Jumat, 12 September 2025

SHERLOCK GNOMES (2018)

Setelah menyadur cerita Romeo & Juliet (1597) karya Shakespeare dalam Gnomeo & Juliet (2011), kini giliran cerita dari Conan Doyle lewat Sherlock Holmes-nya yang kemudian disadur dalam bentuk animasi parodi oleh para patung kurcaci taman. Mengetengahkan kisah Gnomeo (James McAvoy) yang kini sudah menikah dengan Juliet (Emily Blunt). Keduanya terpilih sebagai pemimpin gnome di taman tempat mereka tinggal. Disinilah naskah garapan Ben Zazove yang berdasar atas ide cerita dari Kevin Cecil, Andy Riley, Emily Cook dan Kathy Greenberg memasukan konflik utama.

Gnomeo merasa dilupakan oleh Juliet yang sibuk mengurus taman, terlebih kala Juliet dihadapkan pada sebuah relokasi baru. Pertengkaran pun tersulut, namun pasca mereka kembali lagi ke taman, para gnome sudah hilang. Ditengah kebingungannya, mereka bertemu dengan Sherlock (Johnny Deep) beserta sang asisten, Dr. Watson (Chiwetel Ejiofor) yang menemukan sebuah petunjuk terkait dalang menghilangnya para gnome, yakni sang musuh bebuyutan mereka, Moriarty (Jamie Demetriou).

Tentu fokus cerita adalah menemukan para gnome yang diculik oleh Moriarty, berbekal petunjuk yang ditemukan oleh Sherlock, kita diajak pada sebuah petualangan petak umpet yang cukup menyenangkan meski di beberapa adegan naskahnya sendiri terasa bak sebuah tarik ulur. John Stevenson (Shrek, Shrek 2, Kung Fu Panda) masih mengikuti pakem dalam mengemas filmnya supaya tampil menarik, termasuk mencakup penonton dengan rating PG-13. Namun untuk penonton anak-anak rasanya menonton film ini kurang tepat, terutama mengenai slapstick-nya yang tak pantas untuk ditonton seumuran mereka.

Cakupan aksinya terbilang biasa-biasa saja, kala salah satu dari mereka akan merenggut bahaya, kita tahu mereka tak akan meregang nyawa. Sherlock Gnomes memang bukanlah sebuah tontonan yang buruk, namun terlampau biasa untuk para penonton dewasa, pun selepas film usai jangan harap adegan yang ditampilkan akan mengendap lama dalam ingatan, meski sebuah twist di penghujung cerita digunakan pun semuanya tak menghadirkan sebuah dampak yang signifikan.

Ya, Sherlock Gnomes adalah sebuah film popcorn, dimana eksekusi hanya ditujukan sebagai tontonan ringan alih-alih selayaknya. Saya selalu suka bagaimana Stevenson menggunakan ilmu forensik guna memecahkan setiap petunjuk oleh Sherlock. Pun komedinya meski bukanlah hal yang baru, namun cukup efektif menyinggungkan senyum, sebutlah kehadiran tokoh katak dengan lipstik tebal plus tingkah nyeleneh miliknya.

Menyandingkan animasi garapan Paramount Pictures dengan Disney rasanya bukanlah hal yang tepat. Animasi Paramount lebih menekankan pada sebuah hiburan belaka, membuat filmnya sekadar untuk bersenang-senang dan mengocok perut. Itu tujuan utama filmnya, sehingga sebuah kewajaran pun patut dialamatkan pada film ini. Meski dalam lubuk hati yang paling dalam, keinginan saya bagi animasi garapan Paramount Pictures mampu menampilkan apa yang ditampilkan Disney dalam segala aspek. Mungkin suatu hari nanti.

0 komentar:

Posting Komentar