Jumat, 31 Oktober 2025

FINAL DESTINATION BLOODLINES

 FINAL DESTINATION BLOODLINES

Seperempat abad lalu, Final Destination memodifikasi formula DMT (Dead Teenager Movies) dengan menjadikan kematian sebagai antagonis, alih-alih memakai pembunuh bertopeng atau monster sebagai perantara guna mencabut nyawa. Sekarang keunikan itu telah menghasilkan keklisean sendiri, dan seperti putaran roda takdir yang kembali ke titik awal, Final Destination Bloodlines datang membawa perubahan (lagi). Bukan secara radikal, namun untuk kali pertama, seri ini bersedia menyelami mitologinya. 

Pada tahun 1968, Iris (Brec Bassinger) dan kekasihnya, Paul (Max Lloyd-Jones), terjebak dalam kecelakaan mematikan di atas menara yang menjulang langit. Alih-alih hanya berpikir yang Iris dapatkan sebagaimana adegan pembuka film-film sebelumnya, tragedi tersebut adalah mimpi buruk yang selama dua bulan terakhir dialami Stefani (Kaitlyn Santa Juana). Barulah Stefani sadar bahwa gadis dalam mimpinya adalah sang nenek (Gabrielle Rose) yang kini hidup sendirian mengasingkan diri dan dianggap gila oleh keluarganya.

Selama puluhan tahun, Iris menghindari mempelajari pola dan taktik sang maut untuk menghindari kejarannya. Iris percaya bahwa ia seharusnya terbunuh dalam peristiwa tahun 1968, yang berarti seluruh keturunannya pun tidak seharusnya eksis, dan kematian berusaha mencabut nyawa mereka semua. Ingat, kematian amat benci bila suratan takdirnya dicurangi. 

Karakter Final Destination Bloodlines masih didominasi muda-mudi. Ada Charlie (Teo Briones), adik Stefani, pula tiga sepupu mereka, Erik (Richard Harmon), Bobby (Owen Patrick Joyner), dan Julia (Anna Lore). Tapi Stefani pun harus menyelamatkan beberapa orang dewasa, mulai dari pamannya, Howard (Alex Zahara), juga sang ibu, Darlene (Rya Kihlstedt), yang telah lama pergi dari kehidupannya. 

Naskah buatan Guy Busick dan Lori Evans Taylor menggeser cakupannya dari lingkaran pertemanan remaja ke ranah keluarga, sehingga melahirkan judul Final Destination paling emosional. Setiap karakter memiliki motivasi yang kuat untuk menyelamatkan karakter lain. Erik menjadi salah satu karakter paling disukai sepanjang sejarah serinya karena faktor tersebut. Sekilas perangainya penuh ketidakpedulian, namun dialah yang berjuang paling keras mengakali upaya maut mengumpulkan keluarganya.

Butuh waktu sampai diskusinya membahas sasaran, namun setelah Bloodlines menampakkan keunikannya dengan menggali lebih lanjut dalam konsep soal "dikejar maut" yang nantinya secara subtil menjelaskan segala peristiwa di lima film pertama, daya hiburnya tak lagi bisa dibendung. 

Deretan eksekusi yang dilakukan secara brutal. Mungkin tak ada yang bakal menancapkan trauma seperti adegan truk di Final Destination 2, maupun mengundang kecemasan luar biasa seperti Final Destination 5 dengan latihan gimnastiknya, namun tiap nyawa yang terenggut dieksekusi dengan sadisme penuh energi duo sutradaranya, Zach Lipovsky dan Adam Stein. 

Proses menebak-nebak dari mana datangnya sumber bahaya juga tampil semakin menyenangkan, pula semakin rumit, yang menunjukkan keusilan sang maut. Ya, kematian nampaknya bersenang-senang di sini, layaknya predator yang bermain-main dengan mangsa sebelum menerkamnya, sambil mendengarkan lagu-lagu populer seperti Without You.

Mungkin memang benar bahwa kematian punya selera humor yang sinting. Filmnya sendiri lebih banyak komedi, disertai pendekatannya yang cenderung self-aware. Daripada meliput, Bloodlines justru sengaja menerapkan berbagai kekonyolan di alurnya, lalu mengajak penontonnya menonton bersama-sama. 

Film ini sadar bahwa seri Final Destination dengan segala aturan anehnya bukan sesuatu yang perlu dipandang serius, kemudian memilih mengakuinya dengan bangga dan membuat lelucon alih-alih menutupinya. Saya bisa membayangkan apabila dilanjutkan di masa depan, seri ini bisa saja menempuh jalur serupa Scream, di mana karakternya belajar menceritakan kematian dengan cara menonton film-film Final Destination. 

Tapi bukankah hampir semua upaya kabur dari maut di Final Destination berakhir kegagalan? Betul. Mungkin karena itulah kita mesti mencermati ucapan William Bludworth (Tony Todd), yang kali ini kemunculannya memiliki signifikansi lebih terkait mitologinya. Melalui adegan yang seolah jadi salam perpisahan sempurna nan mengharukan bagi Tony Todd sebelum meninggal akhir tahun lalu, Bludworth menasihati karakternya, bahwa alih-alih menghabiskan waktu dengan terus-menerus lari, bukankah lebih baik waktu itu dimanfaatkan untuk menikmati hidup sebaik-baiknya?


0 komentar:

Posting Komentar