This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Jumat, 31 Oktober 2025

A MINECRAFT MOVIE

 A MINECRAFT MOVIE

Sebelum logo rumah produksi menampakkan detailnya, beberapa anak yang duduk di belakang saya sudah serempak berteriak, "Mojang!", Merujuk pada nama perusahaan asal Swedia yang mengembangkan game Minecraft, sebagai sumber adaptasi oleh film ini. A Minecraft Movie memang diciptakan untuk mereka yang menghabiskan waktu berjam-jam memainkan game terlaris sepanjang masa tersebut (terjual lebih dari 350 juta kopi). 

Bagaimana dengan penonton awam (termasuk saya) yang tidak memahami alasan mengapa istilah "chicken jockey" bisa jadi viral hingga menyebabkan keriuhan di studio tempat filmnya diputar? Tanda tanya akan muncul berkali-kali. Bukan karena alurnya yang kompleks. Justru sebaliknya, timbul pertanyaan tentang mengapa segala hal di A Minecraft Movie begitu disimplifikasi. 

Mungkin karena para pembuatnya menjadikan generasi alpha sebagai target pasar. Tapi bukankah bocah zaman sekarang sudah jauh lebih cerdas? Bukankah mereka tidak perlu disuguhi sekuen pembuka yang terkesan begitu malas membangun latar belakang? Di satu titik, salah satu karakternya tiba-tiba menguasai kemampuan baru. Rekannya pun bertanya, "Bagaimana kamu tahu melakukan itu?", yang dijawab, "Jangan tanya". Tidak bisakah LIMA penulis naskahnya muncul dengan alasan yang lebih meyakinkan?

Steve (Jack Black), penjual gagang pintu yang lelah dengan kehidupan monoton miliknya, menemukan portal menuju Overworld, sebuah dunia yang tersusun atas balok-balok yang mudah dimanipulasi. Akibatnya, Steve bisa bebas menciptakan apa pun di sana. 

Ketika Steve pidato menghadapi serbuan pasukan piglin daridunia Nether yang dipimpin oleh Malgosha (Rachel House), datang bantuan dalam wujud empat individu yang tersasar ke dalam Overworld: Henry (Sebastian Hansen) si bocah jenius bersama kakaknya, Natalie (Emma Myers); Garrett "The Garbage Man" Garrison (Jason Momoa) adalah mantan juara dunia game yang kini hidup melarat; juga Dawn (Danielle Brooks) si agen perumahan. 

Sederhananya, A Minecraft Movie adalah film dengan segudang kebetulan di setiap sudut cerita yang seolah menandakan kemalasan dalam bercerita. Ketimbang membuat alur mumpuni, naskahnya lebih menarik melemparkan fan service dengan humor absurd sebagai bumbu yang membuat A Minecraft Movie lebih terasa seperti shitpost ratusan juta dollar. Contohnya saat kita tiba-tiba disuguhi momen musikal diiringi lagu aneh berjudul Steve's Lava Chicken.

Jack Black mengungkapkan totalitasnya di sini. Mungkin tidak ada aktor lain yang bisa menangani momen over-the-top dengan semangat membara seperti itu. Black memilih pendekatan yang tepat karena ia tahu betul sedang bermain di film seperti apa. Begitu pula Jason Momoa yang bersedia memarodikan citra pria tangguh yang telah begitu melekat padanya. 

Padahal para penulisnya punya banyak opsi terkait arah pengembangan cerita. Sebutlah eksplorasi tentang "kreativitas tanpa batas" yang menjadi esensi permainannya. Benar bahwa karakter-karakternya membangun setumpuk hal yang aneh, tetapi tidak banyak yang dapat diklasifikasikan sebagai "metode kreatif memecahkan masalah". 

Pesan yang diusung pun tersia-siakan. Di penghujung durasi, A Minecraft Movie ingin mengingatkan para pemainnya agar bisa menerapkan kreativitas mereka di realita alih-alih terus tenggelam dalam dunia fantasi. Pesan yang relevan sekaligus luar biasa penting ini gagal dimanfaatkan untuk menciptakan cerita yang memadai. Tatkala para protagonisnya berpisah dengan Overworld, tak ada ruang sedikit pun bagi dampak emosi, karena penonton luput dibuat memedulikan karakter maupun dunianya.
Tidak terhitung pula deretan kalimat cringey yang naskahnya lahirkan. "Pertama kita menambang, lalu kita membuat, ayo membuat minecraft!" merupakan salah satu contoh terbaik (atau terburuk?). Mungkin suatu hari nanti, segala kekurangan milik A Minecraft Movie akan bertransformasi dari kelak di internet menjadi film kultus yang menandakan wajah suatu era. Tapi untuk saat ini, khususnya bagi penonton awam, ia hanyalah blockbuster yang tidak masalah bila dilewatkan.

SANTOSH

 SANTOSH

Alur milik Santosh film berbahasa India yang jadi perwakilan Britania Raya di Academy Awards 2025 mengandung banyak cerita, namun pada dasarnya ia adalah kisah tentang korupnya instansi kepolisian. Isu-isu lain seperti gender atau kasta dipakai sebagai penegas bagi persoalan tersebut, yang oleh film ini diangkat secara jujur, tanpa berusaha main aman atau menambahkan bumbu pemanis. 

Menariknya, alih-alih mengetengahkan penderitaan mereka yang ditindas aparat, Sandhya Suri selaku sutradara sekaligus penulis naskah memilih menggunakan perspektif "orang dalam". Santosh (Shahana Goswami) menjanda pasca kematian sang suami, yang terbunuh ketika bertugas mengamankan sebuah tempat. Melalui program yang digalakkan pemerintah, Santosh pun berhak mewarisi pekerjaan suaminya sebagai polisi berpangkat konstabel.

Mulailah rutinitas baru Santosh. Seragam penuh bercak darah peninggalan sang suami ia cuci, lalu dikenakan sendiri. Mungkin Santosh berharap akan mewarisi kehormatan sebagai penegak keamanan. Tapi hanya dalam waktu singkat, Santosh segera menyadari kenyataan yang sungguh bertolak belakang. 

Berawal dari hilangnya anak perempuan dari kasta dalit yang kemudian berkembang jadi kasus pembunuhan, Santosh, yang bekerja di bawah Arah Inspektur Geeta Sharma (Sunita Rajwar) yang dikenal kukuh memperjuangkan pemberdayaan perempuan, menemukan bahwa para pembela hukum tidak benar-benar tertarik untuk menegakkan hukum. 

Seperti apa pun individunya, baik laki-laki, perempuan, feminis, atau misoginis, apabila telah mengenakan seragam berwarna khaki milik aparat, nyatanya akan tertular kebobrokan yang telah menjadi citra instansi tersebut. Seolah-olah seragam itu memberi sensasi bertenaga yang mendorong keinginan melakukan represi, karena si individu menganggap dirinya bebas melakukan apa saja.

Sandhya Suri membungkus filmnya dengan sampul prosedur kepolisian. Sentuhan misterinya memang bukan sesuatu yang benar-benar segar, namun mampu memenuhi tujuannya sebagai alat bantu untuk mengupas satu per satu kebejatan aparat. Di sisi lain, Shahana Goswami dengan kelihaian memancarkan emosi melalui raut wajahnya, seolah jadi perpanjangan rasa syok penonton saat menyaksikan setumpuk ketidakadilan yang filmnya paparkan. 

Kompleksitas kisahnya memuncak begitu alur menyentuh babak akhir. Selama ini Santosh selalu mengagumi Inspektur Sharma dengan sudut pandang feminisme yang tak kenal lelah ia perjuangkan. Tapi apakah sebuah perjuangan masih layak diperjuangkan jika mengharuskan kita melakukan keburukan? Santosh tak ragu mengkritisi fenomena, di mana demi menyuarakan ketidakadilan yang dialami suatu kaum, beberapa pejuang keadilan sosial justru melakukan ketidakdilan pada kaum lain. 

Di satu adegan, Santosh diperlihatkan tengah makan sambil menonton video berisi perbandingan antara polisi Cina dengan India. Si konstabel tertawa geli melihat instansinya dijadikan bahan tertawaan, karena ia sadar bahwa memang begitulah realitanya. Menjadi bagian suatu kelompok bukan berarti enggan mengakui borok kelompok tersebut.

SINNERS

 SINNERS

Banyak blockbuster terasa hampa karena sebatas memikirkan soal cara mempertontonkan spektakel. Tidak keliru, namun Sinners sebagai karya asli pertama dari Ryan Coogler menunjukkan bahwa ada metode pendekatan yang berbeda, di mana penceritaan dan penokohan ditempatkan di garis depan, terlebih dahulu dipatenkan sebelum melompat ke upaya menghibur penonton. 

Mengambil latar Mississippi tahun 1932, Sinners memperkenalkan kita pada dua saudara kembar, Smoke dan Stack (Michael B. Jordan dalam peran ganda), yang kembali ke kampung halamannya. Nama keduanya sudah begitu masyhur sebagai mafia yang pernah bekerja bersama Al Capone, dan kini mereka pulang untuk memulai bisnis baru, tanpa menyadari bahwa sebuah kekuatan jahat tengah bersiap melepaskan terornya ke seisi kota. 

Kekuatan jahat itu mengambil wujud sekelompok vampir, namun serupa yang dilakukan oleh Quentin Tarantino di From Dusk Till Dawn (1996), naskah buatan Coogler menyimpan aksi paramakhluk pengisap darah tersebut hingga paruh kedua cerita. Sebelumnya, Coogler dengan penuh kesabaran, menata "panggung" yang akan melatari konflik utamanya, mengumpulkan orang-orang yang akan terlibat, sambil menyusun latar belakang masing-masing dari mereka.

Smoke dan Stack bermaksud membangun juke joint bagi orang-orang kulit hitam yang tak mendapat ruang bersenang-senang akibat cengkeraman warga kulit putih. Keduanya berpencar guna mengumpulkan nama-nama yang dirasa bisa berkontribusi: Sammie (Miles Caton) si adik sepupu yang piawai memainkan gitar; Delta Slim (Delroy Lindo) si musisi legendaris setempat; Roti Jagung (Omar Benson Miller) si penjaga keamanan; Bo dan Grace Chow (Yao dan Li Jun Li) yang menyediakan makanan; juga Annie (Wunmi Mosaku) yang memiliki kisah masa lalu dengan Smoke. Mary (Hailee Steinfeld) si gadis kulit putih yang sebelumnya memadu kasih dengan Stack pun ikut terlibat. 

