Sabtu, 30 Agustus 2025
LUKISAN RATU KIDUL (2019)
Agustus 30, 2025
No comments
LUKISAN RATU KIDUL (2019)
Mengetengahkan kisah seorang kakak beradik, Dimas (Teuku Zacky) dan Satria (Wafda Saifan)-yang menerima sebuah warisan rumah peninggalan mendiang sang ayah. Rumah-yang menjadi tempat masa kecil mereka ini tak memiliki sedikitpun kenangan, bahkan di rumah tersebut-nyaris tak ada foto sekalipun. Bersama Astrid (Ussy Sulistiawaty) istri Dimas, pula ikut memboyong Sandra (Annisa Aurelia) sang buah hati, mereka memutuskan untuk menetap sambil memikirkan langkah selanjutnya.
Jangan harap pertanyaan tersebut akan menemukan penjelasannya, itu hanyalah akal-akalan Husein M Atmodjo (Midnight Show, 22 Menit, Perjanjian dengan Iblis) guna menggulirkan penceritaan. Mungkin salah saya mengharapkan sebuah kelogisan cerita dari tontonan-yang sejak awal tak memperhatikan logika.
MANTAN MANTEN (2019)
Agustus 30, 2025
No comments
MANTAN MANTEN (2019)
Tak banyak film seperti Mantan Manten yang lebih menekan sebuah makna daripada melodrama, terasa daripada memaksa penontonnya akan sebuah kekuatan di balik kelembutan seorang wanita-yang juga ikut membawa filmnya menyentuh ranah pemberdayaan perempuan berbasis kultural budaya Jawa yang sarat akan mistisme pula kerohanian. Sebuah langkah berani pula langka yang di perjalanan menjadikan Mantan Manten sebagai salah satu film terbaik rilisan tahun 2019-sejauh ini.
Ialah Yasnina (Atiqah Hasiholan) seorang manajer investasi ternama yang menjunjung tinggi jargon "Saya percaya pada uang, saya percaya pada orang", singkatnya ia adalah definisi dari "wanita modern nan sukses" di usia yang sedang matang. Nikmat dunia telah ia rengkuh, pula kekasih bernama Surya (Arifin Putra) baru saja melamarnya. Semuanya serba sempurna, sampai ayah Surya (Tyo Pakusadewo) menusuk Nina dari belakang, ia menjadikan Nina kambing hitam dalam kasus investasi palsu.
Saat itulah Nina berada di titik nadir kehidupannya. Secercah harapan muncul ketika sebuah villa di Tawangmangu menjadi satu-satunya harta tersisa-meski belum sepenuhnya balik nama. Nina kemudian mendatangi sang pemilik rumah, Marjanti (Tutie Kirana) guna meminta tanda tangan, Marjanti setuju, dengan syarat Nina harus menjadi asistennya sebagai pemaes (dukun manten) selama tiga bulan. Karena pilihannya, Nina akhirnya siap-meski dalam proses yang kerap dikuasai ketidakinginan. Dari sini, Mantan Manten melangkah maju membawa karakternya kembali menemukan sebuah kedamaian, seiring pula ia menemukan "rumah" sebagai tempat pulang.
Disutradarai oleh Farishad Latjuba (Mantan Terindah) yang ikut menulis naskahnya bersama Jenny Jusuf (Filosofi Kopi, Wonderful Life, Critical Eleven), Mantan Manten menekankan sebuah study charachter yang mengalun pelan dan mengikat hingga sampai tujuan. Ini bukan sekedar move on ataupun melupakan, melainkan mengikhlaskan pula menerima suratan takdir dengan penuh kemenangan, mengeliminasi rasa dendam yang perlahan padam.
Dari sana pula Atiqah Hasiholan berjasa menampilkan emosi penuh kesubtilan, ungkapan kata memang jarang terlontar dari mulut-namunekspresi wajah pula sorot mata penuh berbicara. Begitu pula dengan Tutie Kirana-memerankan sosok wanita sebagai medium penyampai pesan di atas dengan performa kaya rasa yang senantiasa menguar kuat pada dirinya.
