Jumat, 24 Oktober 2025

ELIO

 ELIO

Belum sampai lima menit film ini bergulir, tangis saya sudah jatuh melihat si protagonis yang wajahnya pun dibasahi air mata. Elio (Yonas Kibreab) namanya, bocah 11 tahun yang tak menangis layaknya "karakter kartun". Hanya setitik air mata mengalir di pipi Elio, sementara jantungnya berpikir sama yang menghantui. Mungkin dia sendiri tidak sepenuhnya memahami alasan kepiluannya. Ada kalanya kita berada pada kondisi serupa. Kedalaman jiwa manusia memang tak kalah misterius dari jagat raya. 

Sama seperti karya-karya terbaik Pixar, Elio memahami kompleksitas emosi manusia. Adegan di atas menampilkan Elio berbaring di semacam planetarium di kantor bibinya, Olga (Zoe Saldaña), yang tergabung dalam kesatuan angkatan udara. Elio yang sebatang kara sepeninggal kedua orang tuanya, terhipnotis oleh hipotesis bahwa umat manusia bukanlah seorang diri di alam semesta. Dia berharap alien menculiknya, membawanya pergi ke dunia di mana ia diinginkan oleh para penghuninya

Kelak harapan itu jadi kenyataan, meski sedikit berbeda dari apa yang Elio bayangkan, di mana ia malah terjebak di tengah konflik luar angkasa, yang juga membawa sebuah persahabatan unik dengan makhluk dari Hylurg bernama Glordon (Remy Edgerly). Saya tidak menyebutnya "alien", karena bagi Glordon pun Elio merupakan alien. Semua hanya perihal perspektif. Pastinya, mereka sama-sama teralienasi di tempat tinggal masing-masing. 

Momen saat Bumi pertama kali disambangi oleh makhluk ekstraterestrial yang menciptakan gangguan bagi beragam benda elektronik serta berjasa menghapus kristalme dalam diri Olga, memancarkan atmosfer mencekam nan magis khas film bertema "kunjungan alien". Trio sutradaranya, Madeline Sharafian, Domee Shi (Turning Red), dan Adrian Molina (Coco) kentara mengerjakan pekerjaan rumah mereka di adegan tersebut. 

Begitu pula Julia Cho, Mark Hammer, dan Mike Jones selaku penulis naskah. Close Encounters of the Third Kind (1977) buatan Steven Spielberg terkenal lewat tagline-nya yang berbunyi "We are not alone", yang hingga kini seolah jadi kalimat wajib dalam film mengenai invasi alien. Elio mengambil kalimat yang bersinonim dengan kengerian itu menjadi sesuatu yang lebih bermakna, dengan penerapannya dalam perjalanan protagonisnya yang mengusir rasa sepi.

Sewaktu kisahnya mengajak penonton bertualang menjauhi Bumi, biarpun Elio dan Glordon adalah duo yang mudah dicintai, alurnya sebatas meluncurkan suguhan buddy comedy generik. Luar angkasa dengan segala keanehannya tidak lebih dari pernak-pernik visual yang memikat mata hasil eksplorasi minimalnya. Padahal pembangunan dunia kerap jadi keunggulan Pixar. Sebaliknya, Elio mencapai fase terbaik tiap alurnya mewujudkan koneksi dengan kehidupan di Bumi. Di situlah ia sukses mengawinkan unsur fiksi-ilmiah dan drama humanis dengan apik.

Saya kembali meneteskan air mata di babak ketiga tatkala Elio yang tengah melayang di orbit Bumi akhirnya diyakinkan bahwa ia tidaklah seorang diri. Bagi individu yang sudah terlalu lama terkurung dalam rasa sepi, ucapan "Kamu tidak sendiri" ibarat gaya tarik gravitasi yang menjaganya supaya tak terbang mengawang-awang di ruang hampa bernama "kesendirian".

0 komentar:

Posting Komentar