Minggu, 19 Oktober 2025

THE LONG WALK

THE LONG WALK


Julukan "Raja Horor" memang layak disematkan pada Stephen King, berkat ratusan cerita yang telah melahirkan entitas mengerikan tanpa jejak kemanusiaan. Tapi di sisi lain, ia juga mampu menampilkan kehangatan dalam cerita humanis. The Life of Chuck yang rilis beberapa waktu lalu jadi salah satu contoh terbaik, dan kini The Long Walk menampilkan hal serupa. Sebuah film tentang proses mencari makna hidup, berlatar dunia di mana hidup tak lagi memiliki makna.
The Long Walk adalah novel pertama yang King tulis, sekitar delapan tahun sebelum karya perdananya, Carrie (1974), dipublikasikan. Masa di mana King, sebagaimana banyak individu yang baru menginjak kepala dua kala itu, terombang-ambing di tengah amarah, pilu, juga ketakutan, menyaksikan bagaimana para pemuda dikirim untuk mati ke Perang Vietnam. 
Dunia The Long Walk adalah cerminan era tersebut: Amerika versi distopia yang dikuasai oleh rezim totaliter, di mana militer memegang kekuasaan. Kehancuran melanda, kemiskinan jadi pemandangan biasa. Sebagai cara memberi harapan bagi warga, diadakanlah "The Long Walk", yang menjanjikan uang tunai serta pengabulan permintaan apa pun bagi sang pemenang. Tapi kita tahu, bahwa di bawah kendali diktator segala harapan maupun kebebasan bersifat semu.
Peserta "The Long Walk" terdiri dari 50 pemuda, yang harus terus berjalan tanpa garis finis, hingga tinggal tersisa satu orang. Mereka yang melanggar aturan (termasuk soal batas kecepatan minimal), akan ditembak mati di tempat. Perlombaan dimonitor langsung oleh The Major (Mark Hamill), yang secara berkala menyampaikan pidato khas diktator di hadapan peserta, yang menggambarkan kekejaman rezim di balik kulit nasionalisme. 
Raymond Garraty (Cooper Hoffman) dan Peter McVries (David Jonsson) merupakan protagonis kita. Sebagai cara melawan letih, mereka terlibat diskusi di sepanjang perjalanan, yang oleh naskah buatan JT Mollner, secara cerdik dimanfaatkan sebagai cara untuk menggali penokohan, sekaligus medium world-building, karena percakapan tersebut juga menyediakan informasi terkait detail dunianya. 
Baik Hoffman maupun Jonsson sama-sama menawarkan akting yang memikat, yang membuat tiap pertukaran cerita terdengar natural, sebelum perlahan-pelan mengikat simpati penonton melalui kisah yang memilukan masing-masing. Sembari berjalan, para pemuda ini dibawa menyaksikan realita yang sarat akan penderitaan manusia, juga polusi yang merenggut kelestarian semesta.
Kelam, depresif, miskin harapan. Begitulah nuansa "gerak jalan dari neraka" yang mesti karakternya lewati. Sesekali pemandangan yang tak menyenangkan terpaksa mereka (dan penonton) saksikan. Entah kepala yang pecah akibat lesatan peluru kala ada peserta tereliminasi, atau situasi menjijikkan saat seseorang tak lagi mampu menahan "gejolak natural" di perut mereka. 
Di kursi sutradara, pengarahan Francis Lawrence memastikan hal-hal di atas menyulut kenyamanan di hati kita. Kolaborasinya dengan Jo Willems selaku penata sinematografi pun memastikan meski filmnya didominasi oleh dialog, ia tak pernah terlihat monoton. Tapi prestasi terbesar Lawrence bukan perihal membuat penonton mual, melainkan berhasil menyusun serangkaian momen menggugah, selepas karakternya mulai menyadari jika "The Long Walk" bukanlah pintu harapan sebagaimana dijanjikan kepada penguasa. 
Para peserta menyaksikan kerusakan demi kerusakan di tiap sudut wilayah, namun seiring berjalannya waktu, mereka pun sadar betapa dunia dan kehidupan sejatinya menawarkan keindahan. Kesadaran itulah yang perlahan mengubah pembicaraan biasa menjadi pernyataan-pernyataan bernada penolakan. The Long Walk memang tragis, tapi ia menolak membuat penonton tenggelam dalam harapan.
Sedikit bercerita, sebelum film dimulai, bioskop memutar video mengenai pemerintah, yang sewaktu tulisan ini dibuat, mulai ramai dibicarakan di media sosial. Sebuah iklan propaganda meresahkan yang penuh aroma kediktatoran. Long Walk juga mencatat ramalan mengerikan tentang apa yang mungkin terjadi bila kondisi negeri ini semakin memburuk.


0 komentar:

Posting Komentar