September 05, 2025
RAAT AKELI HAI (2020)
"Aku mencurigai semua orang. Bisa jadi siapa saja, seseorang yang lebih berani dan lebih tersiksa dariku, tapi aku tidak kenal orang seperti itu". Demikian ucapan Radha (Radhika Apte) ketika ditanya oleh Inspektur Jatil Yadav (Nawazuddin Siddiqui) mengenai keterangan yang melayangkan dirinya melakukan pembunuhan kepada sang suami, Raghubeer Singh (Khalid Tyabji) di malam pernikahannya. Raghubeer dibunuh dengan satu tembakan dan hantaran keras di kepalanya, sementara pemakaman pernikahan dipenuhi bunga dan darah. Kejadian ini baru ditemukan oleh Vikram Singh (Nishant Dahiya) sang keponakan pada jam dua belas malam.
Semua keluarga mengira Radha sengaja melakukan pembunuhan dengan tuduhan ingin menguasai seluruh harta sang suami. Pun sebaliknya, Radha menyangkal melakukan hal itu. Kecurigaan bertambah kala kesedihan yang dirasakan masing-masing anggota keluarga. Singkatnya, mereka tidak ingin menampilkan melodrama dan menerima apa yang telah terjadi. Setidaknya, ini menurut Vasudha Singh (Shivani Raghuvanshi), saudara Vikram yang tidak dekat dengan sang kakek.
Apakah hal tersebut semata-mata mata ungkapan murni atau sebatas kedok penutup diri? Kita tidak tahu pasti selain hanya bisa menarik anggapan bahwa seluruh keluarga terlibat dalam pembunuhan terstruktur-yang bahkan juga melibatkan sang pembantu, Chunni (Riya Shukla) yang lupa membersihkan sebagian lampu di permukaan tangga. Semua orang di dalam rumah tersebut adalah tersangka-yang kemudian dicari kebenarannya oleh Jatil Yadav.
Raat Akeli Hai berpijak pada sebuah cerita detektif klasik mengikuti kesuksesan Knives Out-nya Rian Johnsson yang sukes memainkan teka-teki secara menyenangkan. Pun, nafas tersebut benar-benar terasa setelah narasi cerita yang kebanyakan terinspirasi oleh gaya tutur Agatha Christie dalam novelnya. Sutradara debutan Honey Trehan terbilang lancar memainkan hal tersebut, setelah sebelumnya membuka sekuen filmnya dengan penuh kenyamanan dan kegelapan di samping kamera menekankan sebuah long shot-yang kemudian disusul oleh sebuah kejadian brutal yang nantinya disebut flashback.
Terkait "bagaiaman dan mengapa", Raat Akeli Hai justru lebih menarik kala menyibak "siapa pelaku utama sebenarnya?" yang mana menghasilkan sebuah permainan menyenangkan ketika dihadapkanakan pada setumpuk karakter yang semuanya mencurigakan. Dari sini, filmnya sudah memenuhi standarisasi film whodunit yang siap menggerakan sayap ke ranah interogasi polisi demi menggantikan peran detektif yang biasanya menangani hal ini.
Meski tak semuanya tampil merata, interogasi yang dilakukan selalu memunculkan sebuah petunjuk baru yang siapa untuk dibedah, yang ternyata melibatkan orang luar keluarga yang berpengaruh terhadap kejadian. Ini berarti skalalisasi narasi melebar tinggi, yang pada kesempatan lain ikut menjawab sebuah tragedi masa lalu keluarga bersama dampaknya yang sekarang terasa.
Naskah tulisan hasil Smita Singh (Sacred Games) solid memparakan hal tersebut pula menjembatani sebuah tragedi sekaligus menjadi awal mula segala perkara. Raat Akeli Hai pun tak lupa menanamkan sebuah pola di mana patriarki mengakar kuat di dalamnya. Ini sebenarnya bisa menjadi sebuah mencatat kuat meskipun dalam kaitannya tak begitu terasa karena naskah memilih untuk bermain secara pasti terhadap apa yang kemungkinan akan terjadi dan ini tentu bisa dipahami bahkan bisa jadi dapat diterima.
Dibalik sikap kerasnya dalam menangani kasus, Jatil Yadav merupakan korban dari ketidakbenaran persepsi, di mana ia dinilai kurang karena belum menikah, sementara desakan dari sang ibu (Ila Arun) terus terjadi. Hasilnya adalah sebuah ketidakpercayaan diri terhadap yang mana yang ditampilkan melalui sebuah adegan saat Jatil rutin memakai krim Fair & Lovely hanya untuk mencerahkan kulit hitamnya-yang menjadi salah satu keenganan salah satu wanita yang ditanyai ibunya terhadapnya. Ini adalah salah satu bentuk ketidaksempurnaan yang masing-masing dimiliki oleh karakternya pula tindakan manusiawi demi mewujudkan apa yang mestinya terjadi, yang secara tak langsung menimbulkan sebuah petunjuk kecil terhadap kebenaran kasus.
Memasuki paruh ketiga, Raat Akeli Hai mulai menampilkan sekuen aksi berupa kejaran-kejaran yang sesekali melibatkan peluru. Kehadirannya memang memberikan sebuah variasi sekaligus menjadi jalan sebuah simplifikasi yang mestinya dilakukan dalam membuka sebuah kebenaran bagi sebuah konklusi.
Konklusinya memberikan sebuah jawaban setimpal meski keteteran kala dibuka secara dadakan. Setidaknya, kekurangan tersebut membuka sebuah sisi lain perihal yang menampilkan ketegangan dalam balutan emosi para pelakunya yang semakin tergerus dan terpojok seiring penyebaran yang diutarakan. Dari sini pula kita melihat performa luar biasa dari jajaran para pemainnya, termasuk Nawazuddin Siddiqui, Radhika Apte dan Padmavati Rao di lini terdepan dalam melakukan sebuah aksi olah rasa sempurna.
0 komentar:
Posting Komentar