Kamis, 23 Oktober 2025

BLACK BOX DIARIES

 BLACK BOX DIARIES

Black Box Diaries mendokumentasikan investigasi sang sutradara, Shiori Itō, terhadap kasus perencanaan yang menimpanya. Kita menyaksikan langsungkan konferensi pers, di mana untuk kali pertama, Itō mengungkap peristiwa yang menimpanya ke publik. Mayoritas media menyudutkannya, sedangkan publik (banyak di antaranya perempuan) menuduhnya melakukan panjat sosial, bahkan menyebut "murahan" hanya gara-gara tak menutup semua kancing di kemeja yang ia kenakan.

Reaksi di atas sudah cukup untuk membenarkan eksistensi dokumenter ini, sebagai media bersuara bagi para perempuan yang dibisukan oleh paham seksisme. Apalagi si pelaku, Noriyuki Yamaguchi, adalah jurnalis terpandang sekaligus penulis biografi bagi Shinzo Abe yang kala itu menjabat sebagai perdana menteri, sebelum dibunuh pada tahun 2022.

Laporan pertama Itō ditolak polisi, dengan alasan minimal bukti kecuali pernyataannya yang berdasarkan memori. Polisi baru bertindak pasca Itō menyerahkan rekaman CCTV hotel yang menampilkan Yamaguchi membawanya masuk secara paksa, namun pada akhirnya dakwaan tetap dibatalkan. Terdapat indikasi campur tangan petinggi pemerintahan. Jepang memang maju secara infrastruktur, namun cara menangani kasus perkosaan ternyata masih terbelakang.  

Memakai kamera smartphone, Itō, yang juga seorang jurnalis, merekam kesehariannya. Kita melihatnya menangis, hancur oleh ingatan traumatis yang bisa kapan saja tiba-tiba menerjang, bahkan sempat menimbang-nimbang untuk bunuh diri. Black Box Diaries tidak unggul dalam hal teknis, tidak pula mendobrak pola narasi dokumenter investigatif, namun "kementahan" yang tersaji merupakan sumber kehebatannya. Sebuah perjalanan intim mengarungi realita pribadi yang coba dibuktikan oleh suatu negeri.

Ada kalanya Black Box Diaries terasa sangat menghancurkan. Itō sempat mengajak kita mengintip fotonya semasa kecil sambil bertutur tentang kenangan bersama keluarganya. Sungguh menyakitkan melihat gadis cilik polos di foto tersebut kelak jadi korban kebiadaban laki-laki. Di sisi lain, momen menyentuh tak luput filmnya ditangkap. Misal sewaktu beberapa perempuan tua berorasi melontarkan dukungan bagi Itō. Salah satu di antara mereka tidak benar-benar mengingat wajah Itō, namun ia paham betul kalau ada sesama perempuan yang memerlukan dukungan.

Pemerkosaannya terjadi bersamaan dengan mekarnya sakura. Sejak itu Itō tak lagi dapat menikmati indahnya warna bunga tersebut. Black Box Diaries menunjukkan bagaimana licik, atau kasus mengungkapkan sesuatu yang bersifat seksual, bisa berdampak menghapuskan keindahan dalam hidup korbannya.
Tapi Itō menolak selalu memberikan penderitaan di sini. Dia tetap bercengkerama dengan teman-teman, tertawa bersama, pula bersemangat saat berhasil menentukan judul buku (Black Box) yang ia tulis berdasarkan pengalamannya. Black Box Diaries enggan mendefinisikan si protagonis hanya sebagai "korban yang licik". Shiori Itō tetaplah individu dengan segala kompleksitas warna-warninya yang dapat merasakan kebahagiaan.

0 komentar:

Posting Komentar