September 08, 2025
JEXI (2019)
Mudah untuk menangkap premis Jexi dengan Her-nya Spike Jonze, di mana kecintaan seseorang terhadap kecerdasan buatan (AI) melebihi batas wajar, bedanya hanyalah Jexi berjalan di ranah komedi, bukan sebuah suguhan drama yang sarat akan makna sama dengan mestinya (meski di beberapa adegan mengisyaratkan akan hal itu). Ditulis dan disutradarai oleh Jon Lucas bersama Scott Moore (21 & Over, The Hangover, Bad Moms), Jexi berpotensi tampil lebih dari sebatas film hiburan ringan dengan muatan pesan penting pula sarat relevansi, andai keseluruhannya tak tenggelam dan sebatas pergi.
Judulnya sendiri Merujuk pada sebuah sistem operasi (lebih tepatnya AI) yang terdapat pada sebuah ponsel baru yang dibeli oleh Phil (Adam DeVine) selepas ponsel lamanya yang secara tak sengaja tertabrak oleh sepeda. Phil sendiri sedari kecil sudah terbiasa (malah gemar) dengan ponsel, yang hingga kini menjadikannya sebagai anti-sosial yang lebih sering berdiam diri di rumah bersama ponselnya. Singkatnya, Phil adalah definisi kaum rebahan sebagaimana banyak dibicarakan dan dilakukan.
Tak pernah terpikirkan olehnya bahwa Jexi (disuarakan oleh Rose Byrne) akan mengambil alih hidupnya, berawal dari sebuah persetujuan yang enggan Phil baca secara seksama. Saya diprogram untuk membuat hidup Anda lebih baik. Demikian ucap Jexi seusai Phil mengoperasikannya, ketika ia hendak memesan mie babi, Jexi memesannya salad kangkung, pun ketika ia men-stalking instagram milik Cate (Alexandra Shipp) ia malah menelponnya. Kejadian yang tak diinginkan terus terulang, hingga puncaknya tatkala Jexi begitu menghilangkan kegembiraan, berlaku posesif dan menjadikan kehidupan Phil semakin berantakan.
Paruh awal Jexi adalah murni sebagai hiburan sarat tawa yang disandingkan dengan kepiawaian Adam DeVine memerankan pria dengan motormouth yang tak ayal menghadirkan sebuah olok-olok kalimat mengasyikan seiring perilaku Jexi yang keterlaluan, berbicara kasar dan tak segan tampil layaknya manusia cerewet yang tak henti-hentinya berceramah. Ini menarik, karena membenturkan kebiasaan Phil yang terlalu mendewakan ponsel, pun filmnya sempat menampilkan kondisi dewasa ini, di mana setiap tempat maupun kegiatannya, ponsel selalu menjadi tujuan utama, mengeliminasi nilai manusia untuk saling berkomunikasi. Sungguh sebuah gambaran yang memang nyata adanya.
Kritik tersebut selaras dengan keinginan Jexi yang hidup dalam media cloud, di mana Jexi selalu marah tatkala ia ditinggalkan maupun dilupakan, yang kemudian menyulut masalah baru. Tatkala Phil mulai menikmati hidup, Jexi selalu berulah yang kembali dilakukan oleh Moore dan Lucas adalah menghasilkan kekacauan dalam bentuk kemarahan Jexi dalam bentuk yang semakin masif, sebutlah dengan menghamburkan uang milik Phil, mengirim gambar penis ke seluruh staf tempat ia bekerja hingga mengambil alih mobil hanya untuk mengancamnya. Ini seharusnya menarik, karena gradasi ditampilkan secara perlahan, meski pada penerapannya urung tersalurkan akibat ketiadaan urgensi lebih.
Apa yang dilakukan oleh Jexi sebatas berjalan di permukaan, kita tak pernah merasakan apa yang dirasakannya (yang mana berhasil dilakukan oleh Her), penonton butuh sebuah koneksi alih-alih modus operandi. Pun tatkala filmnya mulai menyampaikan apa yang seharusnya disampaikan, Jexi tampil prematur karena ditutup secara paksa karena durasi sudah memasuki 84 menit. Konklusinya pun sarat penyederhanaan.
Untungnya, Jexi memiliki Adam DeVine dan Rose Byrne, yang mana seperti yang kita ketahui, dua nama tersebut memang jagonya dalam memainkan komedi, entah itu yang berisi verbal dan non-verbal disajikan oleh keduanya secara meyakinkan dan juga menyelamatkan filmnya dari keterpurukan. Klimaksnya memberikan petunjuk akan pembuatan sekuel, di mana peran Michael Pena sebagai bos untuk Phil dalam membuat berita mengenai kucing serta hal remeh lainnya yang ditujukan untuk viral. Namun, menilik hasil pendapatan yang diperolehnya, keinginan tersebut sulit untuk dilaksanakan.
0 komentar:
Posting Komentar