Apa yang Smoke dan Stack lakukan mengingatkan pada film-film yang berisikan ensemble cast di mana protagonis merekrut deretan individu dengan kemampuan khas masing-masing untuk membuat tim super. Bedanya, Sinners juga memakai fase tersebut sebagai media memperkenalkan isu rasisme yang masing-masing pernah alami. Coogler secara cerdik memanfaatkan interaksi karakternya, menyelipkan sekelumit kisah mereka, sebagai cara membangun latar belakang yang efektif.

Penonton pun dibuat betul-betul mengenal masing-masing tokoh, menganggap mereka sebagai manusia yang utuh, sehingga sewaktu teror akhirnya pecah, terasa ada sesuatu yang dipertaruhkan. Untungnya mereka masih sempat merasakan berpesta di juke joint milik Smoke dan Stack. Bernyanyi, menari, menikmati musik blues, menenggak alkohol, bahkan menemukan cinta bagi beberapa yang cukup beruntung. Berkat latar belakang pembangunan yang kuat, pesta tersebut tidak terkesan sebagai hedonisme hampa, melainkan perayaan kebebasan yang meneriakkan kebahagiaan dari manusia-manusia yang disudutkan. 

Di pesta berikutnya pula Coogler mempersembahkan sebuah momen magis yang menjadi selebrasi bagi elemen budaya, terutama musik, yang meniadakan sekat pembatas. Moment itu merupakan bagian dari pembangunan dunia unik yang Coogler sematkan di naskahnya. 

Musik blues memang memegang peranan penting di Sinners. Menonton setiap ia dimainkan di adegan mana pun, dan kita seolah dapat merasakan teriakan hati para musisinya, yang tidak jarang memunculkan nuansa mistis. Suara gitarnya terdengar bak tangisan, nyanyiannya seperti curahan doa. Kekuatannya begitu besar, hingga (menurut film ini) mampu menembus batasan ruang dan waktu, pula kehidupan dan kematian.

Pemakaian musik blues pun turut menambah keunikan adegan aksinya, meski di saat bersamaan, pengarahan Coogler justru menampakkan kelemahannya. Penanganan sang sutradara yang selalu stylish, bahkan di momen-momen sederhana, misalnya single take saat Lisa Chow (Helena Hu) berjalan ke toko sebelah untuk memanggil sang ibu, seolah menghilang saat berhadapan pada aksi saling bunuh diri. Tidak buruk, hanya saja terlampau umum bila dibandingkan segala hal yang sebelumnya telah disuguhkan. 

Bukan berarti babak puncak Sinners kehilangan daya bunuh diri sepenuhnya. Momen itu tetap menjadi pengingat betapa orang kulit putih, dalam kondisi apa pun, bahkan setelah kehilangan nyawa, tetap menginvasi ruang pribadi kaum kulit hitam, merenggut segala hal milik mereka, dari orang-orang tercinta hingga hak sederhana untuk sekadar tertawa melepas penat bersama.


UNTIL DAWN

UNTIL DAWN

Modifikasi yang Until Dawn diterapkan berpotensi menyebabkan terjadinya di antara pecinta game berjudul sama yang jadi sumber adaptasinya. Tapi keputusan kontroversial itu juga berjasa menjadikan karya horor pertama David F. Sandberg sejak Annabelle: Creation (2017) ini sebagai salah satu adaptasi video game paling menghibur, karena tujuan utama yang diusung adalah melakukan pendekatan unik terhadap formula film horor. 

Lima muda-mudi melakukan perjalanan melintasi hutan. Clover (Ella Rubin), Max (Michael Cimino), Nina (Odessa A'zion), Megan (Ji-young Yoo), dan Abel (Belmont Cameli) memulai misi untuk menemukan Melanie (Maia Mitchell), adik Clover yang sudah setahun menghilang. Pencarian menemukan jalan buntu, hingga mereka menemukan sebuah kabin di tengah kota pertambangan bernama Glore Valley yang telah lama ditinggalkan. 

Tidak butuh waktu lama bagi naskah buatan Gary Dauberman dan Blair Butler untuk menunjukkan modifikasi terhadap formula klise "kabin di tengah hutan", ketika satu per satu karakternya mati di tangan sesosok pembunuh bertopeng, sebelum akhirnya hidup kembali dan harus mengulangi hari, sementara kematian selalu mengejar mereka. Kondisi itu akan terus terulang selama para protagonisnya belum memecahkan misteri seputar Glore Valley.

Plot yang ditawarkan sejatinya tipis, setidaknya hingga pertengahan durasi di mana Until Dawn menerapkan pola penuturan layaknya sajian pedang. Keunggulan yang ditawarkan terletak pada metode kematian yang selalu berganti dalam setiap waktu. Sampai Dawn punya opsi cara membunuh tak terbatas, yang santai bisa dimanfaatkan guna melahirkan beberapa adegan kematian kreatif dan brutal. 

Kuncinya adalah keengganan memakai hanya satu jenis "sumber maut". Berbekal konsep yang mengingatkan ke The Cabin in the Woods (2011), Until Dawn menjadi "hoserba" (horor serba ada) yang menggabungkan sosok-sosok seperti pembunuh bertopeng ala pedang, penyihir, raksasa, boneka setan, dan tentunya monster bernama Wendigos yang menjadi ciri khas game-nya. Bahkan air pun dapat menghadirkan kematian tak terduga di sini.

Tapi jangan dulu mengharapkan eksplorasi konsep secerdas The Cabin in the Woods. Dauberman dan Butler masih cenderung keteteran menangani keunikan pembangunan dunia dalam naskahnya. Masih banyak pertanyaan-pertanyaan dasar 5W1H yang gagal dijabarkan secara layak oleh kedua penulis. 

Untungnya di kursi sutradara, David F. Sandberg belum kehilangan sentuhannya perihal mengolah intensitas, termasuk melalui deretan jumpscare yang cukup efektif menggedor jantung. Satu hal yang agak memalukan adalah keputusannya meredupkan pencahayaan secara berlebihan di babak akhir. Ketika penonton sulit mengidentifikasi peristiwa di layar, ketegangan otomatis juga sulit dihadirkan.

Hingga Dawn juga menampilkan pembahasan mengenai emosi negatif manusia, terutama yang terkait erat dengan rasa takut dan duka. Upaya kelima protagonis kita untuk kabur dari lingkaran waktu sendiri merupakan representasi dari proses mereka berpindah dari rangkaian emosi negatif tersebut. Sampai di satu titik, kematian tak lagi sebegitu mengerikan, dan mereka siap menyambutnya dengan tangan terbuka.  

Penceritaan di atas mungkin tak pernah benar-benar melahirkan drama dengan bobot emosi besar, namun tidak pula berakhir hambar berkat penampilan solid jajaran pemainnya. Tatkala barisan muda-mudi di banyak film serupa tidak lebih dari seonggok daging yang menanti untuk dijagal, lima pelakon muda di Until Dawn mampu memberikan kepribadian bagi tiap-tiap karakter yang membuat proses mereka kembali ajal masing-masing menyenangkan untuk diikuti.


SAH! KATANYA...

SAH! KATANYA...


Bayangkan dinamika keluarga ala Bila Esok Ibu Tiada (2024) sebagai konflik sentral, dipresentasikan menggunakan sampul humor absurd layaknya Mekah I'm Coming (2019). Begitulah Sah! Katanya..., yang jika dilihat dari permukaan hanya tampak seperti satu lagi komedi lokal kelas dua, tapi ternyata ia adalah kontender kuat peraih gelar "film Indonesia terlucu tahun ini".....setidaknya bagi mereka yang tidak teralienasi oleh gaya melucunya.

Tidak semua orang akan cocok dengan film humor yang disutradarai oleh Loeloe Hendra Komara (Tale of the Land) ini. Beberapa orang mungkin menyebut "aneh" atau bahkan "garing", tapi mereka yang akrab dengan gaya bercanda "gojek kere" khas sirkel tongkrongan Jawa (terutama Yogyakarta), bisa jadi bukan hanya menikmati, bahkan merasa terwakili seleranya.

Di atas kertas kisahnya terdengar sangat serius, kalau tidak mau disebut memilukan. Marni (Nadya Arina), si anak bungsu dari sebuah keluarga besar, bertemu dengan Adi (Calvin Jeremy) saat menemui jalan buntu. Adi adalah laki-laki baik. Terlalu baik malah, sampai uang yang ia janjikan akan ditabung sebagai biaya hidup mereka setelah menikah kelak justru sering dipakai untuk membantu masalah finansial orang-orang lain di sekitarnya.

Kemampuan Adi mengatur skala prioritas memang sangat buruk. Sewaktu usahanya memperkenalkan diri ke ayah Marni, Dipo (Landung Simatupang), kembali gagal, Adi hanya berujar "Nanti kubetulin". Itulah kata-kata sakti yang selalu terlontar dari mulut tiap dibayangkan pada masalah, tanpa sadar bahwa mungkin saja tak ada lagi kata"nanti" untuknya.

Naskahnya selalu menemukan celah untuk menyelipkan hukum yang absurd serba over-the-top di tengah situasi seserius apa pun. Entah berupa celetukan-celetukan dari karakter Paklik Kusno (Susilo Nugroho alias Den Baguse Ngarso) yang sesekali menyerempet ranah komedi gelap, tingkah menggelikan sekaligus menyebalkan Adi yang tak menampakkan ketegasan, maupun barisan polah di luar nalar para karakter pendukung.

Di sini kita bakal berkenalan dengan satu karakter, yang saking tidak kuatnya menahan stres, ia secara tiba-tiba berjungkir balik di depan orang-orang. Seaneh itu. Loeloe Hendra Komara menangani segala masalah keabsurdan dengan energi luar biasa, layaknya sedang melempar guyonan di depan kawan-kawan satu sirkelnya sambil bersantai menikmati kopi di angkringan atau kafe sederhana. 

Beberapa humornya begitu aneh sehingga kemunculannya sulit diduga, sedangkan beberapa di antaranya malah sebaliknya, sangat bisa ditebak, terutama lelucon terkait cara Pak RT berkomunikasi dengan warga. Tapi tepat waktu dan metode penyuntingan berperan menjaga kelucuannya, dan di sisi lain, ekspektasi saat menantikan hadirnya suatu banyolan yang sudah kita nantikan justru meningkatkan daya bunuhnya.

Menarik mengamati dinamika antara Adi dan Marno. Calvin Jeremy tampil total menghidupkan karakter yang memang ditujukan untuk mengambil hati penonton. Kita justru diarahkan untuk meragukan sosoknya, yang terlampau tenggelam dalam kesedihannya sendiri, hingga lupa kalau sang kekasih, Marni, jauh lebih menderita.


