This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Senin, 22 Desember 2025

BALLERINA

 BALLERINA


Ballerina (dipasarkan dengan judul lengkap From the World of John Wick: Ballerina), sebagai spin-off dengan latar di antara film John Wick ketiga dan keempat, adalah actioner yang hebat. Dia punya banyak hal yang membuat genrenya terasa usang, kemudian mengubah cara keklisean itu berjalan.

Misal ketika protagonisnya tengah memilih senjata. Kita semua familiar dengan "adegan wajib ada" yang membosankan ini. Mendadak filmnya mengecoh ekspektasi dengan mendatangkan baku tembak secara tiba-tiba. Lihat juga apa yang terjadi sewaktu tokoh mengendarai mobil utamanya untuk pergi dari lokasi kematian, pada suatu momen yang biasanya hanya berstatus transisi antar adegan. 

Si protagonis bernama Eve (Ana de Armas), balerina yang diburu sebagai pembunuh oleh Ruska Roma, organisasi kriminal tempat John Wick (Keanu Reeves) sebelumnya sempat bernaung. Eve yang termotivasi untuk mencari pembunuh sang ayah pun berlatih mati-matian. Dia berlatih balet hingga kaki berlumuran darah, berkali-kali pula terkena lesatan peluru karet serta pukulan menyakitkan selama latihan, dalam training montage yang tersaji keren berkat iringan musik elektroniknya. Selama durasi 125 menit, departemen penyuntingannya jeli mengawinkan timing gerak karakternya dengan hentakan musik.

Nantinya Eve mengetahui bahwa pembunuh sang ayah merupakan sekelompok sekte pembunuh yang diketuai oleh Chancellor (Gabriel Byrne). Tapi sebelum menumpahkan darah demi balas dendam, ia harus melakoni misi perdana, yang mengharuskannya melindungi Katla Park (Choi Soo-young) di sebuah kelab malam. 

Ana de Armas mengenakan mantel bulu, lalu dengan kepercayaan diri yang kekuatan tarikan gravitasi, berjalan dalam balutan gerakan lambat. Karisma seorang jagoan laga jelas dimilikinya. Ketika melakoni baku hantam pun ia tampak meyakinkan. Untungnya di misi perdana tersebut, Bahkan tidak secara ajaib langsung dibuat sehebat John Wick. Dia terjatuh ke lantai, bahkan ditendang hingga menghantam dinding kaca. Tata suaranya membuat semua pemandangan itu terasa menyakitkan. Tapi Hawa selalu bangkit. Itulah keunggulan terbesarnya.

Dalam seri John Wick, orang-orang menggerakkan pistol dengan begitu mulus bak sedang menari, dan Len Wiseman yang duduk di kursi sutradara melanjutkan tradisi tersebut (walau konon banyak adegan aksi merupakan hasil reshoot di bawah Arah Chad Stahelski). Tapi Ballerina tidak sebatas kembali teknik gun fu. Naskah buatan Shay Hatten menyediakan setumpuk ide kreatif, yang banyak di antaranya jarang, atau malah belum pernah ditampilkan film-film lain.

Aksi melempar piring di dapur, penggunaan sepatu ski sebagai alat ganti pisau, sampai yang terbaik adalah sewaktu alat pelontar api yang kehadirannya di genre aksi belakangan ini sudah tak lagi spesial, mampu digunakan sebagai dasar untuk sebuah momen luar biasa kreatif yang memadukan kebrutalan dengan keindahan. Daripada aksi biasa, di situ Eve dan lawannya bak tengah berduet dalam suatu pertunjukan tari kontemporer.
Alurnya memang tidak memiliki kedalaman dan masih bergulir di formula kisah balas dendam ala kadarnya, meski babak ketiganya sedikit membawa kesegaran saat meminjam lalu memodifikasi formula horor folk. Kita pun takkan dibuat memedulikan Hawa, apalagi keterikatan secara emosional di dalamnya. Tapi menilik rangkaian kreativitas di atas, ada pencapaian luar biasa tinggi yang lebih pantas untuk dirayakan, alih-alih mengeluhkan perihal penceritaan.

