September 04, 2025
HOST (2020)
Melalui Host, sutradara Rob Savage (Strings, Dawn of the Deaf) memanfaatkan kreativitas guna mengakali produksi selama masa pandemi yang bukan sebuah kemustahilan untuk dijalani. Memanfaatkan media zoom meeting sebagaimana kita ketahui pernah dipakai sebelumnya dalam Unfriended (2014) bersama sekuelnya, Unfriended: Dark Web (2018) hingga yang paling tenar, Searching (2018). Host melakukan pekerjaan serupa yang berhasil menyulut sebuah kengerian tak terduga, pasalnya baik karakter maupun penonton sama-sama tak mengetahui apa yang seharusnya terjadi.
Haley (Haley Bishop) adalah tuan rumah pertemuan yang berani yang mengajak rekannya untuk melakukan pemanggilan arwah via online guna mengisi batasan yang membosankan. Undangan pertemuan itu terdiri dari: Jemma (Jemma Moore), Emma (Emma Louise Webb), Radina (Radina Drandova), Caroline (Caroline Ward) dan Teddy (Edward Linard) sementara Seylan (Seylan Baxter) sebagai paranormal memimpin mereka dalam menjalankan ritual dengan bermodalkan lilin dan para peserta membayangkan posisi melingkar dengan bantuan gelombang isochronic sebagai penyeimbang gelombang energi dunia nyata dengan alam gaib.
Naskah tulisan hasil Savage bersama Gemma Hurley dan Jed Shepherd (Dawn of the Deaf, Slashed) sadar betul bahwa pemanggilan tersebut merupakan sebuah kekonyolan yang menggelikan, ini dilakukan oleh Jemma yang mempermainkan ritual tersebut dengan merangkai sebuah rahasia-yang kemudian ditanggapi serius oleh para rekannya. Siapa sangka kekonyolan ini berakhir membuka sebuah ketakutan terbesar bagi karakter pula penonton.
Tak langsung tancap gas, Savage memulai sebuah induksi terlebih dahulu menampilkan para karakternya serta sedikit kehidupan pribadinya melalui sebuah percakapan singkat sebelum panggilan. Dari sini, setidaknya kia paham betul masing-masing tokohnya akan bertindak bagaimana selama 40 menit zoom meeting kedepannya, jika mereka membayangkan situasi yang tak biasa hasilnya adalah sebuah ketakutan yang tak terduga.
Kepiawaian Savage dalam merangkai teror tersaji cukup efektif berkat pemanfaatan momen yang tak dapat diendus kehadirannya, fase "menunggu" ini bahkan sempat menghasilkan tajinya kala sebelum melakukan serangan, Savage memanfaatkan fitur zooming yang cukup mengagetkan berupa pergantian wajah dengan tampilan menakutkan. Setelahnya adalah neraka sesungguhnya di mana kepanikan dan kecemasan karakter dan penonton sama besarnya.
Saya beberapa kali terperanjat dari kursi bahkan sempat memundurkan layar sebagai aksi mengurangi ketakutan, ini membuktikan bahwa Savage lihai dalam mentransmisikan koneksi-yang selama filmnya berjalan tampil kontuniti. Entah itu berupa penampakan acak hingga ragam kematian brutal karakternya sukses menjadi sebuah ketegangan tersendiri.
Serupa kebanyakan film bertema serupa, Savage banyak menggunakan teknik shaky cam yang cukup memusingkan, walaupun demikian, ragam jump scar-nya tersaji efektif berkat akurasi timing pula pacing. Dengan durasi 56 menit dari keseluruhan filmnya menjadikan Host sebagai tontonan yang padat dalam menutupi selubung cerita. Alur mungkin tidak terlalu diperhatikan, tetapi eksekusinya tidak bisa dianggap remeh, menyusul kemudian adalah tata artistiknya yang menawan di mana credit tittle-nya pun ditampilkan dalam bentuk Zoom.
Menyandang status sebagai film yang diproduksi selama pandemi, Host menorehkan sebuah prestasi tersendiri terkait pemanfaatan kondisi "new normal" yang tak menutup sebuah keinginan menciptakan sebuah karya. Mari kita nantikan langkah apa lagi yang ingin dicapai para pembuat film dalam mendobrak sebuah batas kemustahilan.
0 komentar:
Posting Komentar