Mantan Manten menjadikan kulturasi budaya sebagai salah satu aspek pendukung utama filmnya. Dalam sebuah adegan-yang termasuk salah satu ritual, sang pemaes mengeluarkan asap dari rokok yang telah di hisap guna membetulkan ukuran baju pria, momen ini membuktikan bahwa profesi pemases sudah terbiasa berbaur dengan unsur klenik-yang dekat dengan masyarakat kehidupan Indonesia pada umumnya, daripada sarat akan keseraman, justru keindahan akan sisi mistisme yang didapat, Farishad menyeimbangkan dua dunia dalam satu keberagaman kaya unsur surealitas.
Menggunakan kata "manten" dalam judulnya, Mantan Manten turut menampilkan sebuah kesakralan pernikahan-yang perlahan mulai termakan modernisasi. Entah itu berupa percakapan santai sebagai wujud kebahagiaan atau beragam macam ritual sebagai syarat pelengkap pernikahan. Farishad membungkus momen tersebut sedemikian rupa apik pula indah di saat yang bersamaan.
Berdasarkan konklusi, Mantan Manten menuturkan sebuah pemberdayaan perempuan sebagai pamungkas kisahnya-sembari menuturkan makna hidup yang sebenarnya. Bahwa hidup bukan hanya diukur melalui uang semata guna menciptakan sebuah kebahagiaan, melainkan tolak mengukur kebahagiaan dalam wujud memaafkan pula mengikhlaskan-yang kemudian menciptakan sebuah kedamaian.
Meski sedikit terkendala kala memasukan elemen komedi, eksekusi terhadap kematangan Farishad sejatinya tetap terjaga-ia memberikan sebuah nilai positif tanpa harus tampil naif, terutama saat melewati pula gestur berbicara-memantik sebuah kesan simpatik. Ditemani iringan lagu Ikat Aku Di Tulang Belikatmu milik Sal Priadi, Mantan Manten tampil mendamaikan hati yang sesekali mengundang air mata berbicara, karena impresi yang di gambarkan filmnya sukar untuk diungkapkan oleh kata-kata.
MISTERI DILAILA - VERSI 2 (2019)
Agustus 30, 2025
No comments
MISTERI DILAILA - VERSI 2 (2019)
Misteri Dilaila tampil begitu menghebohkan karena memiliki dua versi dengan ending alternatif yang berbeda, menghasilkan 8,8 Juta RM (sekitar 30,7 Milyar Rupiah). Tentu, sebuah prestasi yang memuaskan berkat keputusan sang sutradara, Syafiq Yusof (Desolasi, Abang Long Fadil, KL Special Force) yang ikut serta merangkap sebagai penulis naskah dalam hal "pendapatan". Namun apakah semuanya setara dengan kualitas yang dihasilkan?
Jawabannya tidak. Warga Malaysia boleh saja memuji pula bangga akan filmnya, bagi saya pribadi, Misteri Dilaila jauh dibandingkan dengan Kala (2007) Arah Joko Anwar yang mengesankan itu, saya belum menyebut Pintu Terlarang (2009) maupun Belenggu (2012) yang masing-masing menghasilkan sebuah kesan mindblowing pasca menontonnya. Di luar isu plagiarisme yang menerpa filmnya akibat narasi yang sama bertahan dengan Vanishing Act (1986). Misteri Dilaila justru tampil lemah, mengenyahkan logika hingga konklusi yang serba tiba-tiba merusak esensi filmnya yang terbilang menarik ini.
Semua bermula kala Jefri (Zul Ariffin) dan sang istri, Dilaila (Elizabeth Tan) mengunjungi vila warisan mertua Dilaila dengan tujuan menghabiskan waktu bersama. Hari pertama kedatangan mereka menyulut sebuah bentrokan-yang kemudian membuat Jefri harus tidur di sofa. Begitu ia terbangun, ia dikejutkan dengan menghilangnya sang istri dari villa tanpa jejak pula petunjuk yang pasti.