BRING HER BACK

 BRING HER BACK


Bring Her Back adalah horor yang akan membuat penontonnya merasakan ragam emosi negatif, dari sedih, cemas, marah, hingga tentunya takut. Serupa Talk to Me tiga tahun lalu, duo RackaRacka (Danny Philippou dan Michael Philippou) selaku sutradara kembali memakai formula genrenya, untuk menunjukkan bahwa perbedaan antara dunia orang hidup dan orang mati mestinya tetap dipertahankan, semenyakitkan apa pun itu.

Meski bukan saudara kandung, Andy (Billy Barratt) dan adiknya yang memiliki gangguan penglihatan, Piper (diperankan Sora Wong yang mengidap koloboma dan mikroftalmia dalam kehidupan nyata), tetap saling menyayangi. Ikatan keduanya diuji saat sang ayah tiba-tiba meninggal akibat kanker, dan mereka harus tinggal di bawah asuhan mantan konselor bernama Laura (Sally Hawkins).

Tentu saja Laura menampilkan perilaku aneh, tapi di dalamnya terdapat kecerdikan naskah buatan Danny Philippou dan Bill Hinzman menampakkan diri. Kecurigaan kita sering disulut oleh tindak-tanduk Laura, namun ada kalanya ia memancarkan kehangatan. Kompleksitas tersebut juga dimotori oleh penampilan luar biasa dari Sally Hawkins, melalui dualitas dalam senyuman yang tak selalu jadi simbol kepedulian.

Bring Her Back bersedia menghabiskan waktu untuk memberi ruang eksplorasi pada tema dan karakternya. Andy bakal menjadi figur yang paling kuat mengikat ikatan emosional dengan penonton, sebagai sesosok remaja yang luka batinnya sering disalahartikan sebagai bentuk kenakalan. 

Sungguh rumit problematika yang berkecamuk di hati Andy, yang terombang-ambing antara cinta dan benci. Sewaktu menemukan ayahnya yang dahulu kerap memukulinya dalam kondisi tak sadarkan diri, dia hanya mematung alih-alih langsung memberi pertolongan. Trauma, kesedihan, sampai rasa bersalah, semuanya bercampur lalu menimbulkan perasaan khawatir yang aneh di dada.

Meski lebih mengedepankan cerita, Danny dan Michael selalu memastikan agar kita tidak lupa bahwa film yang sedang disaksikan adalah sebuah horor, dengan secara rutin menaruh situasi yang mengganggu, yang acap kali mengandung unsur kekerasan yang tidak asal mengumbar gore, tapi menyimpan dampak nyata bagi psikologis penonton. Momen saat Andy memberi makan pada anak asuh Laura yang lain, Oliver (Jonah Wren Phillips), merupakan awal dari gerbang terbukanya neraka ke dunia bangunan duo RackaRacka.

Secara bertahap filmnya akan mengungkap kebenaran di balik misterinya, sambil memperkenalkan penonton pada suatu jenis ritual sinting dengan modus operandi kreatif, yang menjauh dari keklisean upaca mistis khas sinema horor. Dari situlah Bring Her Back menghadirkan proses soal melihat kebenaran, yang nyatanya tak memiliki kaitan dengan keterbatasan indera penglihatan seperti yang Piper alami. Mata yang lebih tajam itu bernama "hati".

Minggu, 21 Desember 2025

PREDATOR: KILLER OF KILLERS

 PREDATOR: KILLER OF KILLERS


Prey (2022) berhasil membangkitkan franchise-nya karena ia memahami esensi film aslinya, ketika mengadu sang alien hunter dengan manusia yang masih mengakrabi sisi hewani yang menstimulus insting bertahan hidup mereka. Predator: Killer of Killers membawa pemahaman serupa, bahkan melipatgandakannya, lalu melahirkan film Predator terbaik sejak Arnold Schwarzenegger menampilkan maskulinitasnya di hutan Val Verde. 

Alurnya dibagi menjadi tiga latar waktu, di mana setiap masa memiliki "pembunuhnya" masing-masing. Skandinavia tahun 841 membawa kita mengikuti Ursa (Lindsay LaVanchy) sebagai pemimpin para prajurit Viking yang terlibat pertempuran dengan pasukan Krivich. Di Jepang tahun 1609 ada konflik antara Kenji dan Kiyoshi (Louis Ozawa), dua putra seorang samurai yang menempuh jalan hidup yang berbeda. Kemudian ada kisah tentang Torres (Rick Gonzalez), pilot yang terjun ke Perang Dunia II di tahun 1942. 

