Kamis, 23 Oktober 2025

SELEPAS TAHLIL

 SELEPAS TAHLIL

Tidak ada yang benar-benar mengarahkan adaptasi untuk salah satu cerita horor dari siniar Lentera Malam ini. Selepas Tahlil, yang berbicara tentang harga yang mesti dibayar oleh manusia pendosa, cuma mempunyai satu dosa: meneruskan kemonotonan dan minimnya keberagaman dalam horor Indonesia. Masih cerita yang sama dengan cara menakut-nakuti yang juga serupa. 

Alurnya masih membahas soal kematian yang tidak berlangsung mulus akibat semasa hidupnya, almarhum melakukan perjanjian dengan setan untuk mendapatkan ilmu, masih soal duka yang diyakini keluarganya, masih berpusat pada acara tahlilan sebagaimana terpampang jelas di judulnya, masih pula sangat Jawasentris dan Islam-sentris. 

Saras (Aghniny Haque) dan Yudhis (Bastian Steel) hanya ingin menguburkan ayah mereka, Hadi (Epy Kusnandar), namun rintangan selalu datang menghadang. Di satu kesempatan kala tahlilan tengah berlangsung, jenazah Hadi pelan-pelan bangkit, terduduk, sebelum mengucapkan kalimat yang menyiratkan bahwa maut bakal menjemput keluarganya. Entah sudah berapa kali pemandangan serupa dipakai oleh horor kita.

Konflik lain berasal dari wasiat Hadi, yang meminta dimakamkan di kampung halamannya. Ketika adik Hadi, Setyo (Adjie N.A.), tiba guna menjemput jenazah kakaknya, Saras menolak. Dia enggan terpisah jauh dari sang ayah. Naskah buatan Husein M. Atmodjo sejatinya membawa niat baik, dengan menampilkan fase penolakan yang mengiringi proses kesedihan manusia. Aghniny pun (seperti biasa) tampil total menyuarakan carut-marut perasaan karakternya. 

Sayang, naskahnya sendiri tidak sebegitu dalam menyelami dinamika psikologis tersebut. Durasi 96 menitnya pun tersusun atas alur yang tipis, minimal misteri yang bisa mengikat atensi, pula terkesan berulang-ulang akibat pembuatnya mengatasi agar acara tahlilan yang beberapa kali dilangsungkan tidak hanya berakhir sebagai pengulangan monoton. 

Upaya positif untuk menggarap horor secara sungguh-sungguh sebenarnya terasa betul dimiliki oleh Selepas Tahlil. Departemen teknis digarap cukup solid, Adriano Rudiman selaku sutradara mampu mengambil titik tengah dalam hal mengolah pacing supaya filmnya bergerak penuh kesabaran tanpa harus terkesan berlarut-larut, alurnya pun hanya sekedar mengumbar penampakan. Tapi apa yang tersisa dari sebuah film yang ingin bercerita namun tak dibarengi penceritaan mumpuni?
Apalagi terornya tampil tak seberapa mencekam. Masalah sudah terasa sedari pembukaannya, yang luput membangun intensitas atau sekedar menyiratkan kengerian. Padahal adegan pembuka berperan besar mempengaruhi antisipasi serta kesediaan penonton menaruh atensi pada sebuah film. Sewaktu babak puncaknya sebatas diisi rukiah ala kadarnya yang berlangsung tanpa ketegangan maupun kebaruan, saya pun tidak terkejut lagi.

0 komentar:

Posting Komentar