Di sisi lain ada Dimas Anggara, berbekal karisma yang memudahkan kita untuk mendukung Marno serta kemampuannya menaruh simpati kepada Marni. Tapi ada satu masalah. Keputusan menggiring penonton yang berdiri di belakang Marno terkesan seperti cara filmnya bermain aman dalam menyikapi isu mengenai perjodohan paksa guna memenuhi wasiat sebagai wujud bakti anak. Daripada mengkritisi, Sah! Katanya... cenderung menjustifikasi, dengan mendesain karakter Marno sebagai figur yang lebih baik bagi Marni.

THE ACCOUNTANT 2

 THE ACCOUNTANT 2

Berbeda dengan film pertamanya, The Accountant 2 aksi thriller metodis yang elegan. Mengikuti formula sekuel khas industri sinema arus utama, Gavin O'Connor dan Bill Dubuque yang masing-masing kembali menempati posisi sutradara dan penulis naskah, menyusun suguhan yang lebih besar pula berisik, membawa ke ranah buddy action dengan bumbu komedi guna memuaskan penonton sebanyak mungkin. Lebih menghibur, tapi lebih umum. 

Berawal dari kematian misterius Raymond King (J.K. Simmons) selaku mantan direktur FinCEN (Financial Crimes Enforcement Network), sang penerus, Marybeth Medina (Cynthia Addai-Robinson), melakukan penyelidikan yang membawanya bersinggungan dengan Christian Wolff (Ben Affleck) alias "Si Akuntan". Dua individu yang sejatinya saling berseberangan ini memilih menyatukan kekuatan.

Sekilas tidak ada perbedaan yang signifikan dibandingkan film pertama. Setidaknya hingga Braxton (Jon Bernthal), adik Christian, ikut terlibat, lalu mendorong nada filmnya ke arah yang jauh lebih ringan dibandingkan pendahulunya. Tiada lagi suasana dingin yang elegan, baik dari departemen artistik maupun gaya bertuturnya. Dinamika kakak-beradik disfungsional tersebut dipakai oleh naskahnya untuk menciptakan aksi tukar kelakar ala buddy comedy.

Bila tujuannya adalah meningkatkan nilai hiburan, maka The Accountant berhasil mencapainya. Rumus spesial tidak diperlukan. Cukup ikuti rumus paten subgenrenya, yakni menyatukan dua figur dengan kepribadian berlawanan: Christian si pengidap autis cenderung dingin dan kaku, sedangkan Braxton lebih meledak-ledak. Ditunjang chemistry solid Affleck dan Bernthal, tawa pun selalu mengisi sudut cerita.

Di satu titik, Christian memerlukan bantuan Justine (Allison Robertson) bersama sekelompok anak kecil penderita autis guna meretas informasi yang bahkan tak mampu ditemukan oleh pihak berwajib. Mereka meretas berbagai macam benda elektronik di rumah seseorang bertanya kepada kita mencari data di Google. Pada momen yang mampu menghibur karena tidak ragu tampil over-the-top itulah, The Accountant 2 sepenuhnya membuang jejak keseriusan film pertama. 

Sayang, daya hiburnya melemah tiap kali naskahnya berusaha untuk bercerita. Gaya tutur Bill Dubuque yang seolah-olah memegang prinsip "semakin kompleks, semakin cerdas" justru kurang sinkron dengan upaya The Accountant 2 menyajikan hiburan ringan. Naskahnya membuat kasus yang sejatinya sangat sederhana terkesan seperti konspirasi semrawut.
Pun jika kita meninggalkan dinamika Christian-Braxton, gelaran aksi film ini dieksekusi secara luar biasa umum oleh Gavin O'Connor. Sentuhan unik pencak silat yang membuat film pertamanya menonjol seketika menghilang, digantikan oleh baku tembak ala film aksi kelas B, yang di saat bersamaan membuat penokohan Christian sebagai pengidap autis jenius tak lagi menyisakan signifikansi. Ya, setidaknya banyak penonton tertawa sepanjang durasi bukan?

THE DEVIL'S BATH

 THE DEVIL'S BATH


The Devil's Bath adalah salah satu horor paling segar dalam beberapa waktu terakhir. Kengerian milik wakil Austria di Academy Awards 2025 ini bukan berasal dari perihal supranatural, melainkan jurang kultural yang penonton rasakan tatkala mengamati hal-hal yang dianggap normal lebih dari tiga abad lalu.

Alkisah, perempuan bernama Agnes (Anja Plaschg) baru saja menikah dengan laki-laki dambaannya, Wolf (David Scheid). Pesta berlangsung meriah, kerabat dari kedua belah pihak tampak berbahagia, dan senyum bak menolak luntur dari wajah Agnes. Dia bakal menghuni rumah baru yang Wolf beli dengan seluruh tabungannya plus sedikit pinjaman, tanpa sepengetahuan Agnes. Tanda bahaya pertama pun muncul.

Tapi yang kita tengah Saksikan adalah tahun 1750-an. Gagasan feminisme masih jauh dari konsepsinya. Keputusan Wolf mengganggu Agnes, tapi siapa yang menganggap itu kekeliruan? Hal tersebut belum cukup. Di sela pesta pernikahan, Wolf dan teman-teman bersenang-senang dengan memukuli ayam, sementara Agnes memperoleh hadiah jimat dari kakaknya. Agnes sangat bahagia dan menggenggamnya dengan penuh terima kasih. Jimat itu adalah sebagian jari pelaku pembunuhan bayi yang dihukum pancung.

Naskah buatan dua sutradaranya, Veronika Franz dan Severin Fiala (Goodnight Mommy), memakai buku Suicide by Proxy in Early Modern Germany: Crime, Sin and Salvation karya Kathy Stuart sebagai patokan terkait gambaran masyarakat masa lalunya. Sekali lagi, tidak ada hantu, penyihir, atau kambing yang mengganggu bak kerasukan setan. Kengerian bersumber dari perspektif serta kepercayaan yang dianut pada masa itu.

Inilah masa di mana depresi dianggap sebagai ulah setan, sementara melankoli dalam hati disingkirkan dengan cara menjahit rambut kuda ke tengkuk, lalu menarik rambut itu berulang-ulang hingga bekas jahitan mengeluarkan nanah, yang dipercaya dapat "mengeluarkan racun". Sinematografi garapan Martin Gschlacht, juga musik gubahan Anja Plaschg, berjasa menampilkan nuansa horor folk dari ragam situasi yang dirasa janggal oleh masyarakat modern tersebut.

Tapi horor paling menyeramkan bagi Agnes dihadirkan oleh si ibu mertua (Maria Hofstätter), yang sangat sering berkunjung, dan tak pernah lelah mengira si menantu dengan segala bentuk komentar yang menyakitkan. Bahkan lokasi menggantung panci saja ia bermasalah. Seiring waktu Agnes semakin tertekan, dan Anja Plaschg menggambarkan kehancuran batin tersebut dengan sangat menyakitkan. Tawa bercampur teriakan dan ratapan yang ia perlihatkan di penghujung durasi sungguh meremukkan perasaan. 

Usai menonton The Devil's Bath, saya berujar dalam hati, "Apakah akan terjadi hal serupa, di mana orang-orang dari tahun 2300-an memandang kita sebagai masyarakat terbelakang nan menyeramkan tatkala menonton film mengenai era 2000-an?" The Devil's Bath ibarat pengingat untuk memperbaiki diri agar sejarah tak merekam (terlalu banyak) sisi kelam kita.

THUNDERBOLTS*

 THUNDERBOLTS*

Thunderbolts bukan tim darurat yang dibentuk guna melangsungkan misi bunuh diri demi menyelamatkan dunia. Bahkan konsep “menyelamatkan dunia” adalah sesuatu yang tak sedikit pun terbesit di benak masing-masing anggotanya. Mereka hanya orang-orang yang ingin sembuh dari luka hati, kemudian mendapati ada individu lain yang tengah merasakan kepedihan serupa, sehingga timbul dorongan untuk menyelamatkannya atas dasar empati. Justru karena itulah mereka spesial. 

Sebutlah Yelena Belova (Florence Pugh), yang selepas kematian Natasha Romanoff (Scarlett Johansson), seolah mati rasa, dan sebatas menjalani rutinitas tanpa semangat. Tentu "rutinitas" yang dimaksud melibatkan aksi spionase antar-negara dan meninggalkan setumpuk mayat, karena ia masih bekerja di bawah Arahan direktur CIA, Valentina (Julia Louis-Dreyfus). 

Yelena kehilangan tujuan hidup, sementara dihantui rentetan dosa masa lalu yang disesalinya. Kondisi serupa dirasakan oleh Alexei Shostakov / Red Guardian (David Harbour), John Walker / U.S. Agent (Wyatt Russell), Ava Starr / Ghost (Hannah John-Kamen), dan pemuda misterius bernama Bob (Lewis Pullman) yang tiba-tiba muncul entah dari mana. Di pihak lain, Bucky Barnes (Sebastian Stan) yang kini berstatus anggota kongres memiliki problematikanya sendiri. Jangan tanya di mana Antonia Dreykov / Taskmaster (Olga Kurylenko) berada.

Mayoritas nama di atas merupakan barisan karakter yang tidak perlu berpikir dua kali kala ditugaskan untuk menghabisi target. Jangankan pahlawan super, Thunderbolt adalah sekelompok individu yang seketika mengamini kala salah satu dari mereka menyatakan, "Kami payah!". Thunderbolts* adalah kisah tentang para manusia yang memiliki ruang hampa (void) di hati mereka. 

Naskah buatan Eric Pearson dan Joanna Calo pantang memandang remeh masalah kesehatan mental yang dialami karakternya (sebatas menjadikannya materi humor, misal). Semua ditangani dengan hati secara hati-hati. Atas dasar itulah narasi yang unik untuk standar film MCU pun terbentuk, di mana paruh pertama filmnya, alih-alih langsung dipenuhi aksi masif, cenderung bermain dalam skala kecil, memusatkan diri di satu lokasi, lalu membiarkan ikatan antar karakter, juga karakter dengan penonton, tumbuh secara alami. 

Kesan realis dan humanis yang begitu jarang hadir di suguhan MCU pun mampu Thunderbolt* miliki. Memahami pentingnya realisme tersebut, Jake Schreier yang duduk di kursi sutradara memilih menggunakan efek praktikal di banyak adegan aksinya guna mempertahankannya. CGI dipakai seperlunya, termasuk saat Sentry pertama kali memamerkan kekuatan, yang sayangnya memenuhi inkonsistensi kualitas.

