Sabtu, 01 November 2025

PABRIK GULA

 PABRIK GULA

serupa Badarawuhi di Desa Penari tahun lalu, Pabrik Gula yang kembali mengadaptasi cerita dari SimpleMan, tampil layaknya remake dari KKN di Desa Penari dengan perbaikan kualitas di sana-sini. Hanya saja kini kemiripannya lebih kentara, seolah jadi bukti bahwa kolaborasi MD Pictures dan SimpleMan telah menemukan paketnya, yang bisa terus diutak-atik sesuai kebutuhan. 

Di Pabrik Gula kita kembali bertemu sekelompok teman yang akan menetap di sebuah tempat asing untuk beberapa lama, tanpa tahu bahwa tempat itu menyimpan cerita mistis. Bedanya, mereka bukan pelajar melainkan buruh, pun alih-alih desa lokasi KKN, destinasi yang dituju adalah sebuah pabrik gula. 

Endah (Ersya Aurelia), Naning (Erika Carlina), dan Wati (Wavi Zihan) tinggal di satu loji. Contohnya pula para buruh laki-laki: Fadhil (Arbani Yasiz), Hendra (Bukie B. Mansyur), Dwi (Arif Alfiansyah), dan Franky alias Mulyono (Benidictus Siregar). Begitu lewat pukul 9 malam, tepatnya selepas alarm berbunyi yang disebut sebagai "jam merah", tidak ada yang boleh keluar dari loji. Ketika pelanggaran terjadi, teror mematikan pun dimulai.

Sejatinya Pabrik Gula belum bisa disebut memiliki alur mumpuni. Beberapa poin yang berpotensi menghadirkan eksplorasi menarik, seperti mitologi mengenai kerajaan iblis yang menguasai pabrik dengan beragam jenis hantunya, hingga elemen cerita detektif seputar "siapa sebenarnya yang melanggar aturan?", hanya dipaparkan sambil lalu. Belum lagi, serupa KKN di Desa Penari yang nyaris tak pernah menampakkan aktivitas KKN itu sendiri, rutinitas para pekerja amat jarang muncul. Andai gula diganti produk lain pun takkan ada perbedaan berarti.

Untungnya kali ini naskah buatan Lele Laila tidak terjebak dalam kesan serius. Serupa jargon "pesta rakyat" yang dijadikan alat pemasaran filmnya, Lele ingin mengajak penonton bersenang-senang. Di situlah duo Franky dan Dwi mengemban peran penting. Lawakan demi lawakan dihantarkan begitu mulus oleh kombinasi maut Benidictus Siregar dan Arif Alfiansyah. Tatkala ide-ide terornya tak seberapa kreatif, sepak terjang keduanya mampu membantu Pabrik Gula mencapai tujuan menjadi horor yang menampilkan "seru" daripada "ngeri".

Walaupun masih mengandalkan jumpscare, setidaknya penulisan Lele tak lalai membangun jembatan, sehingga berbeda dengan KKN di Desa Penari, Pabrik Gula lebih terasa sebagai "film yang layak" daripada sekadar kompilasi teror dengan jahitan asal-asalan. Kesediaan untuk memperhatikan hal-hal seperti "bridging" dan "build-up" pula (termasuk adegan pembuka yang menampilkan para karakternya berinteraksi dengan bahagia) yang membuat konklusinya bisa meninggalkan rasa pahit sekaligus berdampak pada sebuah tragedi. 

Di sisi lain, Awi Suryadi selaku sutradara kembali menunjukkan eksplorasi teknis mumpuni. Hampir semua kemunculan makhluk halus dibarengi oleh trik teknis yang mengundang decak kagum, entah dari tata kamera, penyuntingan, maupun pemakaian efek komputer yang tepat guna. Dibantu oleh tata kamera Arah Arfian (keduanya pernah bekerja sama di Sebelum 7 Hari, Perewangan, Do You See What I See, juga Kisah Tanah Jawa: Pocong Gundul), Awi pun memoles filmnya supaya tampak megah lewat pilihan shot-nya.
Sekali lagi, kreativitas ide mungkin bukan sesuatu yang dimiliki oleh Pabrik Gula saat melempar teror. Tapi jumpscare-nya digarap dengan solid, dibarengi timing yang presisi, pula tidak terasa menyebalkan karena jeli mengatur volume suara. Ketika di babak ketiga, Dewi Pakis yang memerankan Mbah Jinnah sebagai satu dari dua dukun yang menjaga keamanan pabrik, menggila di tengah adegan upacara persembahan, sulit menampik daya hibur Pabrik Gula sebagai sebuah blockbuster horor.

0 komentar:

Posting Komentar