Minggu, 02 November 2025

THE MONKEY

THE MONKEY

Mengadaptasi cerita pendek berjudul sama buatan Stephen King, The Monkey bukan tontonan yang akan menjeratmu dengan cerita. Bahkan Osgood Perkins pun rasanya tidak begitu berhasrat menakut-nakuti penonton melalui film horornya ini. Ketimbang coba kembali formula sukses Longlegs tahun lalu, dan sutradara lebih berambisi meruntuhkan batasan serta aturan. 

Kata "meruntuhkan" mungkin kurang tepat. Dia menghancurkan, menguraikan, membumihanguskan segala sekat yang memisahkan seorang sineas dengan kebebasan eksplorasi. Padahal gagasan dasarnya sederhana saja, yakni tentang mainan monyet yang punya kekuatan supernatural untuk membunuh orang. Sebuah premis usang bila ditilik menggunakan kacamata horor masa kini.

Sepasang saudara kembar, Hal dan Bill Shelburn (versi muda diperankan Christian Convery, versi dewasa oleh Theo James, dan masing-masing begitu luar biasa menghidupkan dua individu yang sama sekali berbeda), menemukan mainan monyet itu dari barang-barang peninggalan ayah mereka yang hilang secara misterius. Setiap kunci di punggung diputar, si monyet akan mulai memainkan drumnya, dan tak lama berselang bakal ada seseorang yang terbunuh mengenaskan. 

Tidak ada ketentuan pasti mengenai siapa yang akan dibunuh, pula kapan sang monyet melangsungkan eksekusi. Semuanya serba acak, seolah-olah monyet pembunuh itu adalah perpanjangan tangan Osgood Perkins dalam eksplorasi pembohongnya. Penonton tidak perlu ambil pusing dan hanya tinggal menunggu hadirnya satu per satu kematian brutal yang dieksekusi dengan luar biasa kreatif.

Perkins bak eksekutor gila yang terus bereksperimen supaya setiap kematian bisa tampil lebih unik dibandingkan kematian sebelumnya. Tapi langkah "paling punk rock" yang Perkins ambil terletak pada sentuhan komedinya, yang bukan sekadar cara agar filmnya menghibur, melainkan satu lagi metode untuk pemberontakan dari norma bercerita. 

The Monkey adalah b-horror yang muncul dengan semangat ala Troma Entertainment, di mana logika dikesampingkan demi memberi ruang pada absurditas. Sebagai film termahal Perkins sejauh ini (11 juta dolar), sampulnya memang terlihat elegan. Tata kamera dengan nuansa vintage Arah Nico Aguilar misalnya, yang acap kali menyebutkan ketidaknyamanan.

Tapi di dalamnya, The Monkey punya film jiwa b yang begitu membara. Tengok bagaimana penokohan diberikan bagi figur-figur seperti pendeta dan polisi. Di suatu kesempatan, ketika mayat salah satu korban si monyet ditemukan dan dibawa keluar dari rumahnya oleh tim paramedis, tiba-tiba dari tengah presentasi para pemandu sorak ceria berteriak, "Mereka mengeluarkan mayatnya!", seolah-olah kematian tersebut. Mungkin kelompok pemandu sorak itu adalah kita sendiri yang terhibur oleh sadisme persembahan Perkins. 

Kisahnya mengusung tema seputar keluarga disfungsional, sambil juga memuat pembahasan mengenai trauma. Jangan harap semuanya digali secara mendalam, karena sang sineas sendiri memang tidak merencanakan perencanaan secara serius. Tengok bagaimana konklusi terkait konflik Hal dan Bill yang selalu berseteru sejak kecil dipaparkan memakai komedi gelap yang seolah mengacungkan jari tengahnya


0 komentar:

Posting Komentar