Bicara soal realisme, salah satu momen favorit saya justru berupa sebuah peristiwa sederhana yang sangat jauh dari citra blockbuster ala Marvel, yaitu kala Yelena dan Alexei terlibat kejadian emosional. Ketimbang di markas rahasia atau lokasi bernuansa eksklusif lain layaknya para pahlawan super, keduanya saling bertukar rasa di ruang publik, tepatnya di pinggir jalan New York, sementara pejalan kaki tetap lewat-lalang seperti biasa, bahkan beberapa terlihat coba mencuri pandang. Yelena dan Alexei tidak ada bedanya dengan manusia biasa yang rapuh seperti kita. 

Jajaran pemainnya mendukung pendekatan humanis filmnya,menjalin chemistry solid yang terkadang menghasilkan humor menggelitik secara natural. Wyatt Russell dan Hannah John-Kamen memberi kompleksitas tambahan bagi tokoh masing-masing, David Harbour menyeimbangkan komedi dan drama, Sebastian Stan di atas motor dengan kacamata hitam memberkahi kita dengan imagery paling keren dari seorang Bucky Barnes versi MCU, namun tak ada yang bersinar seterang Florence Pugh, yang ironisnya malah menyusun performanya menggunakan awan gelap bernama "kemanusiaan". 

Satu hal lagi yang menarik perhatian adalah, hal pertama yang para anggota Thunderbolt melakukan kala kekacauan pecah bukanlah membahayakan sumber bahaya, melainkan menyelamatkan warga sipil. Mereka mungkin rapuh, tidak sempurna, namun status kepahlawanannya tidak perlu diragukan lagi.
Babak ketiganya mungkin akan mengundang komplain dari penonton awam yang mengeluhkan minimnya keseruan (dan tidak sepenuhnya salah), namun itu bukanlah tindakan yang ceroboh. Secara sengaja, Thunderbolts* menggantikan aksi bombastis ala Marvel dengan momen personal yang membuatnya memiliki salah satu babak ketiga paling emosional sepanjang sejarah MCU


KNEECAP

 KNEECAP

Apakah penolakan terkesan serius dan kelam? Apakah kekakuan wajib dikedepankan dan berjalan beriringan dengan keberhasilan perjuangan? Kneecap, trio hip hop asal Belfast, jelas menolak berpikir demikian. Sehingga biopik yang mendramatisasi perjalanan karir mereka ini pun disajikan sebagai "film perlawanan" yang menyenangkan. 

Naskah buatan sang sutradara, Rich Peppiatt, mengawali narasinya dengan berkelakar mengenai tendensi film Irlandia untuk membuka kisahnya dengan gambaran-gambaran yang dibuat, maupun tragedi seperti peristiwa Minggu Berdarah tahun 1972. Kneecap berbeda. 

Pertama kali penonton diajak berkenalan dengan Liam Óg Ó hAnnaidh dan Naoise Ó Cairealláin (memerankan diri sendiri) selepas mereka dewasa, kedua protagonis kita tersebut sedang berpesta di tengah hutan sambil menguasai pengaruh ketamin yang menghadirkan halusinasi pembohong. Dilihat sekilas, mereka tidak cocok menjadi ikon perlawanan. Begitu pula JJ Ó Dochartaigh yang menjalani rutinitas membosankan sebagai guru musik.

Fakta sedikit menarik tentang tiga laki-laki di atas. Ayah Naoise yang juga akrab dengan Liam sedari kecil, Arlo (Michael Fassbender), merupakan anggota paramiliter yang disegani, sebelum suatu hari memilih memalsukan kematian guna menghindari kejaran otoritas. Sedangkan kekasih JJ, Caitlin (Fionnuala Flaherty), termasuk pentolan dalam gerakan untuk memperjuangkan agar Bahasa Irlandia diakui secara resmi, pula bebas digunakan secara kasual alih-alih dipandang sebagai simbol pemberontakan.  

Intinya, pergerakan, perlawanan, atau apa pun sebutannya, sangat dekat dengan kehidupan mereka bertiga. Sampai suatu ketika, berkat campur tangan takdir, JJ menemukan buku catatan berisi lirik lagu dalam Bahasa Tunggal yang ditulis oleh Liam. Seketika tercetus ide untuk menggubah barisan lirik tersebut menjadi lagu rap. 

Sebelumnya kita pernah melihat Liam dan Naoise menembakkan rima dari mulut mereka, namun ketika tiba saatnya merekam musik, keduanya tiba-tiba terdengar seperti anggota N.W.A. di masa keemasannya. Lubang narasi ala film biografi arus utama semacam itu termasuk babak ketiga yang berlangsung terlampau dramatis karena naskahnya memaksa untuk memberi resolusi bagi seluruh konflik di waktu yang sama kadang masih jadi batu sandungan, namun energi yang dimasukkan oleh Rich Peppiatt beserta tiga pemeran utamanya membuat film ini terasa spesial.

Diiringi lagu-lagu Kneecap yang eksplosif serta tidak ragu melontarkan kritik terhadap kebetulan oleh pihak Britania, sementara tanpa malu-malu membicarakan hedonisme sarat kokain, filmnya membuktikan perlawanan bahwa tak harus mengalienasi kesenangan. Mereka berpesta, teler bersama di tengah proses pembuatan lagu yang berlangsung liar, pernah pula memotret Orange walk dalam adegan kejar-kejaran seru yang menghiasi lagu Smack My Bitch Up kepunyaan The Prodigy.

Pasca salah satu lagunya berhasil viral, Kneecap langsung menggemparkan seisi bangsa. Pemerintah Britania memandang karya mereka sebagai bentuk anarki, sementara kaum konservatif dari organisasi paramiliter bernama RRAD (Radical Republican Against Drugs), yang merupakan parodi dari kelompok dunia nyata bernama RAAD (Republican Action Against Drugs) yang mengutuk gaya hidup mereka yang dipenuhi narkoba. 

Bahkan di satu titik, Caitlin mengeluhkan sepak terjang Kneecap yang menurutnya mengganggu usaha memperjuangkan hak berbahasa. Arlo yang menyebut pengungsinya sebagai "misi" dan amat mengagungkan metode konservatifnya pun mengecam tindakan sang anak. Apakah perjuangan harus disuarakan dalam satu nada yang sama?
Menariknya, trio Kneecap tidak pernah bermaksud memposisikan diri sebagai pejuang hak asasi. Barisan lirik kritis mereka bukan hasil rumusan yang disusun matang-matang demi tujuan tertentu, melainkan sebatas teriakan isi hati. Semuanya terjadi secara alami. Para personil Kneecap cuma ingin bersenang-senang, sambil bebas menulis, bernyanyi, dan mengatakan apa pun yang diinginkan. Mereka hanya ingin bicara.


HOLY NIGHT: DEMON HUNTERS

 HOLY NIGHT: DEMON HUNTERS

Karena tidak ada lagi penjahat yang mampu menahan tinju mautnya, kini giliran para iblis yang jadi target bogem mentah Ma Dong-seok". Lelucon ini banyak orang-orang lontarkan pasca mengetahui proyek baru dari salah satu pria terkemuka terbesar sinema Korea Selatan tersebut. Holy Night: Demon Hunters pun seolah dibangun berdasarkan lelucon di atas, yang sejatinya merupakan premis menarik. Sayang, para pembuatnya bak kebingungan mengembangkannya ke arah mana. 

Ma Dong-seok memerankan Bau, yang menjalankan perusahaan penyedia jasa pengusiran setan bersama dua karyawannya, Sharon (Seohyun) dan Kim Gun (Lee David). Modus operandi mereka sebagai berikut: Sharon si pemilik kekuatan sakti bertugas melakukan eksorsis, Bau memukuli para pemuja setan yang menurut mitologi film ini selalu berada di sekitar korban kesurupan, sedangkan Kim merekam merekam ritual. 

Bahkan di ranah paling mendasar (penokohan) naskah buatan sang sutradara, Lim Dae-hee, sudah hilang arah. Entah apa fungsi rekaman yang Kim tangkap, karena para protagonisnya sendiri tak pernah meninjau ulang sekaligus menjadikannya media untuk memasarkan bisnis mereka. Interaksi menggelitik coba dipakai guna membangun hubungan ketiga karakter utama, tapi eksekusi humornya begitu lemah. Timing-nya sering meleset, pun presentasinya penuh keragu-raguan, seolah sang sineas khawatir filmnya tampil terlampau konyol.

Misi teranyar mereka datang dari permintaan dokter neuropsikiatri bernama Jung-won (Kyung Soo-jin), yang curiga bahwa kondisi sang adik, Eun-seo (Jung Ji-so), bukan disebabkan penyakit klinis namun gangguan klenik. Naskahnya berusaha memancing simpati penonton terhadap Jung-won, tapi masalahnya, penokohannya luar biasa menyebalkan. Si dokter cerdas lebih banyak berteriak, menangis, pula mudah dimanipulasi oleh iblis sehingga acap kali melakukan tindakan luar biasa bodoh. 

Menonton Holy Night: Demon Hunters ibarat sedang menyaksikan kompilasi dari seluruh trik klise dalam katalog horor eksorsisme, yang terkesan asal disatukan akibat Lim Dae-hee masih kurang percaya diri dalam debut penyutradaraannya ini. Kemampuannya mengolah mondar-mandir saat mengarahkan adegan eksorsisme pun layak disetujui. Proses pengusiran setan yang mestinya sarat intensitas justru berakhir pada minimnya energi, biarpun sudah didukung totalitas Seohyun yang mengerahkan segala daya upayanya.  

Menyebut film yang dibintangi Ma Dong-seok "minim energi" memang terasa janggal, namun demikianlah adanya Holy Night: Demon Hunters. Seperti biasa, tiap tinju si jagoan dibarengi efek suara eksplosif layaknya lesatan peluru shotgun, tapi sang sutradara nampaknya masih belum menguasai cara memaksimalkan daya bunuh dari bogem mentah sang aktor yang ikut merangkap produser tersebut.

Jika ada yang patut diapresiasi, itu adalah kesediaan naskahnya memberi sisi rapuh pada karakter Bau. Berbeda dengan figur tanpa tanding yang Ma Dong-seok perankan di judul-judul populernya belakangan ini, Bau menyimpan segudang rasa takut akibat trauma yang berasal dari tragedi masa lalunya. 