Format animasi memberi kebebasan eksplorasi bagi sang sutradara, Dan Trachtenberg, mengingat perjalanan menempuh tiga masa niscaya akan memerlukan biaya luar biasa besar bila dipresentasikan dalam bentuk live action. Menyaksikan visual Predator: Killer of Killers terasa seperti mengunjungi museum berisi lukisan-lukisan yang menangkap jejak kekerasan umat manusia secara indah.

tumpah, anggota tubuh terpotong-potong, kepala terlontar ke angkasa. Semua terjadi saat tiga protagonis kita harus menyambut kunjungan para Predator. Setiap karakter menghadapi monster yang berbeda sesuai gaya pertarungan mereka, yang membuat penggambaran cerita tak pernah terasa monoton. 

Naskah garapan Micho Robert Rutare sejatinya tidak menyediakan jalinan cerita kompleks, tapi kesederhanaan tersebut diolah secara efektif, sehingga durasi yang cenderung singkat (90 menit) tidak menghalangi Killer of Killers mengembangkan mitologi franchise-nya. Belum pernah dunia Predator mengembangkan semenarik ini, tanpa harus menggelar eksperimen yang terlalu pembohong (Saya melihat Anda 'The Predator'). 

Segala gelaran aksi film ini tampil begitu badass bukan saja karena penggunaan kekerasannya, tapi juga ketiadaan kesan basa-basi di setiap pertarungan. Tiga protagonisnya tidak perlu dibuat mengerti dan mencoba menganalisis makhluk apa yang mereka hadapi. Raksasa? Asing? Mereka tidak peduli. Satu hal yang ketiganya pahami betul adalah, mereka harus membunuh bila tak mau dibunuh.

Babak terbaiknya adalah pertarungan di Jepang, yang sebagian besar dipaparkan secara non-verbal. Karakternya memerlukan kata-kata dan bicara melalui ayunan katana, yang disajikan dalam rangkaian koreografi kelas satu, yang mendapat manfaat besar dari pemakaian medium animasi dengan segala kebebasannya. Fase Perang Dunia II tampil paling umum layaknya suguhan blockbuster bombastis khas Hollywood, biarpun rentetan pertarungan udaranya tetap digarap dengan kualitas mumpuni.

Predator: Killer of Killers memang kisah soal aksi saling bunuh diri, namun di sisi lain ia juga tampil bak potret mengenai bagaimana umat manusia sebagai makhluk berakal, perjalanan proses untuk meninggalkan kebarbaran mereka, kemudian belajar bahwa balas dendam takkan mendatangkan kedamaian, pun kekerasan tidak selalu menjadi jawaban atas segala permasalahan.

ELIO

 ELIO


Belum sampai lima menit film ini bergulir, tangis saya sudah jatuh melihat si protagonis yang wajahnya pun dibasahi air mata. Elio (Yonas Kibreab) namanya, bocah 11 tahun yang tak menangis layaknya "karakter kartun". Hanya setitik air mata mengalir di pipi Elio, sementara jantungnya berpikir sama yang menghantui. Mungkin dia sendiri tidak sepenuhnya memahami alasan kepiluannya. Ada kalanya kita berada pada kondisi serupa. Kedalaman jiwa manusia memang tak kalah misterius dari jagat raya.

Sama seperti karya-karya terbaik Pixar, Elio memahami kompleksitas emosi manusia. Adegan di atas menampilkan Elio berbaring di semacam planetarium di kantor bibinya, Olga (Zoe SaldaƱa), yang tergabung dalam kesatuan angkatan udara. Elio yang sebatang kara sepeninggal kedua orang tuanya, terhipnotis oleh hipotesis bahwa umat manusia bukanlah seorang diri di alam semesta. Dia berharap alien menculiknya, membawanya pergi ke dunia di mana ia diinginkan oleh para penghuninya.

