This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Minggu, 02 November 2025

THE MONKEY

THE MONKEY

Mengadaptasi cerita pendek berjudul sama buatan Stephen King, The Monkey bukan tontonan yang akan menjeratmu dengan cerita. Bahkan Osgood Perkins pun rasanya tidak begitu berhasrat menakut-nakuti penonton melalui film horornya ini. Ketimbang coba kembali formula sukses Longlegs tahun lalu, dan sutradara lebih berambisi meruntuhkan batasan serta aturan. 

Kata "meruntuhkan" mungkin kurang tepat. Dia menghancurkan, menguraikan, membumihanguskan segala sekat yang memisahkan seorang sineas dengan kebebasan eksplorasi. Padahal gagasan dasarnya sederhana saja, yakni tentang mainan monyet yang punya kekuatan supernatural untuk membunuh orang. Sebuah premis usang bila ditilik menggunakan kacamata horor masa kini.

Sepasang saudara kembar, Hal dan Bill Shelburn (versi muda diperankan Christian Convery, versi dewasa oleh Theo James, dan masing-masing begitu luar biasa menghidupkan dua individu yang sama sekali berbeda), menemukan mainan monyet itu dari barang-barang peninggalan ayah mereka yang hilang secara misterius. Setiap kunci di punggung diputar, si monyet akan mulai memainkan drumnya, dan tak lama berselang bakal ada seseorang yang terbunuh mengenaskan. 

Tidak ada ketentuan pasti mengenai siapa yang akan dibunuh, pula kapan sang monyet melangsungkan eksekusi. Semuanya serba acak, seolah-olah monyet pembunuh itu adalah perpanjangan tangan Osgood Perkins dalam eksplorasi pembohongnya. Penonton tidak perlu ambil pusing dan hanya tinggal menunggu hadirnya satu per satu kematian brutal yang dieksekusi dengan luar biasa kreatif.

Perkins bak eksekutor gila yang terus bereksperimen supaya setiap kematian bisa tampil lebih unik dibandingkan kematian sebelumnya. Tapi langkah "paling punk rock" yang Perkins ambil terletak pada sentuhan komedinya, yang bukan sekadar cara agar filmnya menghibur, melainkan satu lagi metode untuk pemberontakan dari norma bercerita. 

The Monkey adalah b-horror yang muncul dengan semangat ala Troma Entertainment, di mana logika dikesampingkan demi memberi ruang pada absurditas. Sebagai film termahal Perkins sejauh ini (11 juta dolar), sampulnya memang terlihat elegan. Tata kamera dengan nuansa vintage Arah Nico Aguilar misalnya, yang acap kali menyebutkan ketidaknyamanan.

Tapi di dalamnya, The Monkey punya film jiwa b yang begitu membara. Tengok bagaimana penokohan diberikan bagi figur-figur seperti pendeta dan polisi. Di suatu kesempatan, ketika mayat salah satu korban si monyet ditemukan dan dibawa keluar dari rumahnya oleh tim paramedis, tiba-tiba dari tengah presentasi para pemandu sorak ceria berteriak, "Mereka mengeluarkan mayatnya!", seolah-olah kematian tersebut. Mungkin kelompok pemandu sorak itu adalah kita sendiri yang terhibur oleh sadisme persembahan Perkins. 

Kisahnya mengusung tema seputar keluarga disfungsional, sambil juga memuat pembahasan mengenai trauma. Jangan harap semuanya digali secara mendalam, karena sang sineas sendiri memang tidak merencanakan perencanaan secara serius. Tengok bagaimana konklusi terkait konflik Hal dan Bill yang selalu berseteru sejak kecil dipaparkan memakai komedi gelap yang seolah mengacungkan jari tengahnya


NO OTHER LAND

 NO OTHER LAND


Aku mulai merekam ketika hidup kami mulai berakhir". Di film lain, itu hanya akan menjadi sebuah kalimat yang ditulis dengan indah. Tapi di No Other Land, alih-alih karakter fiktif, untaian kata di atas terucap dari mulut orang asli, yang menggambarkan realitanya yang bertransformasi menjadi horor asli. Hasilnya adalah salah satu kalimat paling menyayat hati yang pernah diperdengarkan oleh medium sinema.