Dilanda kepanikan, Jefri kemudian melapor kejadian tersebut kepada Inspektur Azman (Rosyam Nor), tak berselang lama, Jefri kemudian mendapati datangnya seorang Ustaz bernama Aziz (Namron) yang mengatakan kepadanya bahwa sang istri menginap di tempat tinggalnya-yang kemudian disusul dengan kedatangan seorang wanita (Sasqia Dahuri) yang mengaku sebagai Dilaila.
Jika ditanya mana yang lebih baik untuk ditonton? Saya tidak akan menjawab untuk kedua-duanya. Masing-masing memiliki kelemahan yang sama kuatnya terkait pemaparan plot-yang tampil berantakan dan nihil sebuah pementasan. Versi pertama mungkin lebih baik (ingat, sedikit!) karena lebih masuk akal di samping kualitas medioker miliknya. Versi kedua ini lebih kacau akibat ambisi lebih sang sutradara yang tak terkendali dan bahkan mendekati aspek tolol sekalipun. Inilah bukti bahwa modal niat saja tidaklah cukup!.
Mengelak percaya karena perbedaan wajah, Jefri bersikukuh bahwa wanita (selanjutnya dipanggil Dilaila II) tersebut hendak menipunya. Dari sini, ketertarikan untuk mengikuti kisahnya semakin memuncak kala tak ada satupun orang yang mempercayai Jefri, bahkan sang adik ipar, Farid (Mas Khan) pun ikut mengakui Dilaila II adalah kakak kandungnya. Timbul pertanyaan seputar siapa sebenarnya jati diri Jefri? Apakah ia adalah sosok yang hilang kewarasan ataukah target dari rencana terstruktur?
Syafik Yusof memang piawai memainkan tensi guna merenggut atensi penonton agar terikat oleh berguliran kisahnya, pun terkait pengadeganan-ia menerapkan teknik mask transisi (transisi adegan dengan objek bergerak) yang mengindahkan kuantitas filmnya-di samping lokasi pula perabrotan yang mendukung penuh penceritaan, Misteri Dilaila boleh saja unggul dengan segala kuantitas miliknya, meski harus saya akui kualitasnya tampil tak maksimal, terutama kala Yusof unsur horor dengan jumpscare (yang sejatinya nihil substansi) lengkap dengan mencetak pemekik telinga.
Terlebih lagi, semua tampak mengesalkan setelah melihat naskah yang terlihat menggiurkan itu tampil begitu hambar akibat cacat logika, dialognya sendiri tampil di bawah, jangan kaget jika anda melihat sekuen teriak keras pula rengekan dari Jefri kepada Inspektur Azman yang sering menimbulkan sebuah kejemuan, pengungkapan para pelakon tampil cukup meyakinkan, Zul Ariffin dengan pembawaan berkharisma dan sadar betul bahwa ia berada tak dalam tontonan yang serius, sementara Rosyam Nor tampil dengan dialog sarkasme hadir.
Berbeda durasi satu menit dengan versi pertamanya (berjalan selama 82 menit). Perbedaan mencolok jelas terdapat pada 15 menit terakhir filmnya-yang berisi tumpukan demi tumpukan twist secara tiba-tiba. Setidaknya itu menurut pendapat Syafiq-yang berpendapat bahwa lebih banyak twist lebih baik pula filmnya. Sehingga ketika ditanya perihal substansi pemilihan tersebut, Misteri Dilaila - Versi 2 ini memiliki kedalaman selain menyembunyikan pilihan tampil lain dan berani.
Versi pertama lebih menekankan pada thriller psikologis-yang mana tercoret oleh elemen horor. Sebaliknya, versi kedua lebih menekankan horor-yang membuat elemen thriller psikologis terasa tak sepadan. Selain medioker, eksekusinya serba tanggung-terlebih jika ditanya terkait kejelasan utama konklusinya-yang hanya sebatas memberikan keklisean nihil substansi, terutama kebenaran utama filmnya tak seberapa menghasilkan taji selain sebuah ambiguitas-yang dipaksa hadir demi mematenkan sebuah misteri.
