilihan shot-nya.
Sekali lagi, kreativitas ide mungkin bukan sesuatu yang dimiliki oleh Pabrik Gula saat melempar teror. Tapi jumpscare-nya digarap dengan solid, dibarengi timing yang presisi, pula tidak terasa menyebalkan karena jeli mengatur volume suara. Ketika di babak ketiga, Dewi Pakis yang memerankan Mbah Jinnah sebagai satu dari dua dukun yang menjaga keamanan pabrik, menggila di tengah adegan upacara persembahan, sulit menampik daya hibur Pabrik Gula sebagai sebuah blockbuster horor.