Empat sutradara (Basel Adra, Hamdan Ballal, Yuval Abraham, dan Rachel Szor) bekerja sama membesut dokumenter yang beberapa waktu mencetak lalu kemenangan bersejarah di Academy Awards ini. Di antara mereka, Basel dan Yuval memiliki peran paling menonjol, karena keduanya ikut berperan sebagai protagonis yang penonton mengikuti kisahnya. 

Basel merupakan aktivis muda Palestina yang vokal melawan pengusiran oleh tentara Israel terhadap warga Masafer Yatta yang jadi tempat tinggalnya. Di sisi lain, Yuval adalah jurnalis Israel yang melawan agresi negaranya sendiri. Narasi No Other Land terdiri atas ribuan jam rekaman yang mereka kumpulkan dari tahun 2019 hingga 2023, pula arsip video milik keluarga Basel yang diambil sejak puluhan tahun lalu.

Tidak ada voice over, tidak ada grafik penjelas, tidak ada wawancara. No Other Land adalah cinéma vérité yang bertujuan memotret realita senyata mungkin. Riyad Mansour selaku duta besar Palestina untuk PBB pernah menyebut serangan Israel di tanah airnya sebagai "genosida paling terdokumentasi sepanjang sejarah", dan film ini memperkuat pernyataan tersebut.

Penonton seolah-olah membawa terjun langsung ke medan perang, dan tak ada ruang tersisa bagi keraguan mengenai apa yang tampak di layar untuk menyeruak. Ketika Harun salah satu tetangga Basel yang berusaha menghalau tentara Israel ditembak oleh para penjajah, ada kengerian yang merambat. Ada seorang pria yang ditembak, coba dibunuh layaknya binatang, tepat di depan mata kita. Bukan reka ulang, bukan adegan buatan.

Bukan hanya paparan sadisme saja yang meninggalkan kesan besar. Kita sempat diajak mundur beberapa tahun ke masa Basel yang masih kecil, tepatnya ketika Tony Blair datang mengunjungi sekolah yang dibangun di tengah ancaman pengusiran. Sang mantan perdana menteri hanya berkeliling selama tujuh menit, dan itu sudah cukup membuat Israel menghentikan upaya penyekusi. Apa jadinya jika para pemegang kekuasaan di seluruh dunia bersedia mengerahkan daya upaya mereka secara total guna membantu rakyat Palestina? 

No Other Land mungkin tidak memenuhi banyak kaidah film, tapi fakta bahwa dokumenter berdurasi 95 menit berhasil dilahirkan tatkala para pembuatnya bertaruh nyawa tiap hari sudah merupakan keajaiban. Mereka tidak perlu memikirkan soal pakem.
Kita pun tidak usah memedulikan tetek bengek di atas. Persoalan teknis tak lagi penting, karena sewaktu-waktu pasukan biadab Israel bukan hanya menghancurkan rumah di Masafer Yatta, tapi juga mengambil alat pertukangan dan melucuti peluang membangun kembali, atau saat muncul larangan bagi rakyat Palestina untuk menyetir akhirnya sebelum berpuncak pada dirusaknya sumber air, kita tengah menjadi saksi genosida.

THE GIRL WITH THE NEEDLE

 THE GIRL WITH THE NEEDLE

The Girl with the Needle, yang jadi perwakilan Denmark di Academy Awards 2025 (berhasil menyabet nominasi), merupakan drama sejarah yang dibungkus layaknya horor arthouse. Tidak ada hantu dalam resolusi konvensional di dalamnya. Hantu di sini tak bisa kita lihat namun dapat dirasakan, sebagai manifestasi kesendirian karakternya yang jatuh ke jurang terdalam akibat terus-menerus mengalami pembuangan.

