Jumat, 31 Oktober 2025

SAYAP-SAYAP PATAH 2: OLIVIA

 SAYAP-SAYAP PATAH 2: OLIVIA

Serupa film pertamanya, Sayap-Sayap Patah 2: Olivia hanya dilandasi satu tujuan: membuat penonton terisak menyaksikan tragedi akibat aksi terorisme. Tiada ruang bagi kompleksitas manusia dan eksplorasi mendalam terkait isu radikalisme. Setidaknya, sebagai pembuat air mata sederhana ia bekerja dengan baik terutama di babak akhir. 

Mengambil inspirasi dari peristiwa "Bom Samarinda 2016", sepak terjang anggota kepolisian di bawah pimpinan Sadikin (Nugie) kembali menjadi sorotan. Kini giliran Pandu (Arya Saloka) yang kita ikuti kesehariannya. Pandu yang setahun lalu kehilangan istrinya karena suatu penyakit, kesulitan membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga, sehingga kerap meninggalkan sang putri, Olivia (Myesha Lin), tinggal berdua di rumah bersama neneknya (Meriam Bellina). 

Arya Saloka mampu menghidupkan sosok ayah penyayang sehingga mudah memancing simpati penonton. Piawai pula ia membangun chemistry bersama para pelakon lain, dari hubungan ayah-anak yang hangat dengan si kecil Myesha Lin, hingga romantisme antara Pandu dan Suri (Dara Saraswati), guru Olivia

Sampai tiba waktunya bagi Leong (Iwa K) sebagai pelaku penyerangan Mako Brimob untuk bebas dari penjara. Bagaimana mungkin pentolan teroris yang aksinya menyebabkan kematian anggota polisi bebas begitu cepat, tatkala di dunia nyata, para pelakunya dijatuhi hukuman mati? Perlu kadar suspensi ketidakpercayaan yang cukup tinggi agar kita dapat menerima poin cerita tersebut, tapi intinya Leong kembali ke masyarakat dan tinggal bersama anaknya, Askar (Bio One).

Naskah buatan Jocelyn Coroelia dan Rahabi Mandra sempat menyulut dinamika menarik tatkala dinamika rumit antara Leong dan Askar mengisi layar. Askar membenci tindakan ayahnya, sedangkan Leong tampaknya ingin meyakinkan si putra tunggal bahwa ia telah berubah. Kali ini Iwa K tak hanya mengumbar kengerian, pula kompleksitas seorang ayah yang terpecah antara ideologi dan kasih sayang terhadap anak. Tercipta perbandingan antara Pandu dan Leong, sebagai dua sosok ayah yang sama-sama tidak pernah hadir di dekat buah hati mereka. Menarik. Kompleks.

Sayangnya kompleksitas tersebut tak bertahan lama. Begitu Leong kembali menempuh jalur radikalisme selepas disambangi oleh Wabil (Muhammad Khan), tuturannya kembali ke "setelan pabrik" yang amat hitam putih. Padahal pilihan yang menggambarkan sosok teroris sebagai manusia biasa alih-alih entitas asing nan menyeramkan justru akan mengerdilkan sepak terjang mereka dan bukan membenarkannya. 

Jadi, poin apa yang sejatinya Sayap-Sayap Patah 2: Olivia ingin sampaikan dari dinamika tokoh-tokohnya? Entahlah. Sebab memasuki paruh akhir, komparasinya berpindah ke duo Pandu-Askar, sehingga semakin keharusan poin yang hendak ditekankan filmnya. 

Selepas melalui proses sarat stagnasi, saat sorotan terhadap kehidupan keluarga Pandu luput menambah bobot narasi akibat presentasi yang berulang-ulang, kita tiba di babak final yang jadi amunisi utama filmnya. Tersebar banyak lubang narasi di sepanjang perjalanan menuju ke sana (Sadikin yang lebih masuk akal dijadikan target utama teroris daripada Pandu, antagonis yang bisa begitu mudah menyamar menjadi kru acara, dll.), tapi kemampuan Ferry Pei Irawan sebagai sutradara dalam mengkreasi tragedi menyesakkan di layar bisa menebus berbagai kelemahan tersebut.

Dibanding film pertama yang terkesan instan dan setengah matang, klimaks Sayap-Sayap Patah 2: Olivia jauh lebih menusuk hati, baik karena visualisasi eksplisit yang bisa jadi bakal terasa traumatis dari sang sutradara, hingga kemampuan para pemainnya, terutama Arya Saloka dan Meriam Bellina, untuk mencabik-cabik perasaan penonton lewat akting mereka. 

Sekali lagi, jangan mengharapkan eksplorasi kompleks mengenai isu radikalisme. Keputusan filmnya mengubah salah satu karakternya menjadi figur kejam akibat balas dendam, tanpa mengajak penonton menelisik secara lebih dalam, menandakan kegagalan naskahnya membuka mata atas keburukan sistem yang turut berkontribusi memperkeruh situasi (setidaknya menunjukkan keengganan membagi porsi kesalahan secara adil). Tapi jika sebatas ingin menumpahkan air mata karena kisah tragisnya, Sayap-Sayap Patah 2: Olivia bakal memenuhi itu.

0 komentar:

Posting Komentar