Kelak harapan itu jadi kenyataan, meski sedikit berbeda dari apa yang Elio bayangkan, di mana ia malah terjebak di tengah konflik luar angkasa, yang juga membawa sebuah persahabatan unik dengan makhluk dari Hylurg bernama Glordon (Remy Edgerly). Saya tidak menyebutnya "alien", karena bagi Glordon pun Elio merupakan alien. Semua hanya perihal perspektif. Pastinya, mereka sama-sama teralienasi di tempat tinggal masing-masing.

Momen saat Bumi pertama kali disambangi oleh makhluk ekstraterestrial yang menciptakan gangguan bagi beragam benda elektronik serta berjasa menghapus kristalme dalam diri Olga, memancarkan atmosfer mencekam nan magis khas film bertema "kunjungan alien". Trio sutradaranya, Madeline Sharafian, Domee Shi (Turning Red), dan Adrian Molina (Coco) kentara mengerjakan pekerjaan rumah mereka di adegan tersebut. 

Begitu pula Julia Cho, Mark Hammer, dan Mike Jones selaku penulis naskah. Close Encounters of the Third Kind (1977) buatan Steven Spielberg terkenal lewat tagline-nya yang berbunyi "We are not alone", yang hingga kini seolah jadi kalimat wajib dalam film mengenai invasi alien. Elio mengambil kalimat yang bersinonim dengan kengerian itu menjadi sesuatu yang lebih bermakna, dengan penerapannya dalam perjalanan protagonisnya yang mengusir rasa sepi.

Sewaktu kisahnya mengajak penonton bertualang menjauhi Bumi, biarpun Elio dan Glordon adalah duo yang mudah dicintai, alurnya sebatas meluncurkan suguhan buddy comedy generik. Luar angkasa dengan segala keanehannya tidak lebih dari pernak-pernik visual yang memikat mata hasil eksplorasi minimalnya. Padahal pembangunan dunia kerap jadi keunggulan Pixar. Sebaliknya, Elio mencapai fase terbaik tiap alurnya mewujudkan koneksi dengan kehidupan di Bumi. Di situlah ia sukses mengawinkan unsur fiksi-ilmiah dan drama humanis dengan apik.

Saya kembali meneteskan air mata di babak ketiga tatkala Elio yang tengah melayang di orbit Bumi akhirnya diyakinkan bahwa ia tidaklah seorang diri. Bagi individu yang sudah terlalu lama terkurung dalam rasa sepi, ucapan "Kamu tidak sendiri" ibarat gaya tarik gravitasi yang menjaganya supaya tak terbang mengawang-awang di ruang hampa bernama "kesendirian".

THE LIFE OF CHUCK

 THE LIFE OF CHUCK



Saya baru saja menemukan film yang paling saya sukai tahun ini. The Life of Chuck punya cerita yang tidak memenuhi kaidah logika, sebab kita memang tidak perlu memandangnya secara logis. Cukup resapi tiap momen dengan hati, rasakan, renungkan, lalu begitu kredit penutup bergulir, mungkin seperti saya, kalian akan duduk menonton melihat ruang kosong yang muncul di layar, kemudian tanpa sadar berujar, "Hidup ini berharga"
Kisahnya mengadaptasi novela berjudul sama karya Stephen King, dan acap kali cara bertuturnya memang terkesan "terlalu novel', dengan segala narasi cerewet serta dialog panjang. Tapi dibandingkan segala keindahan yang ditawarkan The Life of Chuck, kecerewetan itu ibarat setitik noda yang nyaris tak kasatmata. 

Alurnya dibagi menjadi tiga babak yang masing-masing merekam fase hidup Charles "Chuck" Krantz (Tom Hiddleston). Kronologinya berjalan mundur, di mana babak ketiga muncul paling awal, menggambarkan kondisi dunia yang mendekati gerbang berhenti. Di tengah kehancuran yang datang silih berganti, guru sekolah menengah bernama Marty (Chiwetel Ejiofor) dibuat kebingungan oleh rentetan iklan berisi ucapan terima kasih bagi Chuck.
Poster, baliho, hingga televisi yang menampilkannya. Orang-orang di seluruh dunia ikut serta, tapi tak satu pun mengenal identitas Chuck. "39 Tahun yang Luar Biasa! Terima kasih Chuck!" tulis iklan yang bak ucapan pensiun tersebut. “Dia terlalu muda untuk orang yang sudah bekerja selama 39 tahun”, ucap Marty. Banyak tanda tanya di kepala si guru, tapi dunia tetap bergerak menuju kehancuran, bak menunjukkan ketidakpedulian terhadap rasa penasarannya.