Memasuki babak final, Malam Suci: Pemburu Iblis tiba-tiba memberi kekuatan tambahan bagi Bau, yang meski memunculkan kesan "semau sendiri" dari naskahnya, berputar menghadiahkan momen epik di momen puncaknya, kala Ma Dong-seok, setelah menghabiskan 90 menit menghajar serangkaian penjahat kelas teri, akhirnya secara literal iblis memukul sampai terlempar ke neraka. Andai momen itu datang jauh lebih awal.

SAYAP-SAYAP PATAH 2: OLIVIA

 SAYAP-SAYAP PATAH 2: OLIVIA

Serupa film pertamanya, Sayap-Sayap Patah 2: Olivia hanya dilandasi satu tujuan: membuat penonton terisak menyaksikan tragedi akibat aksi terorisme. Tiada ruang bagi kompleksitas manusia dan eksplorasi mendalam terkait isu radikalisme. Setidaknya, sebagai pembuat air mata sederhana ia bekerja dengan baik terutama di babak akhir. 

Mengambil inspirasi dari peristiwa "Bom Samarinda 2016", sepak terjang anggota kepolisian di bawah pimpinan Sadikin (Nugie) kembali menjadi sorotan. Kini giliran Pandu (Arya Saloka) yang kita ikuti kesehariannya. Pandu yang setahun lalu kehilangan istrinya karena suatu penyakit, kesulitan membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga, sehingga kerap meninggalkan sang putri, Olivia (Myesha Lin), tinggal berdua di rumah bersama neneknya (Meriam Bellina). 

Arya Saloka mampu menghidupkan sosok ayah penyayang sehingga mudah memancing simpati penonton. Piawai pula ia membangun chemistry bersama para pelakon lain, dari hubungan ayah-anak yang hangat dengan si kecil Myesha Lin, hingga romantisme antara Pandu dan Suri (Dara Saraswati), guru Olivia

Sampai tiba waktunya bagi Leong (Iwa K) sebagai pelaku penyerangan Mako Brimob untuk bebas dari penjara. Bagaimana mungkin pentolan teroris yang aksinya menyebabkan kematian anggota polisi bebas begitu cepat, tatkala di dunia nyata, para pelakunya dijatuhi hukuman mati? Perlu kadar suspensi ketidakpercayaan yang cukup tinggi agar kita dapat menerima poin cerita tersebut, tapi intinya Leong kembali ke masyarakat dan tinggal bersama anaknya, Askar (Bio One).

Naskah buatan Jocelyn Coroelia dan Rahabi Mandra sempat menyulut dinamika menarik tatkala dinamika rumit antara Leong dan Askar mengisi layar. Askar membenci tindakan ayahnya, sedangkan Leong tampaknya ingin meyakinkan si putra tunggal bahwa ia telah berubah. Kali ini Iwa K tak hanya mengumbar kengerian, pula kompleksitas seorang ayah yang terpecah antara ideologi dan kasih sayang terhadap anak. Tercipta perbandingan antara Pandu dan Leong, sebagai dua sosok ayah yang sama-sama tidak pernah hadir di dekat buah hati mereka. Menarik. Kompleks.

Sayangnya kompleksitas tersebut tak bertahan lama. Begitu Leong kembali menempuh jalur radikalisme selepas disambangi oleh Wabil (Muhammad Khan), tuturannya kembali ke "setelan pabrik" yang amat hitam putih. Padahal pilihan yang menggambarkan sosok teroris sebagai manusia biasa alih-alih entitas asing nan menyeramkan justru akan mengerdilkan sepak terjang mereka dan bukan membenarkannya. 

Jadi, poin apa yang sejatinya Sayap-Sayap Patah 2: Olivia ingin sampaikan dari dinamika tokoh-tokohnya? Entahlah. Sebab memasuki paruh akhir, komparasinya berpindah ke duo Pandu-Askar, sehingga semakin keharusan poin yang hendak ditekankan filmnya. 

Selepas melalui proses sarat stagnasi, saat sorotan terhadap kehidupan keluarga Pandu luput menambah bobot narasi akibat presentasi yang berulang-ulang, kita tiba di babak final yang jadi amunisi utama filmnya. Tersebar banyak lubang narasi di sepanjang perjalanan menuju ke sana (Sadikin yang lebih masuk akal dijadikan target utama teroris daripada Pandu, antagonis yang bisa begitu mudah menyamar menjadi kru acara, dll.), tapi kemampuan Ferry Pei Irawan sebagai sutradara dalam mengkreasi tragedi menyesakkan di layar bisa menebus berbagai kelemahan tersebut.

Dibanding film pertama yang terkesan instan dan setengah matang, klimaks Sayap-Sayap Patah 2: Olivia jauh lebih menusuk hati, baik karena visualisasi eksplisit yang bisa jadi bakal terasa traumatis dari sang sutradara, hingga kemampuan para pemainnya, terutama Arya Saloka dan Meriam Bellina, untuk mencabik-cabik perasaan penonton lewat akting mereka. 

Sekali lagi, jangan mengharapkan eksplorasi kompleks mengenai isu radikalisme. Keputusan filmnya mengubah salah satu karakternya menjadi figur kejam akibat balas dendam, tanpa mengajak penonton menelisik secara lebih dalam, menandakan kegagalan naskahnya membuka mata atas keburukan sistem yang turut berkontribusi memperkeruh situasi (setidaknya menunjukkan keengganan membagi porsi kesalahan secara adil). Tapi jika sebatas ingin menumpahkan air mata karena kisah tragisnya, Sayap-Sayap Patah 2: Olivia bakal memenuhi itu.

WARFARE

 WARFARE


Pertama kali penonton diajak bertemu tentara Amerika di film ini, mereka sedang menonton video aerobik dengan luar biasa bersemangat bak tengah berpesta pora. Itu pula kali terakhir kita melihat semangat mereka. Peperangan bukan soal keseruan merenggut nyawa musuh di medan perang, melainkan ketegangan dari upaya mempertahankan nyawa. Ketimbang ode untuk patriotisme, ia lebih seperti elegi sarat penyesalan.
Alex Garland menulis sekaligus menyutradarai filmnya bersama Ray Mendoza, mantan anggota Navy SEALs yang di sini menuturkan pengalamannya saat bertugas di Perang Irak. Pada 19 November 2006, Mendoza (versi film yang diperankan oleh D'Pharaoh Woon-A-Tai) dan peletonnya dikirim untuk melakukan pengintaian guna mendukung operasi dari korps marinir.
Di tengah kegelapan malam, Erik (Will Poulter) memimpin pasukannya menuju sebuah rumah yang dijadikan dasar presentasian. Rumah dua tingkat itu dihuni pula oleh dua keluarga sipil. Penghuni lantai atas cuma bisa pasrah menyaksikan dinding rumah dijebol dan diobrak-abrik untuk dijadikan markas sementara. Garland dan Mendoza menolak menutup mata bahwa apa yang dilakukan pasukan Amerika adalah kolonial terhadap orang-orang tak berdosa. 
Dua penerjemah, Farid (Nathan Altai) dan Noor (Donya Hussen), juga serta dalam operasi. Mereka cenderung diperlakukan semena-mena, termasuk diperintahkan untuk menjadi tameng di baris terdepan saat bahaya mendekat. Tatkala Farid tewas mengenaskan dengan tubuh yang terburai, namanya luput disertakan dalam kelompok "korban jiwa", seolah eksistensinya sama sekali tidak berharga.
Peperangan enggan memberi penokohan mendalam mungkin karena para pembuatnya tidak ingin penonton mengalami bias dalam proses observasi. Tatkala misi mulai berantakan pun kita tidak ingin bersimpati pada penderitaan yang dialami peleton Mendoza. Jikalau muncul simpati, atau minimal rasa pilu menyaksikan luka-luka mengenaskan yang dialami karakternya, itu adalah respon natural kita sebagai manusia saat dihadapkan pada tragedi. 
Dipaparkan secara real time sepanjang 95 menit, paruh awalnya menyatakan tujuan Warfare untuk mengedepankan tangkapan realita paparan dan prosedural daripada dramatisasi. Realitasnya, misi pengintaian bukanlah aktivitas yang mengasyikkan. Alih-alih terlibat baku tembak seru, si penembak jitu mesti "mematung" selama berjam-jam sambil mencatat situasi. Anggota lain pun disibukkan oleh rutinitas melelahkan yang sama. 
Tengok pula saat lesatan peluru mulai menampilkan ancamannya. Para Navy SEAL tidak bisa segampang itu melarikan diri. Setumpuk peralatan militer yang tersebar di seluruh penjuru rumah wajib dikumpulkan terlebih dahulu sebelum dilakukan evakuasi, yang meningkatkan ancaman risiko.
Bertepatan dengan fase di saat karakternya terjebak tak berdaya di dalam rumah, alurnya sempat mengalami stagnasi. Untunglah intensitasnya selalu bisa dijaga oleh duo sutradara, pula departemen tata suara yang begitu efektif mengolah atmosfer mencekam. Dentuman-dentuman bomnya memang terdengar bombastis, tapi teriakan manusia yang tak henti-hentinya mengiris telinga nyatanya jauh lebih mengejutkan. Kemudian saat suara-suara itu akhirnya memudar, bukan patriotisme yang terasa. Hanya ada keheningan yang merekam jejak-jejak penderitaan.

FINAL DESTINATION BLOODLINES

 FINAL DESTINATION BLOODLINES

Seperempat abad lalu, Final Destination memodifikasi formula DMT (Dead Teenager Movies) dengan menjadikan kematian sebagai antagonis, alih-alih memakai pembunuh bertopeng atau monster sebagai perantara guna mencabut nyawa. Sekarang keunikan itu telah menghasilkan keklisean sendiri, dan seperti putaran roda takdir yang kembali ke titik awal, Final Destination Bloodlines datang membawa perubahan (lagi). Bukan secara radikal, namun untuk kali pertama, seri ini bersedia menyelami mitologinya. 

Pada tahun 1968, Iris (Brec Bassinger) dan kekasihnya, Paul (Max Lloyd-Jones), terjebak dalam kecelakaan mematikan di atas menara yang menjulang langit. Alih-alih hanya berpikir yang Iris dapatkan sebagaimana adegan pembuka film-film sebelumnya, tragedi tersebut adalah mimpi buruk yang selama dua bulan terakhir dialami Stefani (Kaitlyn Santa Juana). Barulah Stefani sadar bahwa gadis dalam mimpinya adalah sang nenek (Gabrielle Rose) yang kini hidup sendirian mengasingkan diri dan dianggap gila oleh keluarganya.