Kopenhagen, 1919: Karoline (Vic Carmen Sonne) baru diusir dari apartemen akibat 14 minggu lalai membayar uang sewa. Suaminya, Peter (Besir Zeciri), sudah setahun tak memberi kabar dari medan perang. Hubungannya dengan Jørgen (Joachim Fjelstrup), bos pabrik tempatnya bekerja, berawal indah. Tapi niatan menikahi si lelaki selepas mendapati dirinya hamil ditentang keras oleh ibu Jørgen.

Sekali lagi, Karoline merasakan sakitnya dibuang. Magnus von Horn sebagai sutradara sering menempatkan si protagonis di tengah layar seorang diri. Terkadang sosok Karoline dibingkai oleh objek di sekitarnya, atau kegelapan yang ditangkap dengan begitu cantik dalam tata kamera Arah Michał Dymek. Semuanya mewakili kondisi psikologis Karoline.

Sampai di satu titik Karoline memutuskan untuk membalikkan melakukan hal yang selama ini menyiksanya. Dia ingin membuangnya. Targetnya adalah janin yang ia kandung. Tapi sebelum sempat melakukan itu (memakai jarum raksasa yang dibawa ke pemandian umum), Karoline ditolong oleh Dagmar (Trine Dyrholm), perempuan yang sekilas tampak baik hati. Tapi karena karakternya terinspirasi dari Dagmar Overbye, pembunuh berantai yang dari tahun 1913-1920 konon telah merenggut nyawa 25 korban, kita tahu kalau kebaikan tersebut hanya ilusi belaka.

itemani sinematografi hitam putih remang-remang yang menjelaskan betapa kegelapan selalu menaungi karakternya, kita pun turut diajak mengobservasi lingkungan tempat Karoline menghabiskan keseharian. Semuanya kotor, jauh dari kesan higienis, bahkan tidak menjijikkan. 

Bersama tempo lambat yang digerakkan secara presisi, Magnus von Horn berhasil menjadikan The Girl with the Needle sebagai perjalanan mengarungi kekacauan batin Karoline, yang meski dipenuhi ketidaknyamanan, nyatanya juga terasa menghipnotis. Apalagi Vic Carmen Sonne tampil luar biasa merepresentasikan ketersesatan Karoline, terutama melalui permainan ekspresi wajahnya. 

Karoline tengah hilang arah. Tidak tahu harus melangkah ke mana, bahkan tidak benar-benar yakin akan wajah asli dirinya maupun orang-orang di sekitarnya. serupa ditampilkan oleh sekuen pembukanya yang begitu mencekam bak sebuah mimpi buruk absurd, The Girl with the Needle menunjukkan bahwa individu cenderung menyembunyikan wajah asli mereka. Wajah asli yang lebih buruk rupa, dan tak jarang, merupakan wajah yang sangat mengerikan.

NOVOCAINE

NOVOCAINE


Novokain bercerita tentang seorang laki-laki yang tidak bisa merasakan sakit. Tidak boleh ada tali pengekang dalam eksekusinya supaya premis menarik tersebut dapat dimaksimalkan, meskipun mengingat statusnya sebagai rilisan arus utama, keliaran semacam itu sulit (kalau bukan mustahil) dilakukan. Setidaknya Dan Berk dan Robert Olsen selaku sutradara paham harus berbuat apa, lalu mendorong batasan eksplorasi mereka sejauh yang bisa dilakukan, sehingga mampu menghasilkan tontonan yang menghibur.

Nathan "Nate" Caine (Jack Quaid) bekerja sebagai asisten manajer sebuah bank yang tampaknya memedulikan keselamatan karyawan mereka. Ujung pensil yang menutupi tajam, bola tenis pun dipakai untuk melapisi sudut-sudut meja. Nate memerlukan segala bentuk perlindungan tersebut, karena ia mengidap CIPA (Congenital Insensitivity to Pain) yang meniadakan kemampuan merasakan sakit. 

