September 09, 2025
GIRL (2020)
Girl debut sebagai penyutradaraan dan penulis bernama Chad Faust (yang juga ikut mengambil bagian memainkan peran) datang dengan nuansa gelap sebagaimana film noir dengan sentuhan gothic yang cukup kental. Sementara ceritanya sendiri cukup meyakinkan dengan premis mengenai seorang gadis tanpa nama (Bella Thorne) yang datang kembali ke kampung halamannya untuk membalas dendam kepada sang ayah, bahkan berniat membunuh menggunkan kapak yang telah ia berikan semasa kecil. Dengan kemampuan menggunakan kapak, gadis tersebut datang guna memenuhi ancaman yang dilayangkan dalam sebuah surat yang mengatakan bahwa ia akan membunuh dirinya sendiri dan juga sang ibu (Elizabeth Saunders).
Kampung kecil yang bernama Golden County dipenuhi orang-orang aneh. Setidaknya itu menurut sang gadis (juga penonton). Sebutlah seorang Sherrif (Mickey Rourke) yang memaksa memberikan tumpangan hingga orang-orang yang memenuhi kelab yang meminta gadis untuk kembali pulang. Setelah melawan dengan menunjukkan kapak, gadis berhasil menemukan rumah masa kecilnya melalui sebuah buku telepon.
Ketika mendapatangi rumah, ia terkejut melihat sang ayah yang sudah tak bernyawa. Seseorang telah membunuh sebelum gadis melampiaskan balas dendamnya. Gadis kemudian mulai masuk ke dalam cerita secara investigasi secara tak langsung mengenai pembunuh ayah yang meninggalkan tanya, yang sejatinya berpotensi tampil berjanji andai tak terburu-buru membuka jawaban.
Pun ketikan intensitas tersebut dibuka, kecanggungan pula ketidakcakapan terlihat saat Girl menemukan sebuah jawaban berdasarkan kehadiran salah satu karakter yang dimainkan oleh sang sutradara sendiri, Chad Faust yang berperan sebagai Charmer, pemuda alkoholik dan aktingai tak baik. Intensitas seketika dipacu lewat sebuah pertarungan cepat yang nihil memberikan dampak, melucuti subgenre girl revenge yang seharusnya bisa lebih dari ini.
Setelahnya, elemen aksinya urung benar-benar terasa akibat kurangnya intensitas pula keberanian Faust menggedor jantung untuk sekadar melewati batas sebagaiman sineas lain yang dilakukan. Yang ada hanyalah aksi canggung yang keberadaannya sulit terasa, terlebih saat filmnya memberikan jawaban lewat karakter-karakter tadi yang memunculkan kesan ujug-ujug tanpa adanya sebuah pengenalan terlebih dahulu.
Niat Faust sendiri baik, ingin menampilkan sebuah twist yang akan terasa akibat sebuah penanaman buruk tanpa adanya pemikiran yang jernih. Apalagi, konklusinya menambah bobot lebih berupa kebusukan keluarga yang dilandasi rasa sakit hati pula kebobrokan lulusan manusia yang mengenyahkan sebuah kemanusiaan hanya untuk memperoleh kepuasan dari hasil ketamakan. Sayang, semuanya salah jalan ketika progresi alurnya tak menghasilkan sebuah jalan yang setara.
0 komentar:
Posting Komentar