Senin, 08 September 2025

VANGUARD (2020)

 VANGUARD (2020)

Mirip dengan film yang dibintangi oleh Jackie Chan kebanyakan (meski di film ini porsinya tak terlalu dominan), jualan Vanguard, selain nama tenar sang aktor adalah aksi berbalut komedi yang berada dalam taraf cukup tinggi. Rentetan baku tembak pula aksi akrobatik dilipatgandakan, belum lagi jika menyebut sentuhan petualangan layaknya tontonan semacam Indiana Jones serta deretan alat canggih (mesin drone berbentuk lebah dan merpati) dikedepankan. Selama anda tak mengharap lebih dan murni mencari hiburan, Vanguard adalah tontonan yang cukup memuaskan, tanpa memikirkan logika dan murni menikmatinya dengan alasan melepas penat.

Qin Guoli (Jackson Lou) adalah seorang akuntan yang menemukan sebuah serangan, setelah sebelumnya secara paksa berhubungan dengan pemimpin anggota teroris bernama Brother of Vengeance yang bersarang di Timur Tengah. Setelah kematian sang pemimpin, kini giliran Omar (Eyad Hourani) yang merupakan putra petinggi kelompok-menuntut bola pula uang yang disimpan oleh Qin, di samping keberadaan senjata pemusnah massal yang siap dikeluarkan.

Tak butuh lama untuk kita menikmati deretan aksinya, yang sedari paruh awal ditampilkan dalam sebuah adegan penyerangan terhadap Qin oleh Arctic Wolves, sementara dua protagonis kita, Lei Zhenyu (Yang Yang) dan Zhang Kaixuan (Ai Lun) yang merupakan anggota Vanguard (sebuah firma internasional yang melayani perlindungan bagi kliennya yang membutuhkan pertolongan khusus) menyelamatkannya, karena Qin merupakan salah satu klien VIP-nya.

Vanguard dipimpin oleh Tan Huanting (Jackie Chan), yang pada misi ini juga tangan karena setelah penyerangan terhadap Qin gagal, Omar meminta pasukab Arctic Wolves untuk menculik putri semata-mata wayang Qin, Fareeda (Ruohan Xu) yang tengah berada di Afrika, menjadi seorang aktivis pelindung satwa pembohong. Sampai ini, Anda paham bagaimana narasinya berjalan, yang tak memberikan kedalaman lebih selain menghantarkannya pada gelaran aksi pula petualangan yang jauh dari kata membosankan.

Menandai kali keenam Jackie Chan bekerja sama dengan penulis-sutradara Stanley Tong, setelah terakhir kali terlihat dalam Kung Fu Yoga (2017), Vanguard tersusun atas pola formulaik, tanpa basa-basi pula kerumitan layaknya tontonan yang ingin tampil pintar. Itulah sebabanya, mudah untuk terkoneksi langsung dengannya tanpa perlu mempermasalahkan segala tetek-bengek yang akan menguras otak, karena (sekali lagi) pada dasarnya, Vanguard adalah sajian eskapisme yang dibutuhkan tatkala libur perayaan Tahun Baru China, yang ikut disinggung pula diberi panggung.

Aksinya tersaji variatif, mulai dari aksi kejar-kejaran hingga baku tembak yang melibatkan jetski di hamparan sungai pula air terjun, yang disusun sedemikian rupa, meski di beberapa adegan kentara terlihat kasar, sebut saja pemakaian CGI yang diterapkan pada singa artifisial. Pun, beberapa tampilan tampil begitu masif, yang rasanya sulit untuk diubah pada layar.

Bukan tanpa cela, Vanguard sendiri banyak meninggalkan tanya, salah satunya terkait misi utama Vanguard yang enggan membantu para klien yang serakah, itu dilantangkan secara vokal dalam salah satu adegan, yang jika ditilik ulang amat bermasalah dengan apa yang sedang diperjuangkan. Pun, elemen terkait senjata pemusnah massal, tak lebih dari sekadar pernak-pernik yang kedalamannya sebatas tempelan dan mudah dilupakan.
Paruh ketiganya mungkin yang paling lemah, mengingat aksi sebelumnya yang tampil lebih mewah. Namun, ini bukanlah sebuah permasalahan mengingat tujuan utama Vanguard adalah memberikan hiburan di waktu luang dan senggang. Untuk urusan itu, Vanguard tampil tepat sasaran, sekaligus kembali membuktikan bahwa persona Jackie Chan sukar untuk luntur, menyusul setelahnya adalah pendatang baru, Yang Yang, yang setelah ini, kiprahnya dalam dunia perfilman akan melesat, sama halnya dengan Mi Ya sebagai Miya Muqi, satu-satunya anggota perempuan dalam Vanguard, yang tampil sempurna memancarkan aura femme fatale.

0 komentar:

Posting Komentar