Selasa, 28 Oktober 2025

MUNGKIN KITA PERLU WAKTU

MUNGKIN KITA PERLU WAKTU

Mungkin Kita Perlu Waktu dibuka saat seorang remaja berbaring sambil menyalakan lalu mematikan lampu kamarnya secara berulang. Setiap lampu padam, tampak sekelebat pemandangan mengenai kecelakaan yang merenggut nyawa kakak perempuannya di suatu malam. Karya terbaru Teddy Soeriaatmadja ini membahas hal-hal yang manusia lihat serta rasakan saat jatuh dalam jurang terkelam kehidupan. Menyeramkan, menyakitkan, tapi bagian terburuknya, semua itu tak dapat dihapus menghilangkan kegelapan yang hanya membutuhkan secercah cahaya lampu. 

Selepas alunan Nocturnes, Opus 9 gubahan Chopin yang bakal berulang kali didengarkan termasuk dalam versi gitar akustik, kita pun diajak mengenal lebih jauh dengan sosok si remaja dan keluarganya. Namanya Ombak (Bima Azriel). Dia terjebak depresi pasca kematian kakaknya, Sara (Naura Hakim). Ombak merasa bersalah, karena dialah yang menyetir mobil pada kecelakaan yang merenggut nyawa Sara.

Kondisi orang tuanya tidak lebih baik. Sang ibu, Kasih (Sha Ine Febriyanti), berusaha mencari ketenangan lewat agama. Ombak yang sempat mencoba bunuh diri membawanya ke ahli rukiah. Dia pun hendak berangkat umrah bersama sang suami, Restu (Lukman Sardi). Keterpurukan Kasih, bahkan terkesan menjauhi Ombak, sejatinya dapat terwujud. Sebagai ibu yang taat, tentu ia merasa terpukul mendapati putrinya meninggal dalam kondisi mabuk. 

Sebaliknya, Restu berusaha terlihat tabah, karena sebagai kepala keluarga ia merasa bertanggung jawab supaya "kapal" yang mereka naiki tidak karam. Situasi apa pun ia sikapi secara santai, yang justru tak jarang memberi luka tambahan bagi istri maupun anaknya. Singkatnya, tiga anggota keluarga disfungsional ini menjalani hidup tanpa hasrat. Mereka hanya menjalankan peran sosial masing-masing layaknya bagian-bagian penggerak dalam sebuah mesin.

Pendekatan yang Teddy pakai guna menangani masalah kesehatan mentalnya cenderung sensitif. Kepiluan tiap karakter tidak dipakai sebagai pemantik dramatisasi, tangisan mereka (yang tidak mengisi layar tiap lima menit sekali) pun tidak dieksploitasi. Dampak emosi bukan lahir dari manipulasi, melainkan akting trio pemeran utama yang memilukan. Entah ledakan-ledakan rasa dari Bima Azriel, kata-kata tajam yang menyimpan luka dari Sha Ine Febriyanti, atau menusuk Lukman Sardi yang berjuang keras menahan letupan pilunya. 

Mungkin Kita Perlu Waktu mengedepankan proses observasi terhadap interaksi individu, baik dengan individu lain maupun hatinya sendiri. Tengok saat Ombak akhirnya bisa disatukan dengan Aleiqa (Tissa Biani), teman sekelas yang selama ini diam-diam ia taksir, dan berakhir saling berbagi sisi gelap satu sama lain. Cara Teddy mengemas dinamika keduanya serasa berkiblat pada metode Richard Linklater di Before Sunrise (termasuk menyertakan adegan music booth) yang menjadikan dialog sebagai jendela mengamati ruang intim manusia. 

Filmnya bakal jauh lebih kuat andai Teddy memberi jatah lebih bagi hubungan dua remaja tersebut, alih-alih mengharuskannya berbagi porsi dengan momen kunjungan Ombak ke Nana (Asri Welas), psikolog yang direkomendasikan oleh ayahnya. Masalahnya, gambaran Teddy terhadap si psikolog cenderung ambigu.

Nana berkomentar ketus, minim empati, pula terkesan menghakimi saat mendengarkan konsultasi Ombak. Dia mewakili segala hal yang keliru dalam kode etik seorang psikolog. Tapi ada kalanya ia memberi pesan bermanfaat, termasuk adegan di konsultasi terakhir Ombak, maupun dialognya dengan Restu. Apakah Teddy memang bermaksud memberi gambaran soal psikologi yang buruk, atau malah kita sedang melihat contoh penanganan (penulisan, penyutradaraan, akting) yang buruk terhadap sesosok karakter? Tidak pernah jelas. 

Sungguh sayang jika perjalanan Mungkin Kita Perlu Waktu membahas batu sandungan dalam bentuk karakter minor dengan signifikansi minimal seperti Nana, tapi alurnya terlampau menarik untuk bisa diruntuhkan begitu saja. Daripada membaik secara bertahap layaknya di film-film arus utama, seiring durasi, kita justru melihat kondisi para protagonisnya yang semakin menurun. 

Konklusinya pun menolak bermain aman. Teddy siap berpijak pada realita dan menggunakan sudut pandang yang tidak harus sejalan dengan norma standar masyarakat. Karena ada kalanya sebuah kapal memang sudah terlalu banyak mengalami kerusakan, dan akan membahayakan penumpangnya bila dipaksa terus mengapung. Mungkin itulah waktunya para kru melanjutkan berlayar dengan kapal baru masing-masing.

0 komentar:

Posting Komentar