Film ini disutradarai oleh Mike Flanagan (juga sebagai penulis naskah dan editor) yang baru kali pertama mengarahkan suguhan non-horor. Jejaknya sebagai “ahli teror” masih terasa. Momen saat Marty duduk bersama mantan istrinya, Felicia (dipreankan Karen Gillan yang piawai mengolah emosi), di bawah bentangan langit malam yang pelan-pelan menampilkan anomali, mungkin adalah adegan paling menyeramkan yang pernah Flanagan ciptakan di layar lebar.
Kala itu malam mencekam, sekaligus mengingatkan betapa dibandingkan luasnya alam semesta, eksistensi umat manusia begitu kecil, begitu kerdil, begitu rapuh, begitu fana. Tapi bukan berarti tanpa makna. "Saya mengandung banyak sekali". Begitu bunyi kutipan dari puisi Song of Myself karya Walt Whitman yang dibacakan Miss Richards (Kate Siegel), guru Chuck semasa kecil di babak pertama. Kalimat yang memandang eksistensi manusia layaknya suatu semesta tersendiri sehingga sangat berharga. 

Kutipan puisi di atas jadi kunci untuk memahami keabsurdan misteri mengenai jati diri protagonisnya. Tapi hal utama yang Flanagan ingin penontonnya lalui bukanlah proses memahami, melainkan merasakan. Rasakan saja adegan-adegan magis yang sang sineas ciptakan. "Tarian di jalanan" yang mendominasi babak keduanya jadi panggung bagi Tom Hiddleston dan Annalise Basso untuk menunjukkan kemampuan berkomunikasi melalui gerak tubuh.
Mark Hamill ikut mencuri perhatian lewat penampilannya sebagai Albie, kakek Chuck yang mulai menunjukkan kerapuhannya, baik secara fisik maupun psikologis. Albie tersiksa oleh pengetahuannya atas apa yang akan terjadi. Ada kalanya ketidaktahuan adalah sebuah berkah. Sama seperti perasaan saat menonton The Life of Chuck, yang sukses membangun antusiasme lewat setumpuk tanda tanya. Apa yang akan terjadi setelahnya? Ke mana ceritanya akan bermuara? Sinema sebagai miniatur kehidupan memang sama misteriusnya



KITAB SIJJIN & ILLIYYIN

 KITAB SIJJIN & ILLIYYIN


Judul film ini Merujuk pada dua kitab yang berisi catatan amal buruk dan (sijjin) amal baik (illiyyin) manusia, yang merepresentasikan terjadinya antara kebaikan dengan keburukan sebagai konflik utama Kitab Sijjin & Illiyyin. Entah sudah berapa ratus horor Indonesia mengedepankan perihal tersebut. Tapi ada sisi sebuah twist: si protagonis mewakili jahat dalam pertarungan itu.

Selepas kematian aneh kedua orang tuanya semasa ia kecil, Yuli (Yunita Siregar) selalu hidup dalam penderitaan akibat mengamati Ambar (Djenar Maesa Ayu). Yuli adalah anak hasil perselingkuhan sang ibu dengan suami Ambar. Layaknya kehidupan Cinderella di bawah cerminan si ibu tiri, Yuli pun harus menjalani hari bak pembantu. Laras (Dinda Kanyadewi), putri tunggal Ambar, juga tak ketinggalan menyiksanya.

Naskah buatan Lele Laila bergerak seperti sinetron yang mampu menyulut kebencian penonton pada deretan karakter yang kejam terhadap protagonisnya. Elegan? Mungkin tidak, tapi jelas efektif. Suami Laras, Rudi (Tarra Budiman), serta dua anak mereka, Tika (Kawai Labiba) dan Dean (Sultan Hamonangan), mungkin tak melukai secara langsung, namun mereka diam saja menyaksikan nasib buruk Yuli, seolah-olah semuanya pemandangan lumrah.

