September 10, 2025
ALONG WITH THE GODS: THE TWO WORLDS (2017)
Diadaptasi dari sebuah webtoon berjudul sama karangan Joo Ho-min, Seiring Dengan Para Dewa: Dua Dunia berbicara mengenai sebuah lapangan di alam Baka menurut kepercayaan para penganut Buddha Korea. Meskipun demikian, jika diterapkan pada seluruh agama pun rasanya akan relevan. Karena dalam semua agama pasti yakin dan percaya bahwa dunia akhirat nyata adanya. Dan dalam tangan Kim Yong-hwa (turut ditangkap sebagai sutradara) bak sebuah gambaran yang memanjakan mata pula memberikan sebuah perenungan kala bersamaan.
Seorang petugas pemadam kebakaran bernama Ja-hong (Cha Tae-hyun) meninggal akibat sebuah insiden ketika menyelamatkan seoarang anak kecil. Tanpa sadar, Ja-hong mendapati dirinya telah dijemput oleh para malaikat penjaga: Gang-rim (Ha Jung-woo), Haewonmak (Ju Ji-hoon), dan Duckhun (Kim Hyang-gi) yang bertugas untuk mengawal Ja-hong selama di dunia akhirat. Ja-hong harus menyelesaikan 7 pengadilan di alam baka dalam waktu 49 hari. Jika dia dinyatakan tidak bertanggung jawab dalam pengadilan tersebut, maka Ja-hong berhak untuk mewujudkan kehidupan selanjutnya (baca: mewujudkan).
Dalam masa pengadilan tersebut, Ja-hong akan ditentukan oleh sang hakim, sementara tiga para malaikatnya bertugas untuk membela Ja-hong agar mereka dapat bereinkarnasi kembali sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Seiring With the Gods: The Two Worlds berbicara secara terang-terangan mengenai fase akhirat, dan filmnya yang ditampilkan sendiri terasa dekat dengan kehidupan kita. Ja-hong harus melewati tujuh pengadilan: pengkhianatan, kekerasan, pembunuhan, ketidakadilan, ketidaksetiaan dan kemalasan. Tentu tujuh fase tersebut mungkin pernah kita lakukan, dan filmnya sendiri memberikan sebuah gambaran yang realistis sekaligus mengingatkan kita bahwa apa yang kita lakukan di dunia akan dipertanggungjawabkan di akhirat.
Yong-hwa memberikan sebuah nuansa menonton yang begitu menegangkan pula dengan sangat cepat kita sebagai penonton untuk terkoneksi langsung dengan karakternya. Terlebih lagi karena kita pernah berada di posisi Ja-hong. Ini yang saya suka dari film ini, bagaimana Yong-hwa memvisualisasikan melalui balutan CGI sangat luar biasa. Ada sebuah keindahan yang tercipta, pula kenyataan yang terhenyak.
Ya, dengan demikian saya yakin para penonton akan membaca cerita, memberikan sebuah harapan terhadap Ja-hong sambil berpikir. Kala menontonnya pun hati saya terkoyak, kenangan melontarkan saya pada sebuah kesalahan yang serupa yang pernah saya lakukan di dunia nyata. Artinya, film dengan lancar menghantarkan emosi ditengah sebuah urgensi yang coba diutarakan filmnya.
Apa yang dicapai oleh Yong-hwa sudah berada pada sebuah batas yang juga menghantarkan rasa di dalamnya, terutama saat memasuki konklusi. Konklusi yang dirangkai oleh Yong-hwa bukan hanya sekedar menusuk, namun memberikan sebuah gambaran yang pasti. Saat hati terhenyak dan terkoyak, saya pun tak mampu mengutarakan kata lain selain berdiam diri, memikirkan apa yang telah saya buat. Akankah saya seperti Ja-hong? Pertanyaan itu terus membayangi pikiran saya seusai menontonnya yang berarti apa yang disampaikan oleh Yong-hwa terlaksana. Salah satu film terbaik yang pernah dibuat.
0 komentar:
Posting Komentar