Jika ditanya mana yang lebih baik untuk ditonton? Saya tidak akan menjawab untuk kedua-duanya. Masing-masing memiliki kelemahan yang sama kuatnya terkait pemaparan plot-yang tampil berantakan dan nihil sebuah pementasan. Versi pertama mungkin lebih baik (ingat, sedikit!) karena lebih masuk akal di samping kualitas medioker miliknya. Versi kedua ini lebih kacau akibat ambisi lebih sang sutradara yang tak terkendali dan bahkan mendekati aspek tolol sekalipun. Inilah bukti bahwa modal niat saja tidaklah cukup!.
Jumat, 29 Agustus 2025
CRAZY RICH ASIANS (2018)
Agustus 29, 2025
No comments
CRAZY RICH ASIANS (2018)
Sejak The Joy Luck Club (1993), studio besar Hollywood-mungkin jarang mengeksploitasi para pemain Asia-kalau bukan sebagai pemeran pendukung, Crazy Rich Asians adaptasi novel terlaris berjudul sama buatan Kevin Kwan-kembali mengulangi era tersebut-di mana jajaran para pemain Asia mengisi sentral cerita daripada sebatas pendukung pemain utama. Menggunakan pakem formula "Cinderella Story" tak menjadi alasan bagi filmnya untuk tampil formulaik-melainkan juga memperkaya, memperdalam pula mengindahkan formula yang sudah usang.
Ketimbang menerapkan elemen "curi perhatian" sebagaimana film biasa jenis serupa yang dilakukan, Crazy Rich Asians menggantikan peran tersebut sebagai ajang merebut hati calon mertua. Dikisahkan Rachel (Constance Wu) gadis China-Amerika-yang merupakan profesor ekonomi di New York University menerima ajakan sang kekasih, Nick Young (Henry Golding) untuk pergi ke Singapura guna menghadiri pernikahan sahabat tercinta. Pernikahan Colin Khoo (Chris Pang) dan Araminta (Sonoya Mizuno) yang akan berlangsung di Singapura-membawa Rachel juga bertemu sang calon mertua, Eleanor (Michelle Yeoh) yang dengan jelas menunjukkan ketidaksukaan raut muka terhadap sang calon menantu.
Sekilas, naskah hasil Pete Chiarelli dan Adele Lim tampil biasa di permukaan. Namun, hal lain serupa jika telah di eksekusi oleh sutradara Jon M. Chu (Step Up 3D, Justin Bieber: Never Say Never, G.I. Joe: Retaliation) ke dalam bentuk gambar-yang lebih tekanan pada guliran emosi daripada dramatiasai sang karakter utama. Tak ada isakan tangis ataupun aksi mengemis perhatian lewat tingkah cara berjalan-melainkan sebuah bentuk pendirian teguh terhadap diri sendiri-sembari tetap tegak menghadapi sebuah permainan.
Ya, Crazy Rich Asians lebih mengandalkan sebuah permainan pula strategi-yang sedari awal telah Rachel jelaskan kepada para pelajarnya melalui sebuah kartu poker. Ini yang kemudian menjadi sebuah kunci bagi konklusi filmnya-yang diejawantahkan oleh Jon M. Chu secara apik pula berkelanjutan-dalam penerapannya. Permainan Mahjong kemudian menjadi media utama bagi sokongan kisah filmnya dalam hal memenangkan permainan lewat jalan mengenali lawan.
Momen tersebut akan menjadi sebuah jalan bagi Rachel dalam menarik perhatian Eleanor-yang sangat handal dalam bermain mahjong, sehingga kala sang sutradara mempertemukan keduanya terciptalah sebuah "konfrontasi halus" yang melibatkan hati sekaligus menjadi salah satu puncak keberhasilan filmnya dalam merangkum cerita-yang di dasari atas rasa cinta.