Selama puluhan tahun, Iris menghindari mempelajari pola dan taktik sang maut untuk menghindari kejarannya. Iris percaya bahwa ia seharusnya terbunuh dalam peristiwa tahun 1968, yang berarti seluruh keturunannya pun tidak seharusnya eksis, dan kematian berusaha mencabut nyawa mereka semua. Ingat, kematian amat benci bila suratan takdirnya dicurangi. 

Karakter Final Destination Bloodlines masih didominasi muda-mudi. Ada Charlie (Teo Briones), adik Stefani, pula tiga sepupu mereka, Erik (Richard Harmon), Bobby (Owen Patrick Joyner), dan Julia (Anna Lore). Tapi Stefani pun harus menyelamatkan beberapa orang dewasa, mulai dari pamannya, Howard (Alex Zahara), juga sang ibu, Darlene (Rya Kihlstedt), yang telah lama pergi dari kehidupannya. 

Naskah buatan Guy Busick dan Lori Evans Taylor menggeser cakupannya dari lingkaran pertemanan remaja ke ranah keluarga, sehingga melahirkan judul Final Destination paling emosional. Setiap karakter memiliki motivasi yang kuat untuk menyelamatkan karakter lain. Erik menjadi salah satu karakter paling disukai sepanjang sejarah serinya karena faktor tersebut. Sekilas perangainya penuh ketidakpedulian, namun dialah yang berjuang paling keras mengakali upaya maut mengumpulkan keluarganya.

Butuh waktu sampai diskusinya membahas sasaran, namun setelah Bloodlines menampakkan keunikannya dengan menggali lebih lanjut dalam konsep soal "dikejar maut" yang nantinya secara subtil menjelaskan segala peristiwa di lima film pertama, daya hiburnya tak lagi bisa dibendung. 

Deretan eksekusi yang dilakukan secara brutal. Mungkin tak ada yang bakal menancapkan trauma seperti adegan truk di Final Destination 2, maupun mengundang kecemasan luar biasa seperti Final Destination 5 dengan latihan gimnastiknya, namun tiap nyawa yang terenggut dieksekusi dengan sadisme penuh energi duo sutradaranya, Zach Lipovsky dan Adam Stein. 

Proses menebak-nebak dari mana datangnya sumber bahaya juga tampil semakin menyenangkan, pula semakin rumit, yang menunjukkan keusilan sang maut. Ya, kematian nampaknya bersenang-senang di sini, layaknya predator yang bermain-main dengan mangsa sebelum menerkamnya, sambil mendengarkan lagu-lagu populer seperti Without You.

Mungkin memang benar bahwa kematian punya selera humor yang sinting. Filmnya sendiri lebih banyak komedi, disertai pendekatannya yang cenderung self-aware. Daripada meliput, Bloodlines justru sengaja menerapkan berbagai kekonyolan di alurnya, lalu mengajak penontonnya menonton bersama-sama. 

Film ini sadar bahwa seri Final Destination dengan segala aturan anehnya bukan sesuatu yang perlu dipandang serius, kemudian memilih mengakuinya dengan bangga dan membuat lelucon alih-alih menutupinya. Saya bisa membayangkan apabila dilanjutkan di masa depan, seri ini bisa saja menempuh jalur serupa Scream, di mana karakternya belajar menceritakan kematian dengan cara menonton film-film Final Destination. 

Tapi bukankah hampir semua upaya kabur dari maut di Final Destination berakhir kegagalan? Betul. Mungkin karena itulah kita mesti mencermati ucapan William Bludworth (Tony Todd), yang kali ini kemunculannya memiliki signifikansi lebih terkait mitologinya. Melalui adegan yang seolah jadi salam perpisahan sempurna nan mengharukan bagi Tony Todd sebelum meninggal akhir tahun lalu, Bludworth menasihati karakternya, bahwa alih-alih menghabiskan waktu dengan terus-menerus lari, bukankah lebih baik waktu itu dimanfaatkan untuk menikmati hidup sebaik-baiknya?


Selasa, 28 Oktober 2025

THE RED ENVELOPE

THE RED ENVELOPE

The Red Envelope menawarkan konklusi hangat yang menunjukkan bahwa pernikahan seperti apa pun, baik gay atau hetero, secara esensial adalah hubungan dua keluarga. Sebuah proses menambah orang yang kita sayangi sekaligus menyayangi kita. Poin itulah yang mestinya dieksplorasi lebih jauh dan dijadikan menu utama oleh karya terbaru Chayanop Boonprakob (Friend Zone, May Who?, SuckSeed) ini. 

Sayang, durasi cukup panjang (125 menit) milik remake dari Marry My Dead Body yang sempat mewakili Taiwan di Academy Award 2024 ini tak dimanfaatkan guna memperkuat penceritaan. Isu pernikahan sesama jenis yang telah dilegalkan sejak awal 2025 bukannya diperdalam, malah sebatas dijadikan pernak-pernik humor.

Protagonis kita adalah Menn (Putthipong Assaratanakul), informan kepolisian yang tak kompeten dalam bekerja, sedangkan isi pikiran hanya dipenuhi keinginan memikat seorang petugas bernama Goi (Arachaporn Pokinpakorn). Sampai ia memungut sebuah amplop merah yang tanpa diduga membuatnya mesti melangsungkan pernikahan gaib dengan arwah Titi (Krit Amnuaydechkorn). 

Titi meninggal akibat kecelakaan sebelum sempat menikah, dan sang nenek (Piyamas Monyakul) ingin mewujudkan impian tersebut. Permasalahannya Titi merupakan seorang gay, sehingga keinginannya tak pernah direstui oleh ayahnya (Teravat Anuvatudom). Sampai di sini, The Red Envelope punya segalanya untuk menghadirkan kisah dengan daya hibur serta dampak emosi tinggi. 

Di awal pertemuan mereka, Menn takut pada Titi. Bukan semata-mata disebabkan oleh hantu, juga karena orientasi seksualnya. Jangan jijik pada sesuatu yang asing baginya. Di pihak lain, Titi ingin orang-orang seperti Menn tidak segampang itu menghakimi dirinya tanpa mengenal secara lebih mendalam.

Naskah yang ditulis oleh sang sutradara, Chayanop Boonprakob, bersama Thamsatid Charoenrittichai, Chantavit Dhanasevi, dan Weawwan Hongvivatana, sejatinya mampu menciptakan perjalanan yang menyenangkan, namun di saat yang sama, gaya bertutur alurnya tidak mendukung dinamika kompleks antar dua tokoh utamanya seperti dijabarkan di atas. 

Alurnya menyelidiki penyelidikan mengenai kebenaran di balik kematian Titi, yang skalanya tiba-tiba membesar hingga membenturkan dua protagonisnya dengan skema licik seorang bandar narkoba kelas kakap. Chayanop menggulirkan kisah tersebut dengan cepat guna menjaga kesan menghibur (yang mana berhasil), meskipun secara bersamaan, alur yang bergerak terlampau pembohong cenderung menyulitkan terjalinnya kepedulian serta koneksi emosional antara karakter dan penonton. 

The Red Envelope hadir dengan humor yang tidak jauh dari nuansa nakal, seolah-olah tuturan mengenai LGBTQ harus selalu kental banyolan jorok. Beberapa humor usang masih dipresentasikan (adegan "mengocok minuman" bahkan muncul lebih dari sekali), meski sempat, tatkala kreativitas para penulis tengah mencuat, kenakalan tersebut tetap efektif memancing tawa tak terduga. Apalagi dua pelakon utamanya, Putthipong Assaratanakul dan Krit Amnuaydechkorn, sama-sama tampil apik perihal menyeimbangkan keseriusan akting dramatis dan kekonyolan komedik.
Mungkin The Red Envelope belum berhasil memaksimalkan potensinya. Cukup menakutkan, mengingat tahun lalu GDH pernah melahirkan kisah LGBTQ dengan sensitivitas lebih tinggi lewat The Paradise of Thorns. Tapi bukan berarti relevansinya berkurang. Melihat cara LSF mencederai film ini, termasuk saat memotong adegan battle dance yang bahkan bukan "gay thing", atau ketika mendesain terjemahan agar terkesan "tidak terlalu homoseksual", The Red Envelope justru semakin penting untuk disaksikan.


MUNGKIN KITA PERLU WAKTU

MUNGKIN KITA PERLU WAKTU

Mungkin Kita Perlu Waktu dibuka saat seorang remaja berbaring sambil menyalakan lalu mematikan lampu kamarnya secara berulang. Setiap lampu padam, tampak sekelebat pemandangan mengenai kecelakaan yang merenggut nyawa kakak perempuannya di suatu malam. Karya terbaru Teddy Soeriaatmadja ini membahas hal-hal yang manusia lihat serta rasakan saat jatuh dalam jurang terkelam kehidupan. Menyeramkan, menyakitkan, tapi bagian terburuknya, semua itu tak dapat dihapus menghilangkan kegelapan yang hanya membutuhkan secercah cahaya lampu. 

Selepas alunan Nocturnes, Opus 9 gubahan Chopin yang bakal berulang kali didengarkan termasuk dalam versi gitar akustik, kita pun diajak mengenal lebih jauh dengan sosok si remaja dan keluarganya. Namanya Ombak (Bima Azriel). Dia terjebak depresi pasca kematian kakaknya, Sara (Naura Hakim). Ombak merasa bersalah, karena dialah yang menyetir mobil pada kecelakaan yang merenggut nyawa Sara.

Kondisi orang tuanya tidak lebih baik. Sang ibu, Kasih (Sha Ine Febriyanti), berusaha mencari ketenangan lewat agama. Ombak yang sempat mencoba bunuh diri membawanya ke ahli rukiah. Dia pun hendak berangkat umrah bersama sang suami, Restu (Lukman Sardi). Keterpurukan Kasih, bahkan terkesan menjauhi Ombak, sejatinya dapat terwujud. Sebagai ibu yang taat, tentu ia merasa terpukul mendapati putrinya meninggal dalam kondisi mabuk. 

Sebaliknya, Restu berusaha terlihat tabah, karena sebagai kepala keluarga ia merasa bertanggung jawab supaya "kapal" yang mereka naiki tidak karam. Situasi apa pun ia sikapi secara santai, yang justru tak jarang memberi luka tambahan bagi istri maupun anaknya. Singkatnya, tiga anggota keluarga disfungsional ini menjalani hidup tanpa hasrat. Mereka hanya menjalankan peran sosial masing-masing layaknya bagian-bagian penggerak dalam sebuah mesin.