Konon kebanyakan penderita CIPA hanya bisa bertahan hidup sampai usia 25 tahun. Tapi berkat kehati-hatiannya, termasuk pilihan untuk menghindari konsumsi makanan padat guna mengurangi risiko menggigit lidahnya sendiri, membawa Nate bertahan hingga sekarang. Kondisi tersebut membuatnya menjadi korban perundungan masa kecil, oleh teman-temannya yang memberi julukan "Novokain" (nama produk anestesi) pada Nate.

Quaid sempurna memerankan individu yang selalu merasa canggung karena selalu menghindari skenario sosial. Sewaktu jalan Nate untuk mendekati gadis impian sekaligus rekan kerjanya, Sherry (Amber Midthunder), akhirnya terbuka, filmnya pun sejenak beralih jadi komedi romantis yang disukai berkat cara Quaid menangani karakternya. 

Sampai sekelompok orang menjarah bank tempat Nate bekerja. Bukan hanya itu, Sherry pun mereka bawa sebagai sandera. Nate yang selama ini lebih banyak menghabiskan waktu menulis dalam permainan berani di depan layar komputer pun nekat terjun ke medan pertempuran dunia nyata guna mencapai para meraih itu. Biarpun banyak penonton mungkin bisa menebak bahwa berbeda dengan dugaan Nate, Sherry bukanlah gadis yang dalam kesusahan.

Filmnya tersebar besar di Jack Quaid. Naskah buatan Lars Jacobson menyediakan beberapa ide humor menarik yang mayoritas berpusat pada kondisi medis protagonisnya, namun comic timing sang aktor merupakan penghasil tawa utama. Sebagai karakter, reaksi-reaksi yang Nate munculkan tiap mengalami berbagai bentuk luka seolah-olah merupakan cara mempersilakan penonton jangka waktu tragedi kehidupannya. 

Sekali lagi, sebagai rilisan arus utama Novokain memang masih terkesan menahan diri saat mengeksploitasi kondisi tokoh utamanya. Di satu titik, Nate menyusup ke rumah salah satu wilayah yang diam-diam telah dipasang di berbagai perangkap. Panah menembus kakinya, cokmar menghantam punggungnya, dan Nate pun bak bertransformasi menjadi karakter maling dalam Home Alone.
Singkatnya, kita sudah sering menyaksikan karakter dengan ketahanan ekstrim serupa di judul lain, bahkan dalam sebuah film keluarga. Untungnya pada beberapa bagian, khususnya tiap Nate mengakhiri satu demi satu pelaku memelukan, muncul kekerasan dengan level yang membuat Novokain sanggup menjustifikasi eksistensinya, apalagi ia juga didukung pengarahan Berk dan Olsen yang menambah kemampuan secara konsisten di setiap adegan aksi brutalnya.

SINGSOT

 SINGSOT


Satu hal yang patut diapresiasi dari Singsot adalah keotentikannya. Mengambil latar di Jawa, diisi oleh jajaran aktor dengan kemampuan Bahasa Jawa yang bukan dipilih karena alasan popularitas atau tampang semata, pun kisahnya tidak memerlukan adanya perspektif dari karakter asal ibukota yang tengah mengunjungi desa. Tidak banyak rilis hororan rumah produksi besar bersedia memperhatikan semua itu. 

Mengadaptasi film pendek berjudul sama yang juga digarap oleh Wahyu Agung Prasetyo, Singsot versi layar lebar masih mengetengahkan jalinan kisah yang senada. Alkisah, karena sering memperhatikan sang kakek (Landung Simatupang) merawat burung, bocah bernama Ipung (Ardhana Jovin Aska Haryanto) mulai berbagi ketertarikan serupa. Siulan pun semakin sering keluar dari mulut Ipung, termasuk di waktu magrib meski sang nenek (Sri Isworowati) telah menghardiknya. Benar saja, siulan Ipung jadi awal rangkaian pemandangan mengerikan yang ia saksikan.

