September 01, 2025
JAI MUMMY DI (2020)
Diproduseri oleh Luv Ranjan, Jai Mummy Di (All Hail the Mother!) mempertemukan kembali pasangan Sunny-Sonnalli setelah sebelumnya dipasangkan dalam sajian visceral misogyny lewat seri Pyaar Ka Punchnama. Sajian Luv Ranjan memang sering bergerak di ranah itu, namun dalam kasus ini, ia tidak bertindak sebagai sutradara-yang kemudian digantikan oleh film debutan Navjot Gulati (sebelumnya menulis naskah Running Shaadi) yang juga ikut merangkap sebagai penulis naskah.
Bergerak di ranah komedi romantis, Jai Mummy Di adalah kisah mengenai Pinky (Poonam Dhillon) dan Laali (Supriya Pathak) tetangga yang saling bermusuhan semenjak sebuah gangguan di bangku kuliah. Perselisihan apa? Jawabannya sengaja disimpan rapat guna dijadikan sebuah twist utama. Bencana datang tatkala kedua anak mereka masing-masing salih jatuh cinta dan menjalin asmara secara sembunyi-sembunyi seolah keduanya saling benci demi menjaga reputasi. Mereka adalah Puneet (Sunny Singh) putra Laali dan Saanjh (Sonnalli Seygall) putri semata wayang Pinky.
Dalam sebuah pesta, Saanjh melamar Puneet untuk segera menikah dengannya yang kemudian berakhir pada sebuah penolakan karena Puneet terlalu takut hubungan kedunya diketahui sang ibu. Saanjh kecewa, pun hubungan keduanya pun merenggang. Tetapi, rasa cinta antar keduanya tak pernah padam meski pada akhirnya Sanjh memilih menikah dengan Dev (Bhuvan Arora) yang akan diselenggarakan di Diamond Hall, Noida. Mendengar kabar Sanjh akan menikah, Laali pun tak ingin kalah, ia memilihkan jodoh untuk Puneet dan tanggal pernikahan sengaja ditetapkan pada tanggal dan gedung yang sama pula.
Jai Mummy Di adalah tipikal film lugas yang keberadaannya hanya bertujuan untuk sebatas menghibur dan mengocok perut. Tujuan tersebut sebenarnya gagal terlaksana-meski saya tak menampik bahwa beberapa diantaranya sesekali berhasil menyuluh tawa. Itu terjadi di paruh awal filmnya yang setelahnya digantikan oleh berbagai repetisi tak berarti sebatas bekerja dan memenuhi standarisasi.
Standarisasi yang dimaksud adalah berupa adat pernikahan Punjabi yang pembukanya tampilkan (dan puncaknya akan kembali ditampilkan) di mana karakternya mulai memperebutkan menu sebelum berkembang ke sebuah konflik berkepanjangan. Pun, setelahnya film akan berpindah ke sebuah nomor musikal di mana para karakternya saling menari. Ini adalah sebuah merek dagang film Hindi, namun permasalahannya adalah proses sendiri yang menciptakan sebuah transisi kasar yang seharusnya bisa dengan mudah diakali.
Jai Mummy Di sejatinya akan lebih baik jika merepetisi permusuhan Pinky-Laali yang bukan sebuah masalah selama itu disengaja. Sayang, Navjot Gujati enggan seutuhnya menempatkan filmnya di ranah itu alih-alih memilih sebuah romansa komedi klise di mana jawaban atas gangguan keduanya tampak begitu penting untuk sebatas merestui pernikahan. Ketimbang sebuah konsistensi yang mendalam, yang sempat disinggung saat filmnya mulai melakukan sebuah penyelidikan, Jai Mummy Di malah mereduksi unsur tersebut hanya untuk membuat sebuah alasan yang seharusnya tidak perlu sebuah permusuhan yang mendalam.
Twist utamanya gagal memberikan jawaban yang sepadan. Sementara akhir dari kisah romansa Puneet-Saanjh Anda sendiri tahu akan bernasib bagaimana. Jai Mummy Di adalah sebuah sajian kosong yang berpotensi tampil menghibur. Kurangnya amunisi terhadap cerita adalah permasalahan utama yang kemudian membuang bakat para pemainnya. Chemistry Sunny-Sonnalli begitu kering, sementara duet aktris kawakan Poonam Dhillon dan Supriya Pathak tersia-siakan. Dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa mereka layak mendapat sebuah film yang lebih dari ini.
0 komentar:
Posting Komentar