Pendekatan yang Teddy pakai guna menangani masalah kesehatan mentalnya cenderung sensitif. Kepiluan tiap karakter tidak dipakai sebagai pemantik dramatisasi, tangisan mereka (yang tidak mengisi layar tiap lima menit sekali) pun tidak dieksploitasi. Dampak emosi bukan lahir dari manipulasi, melainkan akting trio pemeran utama yang memilukan. Entah ledakan-ledakan rasa dari Bima Azriel, kata-kata tajam yang menyimpan luka dari Sha Ine Febriyanti, atau menusuk Lukman Sardi yang berjuang keras menahan letupan pilunya. 

Mungkin Kita Perlu Waktu mengedepankan proses observasi terhadap interaksi individu, baik dengan individu lain maupun hatinya sendiri. Tengok saat Ombak akhirnya bisa disatukan dengan Aleiqa (Tissa Biani), teman sekelas yang selama ini diam-diam ia taksir, dan berakhir saling berbagi sisi gelap satu sama lain. Cara Teddy mengemas dinamika keduanya serasa berkiblat pada metode Richard Linklater di Before Sunrise (termasuk menyertakan adegan music booth) yang menjadikan dialog sebagai jendela mengamati ruang intim manusia. 

Filmnya bakal jauh lebih kuat andai Teddy memberi jatah lebih bagi hubungan dua remaja tersebut, alih-alih mengharuskannya berbagi porsi dengan momen kunjungan Ombak ke Nana (Asri Welas), psikolog yang direkomendasikan oleh ayahnya. Masalahnya, gambaran Teddy terhadap si psikolog cenderung ambigu.

Nana berkomentar ketus, minim empati, pula terkesan menghakimi saat mendengarkan konsultasi Ombak. Dia mewakili segala hal yang keliru dalam kode etik seorang psikolog. Tapi ada kalanya ia memberi pesan bermanfaat, termasuk adegan di konsultasi terakhir Ombak, maupun dialognya dengan Restu. Apakah Teddy memang bermaksud memberi gambaran soal psikologi yang buruk, atau malah kita sedang melihat contoh penanganan (penulisan, penyutradaraan, akting) yang buruk terhadap sesosok karakter? Tidak pernah jelas. 

Sungguh sayang jika perjalanan Mungkin Kita Perlu Waktu membahas batu sandungan dalam bentuk karakter minor dengan signifikansi minimal seperti Nana, tapi alurnya terlampau menarik untuk bisa diruntuhkan begitu saja. Daripada membaik secara bertahap layaknya di film-film arus utama, seiring durasi, kita justru melihat kondisi para protagonisnya yang semakin menurun. 

Konklusinya pun menolak bermain aman. Teddy siap berpijak pada realita dan menggunakan sudut pandang yang tidak harus sejalan dengan norma standar masyarakat. Karena ada kalanya sebuah kapal memang sudah terlalu banyak mengalami kerusakan, dan akan membahayakan penumpangnya bila dipaksa terus mengapung. Mungkin itulah waktunya para kru melanjutkan berlayar dengan kapal baru masing-masing.

MISSION: IMPOSSIBLE - THE FINAL RECKONING

 MISSION: IMPOSSIBLE - THE FINAL RECKONING

Entah berapa orang bisa secara menyeluruh memahami konflik milik Mission: Impossible - The Final Reckoning, yang notabene kelanjutan langsung dari Dead Reckoning (2023). Para pembuatnya sendiri menyadari keruwetan yang mereka ciptakan, sehingga menyelipkan rekap sebanyak mungkin di paruh awal. Tapi saya pikir tidak banyak penonton yang akan pusing, karena filmnya mampu membangun kecemasan berdasarkan rasa percaya, bahwa jika sang protagonis gagal mengatasi kemustahilan dalam misinya, umat manusia akan punah.

Ethan Hunt (Tom Cruise) bersama krunya yang kini diisi oleh Grace (Hayley Atwell), Benji (Simon Pegg), Luther (Ving Rhames), Paris (Pom Klementieff), dan Theo (Greg Tarzan Davis), berjuang masih memburu Gabriel (Esai Morales), dengan tujuan akhir menghentikan upaya kecerdasan buatan bernama Entity untuk menciptakan pukulan besar guna melenyapkan umat manusia. Masa depan coba diselamatkan, sambil sesekali mengunjungi masa lalu (baca: melempar referensi terkait film-film sebelumnya) sebagai cara memberi penghormatan bagi perjalanan panjang serinya.

Terdengar sederhana, namun praktiknya tentu saja tidak. Tahap demi tahap harus dilalui Ethan dan tim, di mana dalam setiap titik, naskah hasil tulisan sang sutradara, Christopher McQuarrie, bersama Erik Jendresen, selalu menyediakan rintangan. Ethan tidak dibiarkan menggerakkan barang sedikit saja tanpa ada usaha semesta untuk menghalanginya. 

Maut setia mengintai, baik di darat, dasar samudera, hingga selamat udara, tapi nyawa Ethan selalu. Untunglah, tiada sebab yang dapat menyelamatkan dunia selain dia, setidaknya menurut para karakter film ini yang memposisikan Ethan bak mesiah. Berkali-kali pula mereka mengingatkan penonton betapa terancamnya dunia, saat satu demi satu hulu ledak nuklir jatuh ke tangan Entity.

Film ini tampil serius. The Final Reckoning bukanlah Ghost Protocol atau Rogue Nation yang masih punya banyak ruang untuk penyegaran suasana. Di satu sisi, keseriusan tersebut mampu menyulut "sense of imending doom" yang membuat penonton harap-harap cemas menyaksikan aksi Ethan menghalangi mogok. Tapi ada kalanya ia terlampau serius, bahkan di momen yang benar-benar konyol. 

Salah satu yang paling sering terjadi adalah saat karakternya dibuat meneruskan kalimat eksposisi satu sama lain, yang menunjukkan ambisi McQuarrie membuat filmnya selalu terasa dramatis, termasuk dalam percakapan sederhana. Penanganan Fraser Taggart terhadap sinematografinya yang enggan membiarkan satu pun shot tampak generik turut mendukung ambisi sang sutradara.

Apakah dramatisasi hingga detail terkecil memang diperlukan? The Final Reckoning membuat protagonisnya terkurung di dalam kapal selam yang karam di dasar laut, pula bergelantungan di atas pesawat. Rasanya semua aksi menantang maut itu sudah cukup dramatis. 

Membicarakan adegan aksi, di luar dugaan The Final Reckoning benar-benar menekan kuantitas untuk sepenuhnya fokus pada kualitas. Set piece besarnya cenderung minim, dan sebaliknya, McQuarrie memberi ruang bagi momen intens berskala kecil yang lebih kreatif, termasuk berakhirnya ancaman Entity, yang meskipun jauh dari kesan masif, tetap mampu memaksa penonton menahan napas. 

Sekalinya set piece besar itu datang, dia bukan hanya eksis untuk memenuhi durasi, tapi memberikan pemandangan memukau yang akan terus diingat hingga bertahun-tahun lamanya. Ada kalanya rangkaian aksi tersebut berlangsung terlalu lama, namun menyaksikan usaha yang dicurahkan, keengganan McQuarrie untuk memangkas durasi yang sebenarnya bisa dipahami.

Tengok saja saat Ethan memasuki kapal selam Sevastopol yang bersemayam di dasar samudera. Set piece itu seolah menolak untuk berakhir, sambil terus melemparkan batu sandungan bagi si jagoan. Apakah membosankan? Jelas tidak. Suasana mencekam yang dibangun, pencapaian teknis dalam detik demi detiknya, pula keputusan untuk (hampir) meniadakan tuturan verbal agar memperkuat nuansa imersif, semuanya mengagumkan. 

Menyaksikan Tom Cruise bergelantungan di atas pesawat dwisayap yang melayang tinggi, kekaguman terhadap filmnya sekaligus sang aktor pun mencapai titik tertinggi. Apakah The Final Reckoning merupakan salam perpisahan? Entahlah. Filmnya terkesan ragu-ragu menegaskan status tersebut. Tapi pada era di mana kepalsuan digital dalam bentuk AI semakin meresahkan, Tom Cruise lewat aksi gilanya yang "serba nyata" merupakan wujud perlawanan yang kehadirannya akan selalu diterima.

LILO & STITCH (2025)

 LILO & STITCH (2025)

Seperti film aslinya yang rilis 23 tahun lalu, Lilo & Stitch versi live action masih memiliki kehangatan hasil dari kisahnya mengenai nilai-nilai kekeluargaan. Tapi ada satu hal yang hilang. Format live action membuat segalanya tampak lebih tertata, lebih normal, pula nihil anarki, walaupun elemen tersebut merupakan landasan utama dari dinamika dua karakter titulernya. 

Pola alurnya masih sama. Lilo (Maia Kealoha) adalah bocah 6 tahun asal Hawaii, yang sepeninggal orang tua, hidup di bawah asuhan sang kakak, Nani (Sydney Elizebeth Agudong). Lilo dengan segala hobinya, termasuk memungut umpan pancing untuk dijadikan gelang, dianggap aneh oleh teman-teman sepantarannya. Dia kesepian. Apalagi Nani, yang berjuang mempertahankan hak asuh atas adiknya, selalu sibuk bekerja.

Maia Kealoha yang melakoni debut aktingnya mampu membawakan sisi polos Lilo. Orang-orang mencapnya "nakal", tetapi ia sebatas bocah yang ingin menikmati kebocahannya. Sydney Agudong tidak sehijau lawan utamanya, namun inilah peran yang akan melambungkan prestasi. Sebagai Nani, dia mudah disukai. Wajah lelah cenderung pasrahnya kala dihadapkan pada keliaran polah Lilo merupakan salah satu sumber kekuatan dari momen komedik film ini. 

Di sisi galaksi yang lain, alien berbentuk seperti koala biru (Chris Sanders) yang dipanggil "Eksperimen 626" lahir dari hasil uji coba Dr. Jumba Jookiba (Zach Galifianakis). Dia pembohong, nakal, brutal, namun sebelum United Galactic Federation sempat mengasingkannya, si alien berhasil kabur ke Bumi. Di sanalah ia akan menjalin persahabatan dengan Lilo dan memperoleh nama barunya: Stitch.

Lilo adalah protagonis dengan motivasi yang begitu murni, yakni memiliki teman. Kemurniannya memudahkan kita bersimpati padanya. Kedatangan Stitch memberikan rekan senasib. Keduanya diasingkan karena dianggap aneh dan sukar dikendalikan. Alhasil, Lilo dan Stitch bisa bersahabat tanpa harus membohongi identitas masing-masing. Oleh karena itu, anarki yang menyusun dinamika mereka sangatlah penting.