Naskah yang Wahyu tulis bersama Vanis coba mengakali alih medium ke film panjang dengan cara memperluas cakupan cerita, yang tak lagi hanya berpusat di rumah protagonisnya, tapi juga menyoroti fenomena misterius di desa setempat. Dikisahkan, seorang warga bernama Agus Pete (Jamaluddin Latif) ditemukan di tengah hutan dalam kondisi katatonik. Kini ia cuma bisa berbaring di kasur dan sepenuhnya bergantung pada sang istri, Wiwik (Siti Fauziah). 

Muncul pemandangan jenaka tatkala dua ibu-ibu kampung mulai bergunjing mengenai kondisi Agus Pete. Siti Fauziah yang selepas kesuksesan Tilik (2018) mulai terjebak dalam typecast sebagai perempuan desa penyuka gosip bermulut tajam, di sini berubah 180 derajat menjadi korban gosip. 

Patut disyukuri bagaimana tambahan konflik seputar teror yang warga setempat alami tidak selalu memaksa para penulisnya untuk memaksa ceritanya membengkak secara berlebihan jika dibandingkan sumber adaptasinya. Durasi versi layar lebarnya pun cenderung pendek, hanya 75 menit.

Namun bahkan dengan durasi sependek itu alurnya masih terasa tipis, karena sebagian besar hanya tersusun atas kompilasi teror yang Ipung hadapi, sambil sesekali diselingi oleh interaksi dua tetua desa (termasuk kakek Ipung), saat mereka membicarakan perihal klenik yang mungkin tengah terjadi. Diskusi kedua tetua tersebut merupakan esensi dari unsur budaya mistis Jawa yang mengakar kuat di kisahnya, alih-alih jadi pernak-pernik semata. 

Intensitas pembangunan dari Wahyu Agung Prasetyo sejatinya cukup apik. Biarpun acap kali berakhir pada trik jumpscare generik, di mana para hantu sebatas menampilkan wajah mereka yang jauh dari cantik, hampir semua terornya disokong oleh build-up yang tampil creepy berkat pendekatannya yang tidak takut mengandalkan kesunyian.

Masalahnya, penulisan teror dalam naskahnya benar-benar kacau, terutama akibat terlalu bergantung pada adegan mimpi. Di versi film pendek, pemakaian mimpi bisa diterima karena tidak berlebihan dan sesuai dengan kepercayaan terkait celana tertidur di waktu magrib. Di sini, mimpi bagaikan cara malas meminimalkan kreativitas yang terus direpetisi supaya naskahnya punya alasan memunculkan hantu.

sebenarnya ada niat baik dari naskahnya yang enggan menyuapi penonton secara berlebihan, lalu membiarkan kita mengingat dan menyatukan keping-keping puzzle sendiri. Sayang, akibat lemahnya penulisan, alih-alih proses memecahkan teka-teki yang menstimulus kerja otak, Singsot lebih seperti kekacauan yang membingungkan.
Setidaknya, seperti yang telah disinggung pada awal tulisan, film ini merupakan presentasi yang autentik. Ditunjang akting kuat jajaran pemain yang fasih melafalkan Bahasa Jawa, pula berperilaku layaknya manusia normal, dunia filmnya yang muncul tidak terasa berbeda dengan realita tempat kita tinggal. Andai saja ia berhasil memberi teror mumpuni.

SAMAR

 SAMAR

Walau masih menampilkan hantu, Samar tak memuat berbagai elemen klise nan membosankan khas horor lokal seperti santet, pesugihan, ritual perdukunan, atau kepercayaan klenik Jawa. Karya terbaru Renaldo Samsara ini memang horor psikologis serba berantakan yang berusaha terlalu keras mengembuskan napas Lynchian, tapi keberaniannya membawa gaya tutur alternatif di tengah kemonotonan horor Indonesia jelas layak diapresiasi. 