Sosiokultural etnis Tionghoa atau Cina (singkatnya Asia) memberikan sebuah penguatan sekaligus pengenalan bagi negeri Barat. Di mana-aspek tersebut memberikan sebuah pemandangan berbeda yang niscaya akan mudah di pahami keberadaannya. Misalnya hal terkait menentukan pendamping hidup-yang kerap dilakukan orang tua (termasuk Indonesia) terhadap masa depan anaknya kelak. Di mana sang anak lebih mengutamakan cinta dan kasih sayang, sementara orang tua memilah terlebih dahulu yang masuk ke dalam kriteria "bibit, bebet, bobot". Ini yang terjadi pada pemikiran Eleanor terhadap hubungan sang putera dengan Rachel-yang mana menjadi sebuah persoalan. Terlebih perihal kasta yang sangat jauh berbeda (sesuai judulnya, keluarga Nick adalah keluarga terpandang pula kaya tujuh turunan di Asia) pula perihal Rachel yang bukan wanita totok (berdarah murni).
Deretan pemainnya ikut berjasa memberikan sumbangsih terhadap cerita, Henry Golding sempurna memerankan pria penuh kharisma nan kaya raya, sementara Wu melakoni sosok wanita pendirian teguh-yang selalu penuh pengertian. Kimia keduanya jelas mampu menghasilkan suatu momen emas berupa pertukaran rasa murni dari sorot mata maupun bentuk luapan cinta. Gelar MVP jelas jatuh pada Michelle Yeoh sebagai sosok ibu tradisional yang kerap menjunjung budaya, bukan perasaan benci yang ia berikan kepada sang putra (maupun Rachel) melainkan sebuah ketidakyakinan akan merusak citra di samping pikiran kolot miliknya.
Crazy Rich Asians adalah sebuah gelaran romantika dua insan yang saling mencinta, demikian yang diterapkan sang sutradara guna membungkus filmnya. Jon M. Chu tahu betul bagaimana merayakan sebuah cinta dan kasih sayang-di tengah sebuah kekangan maupun pikiran yang tak tenang. Dalam sebuah momen, tepatnya momen pernikahan Colin-Araminta, keindahan visual berupa gemerlap dekorasi tertata dalam hiasan busana di sebuah gereja, menghadirkan sebuah kesakralan pernikahan-seraya menjadi salah satu momen terbaik filmnya-ketika kapel dialiri air dan masing-masing memegang tongkat cahaya-di samping sebuah kesunyian tercipta, sementara tembang Can't Help Falling in Love versi Kina Grannis mengiringi nuansa dua insan yang tak saling bertatap muka, melainkan saling berbagi rasa. Sungguh sebuah momen yang sukar digambarkan oleh kata-kata dan hanya bisa diwakili oleh air mata.
Demikian-yang membuat saya suka untuk tak menolak bahwa Crazy Rich Asians adalah salah satu sajian terbaik yang pernah ada, dan bahkan takkan lekang oleh zaman. Sebuah rom-com yang tak hanya mengandalkan cerita-melainkan juga membawa sebuah suasana. Terlebih lagi, kala filmnya turut menyeimbangkan sebuah kesenangan lewat celotehan pula tingkah eksentrik seorang Peik Lin yang dimainkan oleh Awkwafina atau paparan mengenai kekuatan wanita yang diwakili oleh Gemma Chan sebagai Astrid, pasangan Nick Young.
Selaras dengah hal tersebut, Jon M. Chu pun membuktikan bahwa sebuah sajian ringan bisa tampil mengesankan-asalkan di buat dengan penuh kecintaan. Visi sang sutradara jelas mewakili karya yang tersusun atas kepingan demi kepingan cinta-yang tak hanya berasal dari hubungan pria-wanita maupun keluarga. Lebih dari itu, cinta adalah sebuah bentuk universal pula harta berharga jika Anda merangkul, memeluk dan memahami makna sebenarnya.