Jika Cinderella tetap berpose positif sambil bernyanyi bersama kicauan burung, maka Yuli memilih beralih pada bisikan setan. Dibantu oleh dukun bernama Pana (Septian Dwi Cahyo), ilmu santet jadi jalan keluarnya. Yuli ingin Ambar beserta seluruh anggota keluarganya mati mengenaskan, tidak kecuali dua anak Laras yang masih belia. 

Ritual santetnya mengharuskan Yuli memakai mayat segar sebagai pengganti boneka teluh. Mayat itu Yuli bedah, ia memasukkan nama-nama target ke dalamnya, kemudian dijahitnya kembali lubang itu dengan cara yang tak sempurna. Tim artistik Kitab Sijjin & Illiyyin menampilkan hasil kerja mumpuni dengan memanfaatkan efek praktis untuk memoles proses menjijikkan tersebut.

Beberapa efek praktikal juga dimanfaatkan saat ilmu santet mulai menyerang tubuh korbannya. Elemen kekerasannya tidak terlalu ekstrim, namun pengarahan Hadrah Daeng Ratu memastikan bahwa setiap kaca yang menusuk telapak kaki, atau kecoa yang berusaha dicabut dari bola mata (ini asli), menimbulkan rasa ngilu bagi penontonnya. 

Ikuti protagonis yang sedari awal telah terjerumus ke jurang kegelapan tanpa ada niat untuk kembali ke arah cahaya cukup memberi modifikasi bagi formula horor klenik usang yang filmnya pakai. Minusnya, tak ada lagi misteri untuk ditelusuri guna menambah variasi dalam narasi. Sampai di satu titik alurnya semakin repetitif, sebatas berkutat pada pola "Yuli menyantet-korban tersantet-pengajian/pemakaman diadakan."

Lemahnya varian dalam alur terkadang membuat saya berharap Kitab Sijjin & Illiyyin benar-benar menelusuri mitologi dua kitab itu, alih-alih hanya memposisikan mereka sebagai simbolisme ala kadarnya. Setidaknya dari konfrontasi "baik vs jahat" itu, akting kuat dari Yunita Siregar, yang mampu menunjukkan kompleksitas sehingga penonton pun merasakan dilema dalam menyikapi tindakan Yuli, serta Kawai Labiba yang total perihal mengolah emosi, memperoleh kemampuan sorotan.

Santet yang Yuli kirim begitu kuat, tapi ia punya syarat: target haruslah seorang pendosa. Semakin besar dosa seseorang, semakin mudah santet menyerang. Tika datang sebagai antitesis bagi Yuli, sebagaimana kitab sijjin dan illiyyin eksis secara bersamaan meski berseberangan. Sebesar apa pun cobaan yang mendera, Tika tetap berpegang teguh pada ajaran agama.
Semua berkat ajaran Abuya (David Chalik), ustaz yang di dua babak awal tak mengubahnya pemuka agama biasa yang lebih banyak berceramah daripada bertindak, sebelum kemudian bertransformasi menjadi jagoan tangguh di klimaks. Sewaktu santet kiriman Yuli berakhir membuat salah satu karakter kerasukan, dengan tenaga dalam miliknya, Abuya membanting si setan hingga lantai di sekeliling remuk. Epik! Horor religi kita perlu lebih banyak karakter ustaz seperti Abuya (dan tentunya Qodrat), yang bukan hanya piawai merangkai kata atau merapal doa. Mungkin di dunia nyata pun demikian.

I KNOW WHAT YOU DID LAST SUMMER (2025)

 I KNOW WHAT YOU DID LAST SUMMER (2025)


I Know What You Did Last Summer mengikuti tren dunia horor (termasuk pedang tentunya) belakangan, dengan melahirkan sekuel legacy untuk menyatukan karakter lama dan baru. Tapi terkait cara eksekusi, ia masih membawa nuansa lama. Semuanya familiar, sebagaimana musim panas 1997 kala si "nelayan pembunuh" kali pertama melancarkan aksinya. Setidaknya film ini mampu memperbaiki beberapa elemen yang digarap setengah matang oleh versi aslinya.

