September 09, 2025
TRIBHANGA (2021)
Tribhanga adalah salah satu sikap dalam seni tari India klasik, Odissi. Di mana sebelum mencapai tribhanga, ada dua tahapan yang harus dilalui, yakni abhanga (yang cenderung aneh) serta samabhanga (yang seimbang). Tribhanga sendiri berarti sedikit gila namun seksi, begitulah kata protagonis kita, Anuradha (Kajol) yang merupakan seorang penari Odissi pula aktris Bollywood yang terkenal karena bakatnya dengan sang ibu, Nayantara (Tanvi Azmi) yang merupakan seorang penulis peraih gelar terbaik.
Nayantara memang dipuja oleh khalayak, tetapi tidak oleh Anuradha dan Robindro (Vaibhav Tatwawaadi) yang enggan menyebut ibu. Tentu ada alasan lain yang melatarbelakangi kejadian ini, yang oleh film debutan Renuka Shahane (turut merangkap sebagai penulis naskah) dijadikan sebagai ladang observasi penonton, seiring terbukanya tabir kebenaran yang ditampilkan dalam sebuah momen kilas balik, yang saking banyaknya, naskah seolah-olah enggan menempuh jalan lain guna menerapkannya. Sungguh sebuah cara yang sangat menakutkan, mengingat premis Tribahanga sendiri begitu potensial.
Disaat sinema arus utama Bollywood tengah gencar menyampaikan suara, Tribhanga justru hadir prematur dan tenggelam bersama ide cerita yang sulit untuk berkembang dan diselesaikan saja. Sebutlah isu seputar penyakit masyarakat bernama patriarki yang masing-masing dirasakan oleh tiap-tiap karakternya, termasuk Masha (Mithila Palkar), putri semata-mata wayang Anu yang mewakili gerakan samabhanga. Sekilas, Masha adalah yang paling seimbang di antara dua wanita di sampingnya, namun ketika naskah membuka permasalahannya, meminimalkan sebuah letupan emosi kala momen tersebut ditampilkan menjelang akhir film, yang otomatis terselesaikan secara sederhana, cenderung disepelekan kehadirannya.
Untuk sebuah manifestasi dari gerakan tari Odissi, Tribhanga sendiri menampilkan cacat-karena kekurangan sebuah urgensi pula porsi masing-masing yang diharapkan nantinya akan menampilkan sebuah makna "cantik dan indah" sebagaimana melekat pada tarian Odissi. Narasi yang berjalan tumpang-tindih adalah salah satu alasan mengapa niatan tersebut urung berjalan.
Padahal ragam dialognya begitu tajam dan berani. Terlebih ketika mencakup soal "memilih diri sendiri" yang semakin bertenga ketika para jajaran pemainnya menampilkan sebuah penampilan yang berkesan lewat ragam gradasi emosi, baik itu yang menyatakan verbal maupun non-verbal. Kajol seperti biasa tak usah diragukan kemampuannya, Tanvi Azmi dibalik karakternya yang dijadikan sumber masalah, menyimpan sebuah "hati yang besar" sebagaimana sosok mutlak seorang ibu. Sementara Mithili Palkar, dibalik senyum manis pula diamnya, menyembunyikan sebuah luka yang selalu ia pendam dalam-dalam.
Berlangsung selama 95 menit, Tribhanga menampilkan minimal musik maupun lagu sebagaimana ciri khas sinema India. Konklusinya berpotensi tampil hangat Andai (sekali lagi) tak dibarengi dengan sebuah jalan tengah bernam simplifikasi yang seharusnya paling dibenci dari keseluruhan ini.
0 komentar:
Posting Komentar