PREY (2019)
Agustus 29, 2025
No comments
PREY (2019)
Dalam Prey, protagonis utama kita-yang bernama Toby Burns (Logan Miller) tengah dilanda duka pula kesalahan-akibat mengabaikan perintah sang ayah (Anthony Jensen)-yang meminta untuk memperbaiki mobil vintage di garasi-yang tak datang ia bekerjakan ketika mendapati sang ayah telah dibunuh oleh para pembajak mobil bertopeng. Guna lepas dari trauma tersebut, Toby memutuskan mengikuti kegiatan rehabilitasi sebagai "penebus dosa" dan menemukan semangat hidup kembali setelah mengasingkan diri selama tiga hari di salah satu pulau tak berpenghuni di Malaysia. Kita tahu bahaya akan datang mengintai, seperti film bertema serupa, Prey mengambil opsi kala trauma di tabrakkan dengan ketakutan terbesar-yang mana menyulut sebuah aksi guna keluar dari permasalahan.
Ditulis dan disutradarai oleh Franck Khalfoun (P2, Wrong Turn at Tahoe, Amityville: The Awakening) yang kemudian dibantu dibantu oleh David Coggeshall, Prey tak mengubahnya sebuah sajian survival horror umum-yang dalam penuturannya juga membuka sebuah misteri terkait keanehan pulau tersebut. Harus diakui, penyusunan misterinya tersaji cukup rapi kala Khalfoun perlahan membangun kengerian berupa lanskap kosong pulau yang terlihat menyeramkan kala malam datang. Pun, kesunyian juga diterapkan
Menuju paruh kedua, Toby kemudian bertemu dengan Madeleine (Kristine Froseth) gadis berusian 16 tahun yang sudah lama tinggal di pulau tersebut bersama sang ibu. Percikan romansa tanggung-kemudian Khalfoun menerapkan-yang membawa keduanya pada kebersamaan. Sayang, naskah filmnya urung memberikan urgensi lebih terhadap hubungan mereka yang hanya sebatas setengah tampil matang akibat tumpuan cerita membutuhkan sebuah jawaban atas kejadian-yang membungkus sebuah twist utama konklusi filmnya.
Berdasar ide tersebut pula, penceritaan mengalami sebuah sandungan kala eksekusi bak tampil tertahan-yang kemudian menyajikan filmnya pada sebuah repetisi kala karakternya tiba-tiba menemukan sebuah teror tersembunyi. Untuk urusan terornya sendiri, Prey tampil tak bertenaga akibat menyembunyikan entitas utama filmnya yang urung diungkap. Keputusan tersebut di sisi lain dapat menyulut rasa ingin tahu pula kengerian tersendiri-namun ini sendiri gagal disajikan oleh Khalfoun karena kurangnya ketegangan yang ia terapkan.
Terlebih lagi, naskahnya enggan melakukan sebuah elaborasi terkait asal-usul makhluk yang bahkan tak datang digali. Sebatas menakuti lalu lupa akan motivasi. Ini sendiri tidak memberikan dampak berarti pada karakter utama-yang nantinya akan berdamai dengan diri sendiri. Ada sebuah intensitas kala karakter utamanya menemukan jalan keluar berkat sebuah memori-namun berakhir nihil substansi akibat nihil adanya sebuah proses.
Hingga kala konklusi menutup guliran kisahnya, sebuah dampak gagal tercipta. Selain terlalu menggampangkan dalam ending, Prey meninggalkan beberapa poin krusial sebelum memilih opsi tersebut. Itu sama berarti dengan meninggalkan sebuah bawaan ketika ingin mencapai tujuan. Pun, hal terkaitmakhluk bertanduk di poster pun sama sekali tak terjelaskan.
PORNDEMIC (2018)
Agustus 29, 2025
No comments
PORNDEMIC (2018)
Pernah atau tidaknya Anda menonton sebuah film biru alias film porno-tak berarti merasakan apa yang sebenarnya di derita sang pemeran. Kebanyakan dari kita menonton film porno adalah sebatas ingin tahu atau demi memuaskan hasrat libido yang tak terbendung. Lewat Porndemic, sutradara Brendan Spookie Daly (The Awakening) membuka sebuah tabir rahasia terhadap suka duka seorang pelaku industri film dewasa-terlebih keberadaannya yang dekat dengan virus bernama HIV.
