Minggu, 26 Oktober 2025

NO OTHER CHOICE

 NO OTHER CHOICE

Melalui karya terbarunya yang mengadaptasi novel The Axe karya Donald E. Westlake ini, Park Chan-wook berbicara suatu jenis mantra. Mantra berbahaya yang dapat membenarkan kesalahan, mengoreksinya sebagai sebuah kebenaran, bahkan menyihir orang baik menjadi iblis jahat. Mantra itu adalah "Tidak ada pilihan lain."

Acapkali mantra tersebut dirapalkan oleh para penguasa kaya guna menutupi keserakahan mereka. Protagonis No Other Choice, You Man-soo (Lee Byung-hun), yang bekerja di perusahaan produsen kertas, paham betul dampak mantra itu. Kehidupan sempurna bersama sang istri, Lee Miri (Son Ye-jin), dan dua anak mereka, runtuh begitu saja saat Man-soo tiba-tiba dipecat meski telah 25 tahun mengabdi. "Tidak ada pilihan lain", ucap anggota arah yang berasal dari Amerika Serikat, saat Man-soo mencoba melayangkan protes.

Bukan hanya Man-soo yang jadi korban. Beberapa spesialis manufaktur kertas dari perusahaan lain juga bernasib serupa. Para pemilik modal memangkas sumber nafkah karyawan, meminta mereka menebang pohon untuk dijadikan kertas. Man-soo yang putus asa mencari pekerjaan baru pun memutuskan menghabisi pesaing-pesaingnya guna memperbesar peluangnya diterima, sambil merapal mantra, "Tidak ada pilihan lain."

Masalahnya, selalu ada pilihan lain. Man-soo bisa memilih untuk tak membunuh, atau sebagaimana diucapkan oleh istri salah satu korbannya, beralih profesi di luar dunia kertas. Selalu ada pilihan lain yang membuat individu mempertahankan hati nuraninya.

Park Chan-wook menyentil hilangnya hati nurani, baik terkait dinamika antar manusia, maupun manusia dengan alam (penggundulan hutan demi membuat kertas guna memperkaya diri). Hobi bonsai Man-soo pun mewakili fenomena tersebut. Bagaimana manusia sangat bisa menguasai alam, bahkan sampai mengendalikan wujudnya sehingga menghilangkan kealamiannya. 

Butuh waktu sebelum No Other Choice mengokohkan pondasinya. Daya bunuhnya melonjak begitu Man-soo terpikir melakukan aksi gilanya, sebab di situlah rangkaian komedi gelapnya mulai bermunculan, dimotori oleh totalitas Lee Byung-hun menciptakan sosok konyol yang terlihat seperti lebah dalam segala tindakannya, membuat penonton dengan senang hati berbentuk nasib sialnya sambil tetap merasakan simpati.

Komedinya memuncak di adegan "perebutan pistol" yang menyatukan talenta Lee Byung-hun, Lee Sung-min, dan Yeom Hye-ran. Park Chan-wook mencontohkan bagaimana bekerja "kekacauan terkendali" di momen yang turut mencuatkan ironi tersebut. Kita menyaksikan rakyat saling bergulat dan bergelut, mati-matian menjaga peluang hidup mereka, sedangkan di tempat lain, barisan penguasa tengah bersantai menikmati materi guyuran. 

Didukung tata kamera Arah Kim Woo-hyung, Park Chan-wook membungkus No Other Choice dengan penuh gaya. Pergerakan kamera yang begitu agresif, transisi demi transisi unik, hingga framing inovatif, salah satunya kala sang sineas menghadirkan split screen "alami" dalam adegan berlatar tebing yang melukiskan gejolak terselubung di hati protagonisnya. Setiap tembakan adalah simbolisme puitis.
No Other Choice tak luput mengkritik kelemahannya regulasi pemakaian AI dalam dunia industri yang enggan memperhatikan kesejahteraan manusia. Konklusinya, dengan teramat cantik sekaligus miris, menyoroti hilangnya bantuan sewaktu-waktu individu MEMILIH menenggelamkan diri dalam kesetaraan dunia modern demi kekayaan materi, alih-alih menyatukan kekuatan dengan sesama rakyat yang mengalami nasib serupa. Selalu ada pilihan lain.

0 komentar:

Posting Komentar