Format live action yang dipenuhi batasan terus menerus menekan keliaran eksplorasi. Hubungan Lilo dan Stitch hanya tampak seperti pertemanan biasa, antara bocah biasa dengan hewan peliharaan biasa yang sedikit nakal. Dean Fleischer Camp selaku sutradara pidatonya membawakan pendekatan lebih membumi, yang justru bertolak belakang dengan esensi karya aslinya. 

"Kamu tidak jahat. Kadang-kadang kamu hanya melakukan hal buruk", ucap Nani pada Lilo. Kelak, Lilo kembali memberikan nasihat serupa guna menghibur hati Stitch. Lilo & Stitch membawa pesan penting soal perlunya mewariskan nilai-nilai luhur dalam keluarga, yang diharapkan akan selalu memupuk kebaikan tanpa pernah putus. Bukti bahwa naskahnya masih mempunyai bahan mumpuni untuk menghangatkan hati.

Tapi tanpa dinamika yang berapi-api dua tokoh utama, yang mendominasi durasi adalah alur klise dengan bumbu humor generik, setingkat barisan sekuel medioker bagi animasi legendaris Disney yang rilis langsung ke DVD (Lilo & Stitch sendiri mempunyai tiga judul semacam itu). Kesan tersebut menguat kala inkonsistensi CGI-nya juga terpampang jelas. Sebuah shot kala Lilo duduk di mobil mainan tampak begitu "mengerikan". 

Setidaknya tidak ada cela terkait tampilan Stitch, yang alih-alih coba memodifikasi, cenderung setia dalam hal desain, dan lebih fokus pada peningkatan kualitas. Stitch yang bukan lagi makhluk dua dimensi tampak lebih menggemaskan dengan ragam detail yang dipertajam, termasuk bulu-bulu di sekujur tubuhnya. Terpenting, penonton dibuat percaya bahwa ia punya hati. Sebab poin itu merupakan aset terbesar di babak ketiganya. 

Apa pun keluhan terhadap Lilo & Stitch bakal tereduksi oleh babak puncaknya yang menyentuh. Gambaran saat Stitch, dengan matanya yang menatap Lilo penuh kasih, memutuskan untuk menerima kematian seorang diri asalkan si sahabat dapat selamat, bagaikan "jawaban" dari film ini untuk "adegan insinerator" di Toy Story 3.


ANGKARA MURKA

ANGKARA MURKA

Di Angkara Murka, iblis dan dunia mistis bukanlah kekuatan mandiri yang menebar ancaman atas keinginan sendiri, melainkan sebatas alat yang dipakai oleh manusia berstatus penguasa lalim. Eden Junjung selaku sutradara sekaligus penulis naskah ingin menggambarkan bagaimana manusia bermata hijau jauh lebih jahat dan berbahaya daripada setan bermata merah menyala. 

Latar belakangnya adalah sebuah tambang pasir di sekitar Merapi, di mana para buruh bekerja keras sehari penuh namun hanya menerima bayaran di bawah upah minimum. Didorong keinginan memperbaiki hidup, Jarot (Aksara Dena) mengajak rekannya, Bogel (Alex Suhendra), mencari harta karun yang konon banyak kuburan di balik sebuah bukit. Jarot pernah menemukan satu buah dan ingin memperoleh lebih banyak. Sejak itu Jarot menghilang secara misterius.

Buruh bernama Komar (Rukman Rosadi) pun menyimpan niat serupa dan mulai mengajak beberapa teman untuk mengikutinya. Di sisi lain, Ambar (Raihaanun), istri Jarot yang kini seorang diri mengurus putra mereka, mencoba mencari keberadaan sang suami dengan bekerja di tambang pasir tersebut. 

Tidak seperti penyakit sederet horor Indonesia (Pabrik Gula dan KKN di Desa Penari misal), Angkara Murka tidak pelit menampilkan aktivitas di latarnya. Tambang pasirnya hidup, di mana penonton sering diajak mengamati rutinitas para pekerja. Bahkan sangat sering, sampai film ini terjangkit penyakit lain berupa kemonotonan, akibat terlampau berkutat di satu lokasi, dengan situasi yang minim variasi.

Metode bercerita Angkara Murka pun sedikit janggal. Selama durasinya 89 menit, ia menerapkan tempo lambat khas horor alternatif yang enggan secara membabi buta menebar teror, namun di saat yang sama, progresi narasinya justru terasa buru-buru. Naskahnya lemah dalam membangun transisi, penyutradaraannya kurang piawai menyusun build-up. 

Satu departemen yang tidak punya keluhan adalah akting. Di luar nama-nama besar seperti Raihaanun (tampil solid meskipun memerankan karakter dangkal yang oleh naskahnya sebatas diberi penokohan "istri yang mencari suami") dan Rukman Rosadi, jajaran pemeran pendukung yang kebanyakan sudah lama berkecimpung di dunia teater Yogyakarta pun mampu memberikan kesan organik bagi karakter masing-masing.

Saya belum menyebut nama Whani Darmawan, karena karakter Broto yang ia perankan perlu diberi sorotan khusus. Dialah pemilik lahan yang ditengarai menyimpan berlian, dan baru mengumumkan niatan mencalonkan diri sebagai kepala daerah. Disusun oleh pendekatan over-the-top dari sang aktor, Broto tidak merasa perlu menyembunyikan boroknya. Tatkala Ambar datang mencari Jarot, Broto dengan santainya menjawab, "Bojomu wes digondol demit". 

Beberapa kali kita melihat penampakan makhluk misterius bertubuh hitam dengan mata merah menyala menyatroni mereka yang menyusup ke tambang berlian, tapi Broto-lah demit sesungguhnya. Dia tidak segan turun tangan membantai buruh tambangnya, (yang lebih layak disebut budak) tapi dampak paling mematikan yang ia bawa adalah, saat sikap sewenang-wenang dan ketidakadilan sosial yang ia tanamkan berakhir menciptakan siklus kekerasan yang menjadikan orang-orang lemah satu sama lain hanya demi bertahan hidup.
Sungguh sayang, klimaks yang berpotensi melahirkan pertumpahan darah brutal di tengah pertarungan epik kala kaum akar rumput berjuang mendapatkan kesejahteraan mereka, berakhir kesalahpahaman akibat kurang piawainya pengarahan Eden Junjung terhadap adegan-adegan bertempo tinggi. Setidaknya kita berkesempatan menyaksikan Whani Darmawan menyampaikan pembohong bakmakhluk barbar.

THE ASSESSMENT

 THE ASSESSMENT

The Assessment tidak serta-merta menjabarkan dunianya. Apa yang terjadi di Bumi? Mengapa langitnya terlihat aneh? Ke mana perginya orang-orang? Penilaian mengenai apa yang ingin diberikan terhadap protagonisnya? Kenapa tiba-tiba tulisan "Day 1" muncul di layar? Debut penyutradaraan Fleur Fortune ini adalah suguhan fiksi ilmiah yang selalu mencuatkan rasa penasaran di tiap langkahnya. 

Aaryan (Himesh Patel) dan Mia (Elizabeth Olsen) adalah pasutri yang berbahagia. Mereka saling mencintai, sambil tetap menyibukkan diri dengan kegemaran masing-masing. Ketika Aaryan si profesor mendesain hewan virtual di ruang kerjanya, Mia mengurus tanaman di rumah kaca miliknya. Sederhananya, Aaryan hidup bersama kepalsuan teknologi, sedangkan Mia bertahan dengan realita.

Kini keduanya mendambakan kehadiran buah hati. Tapi memiliki anak di "dunia baru" ini merupakan perihal kompleks. Umat ​​​​manusia mampu memperpanjang usia mereka berkat obat-obatan, namun sebaliknya, proses kelahiran dikendalikan dengan begitu ketat. Aaryan dan Mia harus melalui serangkaian tes terlebih dahulu, termasuk tinggal selama tujuh hari bersama Virginia (Alicia Vikander) yang akan menilai kesiapan keduanya. 

Di malam pertama, Virginia berdiri dengan santai di depan pintu untuk mengamati Aaryan dan Mia berhubungan seks, seolah itu tindakan yang wajar. Semua sesuai peraturan. Hanya saja, peraturan tersebut enggan mempertimbangkan emosi mereka yang terlibat. Penilaian berlatar di dunia yang dibangun berdasarkan ketiadaan perasaan. Kekakuan yang juga diwakili oleh sinematografi dan tata artistiknya yang menghadirkan kesan dingin melalui pendekatan serba simetrisnya.

Penampilan Vikander mengingatkan pada peran yang membesarkan namanya di Ex Machina (2014) sebagai Ava si android. Virginia tampil dingin, kaku, tanpa perasaan layaknya robot, sebelum seiring waktu, secara perlahan, mulai menampilkan emosinya sebagai manusia. Jika Ava merupakan robot yang sengaja dibuat dengan banyak ciri manusia, maka Virginia adalah manusia yang dipaksakan pada robot-kan dirinya. 

Pada akhirnya manusia tetaplah manusia. Cinta, cemburu, trauma, nafsu, sakit, segala jenis rasa tersebut terlampau kaya untuk dipaksakan tiada. Semakin besar kadar kemanusiaan coba ditekan dengan segala macam kepalsuan (sesempurna apa pun itu), semakin dekat pula kekacauan yang datang mengintai. Kekacauan yang acap kali disertai kejanggalan itu menjadi salah satu alasan Penilaian begitu menarik untuk diikuti.

Sesekali film ini tak lupa menampilkan daya tarik visual miliknya. Sebuah shot kala Virginia duduk di tengah hamparan lanskap, sementara dari jarak, di latar belakang, terlihat sekelompok awan di langit menumpahkan air hujan, jadi salah satu contoh betapa menawannya pemakaian efek visual minimalis yang tepat guna. 

Tapi bagaimana karya buatan Dave Thomas, Nell Garfath-Cox dan John Donnelly mengolah elemen fiksi ilmiah menjadi tuturan tajam soal kemanusiaan tetap jadi amunisi utama. Konfrontasi di babak ketiga yang memberi kesempatan bagi Olsen dan Vikander untuk saling beradu akting, juga menegaskan pernyataan filmnya, bahwa penyebab semua rasa sakit yang karakternya rasakan adalah kegagalan sistem yang memenuhi pembuatan film dan kepalsuan. Jadi mana yang kalian pilih? Realita yang tak selamanya bahagia, atau kepalsuan yang terlihat indah?