Kita tahu betul bahwa virus HIV adalah salah satu virus paling kuat-yang sampai sekarang belum diketahui obat penawarnya. Itu menjadi momok tersendiri bagi para pelaku-di samping popularitas nama yang kian melambung-pula bayaran yang kian meningkat. Terlebih lagi, dalam Porndemic sendiri, sang sutradara turut menampilkan sebuah arsip terkait gelaran apresiasi pelaku seni film dewasa-yang mana menambah wawasan saya untuk pertama kalinya-mengetahui bahwa film dewasa pun memiliki kriteria pula unsur seni tertentu.
Porndemik dikemas sebagaimana film dokumenter kebanyakan, kala wawancara demi wawancara dengan pelaku film dewasa, dokter hingga para produser bahkan para wartawan saling berbagi layar menceritakan pandangan mereka terhadap pornografi. Dimulainya cerita dengan sebuah pengenalan karakter, Porndemic pertama kali menuturkan sebuah sisi positif dari pornografi-ketika para pelaku memandang hal tersebut sebagai sebuah keluarga daripada rekan kerja atau tempat mencari nafkah. Kondisi ini bisa dimafhumi pula kerap terjadi di dunia nyata-berkat kenyamanan pula timbal balik sosialisasi yang menyenangkan akibat sebuah kedekatan.
Tak butuh waktu lama untuk Spookie Daly membawa Porndemic melintasi rahasia industri pornografi yang tak banyak diketahui, misalnya saat pemerintah menggalakan para pemeran untuk memakai kondom-demi menjaga sebuah infeksi. Ini menjadi sebuah kontradiksi saat para pelaku menganggap hal tersebut melucuti fantasi. Karena bagi mereka para pekerja seni pornografi, fantasi ketika berhubungan seks adalah kunci utama dalam mengerjakan sebuah karya, alih-alih di minta menggunakan kondom yang merupakan sebuah benda realistis.
Sejalur dengan persetujuan tersebut, konsekuensi pun tidak dibatalkan. Nama seperti Ron Jeremy, Ginger Lynn dan Tricia Devereaux mulai terjangkit virus HIV. Sudut pandang beragam mereka gambarkan kala mengetahui hal tersebut-ada yang memandangnya sebagai sebuah hal biasa hingga berusaha menyembunyikan rahasia tersebut kerja tenaga-karena tak ingin hidupnya dianggap hina pula bahaya. Itu yang dilakukan Marc Wallice-si mantan raja pornografi-yang disinyalir sebagai media penyalur virus HIV.
Nama Marc Wallice-lah yang kemudian terus diperdebatan selama 93 menit durasi bergulir. Tentu akan ada pembelaan pula penghakiman terhadap sosok Marc. Spookie Daly pun tak lantas menjadikan bintang porno tersebut sebagai sumber masalah, ia turut menampilkan sebuah pengakuan pula penyesalan terbesar Marc-yang kemudian membawakan penonton menyelami curahan rasa dari dalam dirinya. Saking bersalahnya, ia acap kali pindah dari satu hotel ke hotel lainnya demi menenangkan diri, pun percobaan bunuh diri sempat ingin ia lakukan demi memerdekakan pikiran.
Untuk ukuran sebuah film dokumenter, Porndemic mungkin menawarkan sebuah sesuatu yang memberikan perubahan tersendiri. Fokusnya memang sebatas ruang lingkup pornografi yang dibenturkan melalui beragam aspek-yang terkadang terlalu melampaui batas. Maksudnya, terkadang beberapa pengakuan terlalu banyak ditampilkan-yang kemudian membuat sajiannya keluar batasan hal yang tak perlu dijawantahkan.
Untungnya kekurangan tersebut tampil minor, tak terbanding dengan segala pengakuan baru yang dituturkan. Terkait pengadeganan, Porndemic memang kerap tampil stagnan-yang terkadangkala membuat rasa penasaran ditambah melemahnya pacing yang tak tepat sasaran. Meski jauh dari kata medioker, Porndemic jelas sebuah sajian yang patut diperhatikan, terlebih pemaparan terkait virus HIV yang sangat penting untuk disimak.
JAGA POCONG (2018)
Agustus 29, 2025
No comments