Ilmira Nirmala (Imelda Therinne) adalah komikus horor yang tengah menetap di daerah terpencil, tepatnya di rumah warisan keluarganya, dalam rangka menyelesaikan karya terbarunya. Seorang gadis misterius (Aurora Ribero) juga tinggal bersama Ilmira. Hubungan keduanya baru terungkap selepas twist di paruh akhir.

Satu yang pasti, baik Ilmira maupun si gadis sama-sama bisa melihat hantu. Jika Aurora Ribero membentuk karakternya sebagai individu penakut yang selalu menempel pada Ilmira jika bersinggungan dengan hantu, maka Imelda Therinne membawa karisma yang memesona. Alih-alih terkejut apalagi takut, hanya memunculkan sinis yang Ilmira munculkan setiap beradu mata dengan makhluk halas bertampang seseram apa pun. 

Salah satu aspek esensial dalam kehidupan Ilmira adalah kedamaian dengan sang suami, Salman (Revaldo), yang sedang ia gugat cerai pasca ketahuan berselingkuh. “Mau bawa celana dalam aku sekalian buat kenang-kenangan?”, ucap Ilmira sambil setengah mengusir Salman yang tak pernah bisa menahan dorongan nafsunya.

Pendekatan Samar, yang membagi kisahnya menjadi enam bab dan lebih mengedepankan eksplorasi terhadap rutinitas si protagonis daripada menggunakan pola linier khas film horor arus utama memang cukup menyegarkan. Masalahnya, Renaldo Samsara bak terlampau memaksakan filmnya untuk tampil unik di semua sisi. Hasilnya adalah sebuah tontonan yang acap kali memperumit hal-hal sederhana.

Misalnya jalinan kalimat dalam naskah yang dinyanyikan sutradara tulis bersama Nandray S. dan Fanya Runkat. Tengok interaksi Ilmira dan Salman di awal film yang alih-alih menyuplai informasi selengkap mungkin untuk penonton mengenai dinamika kedua karakter, justru menghalangi tersampaikannya informasi tersebut akibat diksi yang seperti ingin menampilkan intelektualitas secara berlebihan.

Begitu pula departemen penyuntingan yang ditangani oleh M. Fahrul Ihwan dan (sekali lagi) Renaldo Samsara. Begitu banyak lompatan kejam sepanjang 97 menit durasinya, yang membuat poin-poin cerita sederhana tampil lebih ruwet dari yang seharusnya. Bab 1-3 yang terus berkutat pada rutinitas berulang Ilmira di rumah terkesan berusaha menyembunyikan stagnasi alur di balik susunan narasi gaya minimal substansi. 

Barulah memasuki bab keempat, yang ditandai kedatangan penerbit komik Ilmira, Bram (diperankan Kevin Julio yang kembali mengingatkan betapa dia merupakan salah satu aktor yang paling diremehkan), alurnya tampil lebih berwarna, semakin rapi, dan penting, memungkinkan memperluas cakupan eksplorasinya. Menarik melihat Ilmira sebagai indigo mesti bermimpi dengan dunia luar, dari restoran yang memakai penglaris berupa ludah hantu, hingga pasutri yang hendak membeli rumahnya tanpa menyadari keangkeran tempat tersebut.

Jangan berharap jumpscare Berisi dengan kuantitas setinggi langit di sini. Samar bukan sebatas menampilkan deretan penampakannya (yang tidak dikemas memakai volume berlebihan) sebagai alat menakut-nakuti, tapi juga media untuk menjabarkan dinamika psikologis si protagonis, yang terus ditelusuri hingga mencapai twist di penghujung durasi.

Twist-nya mungkin terkesan memikat penonton, namun ia juga mampu memperkuat poin yang coba Samar sampaikan, yakni perihal kekuatan karya seni, yang di film ini ditutupi oleh komik. Bahwa seni bisa menjadi medium katarsis yang membantu sang pembuat karya maupun orang lain yang menikmati karya tersebut, untuk menghadapi beragam permasalahan mental yang menghantui kehidupan mereka.

