LILO & STITCH (2025)
Seperti film aslinya yang rilis 23 tahun lalu, Lilo & Stitch versi live action masih memiliki kehangatan hasil dari kisahnya mengenai nilai-nilai kekeluargaan. Tapi ada satu hal yang hilang. Format live action membuat segalanya tampak lebih tertata, lebih normal, pula nihil anarki, walaupun elemen tersebut merupakan landasan utama dari dinamika dua karakter titulernya.
Pola alurnya masih sama. Lilo (Maia Kealoha) adalah bocah 6 tahun asal Hawaii, yang sepeninggal orang tua, hidup di bawah asuhan sang kakak, Nani (Sydney Elizebeth Agudong). Lilo dengan segala hobinya, termasuk memungut umpan pancing untuk dijadikan gelang, dianggap aneh oleh teman-teman sepantarannya. Dia kesepian. Apalagi Nani, yang berjuang mempertahankan hak asuh atas adiknya, selalu sibuk bekerja.
Maia Kealoha yang melakoni debut aktingnya mampu membawakan sisi polos Lilo. Orang-orang mencapnya "nakal", tetapi ia sebatas bocah yang ingin menikmati kebocahannya. Sydney Agudong tidak sehijau lawan utamanya, namun inilah peran yang akan melambungkan prestasi. Sebagai Nani, dia mudah disukai. Wajah lelah cenderung pasrahnya kala dihadapkan pada keliaran polah Lilo merupakan salah satu sumber kekuatan dari momen komedik film ini.
Di sisi galaksi yang lain, alien berbentuk seperti koala biru (Chris Sanders) yang dipanggil "Eksperimen 626" lahir dari hasil uji coba Dr. Jumba Jookiba (Zach Galifianakis). Dia pembohong, nakal, brutal, namun sebelum United Galactic Federation sempat mengasingkannya, si alien berhasil kabur ke Bumi. Di sanalah ia akan menjalin persahabatan dengan Lilo dan memperoleh nama barunya: Stitch.
Lilo adalah protagonis dengan motivasi yang begitu murni, yakni memiliki teman. Kemurniannya memudahkan kita bersimpati padanya. Kedatangan Stitch memberikan rekan senasib. Keduanya diasingkan karena dianggap aneh dan sukar dikendalikan. Alhasil, Lilo dan Stitch bisa bersahabat tanpa harus membohongi identitas masing-masing. Oleh karena itu, anarki yang menyusun dinamika mereka sangatlah penting.
Format live action yang dipenuhi batasan terus menerus menekan keliaran eksplorasi. Hubungan Lilo dan Stitch hanya tampak seperti pertemanan biasa, antara bocah biasa dengan hewan peliharaan biasa yang sedikit nakal. Dean Fleischer Camp selaku sutradara pidatonya membawakan pendekatan lebih membumi, yang justru bertolak belakang dengan esensi karya aslinya.
"Kamu tidak jahat. Kadang-kadang kamu hanya melakukan hal buruk", ucap Nani pada Lilo. Kelak, Lilo kembali memberikan nasihat serupa guna menghibur hati Stitch. Lilo & Stitch membawa pesan penting soal perlunya mewariskan nilai-nilai luhur dalam keluarga, yang diharapkan akan selalu memupuk kebaikan tanpa pernah putus. Bukti bahwa naskahnya masih mempunyai bahan mumpuni untuk menghangatkan hati.
Tapi tanpa dinamika yang berapi-api dua tokoh utama, yang mendominasi durasi adalah alur klise dengan bumbu humor generik, setingkat barisan sekuel medioker bagi animasi legendaris Disney yang rilis langsung ke DVD (Lilo & Stitch sendiri mempunyai tiga judul semacam itu). Kesan tersebut menguat kala inkonsistensi CGI-nya juga terpampang jelas. Sebuah shot kala Lilo duduk di mobil mainan tampak begitu "mengerikan".
Setidaknya tidak ada cela terkait tampilan Stitch, yang alih-alih coba memodifikasi, cenderung setia dalam hal desain, dan lebih fokus pada peningkatan kualitas. Stitch yang bukan lagi makhluk dua dimensi tampak lebih menggemaskan dengan ragam detail yang dipertajam, termasuk bulu-bulu di sekujur tubuhnya. Terpenting, penonton dibuat percaya bahwa ia punya hati. Sebab poin itu merupakan aset terbesar di babak ketiganya.
Apa pun keluhan terhadap Lilo & Stitch bakal tereduksi oleh babak puncaknya yang menyentuh. Gambaran saat Stitch, dengan matanya yang menatap Lilo penuh kasih, memutuskan untuk menerima kematian seorang diri asalkan si sahabat dapat selamat, bagaikan "jawaban" dari film ini untuk "adegan insinerator" di Toy Story 3.






0 komentar:
Posting Komentar