Senin, 08 September 2025

THE GLORIAS (2020)

 THE GLORIAS (2020)

Sebagai biografi bagi Gloria Steinem, The Glorias memiliki sebuah cerita baru di mana dalam sebuah bus Greyhound, empat iterasi dari Gloria hadir duduk di sampingnya. Gloria kecil (Ryan Kiera Armstrong) saling berbincang bersama Gloria remaja (Lulu Wilson) sementara di kursi di depannya Gloria dalam usia 20-an (Alicia Vikander) saling berbagi cerita dan pendapat dengan Gloria dewasa (Julianne Moore). Sesekali, mereka menatap jendela, melihat keadaan luar yang secara tersirat melihat kembali masa-masa mereka yang dipenuhi berbagai kenangan yang melibatkan orang tercinta, mimpi hingga hal yang paling dibenci. Saat ini tampil begitu intim, di mana napak tilas akan kisah diri sendiri dipertanyakan, diperdebatkan bahkan diwujudkan di kemudian hari. Mengamini sebuah buku yang ditulisnya berjudul My Life on the Road.

Hidup bersama sang ayah yang merupakan kolektor barang antik, sedari kecil Gloria sudah dibebani oleh pelajaran dalam mengenal perjalanan, yang menurut sang ayah (Timothy Hutton) adalah sekolah yang sebenarnya. Acap kali berbeda pendapat dengan sang ibu (Enid Graham) yang memandang kehidupan secara konvensional, Gloria remaja harus menerima bahwa kedua orang tuanya tak lagi bersama. Apalagi, ia harus menanggung beban mengurus ibu yang sakit-sakitan, seolah tak ada waktu untuk keluar rumah seperti dulu.

Fase paling berat tentu hadir tatkala Gloria dalam tahap menju dewasa, setelah menyelesaikan beasiswanya di India selama dua tahun lamanya, Gloria kembali lagi ke Amerika guna merintis kehidupannya sebagai seorang jurnalis sebagaimana ibunya dahulu. Tentu, tidak mudah bagi seorang wanita dalam profesi tersebut yang kerap dipandang sebelah mata (bahkan ibu menulis byline dengan nama pria), tembok besar bernama patriarki pula perilaku seksime dan diskriminasi nyata adanya, seolah-olah sudah menjadi budaya yang mendarah daging.

Dalam meliputi pria (male gaze), baik itu yang bekerja menggunakan pakaian necis maupun pria biasa, wanita tak lebih dari sekadar alat seksi, yang menurut mereka hanya mengganggu pandangan dan konsentrasi bekerja. Pun, demikian yang diterima oleh mahasiswi di sebuah kolega ternama. Untuk memahami anggapan tersebut, Gloria berhasil menerbitkan sebuah berita sensasional dan menjadi bahan pembicaraan, yakni terkait sisi kelam para pramusaji di sebuah Playboy Club, yang ia rasakan sendiri pengalamannya selama menjadi seorang Bunny.

Menolak tawaran untuk membukukan beritanya setelah mendapat ancaman dari beberapa kalangan pula perilaku yang tak sepemikiran, Gloria memutuskan untuk menjadi aktivis pembela hak wanita, mempertemukannya dengan nama seperti Dorothy Pitman Hughes (Janelle Monae) hingga Florynce Kennedy (Lorraine Toussaint) serta para wanita lainnya yang berjuang atas nama mengakomodasi gender yang kemudian menghasilkan sebuah majalah bernama Ms.

Hadirnya majalah-majalah tersebut menciptakan reaksi beragam, yang kebanyakan menghadirkan sebuah pencitraan pula tuduhan tak beralasan, paling kejam adalah sebutan lesbian yang mengacu pada kehidupan Gloria yang tak mau menikah dan bahkan selalu direview karena tak memiliki anak. Isu yang banyak menyimpan relevansi ini dikemas cukup mumpuni oleh Julie Taymor (Frida, Across the Universe, The Tempest) yang ikut menulis naskahnya bersama Sarah Ruhl

Berlangsung selama 147 menit, The Glorias dipenuhi oleh dialog-namun berisi, beragam permasalah yang menyudutkan wanita dibungkus dalam nada yang berbeda, mulai dari argumen sarkastik hingga pernyataan membara yang saya yakin bakal mewakili beberapa pihak yang bernasib sama. Puncaknya adalah ketika kampanya besar-besar yang dilakukan demi mendukung Bella Abzug (Bette Midler) dalam memperjuangkan dan menegakkan Equal Rights Amendment melalui sebuah pidato menggugah yang diamini oleh kalangan wanita. Sebuah momen indah yang menggetarkan jiwa.

Guna mengejawantahkan semua yang ada dibuku tak pelak menjadikan penyutradaraan Taymor tampil begitu literal, beragam peristiwa yang dijejalkan menjelang akhir yang membuat paruh ketiganya penuh sesak, yang membuka tak sampai mengeliminasi esensi utama, hanya saja berjalan begitu lama, beberapa pengumpan sejati bisa dilakukan tanpa harus kehilangan urgensi.
Beruntungnya, The Glorias mempunyai jajaran pemain paling menawan, yang masing-masing tampil memberikan nyawa tersendiri. Baik Moore, Vikander, Wilson hingga Armstrong, keempatnya berjasa menghidupkan karakter Gloria Steinem dalam tahapan berbeda, pula karakter pendukung lainnya yang tak kalah apiknya. Menjelang akhir, The Glorias memantapkan dalam meninggalkan kesan mendalam, terlebih penutupnya membungkus perjalanan menuju Women's March pada tahun 2017 yang menjadi sebuah perayaan atas tingginya derajat wanita dalam sejarah.

0 komentar:

Posting Komentar