A REAL PAIN

A REAL PAIN

A Real Pain membawa kompleksitas terkait isu kesehatan mental, yang ia kaitkan dengan fenomena trauma transgenerasi akibat luka kolektif di masa lalu. Jesse Eisenberg selaku sutradara sekaligus penulis naskah memahami sakit yang dirasakan pengidap gangguan mental, tanpa mengingat beban menyesakkan yang diemban oleh orang-orang terdekat yang memedulikannya. 

Dua sepupu, David (Jesse Eisenberg) dan Benji (Kieran Culkin), menjalani tur menuju beragam tempat yang merekam sejarah memilukan leluhur mereka, yaitu orang-orang Yahudi di Polandia. Dahulu keduanya sangat dekat, hingga sebuah peristiwa yang terjadi di belakangan berakhir merenggangkan hubungan antar sepupu tersebut.

Sekilas kita bisa langsung melihat betapa berbedanya David dan Benji setelah tur berlangsung. Benji ibarat dinamo yang jadi sumber energi dalam kelompok, sedangkan David adalah sosok canggung yang selalu ragu saat menentukan tindakan. Ketika Benji selalu mengucap "peduli setan", David cenderung merasa khawatir. 

Di kursi sutradara, Eisenberg seolah juga membawa penonton mengarungi sebuah tur yang dijalankan dengan begitu nyaman, sehingga membuat kita tak menyadari bahwa waktu telah lama bergulir. Sedangkan penggunaan musik-musik gubahan Chopin nyatanya bukan sebatas easter egg karena sang pencipta lahir di Polandia, melainkan juga cara Eisenberg menyelaraskan suasana klasik dari departemen audio dan visual filmnya, yang banyak mengunjungi situs bersejarah.

Tapi tidak butuh waktu lama hingga kita dan para peserta tur menemukan wajah Benji yang lain. Si pemuda menyenangkan yang penuh aura positif itu bisa tiba-tiba berubah menjadi pemarah yang diselimuti hawa negatif. Benji yang awalnya enggan memusingkan apa pun, tiba-tiba jadi individu yang mempermasalahkan segala hal. Semua orang terkejut, tapi tidak dengan David yang telah mengetahui wajah ganda sepupunya. 

Benji bergulat dengan masalah kesehatan mental, dan perjalanan mengunjungi tempat-tempat yang merekam penderita leluhurnya, khususnya kamp konsentrasi yang bila dilihat dari luar tampak tidak mengerikan sama sekali, semakin memantik pergulatan batinnya. Di pihak lain, David pun menghadapi dilema. Dia menyayangi Benji, tapi juga iri, bahkan tak jarang menaruh kebencian, salah satunya akibat ketidakstabilan kondisi mental si sepupu.

A Real Pain seperti ingin menegaskan bahwa rasa sakit kedua pihak sama-sama valid dan tak ada yang patut dikerdilkan. Dinamika tersebut Eisenberg tautkan dengan keresahan yang dialami kaum Yahudi penyuntas genosida generasi ketiga, yang biarpun telah menjalani hidup dengan damai, tetap merasa perlu mengingat penderitaan para leluhur. Rasa bersalah pun acap kali muncul dalam dua konteks di atas. 

Kinerja luar biasa kedua aktornya pun membantu tersampaikannya pesan tersebut. Meski telah berkali-kali melakoni peran serupa, bukan berarti kemampuan Eisenberg menghantarkan emosi di tengah tindak-tanduk canggung karakternya boleh dipandang ke sebelah mata. 

Namun gelar penampil terbaik tentu pantas disematkan pada Kieran Culkin, berkat kehebatannya menghidupkan dua wajah berseberangan yang secara bergantian ditampakkan oleh Benji. Perhatikan sorot mata sang aktor di adegan penutup filmnya. Sorot mata individu yang terpaksa menerima kembali ke titik awal, berkutat bersama luka-luka dan kesendirian yang menyiksanya, sementara manusia-manusia lain terus berlalu, pergi menjauh tanpa memperhatikannya.