Gerombolan muda-mudi Southport generasi barunya masih berbagi ciri serupa Julie (Jennifer Love Hewitt) dan kawan-kawan dahulu. Ava (Chase Sui Wonders) adalah protagonis pemilik kompas moral, Danica (Madelyn Cline) merupakan pemegang gelar "Croaker Queen" yang berpacaran dengan Teddy (Tyriq Withers) si putra keluarga kaya, sedangkan Milo (Jonah Hauer-King) menjadi love interest dari Ava. Hanya saja di sini ada tambahan orang kelima dalam diri Stevie (Sarah Pidgeon) yang sempat menjauh dari teman-temannya akibat masalah pribadi.

Minimal di tangan Jennifer Kaytin Robinson, sosok "The Fisherman" lebih banyak bersenang-senang saat menangani mangsa dibandingkan pendahulunya dari 28 tahun lalu. Entah sekedar membiarkan para korban tenggelam dalam ketakutan sebelum benar-benar mati, atau memajang tubuh mereka sebagai karya seni sadis yang ia banggakan. 

Sederhananya, I Know What You Did Last Summer versi 2025 terasa lebih menyenangkan dari seniornya. Apalagi jumlah mayat yang jatuh ditambah lipatan ganda, meski poin ini seolah juga dipakai sebagai cara untuk mengakhiri kematian jajaran karakter utamanya. Orang-orang yang terlibat dalam kecelakaan di musim panas kembali menjadi incaran, namun kali ini naskahnya memberi alasan yang lebih masuk akal.

Sebuah twist di babak ketiga, yang berpotensi menyulut kontroversi di kalangan pecinta franchise-nya, hadir sebagai penegas bahwa serangkaian pembunuhannya bukan semata-mata perihal balas dendam, melainkan dampak trauma berkepanjangan yang berujung melahirkan sosok psikopat mematikan. Dari situlah Robinson dan McKendrick menyelipkan perihal gender ke dalam naskah.

Bagaimana keengganan laki-laki menangani luka secara layak atas nama maskulinitas justru membuat mereka jauh lebih rapuh dibandingkan perempuan yang cenderung lebih terbuka, juga terkait cara filmnya enggan memposisikan perempuan sebagai korban dalam film smasher melalui cara yang cukup "ekstrim". Di musim panas tahun 2025, perempuan adalah sosok penyalin.

Kelimanya berkumpul guna berkeluarga Danica dan Teddy, mabuk-mabukan di tengah jalanan tepi jurang pada malam hari, hingga lewatlah sebuah mobil yang terjatuh ke jurang karena oleng setelah berusaha menghindari mereka. Filmnya menukar peran "penabrak dan tertabrak", namun setelahnya, semua berjalan sesuai skenario lama. Pesan "Aku tahu apa yang kamu lakukan musim panas lalu" diterima, lalu satu per satu dari mereka jadi incaran pembunuh bersenjatakan kait es.?

Bedanya, naskah yang ditulis oleh sang sutradara, Jennifer Kaytin Robinson, bersama Leah McKendrick, menaruh lebih banyak perhatian pada elemen misteri whodunit yang di film aslinya bak pernak-pernik tak bermakna. Jumlah tersangka ditambah, tanda tanya mengenai identitas pelaku pun dipertebal. Nantinya Julie dan Ray (Freddie Prinze Jr.) hadir melengkapi status film ini sebagai sekuel warisan dengan mengemban peran sebagai penasihat, sementara Helen Shivers (Sarah Michelle Gellar) "dihidupkan lagi" menggunakan metode yang cukup cerdik untuk ukuran pedang remaja. 

Terkait metode eksekusi yang si pembunuh pakai, I Know What You Did Last Summer mungkin masih tertinggal dari rekan-rekan sejawatnya sesama pedang, baik terkait kreativitas maupun tingkat kebrutalan. Seolah-olah sang sineas terlampau khawatir membawa aksi pembunuhnya ke ranah over-the-top, dengan lebih jauh mengeksplorasi hal apa saja yang bisa mengaitkan es dan senapan yang dilakukan ikan terhadap tubuh manusia.